Kamis, 16 Juli 2026

Muis ke Cut Nyak Dhien

 PAHLAWAN NASIONAL 1959 2025

216

ENSIKLOPEDIA 

PAHLAWAN NASIONAL

Kuncorohadi dan Sustianingsih

Cetakan 2015 ada 156


ENSIKLOPEDIA PAHLAWAN NASIONAL

Kuncorohadi dan Sustianingsih

Cetakan 2015 dan 

Sub Direktorat Sejarah

Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional

Dirjen Kebudayaan

Cetakan 1995

Foto Ilustrasi AI

Foto IKPNI



Abdoel Moeis

Lahir: Sungai Puar Agam Sumatera Barat 3 Juli 1883| Meninggal: Bandung Jawa Barat 17 Juni 1959| Gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| Dasar penetapan: Keppres No. 218 Tahun 1959| Tanggal penetapan: 30 Agustus 1959

Dari seruan Kemerdehaan Hindia hingga novel Salah Asuhan

Tepat delapan hari setelah menjadi pemimpin redaksi surat kabar Neratja Bandung, ia segera menulis tajam, Perhimpoenan- perhimpoenan terseboet hanja satoe toejoeannja, jaitoe kemerdekaan Hindia. Seruan itu ditujukan bagi kaum pergerakan pribumi pada 16 Oktober 1917 tepat di hari pemilihan umum Volksraad Hindia Belanda. Abdoel Moeis memang tegas soal kemerdekaan bangsa pribumi Hindia [Indonesia]. Berkali-kali ia menyerukan slogan Hindia boeat anak Hindia. Seruan itu lantang menuntut kemerdekaan, satu hal yang dilarang pemerintah kolonial masa itu. Abdoel Moeis memang politikus kritis pada masanya, sekaligus sastrawan hebat yang melahirkan novel Salah Asuhan yang terbit pada 1928 dan dianggap sebagai sastra Indonesia modern terbaik sepanjang masa.

Abdoel Moeis yang berasal dari lereng gunung Marapi yang subur serta wilayah penghasil logam dan tekstil, merupakan seorang Minangkabau, putra Datuk Tumangguang Sutan Sulaiman, seorang demang yang keras menentang kebijakan Belanda di dataran tinggi Agam. Selesai sekolah ELS [Europeesche Lagere School] dan HBS [Hogere Burger School], Abdoel Moeis melanjutkan pendidikannya ke Stovia [School tot Opleiding van Indische Artsen] di Batavia meski tidak sampai lulus. Akan tetapi, kemampuan Abdul Muis dalam bahasa Belanda yang melebihi orang Belanda membuat Mr. Abendanon, Directeur Onderwzjs [Direktur Pendidikan] mengangkatnya sebagai seorang klerk [juru tulis]. Jadilah Moeis seorang pegawai negeri kolonial meski hanya bertahan selama dua tahun [1903-1905].

Di Bandung, selepas memutuskan berhenti jadi pegawai kolonial, Moeis jadi wartawan dan langsung bergabung dengan majalah Bintang Hindia hingga tahun 1912, lalu sempat sebentar menjadi mantri lumbung, lalu bergabung dengan surat kabar Belanda Preanger Bode sebagai korektor, Hanya dalam tempo tiga bulan, ia diangkat menjadi hoofdcorrector [korektor kepala] karena kemampuan berbahasa Belandanya yang luar biasa.

Keresahan sebagai seorang pribumi yang merasakan ketidakadilan di bawah kaki kolonial, membuatnya terjun dalam bidang politik. Moeis lalu masuk organisasi SI [Sarekat Islam] pada 1913, sebelumnya nama Moeis naik daun saat artikel-artikelnya yang mengecam pemerintah kolonial yang merendahkan kaum pribumi sering dimuat De Express milik IP [Indische Partij]. Moeis ikut mengurusi surat kabar Oetoesan Hindia milik SI pada 1915 dan ikut pula mendirikan surat kabar harian Kaoem Moeda di Bandung. Pengalaman dalam media semakin banyak dan ia juga semakin kritis saat bergabung dalam surat kabar Neratja, ia semakin lantang menyerukan kemerdekaan bangsa pribumi. Moeis semakin radikal. Kepada anggota sarekat, ia selalu menanamkan semangat perjuangan melawan pemerintah kolonial. Ketika kongres Sarekat Islam diadakan pada 1916, ia menganjurkan agar Sarekat Islam (SI) bersiap-siap menempuh cara kekerasan menghadapi pemerintah apabila cara lunak tidak berhasil.

Abdoel Moeis juga ikut terlibat dalam Komite Boemi Poetra untuk mengadakan perlawanan terhadap maksud pemerintah kolonial yang akan mengadakan perayaan besar-besaran 100 tahun kemerdekaan negeri Belanda dari Prancis. Melalui komite ini juga, Moeis turut mendesak Ratu Belanda agar memberikan kebebasan bagi bangsa pribumi dalam berpolitik dan bernegara.

Pada 1917, Moeis dipercaya sebagai utusan Sarekat Islam untuk pergi ke negeri Belanda mempropagandakan komite Indie Weerbaar. Dalam kunjungan itu, ia mendorong tokoh-tokoh Belanda untuk mendirikan THS [Technische Hooge School] di Priangan. Sekembalinya dari negeri Belanda, pada 1918, Abdoel Moeis ditunjuk sebagai anggota Volksraad mewakili Central Sarekat Islam.

