Senin, 20 Juli 2026

Sukarni ke Ngurah Agung

 [20/7 17.54] rudysugengp@gmail.com: SUKARNI KARTODIWIRYO

[20/7 18.36] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biodata, Masa Kecil, dan Pendidikan

Sukarni Kartodiwirjo 


Soekarni Kartodiwirjo (EYD: Sukarni Kartodiwiryo; 14 Juli 1916 – 7 Mei 1971) adalah tokoh pejuang kemerdekaan dan Pahlawan Nasional Indonesia. Gelar Pahlawan Nasional Indonesia disematkan oleh Presiden Joko Widodo, pada 7 November 2014 kepada perwakilan keluarga di Istana Negara.


Informasi pribadi

Lahir :

14 Juli 1916

Garum, Blitar, Hindia Belanda

Meninggal :

7 Mei 1971 (umur 54)

Jakarta, Indonesia

Partai politik :

Partai Murba

Pekerjaan :

Politikus


Kelahiran dan masa kecil :

Soekarni lahir hari Kamis Wage di Kelurahan Sumberdiren, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Namanya jika dijabarkan berarti "Soe" artinya lebih sedangkan "Karni" artinya banyak memperhatikan dengan tujuan oleh orang tuanya agar Soekarni lebih memperhatikan nasib bangsanya yang kala itu masih dijajah Belanda. Sukarni merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara.


Ayahnya adalah Dimoen Kartodiwirjo, keturunan dari Eyang Onggo, juru masak Diponegoro. Ibunya bernama Pidjah, gadis asal Kediri. Keluarga Sukarni bisa dikatakan berkecukupan jika dibanding penduduk yang lain. Ayahnya membuka toko daging di pasar Garum dan usahanya sangat laris.


Pendidikan :

Sukarni masuk sekolah di Mardisiswo di Blitar (semacam Taman Siswa yang dibuat oleh Ki Hajar Dewantara). Di sekolah ini Sukarni belajar mengenai nasionalisme melalui Moh. Anwar yang berasal dari Banyumas, pendiri Mardidiswo sekaligus tokoh pergerakan Indonesia. Pada pendidikan inilah jiwa nasionalisme Sukarni tumbuh, ditambah pemikiran orang di sekitarnya seperti dari seorang guru bernama Mohammad Anwar yang memiliki sikap antikolonialisme Belanda. Setelah menyelesaikan studi dari Mardisiswo, Sukarni melanjutkan sekolah ke HIS (Hollandsch-Inlandsche School) di Blitar. Kemudian Sukarni meneruskan pendidikan ke MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) masih di kota yang sama, memiliki minat di bidang pendidikan maka ia melanjutkan ke Kweekschool atau Sekolah Guru dan Volks Universiteit atau Universitas Rakyat.


Sebagai anak muda, Sukarni terkenal karena kebiasaannya sering berbuat onar. Dia sering berkelahi dan senang menantang orang Belanda. Dia pernah mengumpulkan 30-50 orang teman-temannya dan mengirim surat tantangan ke anak muda Belanda untuk berkelahi. Lokasinya di kebun raya Blitar, dekat sebuah kolam. Anak-anak Belanda menerima tantangan itu dan terjadilah tawuran. Kelompok Sukarni memenangkan perkelahian itu dan anak Belanda yang kalah dicemplungkan ke kolam.

[20/7 18.37] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Menjadi Aktivis Pergerakan hingga Era Jepang

Sukarni Kartodiwirjo 


Menjadi Aktivis Pergerakan :

Perkenalan Sukarni dengan dunia pergerakan nasional yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dimulai ketika usia masih remaja, 14 tahun, saat dia masuk menjadi anggota perhimpunan Indonesia Muda tahun 1930. Semenjak itu dia berkembang menjadi pemuda militan dan revolusioner. Selain itu ia juga sempat mendirikan organisasi Persatuan Pemuda Kita.


Ketika di MULO, Sukarni dikeluarkan dari sekolah karena mencari masalah dengan pemerintah kolonial Belanda. Bukannya surut, semangat belajarnya malah semakin membara. 

Dia bersekolah ke Yogyakarta, dan kemudian ke Jakarta pada sekolah kejuruan guru. 

Atas bantuan Ibu Wardoyo (kakak Bung Karno), Sukarni disekolahkan di Bandung jurusan jurnalistik.


Pada masa-masa di Bandung inilah, konon Sukarni pernah mengikuti kursus pengkaderan politik pimpinan Soekarno. Disinilah dia bertemu dan mengikat sahabat dengan Wikana, Asmara Hadi dan SK Trimurti.


Tahun 1934 Sukarni berhasil menjadi Ketua Pengurus Besar Indonesia Muda, sementara itu Belanda mulai mencurigainya sebagai anak muda militan. Tahun 1936 pemerintah kolonial melakukan penggerebekan terhadap para pengurus Indonesia Muda, tetapi Sukarni sendiri berhasil kabur dan hidup dalam pelarian selama beberapa tahun.


Masa Pendudukan Jepang :

Tidak lama sebelum Jepang masuk, Sukarni tertangkap di Balikpapan dan kemudian dibawa ke Samarinda. 

Namun, setelah Jepang masuk, Sukarni berserta beberapa tokoh pergerakan lain seperti Adam Malik dan Wikana malah dibebaskan oleh Jepang. 

Awal-awal pendudukan Jepang, Sukarni sempat bekerja di kantor berita Antara yang didirikan oleh Adam Malik (yang kemudian berubah jadi Domei). Pada masa Jepang ini, Sukarni juga bertemu dengan Tan Malaka. Tan Malaka-lah yang menjadi otak pembentukan partai Murba dan dia jugalah yang menyarankan kepada anggota Murba lainnya agar Sukarni yang menjadi Ketua Umum.


Tahun 1943, bersama Chairul Saleh, dia memimpin Asrama Angkatan Baru Indonesia di Menteng 31. Di tempat itu Sukarni makin giat menggembleng para pemuda untuk berjuang demi kemerdekaan Indonesia. 

Seperti diketahui, pada kurun selanjutnya, Menteng 31 dikenal sebagai salah satu pusat penting yang melahirkan tokoh Angkatan 45.

[20/7 18.37] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Rengasdengklok, Proklamasi hingga Partai Murba

Sukarni Kartodiwirjo 


Peristiwa Rengasdengklok :

Mendengar berita kekalahan Jepang, kelompok pemuda dengan kelompok bawah tanah di bawah pimpinan Sutan Syahrir, bersepakat bahwa inilah saat yang tepat untuk memproklamirkan kemerdekaan. Sukarni, Wikana dan kelompok pemuda lainnya mendesak Soekarno dan Hatta, tetapi mereka berdua menolak. 

Akhirnya terjadilah perdebatan sengit yang berakhir dengan penculikan kedua tokoh tersebut, dengan tujuan menjauhkan Soekarno-Hatta dari "pengaruh" Jepang. Kedua pemimpin itu "diasingkan" ke Rengasdengklok oleh kelompok pemuda yang dipimpin olehnya.


Seputar Proklamasi :

Akhirnya semua pihak kemudian bersepakat bahwa proklamasi kemerdekaan akan segera dilakukan pada 17 Agustus 1945. Selanjutnya, Sukarni mengemban amanat kemerdekaan serta bahu membahu bersama kelompok pemuda lainnya dalam meneruskan berita tentang kemerdekaan ini.

Sukarni membentuk Comite Van Aksi (semacam panitia gerak cepat) pada 18 Agustus 1945 yang tugasnya menyebarkan kabar kemerdekaan ke seluruh Indonesia. Khusus untuk para pemudanya dibentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan untuk buruh dibentuk BBI (Barisan Buruh Indonesia) yang kemudian melahirkan laskar buruh dan laskar buruh wanita.


