Senin, 14 Februari 2022

DUA SUDIRMAN DI SURABAYA


Sudirman yang satu adalah Guru, Muhammadiyah, dan Jendral. Meski tidak pernah ke Surabaya, di depan Gedung Pemerintahan dan Kantor DPRD II telah didirikan Patung Perjuangan dengan banyak tulisan pada 10 November 1970. Kearah Selatan, patung ini di sambut Monumen Bambu Runcing. Beliau terkenal dengan strategi Perang Gerilya yang memusingkan Belanda, sejak Agresi Militer Belanda II (18 Desember 1948) hingga Serangan 1 Maret 1949. Tokoh pejuang ini tidak pernah ditangkap Belanda, walau paru-paru tinggal sebelah.


Sudirman berikutnya ditambahkan kata Residen Sudirman. Tokoh ini terkenal sejak Aksi Perobekan Bendera di Hotel Yamato/Majapahat, 19 September 1945. Saat berhadapan dengan Tentara AFNEI Belanda yaitu Ploegman dan akan melepaskan senjata dan ditendang Sidik dan Hariyono hingga Meletus. Sidik dan Ploegman bertempur hingga keduanya tewas. Selanjutnya Sudirman segera diselamatkan oleh Hariyono. Di luar, Kunto Wibowo berhasil naik ke tiang bendera Merah Putih Biru di halaman bagian Utara. Kepada Pemuda yang dibawah agar dikirim bendera merah putih. Karena tidak ditemukan maka di sobeklah Biru dan dinaikkan kembali merah putih bersama Hariyono.

Residen Sudirman pernah naik mobil berdua dengan Jendral Aubertin Walter Sothern Mallaby keliling Surabaya untuk menenangkan warga agar gencatan senjata.


Demikian 2 Sudirman di kota Surabaya (Jendral Sudirman dan Residen Sudirman)






Edit :

28 Oktober 25

*SUDIRMAN*


Sudirman yang satu adalah Guru, Muhammadiyah, dan Jendral. Meski tidak pernah ke Surabaya, di depan Gedung Pemerintahan dan Kantor DPRD II telah didirikan Patung Perjuangan dengan banyak tulisan pada 10 November 1970. Kearah Selatan, patung ini di sambut Monumen Bambu Runcing. Beliau terkenal dengan strategi Perang Gerilya yang memusingkan Belanda, sejak Agresi Militer Belanda II (18 Desember 1948) hingga Serangan 1 Maret 1949. Tokoh pejuang ini tidak pernah ditangkap Belanda, walau paru-paru tinggal sebelah.




Sudirman berikutnya ditambahkan kata Residen Sudirman. Tokoh ini terkenal sejak Aksi Perobekan Bendera di Hotel Yamato/Majapahat, 19 September 1945. Saat berhadapan dengan Tentara AFNEI Belanda yaitu Ploegman dan akan melepaskan senjata dan ditendang Sidik dan Hariyono hingga Meletus. Sidik dan Ploegman bertempur hingga keduanya tewas. Selanjutnya Sudirman segera diselamatkan oleh Hariyono. Di luar, Kunto Wibowo berhasil naik ke tiang bendera Merah Putih Biru di halaman bagian Utara. Kepada Pemuda yang dibawah agar dikirim bendera merah putih. Karena tidak ditemukan maka di sobeklah Biru dan dinaikkan kembali merah putih bersama Hariyono.


Residen Sudirman pernah naik mobil berdua dengan Jendral Aubertin Walter Sothern Mallaby keliling Surabaya untuk menenangkan warga agar gencatan senjata.




Demikian 2 Sudirman di kota Surabaya (Jendral Sudirman dan Residen Sudirman).


Satu lagi, Sudirman (Ka UPTD), yang disegani, disungkani, dan kadang ditakuti oleh kalangan Pendidik dan Tenaga Kependidikan di Surabaya, khususnya Wilayah Utara.


Bersama 3 S (Sudirman, Suwanu/alm., dan Sudiyono) adalah orang yang setia menjaga 1 S (Kadispendik) yaitu Sahudi.


Berkat perjuangannya Marwah Dispendik Surabaya bersih dari Jeruji Penjara dan Tipikor.


Meski, akhirnya harus ada yang ditinggal di Penjara dalam kasus Mi-kroskup.


Hingga kini, Mikroskop tersebut masih ada di sekolah sebagai benda Sakti yang tidak berani dimanfaatkan.


Bahkan saat pak Sahudi, pulang dari naik Haji, pak Sudirman memasang Banner, "Selamat Datang bagi pak Sahudi".


Inilah perjuangan sesungguhnya dalam suka dan duka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjanjian Lawas

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu : Perjanjian Giyanti. Ditandatangani pada 13 Februari 1755, ...