Semangat perlawanannya tidak pernah padam. Pada 1919, Moeis pergi ke Sulawesi dan menggelar pidato menentang kerja rodi pemerintah kolonial. Akibatnya kerusuhan terjadi, seorang pengawas Belanda di Toli-Toli terbunuh. Abdoel Moeis dipersalahkan dan dihukum karena dianggap menghasut rakyat. Moeis tidak patah arang, selepas hukuman ia menjadi pemimpin Pengurus Besar Perkumpulan Buruh Pegadaian dan segera terlibat dalam aksi pemogokan kaum buruh di Yogyakarta pada 11 Januari 1922 yang membuat pemerintah kerepotan. Setahun kemudian, Abdoel Moeis berulah lagi. Ia mengunjungi Padang, Sumatera Barat. Di sana ia mengundang para penghulu adat untuk bermusyawarah, memprotes aturan landrentestelsel [Undang-undang Pengawasan Tanah] yang memberatkan masyarakat Minangkabau.

Pemerintah kolonial akhirnya bertindak tegas. Abdoel Moeis segera ditangkap, dilarang untuk tinggal di Sumatera selamanya, lalu diasingkan ke Garut Jawa Barat, dan dilarang keras untuk terlibat urusan politik. Abdoel Moeis memang berhenti sejenak dari aktivitas politik. Kala itu, ia hanya menjadi petani dan menulis novel terkenalnya, Salah Asuhan. Akan tetapi, tidak menunggu waktu terlalu lama untuk Moeis terlibat lagi dalam perjuangan kaum pribumi. Pada 1926, ia menjadi anggota Regentschapsraad [dewan kota] Garut. Enam tahun kemudian diangkat menjadi Regentschapsraad Controleur hingga Jepang masuk ke Nusantara pada 1942. Selepas kemerdekaan tahun 1945, Abdoel Moeis masih aktif dalam politik dengan mendirikan Persatuan Perjuangan Priangan yang fokus pada pembangunan di Jawa Barat dan masyarakat Sunda. Akan tetapi, usia tua tidak mampu lagi menopang kegiatan Abdoel Moeis. Pada umur 75 tahun ia tutup usia dan dimakamkan di taman makam pahlawan Cikutra Bandung. Tepat dua bulan selepas kematiannya, presiden Soekarno yang begitu mengagumi kiprah Abdoel Moeis yang tanpa henti hingga akhir hayatnya berjuang bagi kaum pribumi, memberinya gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.


Ki Hadjar Dewantara

Lahir: Yogyakarta 2 Mei 1889 | meninggal: Yogyakarta, 26 April 1959 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia | dasar penetapan: Keppres No. 305 Tahun 1959 | tanggal penetapan: 28 November 1959


Seandainya Ahu Seorang Belanda

Di awal abad 14 Masehi, di negeri koloni Hindia Belanda, pemerintah sibuk menyiapkan perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda yang jatuh pada15 November 1913. Panitia telah dibentuk jauh-jauh hari untuk mempersiapkan kemeriahan dan orang-orang pribumi dilibatkan dalam persiapan ini. Lalu tiba-tiba pada 13 Juli 1913, seorang anak muda yang baru berumur 24 tahun menulis sindiran dalam surat kabar Bandung De Express berjudul Als ik een Nederlander was yang mengkritik soal perayaan itu. Pemerintah tersinggung dan Raad van Indie [dewan Hindia] segera bersidang pada akhir bulan serta mengeluarkan ancaman bahwa sang penulis bisa dikenai delichtpers dengan hukuman hingga 1 tahun penjara atau denda hingga 500 Gulden. Sang pemuda tetap tak bergeming dan ia makin berani menantang pemerintah kolonial Belanda lewat tulisannya.

Pemuda itulah Raden Mas Suwardi Suryaningrat, keturunan Pakualam III. Suwardi memang tergolong pemberani. Mungkin ini hasil didikan ayahnya. Saat ia terjerat kasus di Bandung, pemerintah membujuk ayah Suwardi agar menasihati anaknya untuk tidak terlalu kritis terhadap pemerintah. Ayahnya, KPH Suryaningrat, memang segera menemui anaknya di Bandung, tapi bukan untuk menasihati melainkan berujar, seorang satria tidak akan menjilat ludahnya kembali. Jadilah Suwardi makin berani, ia segera menulis artikel garang bertajuk Een voor Allen maar Ook Allen voor Een pada 28 Juli 1913 dan membuat pemerintah marah. Tulisan itu dianggap agitatif. Tanpa waktu lama, pemerintah segera menangkap Suwardi lalu menjatuhi hukuman buang ke pulau Bangka. Suwardi menolaknya dan meminta dibuang ke Belanda.

Suwardi memang punya bakat kritis dan makin terasah saat terlibat dalam perkumpulan insulinde. Ia juga makin mempunyai pengaruh saat mendirikan Indische Partij [IP] bersama dua kawan karibnya di Bandung. Jadilah nama Suwardi melambung sebagai bagian dari Janget Tinatelon [tiga serangkai] yang terkenal sangat kritis.

Awalnya Suwardi hanyalah pemuda yang studi di STOVIA. Ia ingin menjadi dokter bumi putra, tetapi ia tidak menamatkan studinya karena bea siswanya dicabut. Suwardi lalu bekerja di laboratorium pabrik gula Kalibor, Banyumas, Jawa Tengah hingga pada 1911 Suwardi kembali ke Yogyakarta menjadi pembantu apoteker.

Dunia obat memang bukan hidupnya, Suwardi justru tertarik menjadi wartawan di pelbagai surat kabar seperti, Sedyotomo, Midden Java, De Express, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan- tulisannya sangat komunikatif, tajam dan patriotik sehingga mampu membangkitkan semangat antikolonial bagi pembacanya. Dalam organisasi, sebelum terlibat Insulinde, Suwardi telah aktif di seksi propaganda Boedi Oetomo untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat pribumi tentang pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara.

