Rabu, 08 Juli 2026

Rec Untung Surapati

 Untung Surapati (lahir di Bali pada tahun 1660 – wafat di Bangil pada tanggal 5 Desember 1706) adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang terkenal karena memimpin pemberontakan besar melawan kolonialisme Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Pulau Jawa. Ia resmi ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 3 November 1975 berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975. 


Asal-Usul Nama dan Menjadi Budak
  • Nama Asli: Dilahirkan dengan nama Surawiraaji (atau Surawiroaji) di Pulau Bali. [1, 2]
  • Arti Nama "Untung": Ia diambil menjadi budak oleh perwira VOC bernama van Beber di Makassar, lalu dijual kepada perwira tinggi VOC lainnya di Batavia bernama Moor. Karena karier Moor naik pesat setelah membelinya, anak ini dianggap membawa keberuntungan dan dinamai "Untung". 
  • Hubungan Asmara: Ketika dewasa, Untung dipenjara oleh Moor karena menjalin hubungan asmara dengan putri majikannya yang bernama Suzanne. Ia kemudian berhasil meloloskan diri bersama para tahanan lain dan mulai membentuk pasukan pemberontak. 
Perjuangan Melawan VOC
  • Membunuh Kapten Tack: Salah satu pencapaian militer Untung yang paling mengguncang VOC adalah keberhasilannya menewaskan perwira tinggi Belanda, Kapten François Tack, dalam pertempuran di wilayah Kesultanan Mataram.
  • Menjadi Penguasa Pasuruan: Setelah pertempuran tersebut, Untung bergerak ke Jawa Timur dan berhasil merebut wilayah Pasuruan. Ia kemudian mengangkat dirinya menjadi penguasa di sana dengan gelar Tumenggung Wiranegara. 
  • Membangun Benteng: Pasuruannya menjadi pusat gerakan anti-VOC yang menarik simpati dan dukungan rakyat dari berbagai daerah di Jawa. Ia juga mendirikan pangkalan pertahanan kokoh yang dikenal sebagai Benteng Bangil. 
Akhir Hayat
Untung Surapati terluka parah dan gugur dalam pertempuran besar mempertahankan wilayahnya saat pasukan gabungan VOC menyerbu Bangil pada tahun 1706. Untuk mencegah makamnya dirusak oleh musuh, para prajuritnya merahasiakan tempat penguburannya. Namun, lokasi makam tersebut akhirnya tetap ditemukan oleh VOC setahun kemudian, yang kemudian membongkar dan membakar jenazahnya.

Rec Robert Wolter Monginsidi

 Robert Wolter Monginsidi (ejaan asli: Mongisidi) adalah salah satu Pahlawan Nasional Indonesia yang gugur dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Selatan. Pemuda berdarah Minahasa ini lahir di Malalayang, Manado pada 14 Februari 1925 dan wafat setelah dieksekusi mati oleh tentara Belanda di Pacinang, Makassar pada 5 September 1949 dalam usia yang masih sangat muda, yaitu 24 tahun. 