Di zaman RI berkedudukan di Yogyakarta, Sukarni menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Persatuan Perjuangan (PP) di bawah ketua Tan Malaka. 

PP beroposisi dengan pemerintah dan menolak perundingan pemerintah terhadap Belanda. Aksi PP ini membuat Sukarni dijebloskan ke penjara pada tahun 1946. Selanjutnya Sukarni juga mengalami penahanan di Solo, Madiun dan Ponorogo (daerah komunis Muso) pada masa pemerintahan Amir Syarifudin (1947/1948)


Menjadi Ketua Partai Murba :

Semenjak partai Murba terbentuk pada bulan November 1948 sampai wafatnya, Sukarni menjabat sebagai ketua umum. Dia juga duduk sebagai anggota Badan pekerja KNI Pusat. 

Dalam pemilihan Umum yang pertama (1955) Sukarni terpilih sebagai anggota Konstituante.


Sejak tahun 1961 Sukarni ditunjuk sebagai Duta Besar Indonesia di Peking, ibu kota RRT (Republik Rakyat Tiongkok) dan kembali ke tanah air pada bulan Maret 1964. 

Tapi berlawanan dengan harapan, partai Murba malah dibekukan oleh Orde Lama tahun 1965 dan Sukarni beserta pemimpin Murba lainnya di penjara.


Pada masa Orde Baru, Sukarni dibebaskan dan larangan Murba dicabut (direhabilitasikan 17 Oktober 1966). Kemudian Sukarni ditunjuk sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA, 1967) yang merupakan jabatan resmi terakhir.

[20/7 18.37] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Sukarni Kartodiwirjo 


Pengabdian terakhir :

Tokoh yang mendapat Bintang Mahaputera kelas dua dan empat ini wafat pada tanggal 7 Mei 1971 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dengan upacara kenegaraan.


Pengakuan Atas Jasa: 

Penghargaan ini diberikan atas dedikasi dan perannya yang krusial sebagai tokoh revolusioner yang mengusulkan agar naskah Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia, serta perannya memimpin pemuda dalam mengamankan Soekarno-Hatta ke Rengasdengklok.


Penghargaan :

Pahlawan Nasional: Sukarni ditetapkan secara resmi sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan ⁠Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2014 tertanggal 6 November 2014.

[20/7 18.41] rudysugengp@gmail.com: KH Abdul Wahab Chasbullah

[20/7 22.28] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Kehidupan Awal

KH Abdul Wahab Chasbullah 


K.H. Abdul Wahab Chasbullah (31 Maret 1888 – 29 Desember 1971) adalah salah satu pendiri gerakan Nahdlatul Ulama. Ia juga menginisiasi penggunaan surat kabar untuk dakwah, dengan didirikannya surat kabar Nahdlatul Ulama, Soeara Nahdlatul Oelama. Ia juga menciptakan lirik lagu Nahdlatul Ulama, Ya Lal Wathon, pada tahun 1934.


Kehidupan pribadi

Lahir :

31 Maret 1889

Jombang, Jawa Timur, Hindia Belanda

Meninggal :

29 Desember 1971 (umur 82)

Jombang, Jawa Timur, Indonesia

Kota asal :

Jombang

Orang tua :

K.H. Hasbullah Said (ayah)

Nyai Latifah (ibu)


Kehidupan Awal :

Abdul Wahab Chasbullah lahir pada tanggal 31 Maret 1888 di Jombang. Ia adalah putra dari pasangan KH Hasbullah Said yang merupakan pengasuh Pondok Pesantren (PP) Tambakberas Jombang, dan Nyai Latifah. Ia mengenyam pendidikan di PP Langitan Tubah, PP Mojosari Nganjuk, PP Tawangsari Sepanjang, berguru pada Syekh Kholil al-Bangkalani Madura, dan PP Tebuireng Jombang di bawah kepengurusan KH Hasyim Asy'ari. Ia juga menimba ilmu dari Muhammad Mahfudz at-Tarmasi dan Syekh Said al-Yamani.


Keluarga :

Ayah KH Abdul Wahab Hasbullah adalah KH Hasbulloh Said, Pengasuh Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sedangkan Ibundanya bernama Nyai Latifah.


Kiai Wahab wafat pada 29 Desember 1971 dan dimakamkan di komplek Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, tepatnya di sisi barat Desa Tambakrejo, Kecamatan/Kabupaten Jombang.


KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan pahlawan Nasional dan Ulama inspirator, serta salah satu pendiri dan penggerak organisasi masyarakat Nahdlatul Ulama (NU). Ia juga merupakan santri kinasih dari KH M. Hasyim Asyari. Kiai Wahab tercatat pernah menjadi lurah Pesantren Tebuireng.


Makam Kiai Wahab terus mengalami renovasi demi kenyaman pengunjung. Pemerintah Kabupaten Jombang juga menaruh perhatian khusus ke sosok Kiai Wahab. Makam ini memiliki parkir yang luas, tempat peristirahatan. Makan dibuka selama 24 jam untuk umum.


Pendidikan :

Ia juga seorang pelopor dalam membuka forum diskusi antar ulama, baik di lingkungan NU, Muhammadiyah, Perti dan organisasi lainnya. Ia belajar di Pesantren Langitan Tuban, Pesantren Mojosari Nganjuk, Pesantren Tawangsari Sepanjang, belajar pada Syaikhona R. Muhammad Kholil Bangkalan, Madura, dan Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratusy Syaikh KH. M. Hasyim Asy‘ari. 

Di samping itu, Kyai Wahab juga merantau ke Mekkah untuk berguru kepada Syaikh Mahfudz at-Tirmasi dan Syaikh Al-Yamani dengan hasil nilai istimewa.

[20/7 22.28] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Aktivis Perjuangan 

KH Abdul Wahab Chasbullah 


Aktivitas di Nahdatul Ulama :

KH. Abdul Wahab Hasbulloh merupakan bapak Pendiri NU Selain itu juga pernah menjadi Panglima Laskar Mujahidin (Hizbullah) ketika melawan penjajah Jepang. Ia juga tercatat sebagai anggota DPA bersama Ki Hajar Dewantoro. Tahun 1914 mendirikan kursus bernama “Tashwirul Afkar”.


Tahun 1916 mendirikan Organisasi Pemuda Islam bernama Nahdlatul Wathan, kemudian pada 1926 menjadi Ketua Tim Komite Hijaz yang menemui Raja Arab Saudi. Amalan yang selalu KH Wahab baca yaitu Huwal Habib, bagian dari Salawat Burdah. KH. Abdul Wahab Hasbulloh juga seorang pencetus dasar-dasar kepemimpinan dalam organisasi NU dengan adanya dua badan, Syuriyah dan Tanfidziyah sebagai usaha pemersatu kalangan Tua dengan Muda.


Pelopor Kebebasan Berpikir :

KH. A. Wahab Hasbullah adalah pelopor kebebasan berpikir di kalangan Umat Islam Indonesia, khususnya di lingkungan nahdhiyyin. KH. A. Wahab Hasbullah merupakan seorang ulama besar Indonesia. Ia merupakan seorang ulama yang menekankan pentingnya kebebasan dalam keberagamaan terutama kebebasan berpikir dan berpendapat. Untuk itu kyai Abdul Wahab Hasbullah membentuk kelompok diskusi Tashwirul Afkar (Pergolakan Pemikiran) di Surabaya pada 1914.


Mula-mula kelompok ini mengadakan kegiatan dengan peserta yang terbatas. Namun, berkat prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat yang diterapkan dan topik-topik yang dibicarakan mempunyai jangkauan kemasyarakatan yang luas, dalam waktu singkat kelompok ini menjadi sangat populer dan menarik perhatian di kalangan pemuda. Banyak tokoh Islam dari berbagai kalangan bertemu dalam forum itu untuk memperdebatkan dan memecahkan masalah pelik yang dianggap penting.