Indische Partij atau tepatnya National Indische Partij yang didirikan pada 25 Desember 1912 menjadi partai pelopor dalam menuntut kemerdekaan Hindia [Indonesia]. Partai ini segera tidak berdaya saat gubernur jenderal Idenburg menolaknya pada 11 Maret 1913. Sekian bulan setelahnya, tepatnya pada 6 September 1913, Suwardi yang ditemani istrinya beserta dua rekan karibnya dalam tiga serangkai berangkat menuju tanah pembuangan.

Di Belanda, Soewardi aktif dalam Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia). Ia ikut menyemarakkan majalah Hindia Poetra dan juga Het Indonesisch Verbond van Student. Bersama istrinya, ia juga mendirikan Indonesisch Persbereau yang bertujuan sebagai pusat propaganda perjuangan pergerakan nasional Hindia [Indonesia]. Di samping itu, Suwardi juga menempuh pendidikan keguruan hingga memperoleh Europeesche Akte.

Pada Agustus 1917, pengasingan Suwardi sesungguhnya telah selesai, tapi karena Perang Dunia pertama masih berkecamuk hebat, ia belum bisa kembali ke Hindia Belanda. Baru Juli 1919, Suwardi bisa meninggalkan negeri Belanda. Segera setelah tiba di tanah air, Suwardi terlibat lagi dalam pergerakan. Kali ini ia berada di Semarang dan aktif menulis dalam Persatoean Hindia yang segera menggiringnya ke penjara hingga tahun 1921.

Setelahnya, ia kembali ke Yogyakarta dan mendirikan Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa pada 3 Juli 1922. Ia mendobrak sistem pendidikan barat dan pesantren dan mengajukan sistem pendidikan nasional. Ia juga segera mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan agar dekat dengan rakyat. Ia juga segera memberi semboyan sistem pendidikan dalam bahasa Jawa, ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Slogan yang nantinya begitu terkenal. Taman Siswa maju pesat meski riak menghadangnya. Pada tahun 1932, muncul ordonansi sekolah liar yang membatasi gerak sekolah-sekolah pribumi sampai pada pendudukan Jepang, tepatnya pada 13 Maret 1944, Taman Siswa dibubarkan dan hanya diizinkan mengadakan sekolah kejuruan.

Ki Hajar Dewantara tidak serta-merta berhenti, ia ikut terlibat dalam Putera [pusat Tenaga Rakyat] bentukan Jepang dan masih aktif dalam pendidikan hingga selepas kemerdekaan Indonesia 1945, ia diangkat menjadi menteri pendidikan Indonesia [menteri pengajaran Indonesia] pertama dan masih mengurusi lembaganya, Taman Siswa. Peran sentralnya dalam pendidikan Indonesia diakui hingga mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada pada tahun 1957. Dua tahun setelahnya, dalam usia 69 tahun, ia dipanggil sang Khalik dan dimakamkan di Taman Wijaya Brata, makam milik keluarga Taman Siswa. Karena jasanya yang begitu besar, Ki Hajar Dewantara digelari Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan hari kelahirannya dijadikan Hari Pendidikan Nasional. Tujuh bulan selepas kepergiannya, presiden Soekarno segera memberi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia kepada Ki Hajar Dewantara.



Raden Mas Soerjopranoto

lahir: Yogyakarta 11 Januari 1871 | meninggal: Cimahi

15 Oktober 1959 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 310 Tahun 1959 | tanggal penetapan: 30 November 1959

De stakings Koning

Sekali waktu, keresahan melanda kaum buruh pabrik gula akibat kesewang-wenangan kumpulan tuan-tuan pabrik. Seorang ningrat Jogja segera bertindak. Pada 20 Agustus 1920, ia gerakkan serikat buruh pabrik gula dalam P.F.B. (Personeel Fabrieks Bond) untuk melakukan tindakan mogok kerja. Di selatan Yogyakarta, tepatnya pabrik gula Madu Kismo, gerakan mogok massal dilancarkan. Aksi meluas ke beberapa wilayah Hindia Belanda. Koran De Express segera mengangkat berita ini dan memberi julukan pada pelaku penggeraknya sebagai De stakings Koning, si raja Mogok.

Nama aslinya Raden Mas Soerjopranoto dengan nama kecil Iskandar. Ia memang tidak setenar adiknya, Ki Hajar Dewantara.



[11]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Akan tetapi, perjuangannya tidak kalah dengan sang adik. Masa kecil dan remajanya dihabiskan dengan sekolah. Ia masuk Europeesche Lagere School (ELS), lalu mengambil Klein Ambtenaren Cursus [Kursus Pegawai Rendah], setingkat dengan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs [MULO] dan berikutnya masuk ke Middelbare Landbouw School [MLS], Sekolah Pertanian di Buitenzorg [Bogor].

Di sanalah kemudian Soerjopranoto bertemu dengan tokoh- tokoh pergerakan. Pada 1908, ia pernah berembuk dengan para pelajar STOVIA di Batavia untuk membuat perhimpunan, tetapi gagal. Ajan tetapi, langkahnya tidak terhenti begitu saja. Saat ia memutuskan keluar dari dinas pertanian kolonial di Temanggung, ia segera bergabung dengan Boedi Oetomo, sebagai sekretaris cabang Yogyakarta. Soerjopranoto semakin bersemangat. Pada 1911, Soerjopranoto masuk Sarekat Islam dan segera menjadi orang penting. Soerjopranoto menjadi orang kedua dalam partai dan segera terlibat dengan gerakan buruh milik SI. Ia menjadi berani dengan gerakan pemogokan buruh sejak P.F.B. [Personeel Fabrieks Bond].