Latar Belakang dan Masa Muda
  • Asal Daerah: Lahir dari pasangan Petrus Mongisidi dan Lina Suawa di Manado, Sulawesi Utara. 
  • Pendidikan: Ia menempuh pendidikan di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Don Bosco di Manado. 
  • Kemampuan Bahasa: Menguasai beberapa bahasa asing, termasuk bahasa Belanda dan bahasa Jepang, bahkan sempat menjadi guru bahasa Jepang semasa pendudukan Jepang.
Kiprah Perjuangan (1945–1949)
  • Melawan NICA: Setelah Proklamasi Kemerdekaan 1945, Belanda (melalui NICA) mencoba menguasai kembali wilayah Indonesia, termasuk Makassar. Monginsidi bangkit memimpin perlawanan lokal. 
  • Mendirikan LAPRIS: Pada 17 Juli 1946, ia bersama pejuang lain seperti Ranggong Daeng Romo mendirikan Laskar Pemberontak Rakyat Indonesia Sulawesi (LAPRIS). Ia menjabat sebagai Sekretaris Jenderal. 
  • Taktik Gerilya: Dikenal sebagai komandan muda yang berani dan cerdik, ia sering memimpin serangan gerilya nekat yang mengecoh posisi militer Belanda. 
Penangkapan dan Akhir Hayat
  • Dua Kali Tertangkap: Ia ditangkap Belanda pada 28 Februari 1947, namun berhasil melarikan diri dari penjara pada Oktober 1947. Ia kemudian tertangkap kembali pada 26 April 1949.
  • Menolak Bekerja Sama: Belanda sempat membujuknya untuk bekerja sama dan menawarkan grasi, namun Monginsidi menolaknya dengan tegas demi kesetiaan pada tanah air.
  • Eksekusi Mati: Di hadapan regu tembak pada 5 September 1949, ia menolak matanya ditutup dan memaafkan para algojo. Ia gugur setelah memekikkan kata "Merdeka!".
  • Pesan Terakhir: Di dalam Alkitab yang dipegangnya sebelum wafat, terselip sebuah catatan legendaris berbunyi: "Setia hingga terakhir dalam keyakinan".
Penghormatan dan Warisan
  • Pahlawan Nasional: Pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 6 November 1973.
  • Tanda Kehormatan: Menerima penghargaan Bintang Mahaputera Adipradana.
  • Pemberian Nama: Namanya diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota (seperti di ⁠Jakarta Selatan), nama Rumah Sakit TNI AD di Manado, serta kapal perang TNI Angkatan Laut (KRI Wolter Mongisidi).
  • Makam: Jenazahnya kini dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Panaikang, Makassar. 

Rec I Gusti Ketut Jelantik

 I Gusti Ketut Jelantik adalah Pahlawan Nasional Indonesia asal Karangasem, Bali, yang lahir pada tahun 1800 dan menjabat sebagai Patih Agung Kerajaan Buleleng. Beliau dikenal sebagai panglima perang yang gigih memimpin perlawanan rakyat Bali melawan penjajahan kolonial Hindia Belanda dalam rangkaian Perang Bali antara tahun 1846 hingga 1849.

Latar Belakang Konflik
Perang dipicu oleh penolakan tegas I Gusti Ketut Jelantik terhadap tuntutan Belanda untuk menghapuskan Hak Tawan Karang. Hak adat Bali ini memberikan wewenang kepada raja-raja setempat untuk menyita kapal-kapal asing yang terdampar atau kandas di perairan wilayah mereka beserta seluruh isinya. Ketika Belanda memprotes penyitaan kapal mereka yang karam, Patih Jelantik menantang kolonial dengan menyatakan bahwa tanah dan kedaulatan Bali tidak tunduk pada kekuasaan asing. 
Perjuangan dan Strategi Perang
  • Perang Jagaraga (1846–1849): Bersama Raja Buleleng dan istrinya, Jro Jempiring, beliau memusatkan pertahanan kokoh di Desa Jagaraga. 
  • Taktik Apit Surang: Menggunakan strategi jebakan benteng melengkung (sering juga disebut Supit Surang) untuk menjepit, mengelilingi, dan menghancurkan pasukan Belanda yang masuk ke wilayah pertahanan mereka. 
  • Konsolidasi Kerajaan: Menggalang persatuan, meminta bantuan persenjataan, serta dukungan moril dari raja-raja lain di seluruh pulau Bali. 
Akhir Perjuangan
I Gusti Ketut Jelantik gugur dalam pertempuran sengit Perang Bali III pada tahun 1849 saat mempertahankan benteng terakhirnya. Beliau mengembuskan napas terakhir di kawasan Perbukitan Bale Pundak, Kintamani. Atas keberanian dan jasa besarnya dalam mempertahankan kedaulatan Nusantara, pemerintah Indonesia menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional pada 15 September 1993 melalui SK Presiden No. 077/TK/1993.