Tashwirul Afkar tidak hanya menghimpun kaum ulama pesantren. Ia juga menjadi ajang komunikasi dan forum saling tukar informasi antar tokoh nasional sekaligus jembatan bagi komunikasi antara generasi muda dan generasi tua. Karena sifat rekrutmennya yang lebih mementingkan progresivitas berpikir dan bertindak, maka jelas pula kelompok diskusi ini juga menjadi forum pengkaderan bagi kaum muda yang gandrung pada pemikiran keilmuan dan dunia politik.


Bersamaan dengan itu, dari rumahnya di Kertopaten, Surabaya, Kyai Abdul Wahab Hasbullah bersama KH. Mas Mansur menghimpun sejumlah ulama dalam organisasi Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) yang mendapatkan kedudukan badan hukumnya pada 1916. Dari organisasi inilah Kyai Abdul Wahab Hasbullah mendapat kepercayaan dan dukungan penuh dari ulama pesantren yang kurang-lebih sealiran dengannya. Di antara ulama yang berhimpun itu adalah Kyai Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), Kyai Abdul Halim, (Leimunding Cirebon), Kyai Alwi Abdul Aziz, Kyai Ma’shum (Lasem) dan Kyai Cholil (Kasingan Rembang). Kebebasan berpikir dan berpendapat yang dipelopori Kyai Wahab Hasbullah dengan membentuk Tashwirul Afkar merupakan warisan terpentingnya kepada kaum muslimin Indonesia. Kyai Wahab telah mencontohkan kepada generasi penerusnya bahwa prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat dapat dijalankan dalam nuansa keberagamaan yang kental. Prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat tidak akan mengurangi ruh spiritualisme umat beragama dan kadar keimanan seorang muslim. Dengan prinsip kebebasan berpikir dan berpendapat, kaum muslim justru akan mampu memecahkan problem sosial kemasyarakatan dengan pisau analisis keislaman.


Pernah suatu ketika Kiai Wahab didatangi seseorang yang meminta fatwa tentang Qurban yang sebelumnya orang itu datang kepada Kyai Bisri Syansuri. “Bahwa menurut hukum Fiqih berqurban seekor sapi itu pahalanya hanya untuk tujuh orang saja”, terang Kyai Bisri. Akan tetapi Si Fulan yang bertanya tadi berharap anaknya yang masih kecil bisa terakomodir juga. Tentu saja jawaban Kyai Bisri tidak memuaskan baginya, karena anaknya yang kedelapan tidak bisa ikut menikmati pahala Qurban. Kemudian oleh Kyai Wahab dicarikan solusi yang logis bagi Si Fulan tadi. “Untuk anakmu yang kecil tadi belikan seekor kambing untuk dijadikan lompatan ke punggung sapi”, seru kyai Wahab.


Dari sekelumit cerita di atas tadi, kita mengetahui dengan jelas bahwa seni berdakwah di masyarakat itu memerlukan cakrawala pemikiran yang luas dan luwes. Kiai Wahab menggunakan kaidah Ushuliyyah “Maa laa yudraku kulluh, laa yutraku julluh”, Apa yang tidak bisa diharapkan semuanya janganlah ditinggal sama sekali. Di sinilah peranan Ushul Fiqih terasa sangat dominan dari Fiqih sendiri.


Seorang Inspirator GP Ansor :

Dari catatan sejarah berdirinya GP Ansor dilahirkan dari rahim Nahdlatul Ulama (NU). Berawal dari perbedaan antara tokoh tradisional dan tokoh modernis yang muncul di tubuh Nahdlatul Wathan, organisasi keagamaan yang bergerak di bidang pendidikan Islam, pembinaan mubaligh dan pembinaan kader. KH. Abdul Wahab Hasbullah, tokoh tradisional dan KH. Mas Mansyur yang berhaluan modernis, akhirnya menempuh arus gerakan yang berbeda justru saat tengah tumbuhnya semangat untuk mendirikan organisasi kepemudaan Islam. Dua tahun setelah perpecahan itu, pada 1924 para pemuda yang mendukung KH. Abdul wahab hasbulloh –yang kemudian menjadi pendiri NU– membentuk wadah dengan nama Syubbanul Wathan (Pemuda Tanah Air).


Organisasi inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Gerakan Pemuda Ansor setelah sebelumnya mengalami perubahan nama seperti Persatuan Pemuda NU (PPNU), Pemuda NU (PNU), dan Anshoru Nahdlatul Oelama (ANO).


Nama Ansor ini merupakan saran KH. Abdul Wahab Hasbullah Diarsipkan 2020-06-10 di Wayback Machine. —ulama besar sekaligus guru besar kaum muda saat itu, yang diambil dari nama kehormatan yang diberikan Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah yang telah berjasa dalam perjuangan membela dan menegakkan agama Allah. Dengan demikian ANO dimaksudkan dapat mengambil hikmah serta teladan terhadap sikap, perilaku dan semangat perjuangan para sahabat Nabi yang mendapat predikat Ansor tersebut. Gerakan ANO harus senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat Ansor, yakni sebagi penolong, pejuang dan bahkan pelopor dalam menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam.


Meski ANO dinyatakan sebagai bagian dari NU, secara formal organisatoris belum tercantum dalam struktur organisasi NU. Baru pada Muktamar NU ke-9 di Banyuwangi, tepatnya pada tanggal 10 Muharram 1353 H atau 24 April 1934, ANO diterima dan disahkan sebagai bagian (departemen) pemuda NU. Dimasukkannya ANO sebagai salah satu departemen dalam struktur kelembagaan NU berkat perjuangan kiai-kiai muda seperti KH. Machfudz Siddiq, KH. A. Wahid Hasyim, KH. Dachlan.

[20/7 22.28] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang

Akhir Hayat, Penghargaan, dan Warisan 

KH Abdul Wahab Chasbullah 


Akhir Hayat

Wafat: 

Beliau menghembuskan napas terakhirnya pada 29 Desember 1971 di Jombang, Jawa Timur.


Waktu Berpulang: 

Kepergian beliau terjadi beberapa hari setelah berlangsungnya Muktamar ke-25 Nahdlatul Ulama (NU) di Surabaya.


Tempat Peristirahatan: 

Jenazah beliau dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, yang juga menjadi pusat dakwah dan pendidikan yang dibesarkannya.


Penghargaan dan Pengakuan Negara


Pahlawan Nasional: 

Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 115/TK/Tahun 2014.


Tanda Kehormatan: 

Dianugerahi gelar Pahlawan Nasional bersamaan dengan empat tokoh lainnya pada 7 November 2014, sebagai bentuk pengakuan atas peran besarnya dalam pergerakan kemerdekaan dan kebangsaan.


Warisan Abadi: 

Selain penghargaan resmi dari negara, warisan terbesar beliau yang terus menggema adalah karya syair Ya Lal Wathon (Cinta Tanah Air), yang menegaskan bahwa nasionalisme adalah bagian dari iman.


Karya Monumental :


Lagu "Syubbanul Wathon"


Lagu "Syubbanul Wathan" atau yang popular disebut lagu "Yaa Lal Wathan" diciptakan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah saat mendirikan organisasi gerakan bernama Syubanul Wathan tahun 1916 (sepuluh tahun sebelum Jami’iyyah Nahdlatul Ulama berdiri).

 

Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon


Hubbul Wathon minal Iman


Wala Takun minal Hirman


Inhadlu Alal Wathon


Indonesia Biladi


Anta ‘Unwanul Fakhoma


Kullu May Ya’tika Yauma


Thomihay Yalqo Himama


Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Hai Bangsaku

Pusaka Hati Wahai Tanah Airku

Cintamu dalam Imanku

Jangan Halangkan Nasibmu

Bangkitlah Hai Bangsaku


Indonesia Negeriku

Engkau Panji Martabatku

Siapa Datang Mengancammu

Kan Binasa di bawah durimu.