Pada 12 Februari 1912, ia terlibat dalam pendirian asuransi jiwa O.L.Mij [Onderlonge Levensverzekering Maatschappij] Bumi Putera yang diperuntukkan bagi kaum pribumi. Setelah itu bahkan Soerjopranoto menggagas sendirian Arbeids leger [barisan kerja] Adhi Dharma untuk membantu ekonomi kaum pribumi termasuk mendirikan sekolah rakyat pribumi.

Soerjopranoto terus bergerak melawan ketidakadilan pemerintah kolonial hingga tiga kali masuk penjara, pertama di



[12]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


penjara Malang pada 1923 selama 3 bulan, kedua di Semarang pada 1926 selama 6 bulan, dan ketiga di Sukamiskin Bandung pada 1933 selama 16 bulan.

Soerjopranoto tidak pernah berhenti meski berkali-kali keluar masuk penjara. Pemerintah kolonial segera membujuknya. Ia ditawari menjadi anggota Volksraad, tetapi ditolaknya dan lebih memilih berada di jalan-jalan untuk menggerakkan aksi mogok, di tengah-tengah rakyat pribumi.

Sejak Jepang masuk, Soerjopranoto menjadi guru di Taman Siswa milik adiknya, meski juga masuk dalam keanggotaan Cuo Sangi In [dewan pertimbangan]. Selepas kemerdekaan, Soerjopranoto lebih memilih untuk mengurangi aktivitas politiknya dengan tetap mengajar di Taman Siswa. Hingga pada 15 Oktober 1959 tengah malam, ia meninggal dunia dalam usia 88 tahun. Jenazahnya segera dibawa pulang ke Yogyakarta dan dikebumikan di makam keluarga Rachmat Jati di Kota Gede. Satu bulan berikutnya, presiden Soekarno memberi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia pada tokoh yang dijuluki orang Belanda sebagai de Javaanse Edelman met een ontembare wil ini. Seorang bangsawan Jawa dengan tekad yang tidak terjinakkan.













[13]




Mohammad Husni Thamrin


lahir: Batavia 16 Februari 1894 | meninggal: Batavia 11 Januari 1941| gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 175 Tahun 1960| tanggal penetapan: 28 Juli 1960





Pejuang dari Betawi

Pada 31 Agustus 1940, saat pemerintah kolonial merayakan ulang tahun Ratu Wilhelmina, seorang anggota Volkstraad tidak mengibarkan bendera merah putih biru Belanda di depan rumahnya. Ini tanda pembangkangan. Sekali waktu, saat Jepang mulai unjuk gigi di Asia Pasifik, ia juga mempelesetkan JINTAN, obat kumur Jepang, menjadi Jenderal Japan Ini Nanti Toeloeng Anak Negeri. Selain itu, tokoh Jepang Kobajashi dipanjangkan menjadi Koloni Orang Belanda akan Japan Ambil Seantero Indonesia. Pemerintah segera menganggapnya sangat berbahaya karena tidak setia dengan Belanda dan main mata dengan pihak Jepang.

Sang pembangkang itulah Mohammad Husni Thamrin. Ia tokoh Betawi kelahiran Sawah Besar anak seorang wedana bernama

[14]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Tabri Thamrin di masa pemerintahan Gubernur Jenderal Van der Wijck. Selepas Husni Tamrin menamatkan sekolah Koning Williem II, ia yang fasih bahasa Belanda bekerja di kantor kepatihan, kemudian di kantor Residen, dan akhirnya di perusahaan pelayaran Koninklijke Paketvaart Maatschappij [KPM].

Ia lalu diangkat menjadi anggota Dewan Kota Batavia tahun 1919. Empat puluh tahun kemudian ia mendirikan Persatuan Kaum Betawi yang bertujuan memajukan pendidikan, perdagangan, kerajinan, dan kesehatan untuk penduduk Batavia.

Dalam Dewan Kota ia mempunyai pengaruh yang besar. Karena dianggap mampu, diangkat menjadi Wakil Wali Kota, tetapi hal itu tidak mencegahnya untuk mengecam tindakan Pemerintah Belanda yang menindas rakyat. Pada 1927 , Thamrin diangkat menjadi anggota Volksraad dan kemudian membentuk Fraksi Nasional untuk memperkuat kedudukan golongan nasionalis dalam dewan. Ia juga segera mengadakan peninjauan ke Sumatera Timur untuk menyelidiki nasib buruh perkebunan yang sangat menderita akibat adanya poenale sanctie.

Tindakan pengusaha perkebunan yang sewenang-wenang terhadap buruh, dibeberkan dalam pidatonya di Volksraad. Pidato itu berpengaruh di luar negeri. Di Amerika Serikat timbul kampanye untuk tidak membeli tembakau Deli. Akibatnya, poenale santie diperlunak dan akhirnya dihapuskan sama sekali.

Thamrin bergabung dengan Partai Indonesia Raya [Parindra] dan segera menjadi ketua selepas dr. Sutomo meninggal dunia


[15]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


pada Mei 1938.Sementara itu perjuangan dalam Volksraad tetap dilanjutkan. Tahun 1939 ia mengajukan mosi agar istilah Nederlands Indie, Nederland Indische dan Inlander diganti dengan istilah Indonesia, Indonesisch, dan Indonesier. Mosi itu ditolak oleh Pemerintah Belanda walaupun mendapat dukungan sebagian besar anggota Volksraad.

Sejak itu, rasa tidak senangnya terhadap pemerintah jajahan semakin besar. Akibatnya, pemerintah Belanda mencurigai dan mengawasi tindak-tanduknya. Tanggal 6 Januari 1941 Muhammad Husni Thamrin dikenakan tahanan rumah dengan tuduhan bekerja sama dengan pihak Jepang. Itulah akhir dari kiprah Thamrin dalam ranah pergerakan. Penahanan rumah yang dikenakan terhadapnya membuatnya jatuh sakit.