Rec Alimin

 Alimin bin Prawirodirdjo (1889–1964) adalah tokoh pergerakan nasional dan salah satu pemimpin senior Partai Komunis Indonesia (PKI). Meskipun berhaluan komunis, atas jasa-jasanya dalam merintis kemerdekaan Indonesia, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1964 oleh Presiden Soekarno. 

SEJARAH RINGKAS :
  • Masa Muda dan Pendidikan: Lahir di Surakarta, Alimin sempat diangkat anak oleh penasihat pemerintah kolonial Belanda, G.A.J. Hazeu, dan disekolahkan di Batavia. Alih-alih menjadi pegawai pemerintah, ia memilih jalan sebagai jurnalis dan aktivis pergerakan. 
  • Aktif di Organisasi Awal: Ia pernah bergabung dengan Budi Utomo dan Sarekat Islam. Bersama tokoh lain, ia membentuk cabang Sarekat Islam (SI) di Semarang yang menjadi basis gerakan buruh yang kuat. 
  • Kiprah Komunis dan Pembuangan: Alimin sangat aktif dalam membesarkan PKI di masa-masa awal. Ia terlibat dalam perencanaan pemberontakan PKI pada tahun 1926, yang mengakibatkan dirinya harus melarikan diri dan diasingkan ke luar negeri (seperti ke Rusia dan Tiongkok) selama bertahun-tahun. 
  • Akhir Hayat: Setelah Indonesia merdeka, ia kembali ke tanah air dan sempat ikut serta dalam sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Ia wafat di Jakarta pada Juni 1964 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.

Rekaman Suara Tan Malaka

 Tan Malaka (nama lahir: Ibrahim) adalah seorang filsuf, revolusioner, dan Bapak Republik Indonesia. Lahir di Sumatra Barat, 2 Juni 1897, ia merupakan penulis buku Naar de Republiek Indonesia (1925) yang menjadi gagasan pertama konsep Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia wafat di Kediri pada 21 Februari 1949. 

Latar Belakang dan Pendidikan
Tan Malaka menamatkan pendidikan di Kweekschool (Sekolah Guru) di Bukittinggi. Berkat kecerdasannya, ia dikirim oleh gurunya untuk melanjutkan studi ke Haarlem, Belanda pada 1913. Di Eropa, pemikiran Marxisme dan perjuangan revolusionernya mulai terbentuk. 
Perjuangan dan Pelarian
Setelah kembali ke Tanah Air, ia mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan kaum bumiputera melalui pendidikan, sekaligus aktif membela kaum buruh. Karena aktivitas politiknya menentang kolonialisme, ia ditangkap dan diasingkan oleh Belanda. Hal ini menandai dimulainya perjalanan Tan Malaka sebagai pelarian politik selama sekitar 20 tahun. Ia hidup berpindah-pindah antar negara menggunakan puluhan nama samaran untuk menggalang gerakan pembebasan dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di mata internasional. 
Konsep Pemikiran
Ia sangat radikal dalam memperjuangkan "kemerdekaan 100%" tanpa kompromi atau perundingan dengan penjajah. Beberapa karya pemikirannya yang monumental antara lain: 
  • Madilog: Buku filsafat yang disusun agar masyarakat Indonesia berpikir logis, rasional, dan terbebas dari cara berpikir mistis.
  • Naar de Republiek Indonesia: Gagasan penting yang menjadi rujukan Soekarno dan tokoh nasional lainnya tentang konsep sebuah republik.
  • Dari Penjara ke Penjara: Autobiografi yang mengisahkan perjuangannya di berbagai penjara rezim kolonial.
Akhir Hayat
Perbedaan pandangan strategi dengan pemerintah pusat—dimana Tan Malaka menolak keras jalan diplomasi yang dilakukan Soekarno dan Hatta dengan pihak Belanda—membuatnya berseberangan dengan pemerintahan saat itu. Ia dieksekusi mati di Kediri pada masa-masa revolusi. Namanya sempat terhapus dari sejarah sebelum akhirnya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 1963.

213 Sultan Mohammad Salahuddin

 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang  Kehidupan Awal Sultan Mohammad Salahuddin Bagi masyarakat Bima, ada dua cita-cita besar yang tela...