Dalam budaya populer :

Dalam film Sang Kiai (2013), Abdul Wahab Hasbullah diperankan oleh Arswendi Nasution.

[20/7 22.30] rudysugengp@gmail.com: HR Mohammad Mangundiprojo

[20/7 23.02] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal 

HR Mohammad Mangundiprojo


Raden Mohamad Mangoendiprodjo (EYD: Mohamad Mangundiprojo; 5 Januari 1905 – 13 Desember 1988) adalah seorang pejuang kemerdekaan dan perwira militer Indonesia yang ikut serta dalam Pertempuran Surabaya pada tanggal 10 November 1945. Ia diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 7 November 2014.


Informasi pribadi

Lahir :

5 Januari 1905

Sragen, Hindia Belanda

Meninggal :

13 Desember 1988 (umur 83)

Bandar Lampung, Lampung, Indonesia

Makam :

TMP Tanjung Karang

Hubungan :

Soesilo Soedarman (menantu)

Indroyono Soesilo (cucu)

Anak :

Himawan Soetanto


Kehidupan :

H.R. Mohamad Mangoendiprodjo lahir di Sragen pada tanggal 5 Januari 1905. Dia adalah cicit dari Setjodiwirjo atau Kiai Ngali Muntoha, salah seorang keturunan Sultan Demak. Setjodiwirjo sendiri merupakan teman seperjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajah Belanda. Keduanya memperluas pemberontakan melawan penjajah Belanda hingga ke daerah Ngawi yakni Kecamatan Ngawi dan Jawa Timur yakni Kertosono dan Banyuwangi. Ia merupakan ayah dari mantan Pangkostrad Letjen TNI (Purn.) Himawan Soetanto.


Garis hidup sebenarnya memberi kesempatan kepada Muhammad Mangoendiprodjo untuk bisa hidup berkecukupan dengan menjadi Pamong Praja, wakil kepala jaksa, dan kemudian asisten wedana, di Jombang, Jawa Timur, setelah lulus dari OSVIA pada tahun 1927. Namun setelah Jepang menduduki Indonesia, ia memilih untuk menjadi tentara dengan bergabung menjadi anggota Pembela Tanah Air (PETA) pada tahun 1944.

[20/7 23.02] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karier Militer dan Pertempuran Surabaya 1945

HR Mohammad Mangundiprojo


Karier militer :

Setelah lulus pendidikan militer di Surabaya, Mangundiprojo ditugaskan sebagai Daidancho atau Komandan Batalyon PETA di Sidoarjo, Jawa Timur. Setelah Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945, semua anggota PETA menjadi pasukan inti Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan kemudian Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang merupakan cikal bakal TNI.


Masuknya kembali pasukan Belanda (NICA) di Surabaya pada 25 Oktober 1945 menjadi operasi militer terbesar pertamanya. Mangundiprojo bersama Bung Tomo, Doel Arnowo, Abdul Wahab dan Drg Moestopo, memimpin perlawanan terhadap pasukan Sekutu yang berlangsung di seluruh penjuru Surabaya. Hingga tanggal 29 Oktober 1945, pimpinan Sekutu mengadakan pertemuan dengan Bung Hatta untuk melakukan gencatan senjata. Pada pertemuan tersebut, Muhammad Mangundiprojo diangkat oleh Jenderal Oerip Soemohardjo sebagai pimpinan TKR Divisi Jawa Timur dan melakukan kontak biro dengan pasukan Sekutu.


Pada hari yang sama, 29 Oktober 1945 di sore hari, Muhammad bersama Brigadir Mallaby berpatroli keliling kota Surabaya untuk melihat kemajuan gencatan senjata. Rombongan ini berhenti di Jembatan Merah di depan Gedung Internatio. Di dalam gedung itu, tentara Inggris dari kesatuan Gurkha sedang dikepung oleh pemuda-pemuda Indonesia untuk diminta menyerah. Muhammad lantas masuk ke dalam gedung yang dikuasai Inggris untuk melakukan negosiasi. Tanpa disangka, Muhammad malah disandera oleh tentara Gurkha dan terjadilah tembak-menembak antara tentara Inggris dan pemuda Surabaya. Mallaby tewas dalam mobilnya yang meledak dan terbakar.


Pertempuran Surabaya :

Tewasnya Mallaby membuat Inggris marah. Inggris mengultimatum rakyat Surabaya yang mempunyai senjata untuk menyerahkan senjatanya. Ultimatum ini spontan ditolak oleh Muhammad yang kemudian memimpin TKR dan pemuda Surabaya melakukan pertempuran yang berpuncak pada tanggal 10 November 1945. Perang terbuka di Surabaya ini berlangsung selama 22 hari dan menewaskan 6.315 pejuang anggota TKR. Muhammad sendiri bertugas memimpin pertempuran melawan tentara Sekutu.


Setelah Pertempuran Surabaya usai, Muhammad Mangundiprojo dipromosikan menjadi Mayor Jenderal oleh Presiden Soekarno.

[20/7 23.02] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

HR Mohammad Mangundiprojo


Karier politik :

Setelah mengakhiri karier militer, Muhammad ditugaskan sebagai Bupati Ponorogo dari tahun 1951 sampai 1955, yang salah satu misinya adalah mengamankan daerah Madiun setelah pemberontakan PKI Muso pada tahun 1948. Prestasinya ini kemudian mengantar Muhammad Mangundiprojo menjadi Residen (Gubernur) pertama Lampung dengan misi utama mengendalikan keamanan di daerah ini.


Wafat :

Bintang Mahaputera Utama: Dianugerahkan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 14 Agustus 1986 sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa luar biasanya terhadap nusa dan bangsa.


Muhammad Mangundiprojo tutup usia di Bandar Lampung pada 13 Desember 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Tanjung Karang. 


Pada awal 1990-an, nama tersebut diabadikan sebagai nama jalan di Kawasan Bisnis Surabaya Barat.


Gelar Pahlawan Nasional: 

Ditetapkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada 7 November 2014 melalui Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 115/TK/Tahun 2014. 

Penghargaan ini menjadi simbol pengakuan tertinggi negara atas kepemimpinannya dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia.


Penerimaan tanda jasa ini diwakili oleh cucunya, Menteri Kemaritiman Indonesia Indroyono Soesilo.

[20/7 23.06] rudysugengp@gmail.com: BW Lapian

[20/7 23.37] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal dan Kehidupan Pribadi

BW Lapian


Bernard Wilhelm Lapian (30 Juni 1892 – 5 April 1977) adalah seorang pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam berbagai bidang dan dalam rentang waktu sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.


Informasi pribadi

Bernard Wilhelm Lapian

Lahir :

30 Juni 1892

Kawangkoan, Celebes, Hindia Belanda

Meninggal :

5 April 1977 (umur 84)

Jakarta, Indonesia

Istri :

Maria Adriana Pangkey

Anak :

6, termasuk Adrian B. Lapian


Kehidupan awal :

Bernard Wilhelm Lapian lahir di Kawangkoan, kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, pada tanggal 30 Juni 1892. Ayahnya bernama Enos Lapian dan ibunya bernama Petronella Geertruida Mapaliey. 

Karena jabatan ayahnya sebagai kepala Sekolah Rakyat (volksschool) di Kawangkoan, Lapian bisa masuk sekolah dasar bahasa Belanda (Amurangse School) di Amurang, sekitar 40 kilometer dari Kawangkoan.

Ia kemudian mengambil kursus-kursus hingga tingkat sekolah menengah pertama (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs, MULO).