Di rumahnya di jalan Sawah Besar No 32, Thamrin muntah- muntah dan demam karena gangguan ginjal, kecapaian dan malaria. Istrinya meminta polisi agar mengizinkan kunjungan dokternya. Akhirnya sang dokter datang, tetapi sudah terlambat, tanggal 10 Januari 1941, suhu badan Thamrin sangat tinggi dan ia hampir tidak bisa bicara. Dokter memberi suntikan untuk menurunkan panasnya, namun penyakitnya tidak tertolong lagi, esok subuh 11 Januari 1941, ia meninggal. Segera ia dimakamkan di Pekuburan Karet, Batavia. Di saat pemakamannya, lebih dari 20.000 orang mengantarnya. 19 tahun selepas kepergiannya, presiden Soekarno yang pernah diberi uang 50 Gulden saat di penjara di Bandung oleh Thamrin memberikan gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia pada pejuang dari Betawi itu.


[16]










Kyai Haji Samanhudi


lahir: Surakarta 1868| meninggal: Klaten 28 Desember 1956 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia | dasar penetapan: Keppres No. 175 Tahun 1960 | tanggal penetapan: 28 Juli 1960





Pedagang Sekaligus Pejuang

Saat itu, Surakarta memang sedang resah akibat banyak Begal dan Kecu, kaum penjahat yang merugikan rakyat. Di Laweyan, tempat para saudagar batik pribumi bermukim tidak lepas dari rasa takut pada kegiatan kaum penjahat. Sekali waktu, Samanhudi mengumpulkan karibnya sesama pedagang pribumi dan mengusulkan kelompok ronda malam, Rekso Roemekso. Bertujuan menciptakan keamanan dari pencurian dan saling memberi pertolongan sesama pedagang batik Laweyan. Di titik awal itu juga para saudagar merasakan diskriminasi dalam berdagang, lalu kelompok ronda itu perlahan diubah Samanhudi menjadi Serikat Dagang Islam [SDI] yang bertujuan melindungi pedagang batik pribumi. Pada11 November 1911, Serikat ini telah resmi menjadi


[17]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


organisasi dan Samanhudi menjadi ketua pertamanya. Lalu siapa sangka bahwa Serikat ini berkembang luar biasa, berubah nama menjadi Serikat Islam [SI], dan menjadi organisasi masa pertama yang memainkan peran teramat penting dalam pergerakan nasional. Lalu, ketika kembali membicarakan awal berdirinya SI, orang pasti akan menyebut nama Samanhudi.

Samanhudi sering dikenal juga dengan nama Wiryowikoro. Akan tetapi, ia memiliki nama kecil Sudarno Nadi, pemberian kedua orang tuanya sejak lahir. Pendidikan formal yang ditempuhnya hanya Sekolah Dasar, itu pun tidak sampai tamat. Sesudahnya, ia belajar agama di Surabaya sambil berdagang batik. Setelah terjun dalam dunia perdagangan, Samanhudi merasa jiwa dagang semakin melekat pada dirinya. Wawasan dalam dunia dagang pun semakin luas, dan ia mulai melihat ada perlakuan berbeda terhadap pedagang pribumi yang beragama Islam. Sekitar tahun 1911 terdapat persaingan yang tidak sehat antara pedagang-pedagang di Hindia Belanda. Pedagang- pedagang pribumi banyak mendapat tekanan dari Pemerintah Belanda. Oleh karena itu, perdagangan bangsa Indonesia tidak dapat berkembang. Melihat keadaan ini, Samanhudi mengubah kelompok rondanya di Laweyan menjadi Sarekat Dagang Islam [SDI]. Organisasi itu bertujuan membela kepentingan pedagang-pedagang pribumi. Tirtoadisurjo membantu organisasi ini menjadi legal pada 11 November 1911.

Munculnya SDI mendapat sambutan yang luas. Dalam waktu singkat cabang-cabang SDI berdiri di luar kota Solo. Sesudah itu, SDI ditingkatkan menjadi partai politik. Pada 10 September 1912,


[18]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


nama SDI diubah menjadi Serikat Islam (SI). Haji Samanhudi tetap duduk sebagai ketua kehormatan sampai tahun 1914. Sesudah itu, SI dipimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto, dan tumbuh menjadi partai massa. Sejak tahun 1920 Haji Samanhudi tidak aktif lagi dalam pergerakan. Kesehatannya sering terganggu, tetapi perhatian terhadap pergerakan nasional tidak padam. Lama namanya tidak terdengar.

Di kala kemerdekaan telah di depan mata dan tentara Belanda mengganggu republik Indonesia, ia kembali bergerak. Samanhudi mendirikan Barisan Pemberontak Indonesia di Surakarta dan Gerakan Persatuan Pancasila. Saat Belanda melancarkan Agresi militer kedua, Samanhudi membentuk laskar yang diberi nama Gerakan Kesatuan Alap-alap. Laskar itu ditugasi menyediakan perlengkapan terutama bahan makanan untuk kesatuan-kesatuan tentara yang sedang bertempur di garis depan. Banyak jasa yang diberikan selama berlangsungnya Agresi Militer II Belanda meski ia sudah tua.

Samanhudi meninggal pada usia 88 tahun di Klaten dan tubuhnya dimakamkan di Banaran, Grogol, Sukoharjo. Atas jasanya yang begitu besar dalam pergerakan nasional maka pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tahun 1961.









[19]














lahir: Madiun16 Agustus 1882 |meninggal: Yogyakarta

17 Desember 1934 | gelar: pahlawan kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 590 Tahun 1961| tanggal penetapan: 9 November 1961





Raja Jawa tanpa Mahhota

Di paruh pertama abad ke 20, semua percaya bahwa ia tokoh besar. Ribuan orang akan berdesak-desakan menyaksikan ia naik podium. Ia jago berorasi, menyebar propaganda, membakar emosi massa. Ia mampu menghipnotis massa dengan suara baritonnya. Ribuan pengikutnya menganggap ia sang Erucokro [Ratu Adil] yang akan membebaskan penderitaan pribumi. Akan tetapi, ia menolak anggapan itu. ia merasa bukan Ratu Adil, hanya ia memang pemimpin yang berusaha membebaskan pribumi dari pengisapan kaum kolonial Belanda. Ia lantang bersuara, kita diberi makan bukan karena kita dibutuhkan susunya. Ia menganggap kolonial Belanda hanya menjadikan kaum pribumi sebagai sapi perahan. Ia lawan penindasan itu dengan menyadarkan ribuan rakyat. Begitu takutnya



[20]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


hingga orang-orang kolonial menganggapnya sang Raja Jawa meski tidak memakai mahkota layaknya sunan atau sultan vorstenlanden.

Cokroaminoto yang lahir di desa Bakur sewaktu kecil terkenal nakal dan suka berkelahi. Sering kali ia berpindah-pindah sekolah, namun pada 1902, ia berhasil menamatkan OSVIA [Sekolah Pamongpraja] di Magelang. Setelah bekerja selama tiga tahun sebagai juru tulis di Ngawi, ia pindah ke Surabaya dan bekerja pada perusahaan dagang. Di kota itu, ia memasuki Serikat Dagang Islam (SDI). Atas sarannya, pada 10 September 1912 secara resmi nama SDI diubah menjadi Serikat Islam [SI]. Cokroaminoto diangkat menjadi komisaris SI dan kemudian menjadi ketua pada 1915. Di bawah pimpinannya, SI berkembang dengan pesat dan tumbuh menjadi partai massa sehingga mencemaskan pemerintah Belanda.

Sebagai wakil SI dalam Volksraad, pada 25 Nopember 1918, ia mengajukan mosi yang dikenal dengan Mosi Cokroaminoto. Melalui mosi itu Pemerintah Belanda dituntut supaya membentuk parlemen yang anggota-anggotanya dipilih dari rakyat dan oleh rakyat. Dituntut pula supaya pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen.

Cokroaminoto mengecam pengambilan tanah untuk dijadikan perkebunan milik orang-orang Eropa. Ia mendesak Sumatera Landsyndicaat supaya mengembalikan tanah rakyat di Gunung Seminung [tepi Danau Ranau, Sumatera Selatan]. Dituntutnya pula supaya kedudukan dokter-dokter pribumi disamakan dengan dokter-dokter Belanda. Pada 1920, dengan tuduhan menyiapkan pemberontakan untuk menggulingkan Pemerintah Belanda, ia

[21]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


dimasukkan ke penjara. Selepas bebas, ia diminta lagi untuk duduk dalam Volksraad. Permintaan itu ditolaknya, sebab ia tidak mau lagi bekerjasama dengan Pemerintah Belanda.

Cokroaminoto tidak hanya bergiat dibidang politik, ia banyak pula menulis artikel di pelbagai surat kabar. Tulisan-tulisannya sering dimuat Oetoesan Hindia, Fadjar Asia, dan Bendera Islam. tetapi tak lama ia mengelola Koran Bendera Islam, Cokroaminoto mengembuskan napas pungkasannya pada umur 52 tahun. Jenazahnya segera dimakamkan di pemakaman Pakuncen Yogyakarta. Atas jasa-jasanya dalam bidang pergerakan nasional, Cokroaminoto dijadikan Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1961.





























[22]














Lahir: Pasuruan 8 Oktober 1879 | meninggal: Bandung

28 Agustus 1950| gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 590 Tahun 1961 | tanggal penetapan: 9 November 1961





Ih ben Indonesier, Ahu Bangsa Indonesia!

Ia seorang Indo, seorang peranakan Belanda. Akan tetapi, ia mendukung penuh perjuangan kaum bumi putra untuk kemerdekaan. Ia selalu meneriakkan kata merdeka padahal darahnya mengandung darah Belanda, darah penjajah. Itulah kenapa ia dimaki sebagai pengkhianat, si pembuat onar oleh kaum kolonial. Tapi bagi kaum pergerakan, ia adalah pejuang sejati. Dalam tulisannya, ia tanpa lelah selalu menyerukan, “Indie los van Hollad, Indonesia bebas dari Belanda. Dan kepada sesama kaum pergerakan ia selalu menyeru, Kameraden, stokt de vuren!, nyalakan Api, Kawan-kawan!. Ia tanpa henti selalu mengajak rakyat melawan pemerintah kolonial.





[23]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Nama lengkapnya Ernest Eugene Francois Douwes Dekker dan masih memiliki hubungan kerabat dengan Eduard Douwes Dekker, si Multatuli yang menulis novel terkenal, Max Havelaar. Mungkin nama marga Douwes Dekker memang terlahir sebagai pembela kaum pribumi Hindia. Ia anak seorang pengusaha yang mampu menjamin hidupnya. Sejak kecil, Nessapaan Douwes Dekker, sekolah HBS di Surabaya. Ia lalu pindah ke Gymnasium Willem III, suatu sekolah elit di Batavia. Selepas lulus, Nes bekerja di perkebunan kopi Soember Doeren di Malang Jawa Timur lalu berganti di perkebunan tebu di Kraksaan sebagai laboran. Ia tidak betah bekerja karena selalu konhik dengan petinggi perkebunan, konhik terjadi karena Nes membela kaum buruh pribumi.