Kehidupan pribadi :

Lapian menikah dengan Maria Adriana Pangkey pada tanggal 30 Mei 1928 di Tomohon. Mereka mempunyai enam anak termasuk Adrian Bernard Lapian, seorang ahli dalam sejarah maritim Indonesia, dan Louisa Magdalena Lapian, seorang ahli hukum. Saudara laki-laki Lapian yakni Benjamin Julian 'Bert' Lapian, pernah juga menjabat sebagai wali kota Manado dari 1 Maret 1952 hingga 1 September 1953.


Salah satu cucunya adalah tokoh aktivis politik Indonesia Jack Boyd Lapian.

[20/7 23.38] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Karier sebagai Jurnalis, Politikus, dan Pemimpin gereja

BW Lapian


Publikasi :

Lapian berusia 17 pada tahun 1909 ketika ia mulai bekerja di perusahaan pelayaran Belanda KPM (Koninklijke Paketvaart Maatschappij). Ia bekerja untuk KPM selama 20 tahun. Pada awalnya ia bekerja di atas kapal, tapi pada tahun 1919 Lapian mendapat tanggung jawab sebagai hofmeester yang mengurus logistik kapal dan bekerja di Batavia (sekarang Jakarta). Pada saat berada di Batavia, ia mengirim artikel-artikel ke surat kabar Pangkal Kemadjoean dengan fokus untuk memerangi kolonialisme Belanda. Ia juga menerbitkan surat kabar bernama Fadjar Kemadjoean (1924–1928) yang berisi tulisan-tulisan berkaitan dengan memajukan kesejahteraan rakyat Indonesia. Kemudian pada tahun 1940, ia menerbitkan sebuah koran lokal di Kawangkoan bernama Semangat Hidoep.


Perwakilan Rakyat :

Lapian pernah menjadi wakil rakyat dalam dua kapasitas, yang satu dalam wilayah lokal dan satu lagi untuk seluruh Hindia Belanda. Dari 1930 hingga 1942, ia adalah anggota dewan lokal yang disebut Dewan Minahasa (Minahasaraad) di Manado. Anggota dewan ini mewakili orang-orang di seluruh wilayah Minahasa dan Lapian mewakili rakyat dari Kawangkoan. Pada tahun 1938, Lapian juga menjadi anggota Dewan Rakyat untuk Hindia Belanda (Volksraad) di Batavia. Ia bergabung dengan Fraksi Nasional yang dipimpin oleh Mohammad Husni Thamrin.


Kerapatan Gereja Protestan Minahasa :

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk yang dikendalikan oleh pemerintah kolonial; Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya, termasuk Sam Ratulangi dan A.A. Maramis, mendeklarasikan berdirinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) pada bulan Maret 1933. KGPM adalah suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk. Pada mulanya, Lapian diangkat sebagai sekretaris. Ia kemudian diangkat sebagai ketua KGPM pada tahun 1938 dan dalam jabatannya ia membantu mendirikan 16 sekolah dasar dan 17 sekolah menengah.

[20/7 23.38] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 dan Gubernur Sulawesi 

BW Lapian


Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 :

Pada akhir Perang Dunia II, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, Belanda bertekad untuk kembali ke Indonesia dan upaya ini didukung oleh pasukan Sekutu yang memasuki Indonesia setelah Jepang menyerah. Pada tanggal 14 Februari 1946, sekelompok prajurit Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) di Manado dengan bantuan pemuda setempat dan pejuang kemerdekaan menangkap para perwira KNIL yang berkebangsaan Belanda. Pada tanggal 16 Februari 1946, Lapian yang merupakan Residen Manado pada waktu itu ditunjuk menjadi kepala pemerintahan Republik Indonesia di Sulawesi Utara. Keadaan ini berlangsung hingga 10 Maret 1946, ketika Belanda berhasil menduduki kembali wilayah itu. Lapian ditangkap dan dipenjarakan di Manado. Ia dipindahkan ke Cipinang di Jakarta tahun 1947 dan kemudian ke Sukamiskin di Bandung tahun 1948. Ia dibebaskan pada tanggal 20 Desember 1949 setelah Konferensi Meja Bundar.


Pejabat Gubernur Sulawesi :

Setelah penyerahan kedaulatan Indonesia pada akhir 1949, B.W. Lapian dibebaskan dari pengasingan. Ia kemudian aktif dalam pemerintahan dan pembangunan bangsa. Ia menjabat sebagai Gubernur Sulawesi (sebelum dipecah menjadi provinsi-provinsi) pada tahun 1950, sebuah wilayah yang sangat luas meliputi seluruh Pulau Sulawesi.


Lapian menjadi Pejabat Gubernur Sulawesi pada tanggal 17 Agustus 1950 dan menjabat sampai 1 Juli 1951. Selama masa jabatannya sebagai pejabat gubernur, Lapian membuka dan mengembangkan daerah di sekitar Dumoga di Bolaang Mongondow untuk pemukiman dan pertanian. 

Ia membangun jalan yang menghubungkan Kotamobagu dan wilayah Molibago. Ia juga membentuk dewan perwakilan daerah di seluruh wilayah Sulawesi dan melakukan pemilihan pasca-kemerdekaan pertama di wilayah Minahasa pada tanggal 14 Juni 1951. Ia juga memulai upaya untuk mencapai perdamaian dengan pemberontakan yang dipimpin oleh Kahar Muzakar.

[20/7 23.38] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

BW Lapian


Lapian meninggal pada tanggal 5 April 1977 di Jakarta dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Pada tahun 1958, Lapian dianugerahi penghargaan Bintang Gerilya dan pada tahun 1976 ia menerima penghargaan Bintang Mahaputra Pratama.


Ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo dalam sebuah upacara di Istana Negara pada tanggal 5 November 2015. 


Sebuah monumen didirikan di Kawangkoan untuk Lapian dan Ch. Ch. Taulu untuk memperingati keterlibatan mereka dalam peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.


Penghargaan dari Angkatan Laut (AL): 

Diberikan atas kontribusi strategisnya dalam membantu operasi militer dan mempertahankan wilayah laut/pesisir selama masa revolusi kemerdekaan.

[20/7 23.40] rudysugengp@gmail.com: Mas Isman

[21/7 00.36] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Mas Isman 


Mayor Jenderal TNI (Purn) Mas Isman (1 Januari 1924 – 12 Desember 1982) adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jawa Timur yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.


Informasi pribadi

Lahir :

1 Januari 1924

Bondowoso, Jawa Timur, Hindia Belanda

Meninggal :

12 Desember 1982 (umur 58)

Surabaya, Jawa Timur, Indonesia

Partai politik :

Golkar

Anak :

Hayono Isman

Hayani Isman


Riwayat Pendidikan

Mas Isman mengenyam pendidikan berpindah-pindah di beberapa kota di Jawa karena dinamika kehidupan dan masa pergerakan:


HIS (Hollandsch-Inlandsche School): 

Menempuh pendidikan dasar di HIS Purwokerto.


MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs): 

Melanjutkan sekolah tingkat menengah pertama di MULO Cirebon dan lulus sekitar tahun 1940.


SMP 2 Ketabang: 

Sempat mengenyam pendidikan sekolah menengah di Surabaya.


SMT (Sekolah Menengah Tinggi) Darmo: 

Melanjutkan pendidikan tingkat atas di SMT Darmo, Surabaya. Di masa-masa menjadi pelajar sekolah menengah inilah jiwa pergerakannya tumbuh hingga ia memimpin laskar Tentara Pelajar (TRIP).


Fakultas Hukum: 

Menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Hukum Surabaya.

[21/7 00.37] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

TRIP dan Pertempuran Surabaya 

Mas Isman 


Di masa penjajahan, ia dikenal sebagai sosok yang mampu memotivasi, menggerakkan dan memimpin para pemuda pelajar untuk bergabung dengan laskar bersenjata.