Sesudah itu, beberapa tahun lamanya ia mengembara di luar negeri. Sebagai sukarelawan, ia turut dalam Perang Boer melawan Inggris di Afrika Selatan pada 1899. Ia ditawan Inggris dan di penjarakan di Sri Lanka. Setelah bebas, ia kembali ke Hindia [Indonesia], lalu menjadi wartawan di De Locomotief dan menjadi staf redaksi Bataviaasch Nieuwsblad. Rumahnya menjadi tempat berkumpul kaum pergerakan dan segera mendirikan harian De Express yang banyak memuat karangan untuk memperjuangkan kemerdekaan bagi Indonesia.

Pada tahun 1912, ia ikut mendirikan Indische Partij (IP), partai politik pertama yang lahir di Indonesia. Douwes Dekker yakin bahwa penjajahan dapat ditumbangkan dengan adanya aksi bersama antara semua golongan dalam masyarakat. Golongan Indo dianjurkannya




[24]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


agar bersatu dengan pribumi dan menganggap Hindia [Indonesia] sebagai tanah air mereka.

Kegiatan dalam Komite Bumi putera menyebabkan ia berhadapan dengan pengadilan kolonial dan dibuang ke Belanda pada 1913. Komite itu dibentuk untuk menentang maksud Pemerintah Belanda merayakan peringatan seratus tahun bebasnya negeri Belanda dari penjajahan Prancis. Selama dibuang, Nes pergi ke Swiss untuk memperdalam ilmunya. Dikala kuliah di Universitas Zurich, Swiss, ia mendaftarkan diri sebagai orang Hindia [Indonesia], suku Jawa.

Setelah lima tahun berada dalam pembuangan, ia kembali ke Hindia [Indonesia] dan melanjutkan perjuangan di bidang pendidikan dengan mendirikan perguruan Kesatria Institut. Di perguruan ini terhadap anak didik ditanamkan rasa kebangsaan. Saat kecamuk perang dunia kedua dan saat Jepang berancang-ancang masuk Hindia, Nes ditangkap lagi karena dituduh pro Jepang. Ia dibuang ke Suriname. Nes baru bisa bebas pada 1946 dan melalui petualangan yang panjang akhirnya bisa tiba di Yogyakarta pada 2 Januari 1947. Di ibu kota, ia disambut hangat pemimpin negara di Gedung Agung. Mereka memeluknya seraya mengucap, selamat datang Nes.

Nes segera berganti nama pribumi, Danudirdja Setiabudhi, atas pemberian Soekarno. Ia menjabat menteri negara tanpa portofolio yang hanya bekerja dalam waktu 9 bulan. Selanjutnya berturut-turut ia menjadi anggota delegasi negosiasi dengan Belanda, anggota DPA,



[25]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


pengajar di Akademi Ilmu Politik, dan terakhir sebagai kepala seksi penulisan sejarah (historiografi) di bawah Kementerian Penerangan. Pada class kedua, ia diciduk tentara Belanda pada 21 Desember 1948 di rumahnya di Kaliurang. Setelah interogasi, Nes dikirim ke Jakarta untuk ditahan. Nes segera dibebaskan karena kondisi fisiknya yang telah tua. Ia lalu dibawa ke Bandung atas permintaannya dan tinggal di jalan Lembang. Di Bandung, ia kembali beraktivitas di Kesatria Institut. Nes wafat dini hari dalam usia 70 tahun dan dimakamkan di TMP Cikutra Bandung. Atas jasa-jasanya yang luar biasa dalam kemerdekaan Indonesia, pemerintah Indonesia memberi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia kepada Douwes Dekker pada 1961.





























[26]






Sisingamangaraja XII




lahir: Bakara 18 Februari 1845 | meninggal: Dairi 17 Juni 1907 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 590 Tahun 1961| tanggal penetapan: 9 November 1961







Raja Tapanuli Melawan Kompeni

Pantuan Bosar Ompu Pulo Batu atau lebih dikenal dengan nama Sisingamangaraja XII didapuk menjadi raja pada 1867 menggantikan ayahnya yang meninggal akibat penyakit kolera. Di masa pemerintahannya, Pemerintah Hindia Belanda mulai memasuki daerah Tapanuli. Hal tersebut langsung direspons oleh Sisingamangaraja XII dengan mengumpulkan raja-raja sekitar Tapanuli. Selain itu, para panglima dari daerah Humbang, Toba, Samosir, dan Pakpak juga diajaknya bersatu guna melawan penjajah.






[27]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Belanda beberapa kali melobi Sisingamangaraja XII agar diperkenankan masuk ke wilayah Tapanuli. Namun hasilnya nihil, Sisingamangaraja XII mengetahui sebenarnya tujuan Belanda dan membuat situasi semakin memanas. Pada 19 Februari 1878 bentrok terjadi antara dua belah pihak. Pasukan Sisingamangaraja XII beserta rakyat Tapanuli menyerbu pos pasukan Belanda di Bahal Batu, dekat Tarutung. Pertempuran tersebut menewaskan banyak penduduk. Pasukan Sisingamangaraja terdesak dan mundur ke desa Butar. Pihak Belanda tidak tinggal diam, paska kemenangan di Bahal Batu mereka terus merangsek masuk desa mengejar. Pasukan Tapanuli terpaksa terus mundur ke Lobu Siregar, kemudian Tangga Batu, hingga Balige. Di desa terakhir ini Sisingamangaraja kembali menyusun kekuatan, Balige dijadikan basis pasukan. Di tengah pengejaran, Belanda sering kali membakar setiap desa dilampauinya. Hal tersebut dikarenakan rakyat beserta para pemimpin desa melakukan perlawanan. Pengejaran pasukan Belanda sampai ke Balige. Dan pertempuran Dahsyat kembali terjadi di Balige. Dalam pertempuran itu Sisingamangaraja XII terkena tembakan di bagian atas lengan. Lagi-lagi ia dan pasukannya harus mundur karena Belanda berhasil menguasai Balige.