Keberaniannya terbukti dengan menggerakkan dan memimpin anak-anak muda untuk memelihara semangat persatuan, semangat kebangsaan, heroisme dan cinta Tanah Air.


Sebagai pelajar, dia pun turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah melalui Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).


"Setelah zaman kemerdekaan pun beliau tetap berjuang untuk rakyat sampai akhir hayat," ujar ahli waris almarhum Mas Isman, Hayono Isman.


Dengan pemikiran bahwa pelajar harus berjuang mengangkat senjata, pada 30 Agustus 1945 ia mendirikan organisasi pelajar, yang pada 22 September berikutnya dilantik oleh Sungkono di Sekolah Darmo-49 Surabaya.


Saat itu, Mas Iman ditunjuk sebagai komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Pelajar dan perjuangannya dimulai 9 November 1945 dengan pernyataan "Soempah Keboelatan Tekad" mempertahankan kedaulatan bangsa dan Negara Indonesia.


Pada 1946-1951, Mas Isman tetap menjadi seorang pemimpin bagi anak-anak muda generasi bangsa dengan mendirikan Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP).


Kehebatan pasukan TRIP dalam berbagai pertempuran dalam perang kemerdekaan di bawah kepemimpinan Mas Isman telah memberikan nama harum Indonesia ke pelosok dunia yang hanya sedikit Negara lain memiliki pasukan pemuda pelajar bersenjata.


Semangat tinggi perjuangan TRIP pimpinan Mas Isman disertai kemampuan bergaul dan menyatu dengan rakyat telah melengkapi strategi perang gerilya yang dimiliki TRIP pada khususnya dan Tentara Republik Indonesia pada umumnya.


Perlawanan paling sengit yang dilakukan TRIP terhadap Belanda terjadi di Jalan Salak (kini Jalan TRIP), Kota Malang, yang mana para tentara pelajar berusaha menghadang dan merampas kendaraan lapis baja sampai terjadi pertempuran heroik hingga mengorbankan 45 jiwa tentara pelajar.


TRIP Jawa Timur yang dipimpin Isman mendapatkan legitimasi langsung oleh Tentara Republik Indonesia (TRI) dan diakui sebagai kekuatan militer resmi dan memiliki jenjang kepangkatan, garis komando dan markas yang jelas.


Mas Isman adalah ayah dari mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Hayono Isman dan ayah dari mantan Anggota DPR RI Hayani Isman. Mas Isman juga merupakan tokoh Tentara Pelajar Indonesia dan pernah menjabat sebagai Komandan TRIP Jawa Timur dalam era revolusi fisik Indonesia pada tahun 1945—1949, secara resmi TRIP Jawa Timur dibubarkan melalui upacara demobilisasi pelajar pada tahun 1951 oleh Presiden Soekarno.


Sosok Mas Isman memang dikenal sebagai pendiri organisasi Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) yang kemudian menyesuaikan diri dari brigade pertempuran pasca-kemerdekaan. Rumah Mas Isman di Jalan Pandan No 5 Kota Malang kini menjadi kantor Kosgoro Malang. Dari beberapa sumber, Mas Isman mendirikan TRIP Jawa Timur pada 1945-1951. Lalu ia mendapatkan tugas di Kantor Perdana Menteri Indonesia pada 1956-1958 dengan pangkat Letnan Kolonel. Duta Besar sejak 1959-1967 di Rangoon, Bangkok dan Kairo itu dengan pangkat Brigjen juga pernah diembannya. Tak lama kemudian, Mas Isman berkecimpung di dunia politik dengan menjadi anggota DPR/MPR pada 1978.

[21/7 00.37] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Berdirinya Kosgoro

Mas Isman 


Usai Kemerdekaan

Usai perang kemerdekaan, di bawah pimpinan Mas Isman, anak-anak pelajar pejuang kemerdekaan dengan cepat mampu menyesuaikan diri untuk beralih dari brigade pertempuran menjadi brigade pembangunan.


Dengan mendirikan Kesatuan Organisasi Serbaguna Gotong Royong (KOSGORO) pada 10 November 1957 sebagai koperasi, dinilai merupakan pilihan cerdas Mas Isman untuk memberikan wadah tepat bagi penyaluran para pelajar pejuang kemerdekaan waktu itu yang tidak betah lagi berkiprah dalam partai politik.


Ketua tim pelaksana usulan Mas Isman sebagai Pahlawan Nasional Triyanto mengatakan bahwa setelah perang kemerdekaan, Mas Isman tetap menjadi panutan tidak hanya bagi teman-temannya, tapi juga oleh masyarakat luas dari setiap langkah dan ucapannya.


"Mas Isman dengan kepakaan sosial tinggi membuat usaha-usaha yang bermanfaat bagi masyarakat dan hasilnya dinikmati oleh orang banyak, khususnya rakyat kecil," ucapnya ketika ditemui di Surabaya saat proses pengusulan gelar Pahlawan Nasional beberapa waktu lalu.


Semasa hidupnya, lanjut dia, Mas Isman telah memberikan kontribusi dalam banyak hal, baik dalam skala nasional maupun internasional, yang semuanya demi kepentingan rakyat.


Mas Isman merupakan tokoh utama dalam berdiri dan berkembang nya Kosgoro, sebuah koperasi yang menghimpun eks tentara pelajar era revolusi fisik, hingga berkembang dan manfaat nya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat Indonesia yang baru saja merdeka. Di Kosgoro Mas Isman menjabat sebagai Ketua Umum PPK Kosgoro sejak 1957 hingga 1982.


Mas Isman juga sebagai pendiri Kosgoro, sebagai salah satu perjuangan di bidang ekonomi bagi masyarakat sehingga Presiden Soekarno memberikan hadiah tanah di Jl MH Thamrin 53 Jakarta yang kini menjadi Wisma Kosgoro. Di penghujung 2015, Presiden Joko Widodo secara resmi memberikan gelar Pahlawan Nasional untuk lima pejuang bangsa. Salah satunya adalah Mas Isman. Kelima pahlawan nasional itu adalah Bernard Wilhem Lapian (Sulawesi Utara), Mas Isman (Malang, Jatim), Komjen Pol Dr Moehammad Jasin (Surabaya, Jatim), I Gusti Ngurah Made Agung (Bali), dan Ki Bagoes Hadikoesoemo (Jogjakarta).

[21/7 00.37] rudysugengp@gmail.com: 4. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Mas Isman 


Tahun 1982 Mas Isman masih aktif sebagai anggota DPR RI, sebagai Pimpinan KOSGORO, dan Pimpinan KOSGORO Business Group. Namun kesehatannya terus menurun. Setiap akhir Minggu, Mas Isman ke Surabaya, dan menginap di Elmi Hotel miliknya. Namun, pada tanggal 12 Desember 1982 beliau wafat dalam usia 58 tahun di Hotel Elmi Surabaya.


Mas Isman juga dikenal sebagai tokoh militer yang egaliter, ketika menghembuskan nafas terakhirnya pada 1982 di Surabaya, Mas Isman berwasiat kepada keluarga agar dimakamkan di tempat pemakaman umum, agar keluarga dan rakyat mudah dalam berziarah ke makamnya. Mas Isman dimakamkan di TPU Tanah Kusir, berdekatan dengan makam Moh Hatta Wakil Presiden Pertama Indonesia.


Jenazah Mas Isman di terbangkan dari Surabaya ke Jakarta dan seharusnya di makamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, namun atas permintaan keluarga, jenazah Mas Isman dikebumikan di Pemakaman Umum Tanah Kusir, agar lebih dekat dengan rakyat.


Dalam situs berita Universitas Negeri Malang (UM) disebutkan pengusulan Mas Isman sebagai Pahlawan Nasional diajukan oleh UM bekerjasama dengan ARA Indonesia Institute dan keluarga Besar Mas Isman. Diceritakan bahwa perjuangan Mas Isman sebagai inisiator dan komandan dalam TRIP Jawa timur saat itu benar-benar heroik. Mas Isman selalu mengikuti perkembangan TNI dan situasi politik saat itu. Sepak terjang Mas Isman saat perang kemerdekaan bersama rekan-rekannya dalam mempersiapkan perjuangan jangka panjang patut diacungi jempol.


Menurut Gatot Dwi Purnomo, Ketua Generasi Penerus TRIP di Malang yang mengusulkan Mas Isman ditetapkan menjadi Pahlawan adalah Triyanto, salah satu keponakan Mas Isman. Bahkan, untuk mengenang pertempuran di Jalan Salak, 31 Juli 1947, Pemerintah Kota Malang mendirikan sebuah monumen tak jauh dari makam para pelajar pejuang yang gugur dalam pertempuran tersebut. Markas TRIP di Jawa Timur ada di beberapa wilayah seperti Malang, Bondowoso, Tulungagung, Kediri, dan Blitar. Dia menginformasikan, saat ini masih ada sekira 20 orang TRIP yang tersebar di Malang. Sedangkan anak-anaknya sebanyak 150 orang.


Pada tahun 2024, perjalanan hidup dan pemikiran Mas Isman ditulis menjadi sebuah buku yang berjudul "Manifesto Mas Isman" Oleh Tommy Wibawa Mukti Sitorus.

[21/7 01.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Kehidupan Awal

Muhammad Jasin


Muhammad Jasin (9 Juni 1920 – 3 Mei 2012) yang dikenal sebagai "Bapak Brimob Polri". Moehammad Jasin menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB, dalam usia 91 tahun di RS Polri Kramat Jati dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Informasi pribadi

Lahir :

9 Juni 1920

Baubau, Sulawesi Tenggara

Meninggal :

3 Mei 2012 (umur 91)

Jakarta

Makam :

Taman Makam Pahlawan Kalibata

Istri :

Siti Aliyah Kessing

Anak :

4


Latar Belakang dan Pendidikan Awal

M. Jasin lahir pada 9 Juni 1920 di Bau-Bau, Buton, Sulawesi. Ayahnya, Haji Mekah, berasal dari Bone, sementara ibunya, Siti Rugayah, berasal dari Maros. Ia merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Sejak kecil, Jasin menunjukkan semangat belajar tinggi. Ia memulai pendidikan di Volkschool (Sekolah Rakyat) di Bau-Bau, lalu melanjutkan ke Hollands Inlandsche School (HIS) di Makassar, dan terakhir ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), setingkat sekolah menengah atas pada masa itu.


Pada tahun 1941, setelah menamatkan pendidikan, Jasin masuk Sekolah Polisi di Sukabumi, Jawa Barat. Walaupun sempat merasa tidak cocok dan mencoba mengikuti pelatihan penerbangan militer di Bandung, orang tuanya tidak merestui. Akhirnya, ia kembali menekuni pendidikan kepolisian hingga meraih pangkat Hoofd Agent (setingkat bintara). Masa pendudukan Jepang membuat pendidikan polisi lebih diarahkan pada pelatihan militer, sehingga membentuk dasar kepemimpinannya di kemudian hari.

[21/7 01.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Brigade Mobil dan Pertempuran Surabaya 

Muhammad Jasin


Peran dalam Pertempuran Surabaya :

Surabaya menjadi salah satu pusat pertempuran sengit setelah proklamasi. Jasin berperan langsung dalam perebutan senjata dari Jepang di gudang Don Bosco dan markas Kempeitai. Dengan keberanian besar, ia memimpin negosiasi hingga berhasil mendapatkan senjata untuk pejuang Indonesia.


Ketika pertempuran 10 November 1945 meletus, Jasin mengumumkan bahwa pasukan Polisi Istimewa telah dimiliterisasi dan ikut bertempur melawan Sekutu. Pasukan yang dipimpinnya turut serta di berbagai front pertempuran. Setelah Surabaya jatuh, Jasin memindahkan markas ke Sidoarjo dan bahkan bergerilya di sekitar Gunung Wilis saat Agresi Militer Belanda berlangsung


Pada 21 Agustus 1945, Inspektur Polisi Moehammad Yasin, Komandan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya, menyatakan bahwa Tokubetsu Keisatsutai Surabaya menjadi Kepolisian Negara Republik Indonesia dan segera melakukan tindakan-tindakan untuk mempertahankan kemerdekaan RI. Sosok kelahiran Sulawesi ini menunjukkan semangat juang dan prestasi cemerlang ketika menjalan- kan tugas dari Kapolri Jenderal Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo untuk membentuk Brigade Mobil. Saat itu, 1946, Muhammad Yasin menjabat Kepala Kepolisian di Karesidenan Malang. Kesatuan yang diresmikan pada 14 November 1946 di Purwokerto ini sejak awal berdirinya berjasa mengatasi ancaman keamanan dan ketertiban seperti pada peristiwa Agresi Militer Belanda dan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil) di Bandung, serta peng- amanan jalan di wilayah Jawa Barat dari ancaman gerombolan DI/TII . Muhammad Jasin diangkat sebagai Bapak Brimob Kepolisian RI.


Karier Diplomasi dan Politik :

Selain di dunia kepolisian, M. Jasin juga aktif dalam bidang diplomasi dan politik. Ia pernah menjabat sebagai Duta Besar Indonesia untuk Tanzania (1967-1970), anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR), anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA), serta pimpinan di berbagai organisasi veteran. Kiprahnya tidak hanya terbatas pada medan pertempuran, tetapi juga dalam menjaga eksistensi negara di forum internasional.


Ringkasan 


Walaupun sempat mengalami pasang surut karier, termasuk pembuangan politik ke Jerman pada akhir 1950-an, M. Jasin tetap konsisten memperjuangkan integritas kepolisian dan kedaulatan Indonesia.


Proklamasi Polisi Istimewa


Memisahkan Diri dari Jepang: 

Pada 21 Agustus 1945, M. Jasin memproklamasikan Tokubetsu Keisatsutai (Polisi Istimewa) Surabaya menjadi Polisi Republik Indonesia.


Langkah Berani: 

Tindakan ini menjadikannya salah satu institusi bersenjata pertama yang menyatakan setia kepada NKRI pasca-proklamasi.


Pertempuran 10 November di Surabaya


Mobilisasi Pasukan: 

M. Jasin memimpin langsung pasukan Polisi Istimewa dalam pertempuran sengit melawan tentara Sekutu di Surabaya.


Pasokan Senjata: 

Pasukannya aktif melucuti senjata tentara Jepang dan membagikannya kepada para milisi serta pemuda pejuang di Surabaya.


Inspirasi Perjuangan: 

Keberanian pasukannya menjadi salah satu pemicu utama berkobarnya semangat arek-arek Suroboyo.


Cikal Bakal Korps Brimob


Pendiri Institusi: 


Polisi Istimewa yang dibentuk dan dipimpin oleh Jasin nantinya berkembang menjadi Mobile Brigade, yang kini dikenal sebagai Korps Brimob Polri.


Penumpasan Gerakan Separatis :


Operasi Militer: 

M. Jasin memimpin pasukannya dalam memadamkan berbagai gejolak keamanan pasca-kemerdekaan.


Pendekatan Damai: 

Ia terlibat dalam penanggulangan pemberontakan DI/TII di Aceh dengan mengutamakan dialog damai guna menghindari pertumpahan darah berlebih.

[21/7 01.35] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan 

Muhammad Jasin


Wafat :

Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Moehammad Jasin yang dikenal sebagai Bapak Brimob Polri menghembuskan nafas terakhir pada hari Kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB. Almarhum tutup usia dalam usia 91 tahun di RS Polri Kramat Jati. Dan Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.


Diabadikan Nama Jalan :

Tak banyak yang tahu jika Surabaya memiliki Polisi yang menjadi pahlawan saat pertempuran Hari Pahlawan, 10 Nopember 1945, di Surabaya. 

Dia adalah Moehammad Jasin. Mungkin warga Surabaya lebih mengenal dengan sebutan Tokubetsu Keisatsutai atau Polisi Istimewa, tanpa mengetahui siapa nama sesungguhnya polisi istimewa itu. Sebelumnya Nama Jalan Mohammad Jasin, akan ditempatkan untuk menggantikan Jl. Menganti tapi Polrestabes Surabaya tidak sepakat jika ditempatkan disana.


Di Kota Depok, sebuah jalan di mana lokasi Markas Komando Brigade Mobil berada, dinamai Jalan Komjen Pol. M. Jasin.


Gelar Pahlawan :

Setelah melalui tahapan pengusulan, akhirnya gelar Pahlawan Nasional diberikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 pafa tanggal 5 November 2015. Gelar Pahlawan Nasional dianugerahkan kepada:


Alm. Bernard Wilhem Lapian

Alm. Mas Isman

Alm. Komisaris Jenderal Polisi. Dr. H. Moehammad Jasin[5]

Alm. I Gusti Ngurah Made Agung

Alm. Ki Bagus Hadikusumo

Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo memimpin upacara penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada 5 putra terbaik bangsa Indonesia. Pemberian gelar ini seiring dengan peringatan Hari Pahlawan tahun 2015 yang mengusung tema “Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku”.


Pahlawan Polisi Pertama :

Ia menjadi polisi pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang memperoleh gelar tersebut. Penghargaan ini menegaskan perannya sebagai tokoh pejuang, pendiri Brimob, serta sosok polisi teladan yang tidak hanya berjuang di medan tempur, tetapi juga di panggung diplomasi dan kenegaraan.

[21/7 01.43] rudysugengp@gmail.com: I Gusti Ngurah Made Agung

[21/7 11.48] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Biodata dan Penobatan 

I Gusti Ngurah Made Agung


I Gusti Ngurah Made Agung atau yang setelah gugur bergelar Ida Tjokorda Mantuk Ring Rana (5 April 1876 – 20 September 1906) adalah Raja Badung atau Raja Denpasar ke-VI dan seorang pejuang yang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015. Ia merupakan putra dari I Gusti Gede Ngurah Pemecutan, raja Badung ke-IV.


Raja Kerajaan Badung ke-6

Bertakhta :

1902 – 20 September 1906

Penobatan :

1902

Pendahulu :

I Gusti Alit Ngurah Pemecutan

Penerus :

I Gusti Alit Ngurah (Tjokorda Alit Ngurah)

Kelahiran :

5 April 1876

Puri Agung Denpasar, Kerajaan Badung

Kematian :

20 September 1906 (umur 30)

Badung, Bali

Ayah :

I Gusti Gede Ngurah Pemecutan (Raja Badung IV)

Agama :

Hindu


Penobatan :

Pada tahun 1902, I Gusti Ngurah Made Agung dilantik sebagai Raja ke-VI menggantikan Raja sebelumnya, yakni I Gusti Alit Ngurah Pemecutan.


Sebenarnya, yang berhak menggantikan mendiang I Gusti Alit Ngurah Pemecutan adalah I Gusti Alit Ngurah (Tjokorda Alit Ngurah) yang merupakan putra mahkota dari Raja Denpasar V, akan tetapi karena umurnya pada saat itu baru berusia 6 tahun dan belum cukup umur untuk dinobatkan sebagai Raja, maka untuk sementara jabatan Raja dipegang oleh I Gusti Ngurah Made Agung yang merupakan saudara tiri Raja Denpasar V.

[21/7 11.48] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Persng Puputan Badung hingga Wafat

I Gusti Ngurah Made Agung


Meletusnya Puputan Badung :

I Gusti Ngurah Made Agung menentang penjajahan Hindia Belanda ketika terjadi peristiwa kandasnya sebuah kapal dagang berbendera Hindia Belanda milik seorang pedagang Tionghoa bernama Kwee Tek Tjiang yang berlayar dari Banjarmasin di pantai Sanur pada tahun 1904. Kapal tersebut bernama Sri Komala. Peristiwa kandasnya kapal dagang tersebut membuat prahaya besar di Kerajaan Badung karena Raja Badung tidak mau mengikuti kehendak pemilik kapal yang didukung oleh Pemerintah Hindia Belanda di Batavia. Pada peristiwa tersebut, rakyat Sanur dituduh mencuri isi kapal hingga menyebabkan kerugian di pihak pemilik kapal. Pemilik kapal melaporkan kejadian tersebut ke Pemerintah Hindia Belanda dan Pemerintah Hindia Belanda menuntut Raja Badung untuk bertanggung Jawab terhadap pencurian tersebut mengingat peristiwa tersebut berada di wilayah Kerajaan Badung. Raja Badung dituntut untuk membayar ganti rugi atas kejadian tersebut sebesar 3.000 dolar perak. Raja Badung menolak klaim sepihak Pemerintah Hindia Belanda karena berdasarkan pengakuan Rakyat Sanur, klaim tersebut tidak benar dan rakyat sanur merasa difitnah oleh Pemerintah Hindia Belanda.


Pada September 1906, Pemerintah Hindia Belanda membentuk pasukan besar di bawah pimpinan Jenderal Mayor M. B. Rost van Tonningen karena blokade ekonomi tidak berhasil menghancurkan Kerajaan Badung. Pembentukan pasukan ini tidak membuat I Gusti Ngurah Made Agung menyerah. Sebaliknya, ia memilih untuk berperang melawan pasukan Belanda tersebut hingga gugur di medan pertempuran pada 20 September 1906. Pertempuran ini lebih dikenal dengan nama Puputan Badung.

[21/7 11.48] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan Gambar dan Infografis tentang 

Penghargaan dan Karya

I Gusti Ngurah Made Agung


Penghargaan :

Atas jasanya tersebut, I Gusti Ngurah Made Agung ditetapkan menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 5 November 2015 berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK/Tahun 2015 yang ditandatangani pada Rabu, 4 November 2015 oleh Presiden Joko Widodo.


Pemkot Denpasar mengabadikan nama I Gusti Ngurah Made Agung melalui nama lapangan yang dulunya bernama "Lapangan Puputan Badung" kini bernama "Lapangan I Gusti Ngurah Made Agung", di mana ditempat tersebut terjadi perang Puputan Badung tahun 1906.


Sosok I Gusti Ngurah Made Agung juga diabadikan dalam monumen patung yang berada di perempatan jalan Veteran-jalan Patimura.


Karya Sastra :

Selain sebagai Raja Badung, I Gusti Ngurah Made Agung dikenal pula sebagai seorang sastrawan besar pada masanya. Adapun karya-karya sastra beliau diantaranya Geguritan Dharma Sasana, Geguritan Niti Raja Sasana, Geguritan Nengah Jimbaran, Kidung Loda, Kakawin Atlas, dan Geguritan Hredaya Sastra.


I Gusti Ngurah Made Agung juga diketahui merupakan sosok dibalik sebuah lagu yang sangat legendaris dan terkenal di kalangan masyarakat Bali, yakni Ratu Anom.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1 - 216

  PAHLAWAN NASIONAL (1959 - 2025) Presiden 1 (Sukarno) 49 (1  49) No. 1 Nama  : Abdoel Moeis Dasar Penetapan : Keppres No. 218 Tahun 19...