Sisingamangaraja kemudian menerapkan taktik gerilya, berpindah dari Balige ke Bakkara kemudian ke Huta Paung di Dolok Sanggul, lalu Lintong. Kadang kembali lagi ke Bakkara atau ke Lintong. Gerilya pasukan Sisingamangaraja menyulitkan pihak Belanda. Hingga pada 1989 Belanda mengetahui pasukan Sisingamangaraja XII menyingkir ke Lintong untuk kali kedua. Informasi tersebut tidak disia-siakan, Belanda pun segera melancarkan


[28]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


serangan dadakan dengan alat modern. Mendapat serangan tersebut, pasukan Sisingamangaraja kembali harus menyingkir, mereka lalu bertahan di Dairi.

Paska bentrok di Lintong, hampir selama 21 tahun tidak ada serangan terbuka terhadap pasukan Belanda. Namun, di kurun waktu itu, Sisingamangaraja berusaha menjalin sekutu dengan cara melakukan kunjungan ke berbagai daerah, hingga sampai ke Aceh. Ia juga menyambangi raja-raja kampung (huta) di Tapanuli. Hal tersebut dilakukan supaya para raja tetap memiliki semangat melawan Belanda. Akibatnya, perlawanan oleh raja-raja terhadap Belanda pun kerap terjadi. Pihak Belanda meyakini, bahwa perlawanan yang dilakukan oleh raja-raja kampung tersebut karena pengaruh Sisingamangaraja XII.

Pihak penjajah Belanda kemudian berupaya melakukan diplomasi dengan menawarkan penobatan Sisingamangaraja sebagai Sultan Batak. Tawaran tersebut ditolak, Pemerintah Hindia Belanda menjadi kesal lalu mengeluarkan perintah untuk menangkap mati atau hidup Sisingamangaraja XII. Dairi dikepung hampir selama tiga tahun oleh pasukan Marsose Belanda di bawah komando Hans Christoffel. Pada 17 Juni 1907, serangan dilakukan hingga menewaskan Sisingamangaraja XII. Keris Gaja Dompakpusaka Sisingamangarajadisita dan dibawa ke Batavia, sedang pengikut beserta kerabatnya kemudian ditawan Pemerintah kolonial.








[29]














lahir: Tondano 5 November 1890 |meninggal: Jakarta 30 Juni 1949 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 590 Tahun 1961| tanggal penetapan: 9 November 1961





Si Gerdas dari Tondano

Gerungan Saul Samuel Jacob Ratulangi atau lebih dikenal sebagai Sam Ratulangi lahir di Tondano, Sulawesi Utara, tanggal 5 Nopember 1890. Setelah menamatkan Hoofden School (Sekolah Raja) di Tondano, ia melanjutkan pelajaran ke Sekolah Teknik di Jakarta. Pada tahun 1915 ia berhasil memperoleh ijazah guru ilmu pasti untuk Sekolah Menengah di negeri Belanda. Empat tahun kemudian, ia meraih gelar doktor Ilmu Pasti dan Ilmu Alam di Swiss. Sam Ratulangi sudah menonjol saat belajar di Eropa, saat di negeri Belanda ia menjadi ketua Indische Vereniging kemudian berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia, sebuah organisasi pelajar- pelajar Indonesia di negeri Belanda, sedangkan waktu di Swiss, ia menjadi ketua organisasi pelajar-pelajar Asia.


[30]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Berikut karier Sam Ratulangi sekembalinya dari Eropa. Pertama- tama ia mengajar ilmu pasti di AMS (setingkat Sekolah Menengah Umum) Yogyakarta. Ketika bertugas di Bandung, ia mendirikan Maskapai Asuransi Indonesia. Dari tahun 1924 sampai 1927, ia menjadi Sekretaris Dewan Minahasa di Manado, jabatan tersebut dipergunakannya untuk melakukan usaha yang bermanfaat bagi rakyat, seperti pembukaan daerah baru untuk pertanian, mendirikan yayasan dana belajar, dan lain-lain. Berkat perjuangannya pula, Pemerintah Belanda menghapuskan kerja paksa di Minahasa.

Pada tahun 1927 Ratulangi diangkat menjadi anggota Volksraad. Ia mengajukan tuntutan supaya Pemerintah Belanda menghapuskan segala perbedaan dalam bidang politik, ekonomi, dan pendidikan antara orang-orang Belanda dan pribumi. Kegiatan lain adalah turut mendirikan Vereniging Indonesische Academici (Persatuan Kaum Sarjana Indonesia) dan ikut andil dalam penerbitan majalah mingguan Peninjauan. Dari tahun 1938 sampai 1942, ia menjadi redaksi mingguan politik Nationale Commentaren.

Pada masa pendudukan Jepang Ratulangi diangkat menjadi anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Sesudah NKRI terbentuk, ia diangkat menjadi Gubernur Sulawesi. Namun, saat itu Sulawesi sudah diduduki oleh NICA - Belanda. Ia ditangkap oleh Belanda dan dibuang ke Serui, Irian Jaya. Dalam pembuangan ini ia bertemu dengan pejuang muda bernama Silas Papare. Sesudah dibebaskan, Sam Ratulangi kembali ke Jawa. Dalam Agresi Militer II Belanda, ia ditangkap kembali dan meninggal dalam status tawanan pada 30 Juni 1949 di Jakarta. Sempat dimakamkan di Ibu kota,


[31]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


jasadnya kemudian dipindahkan ke Tondano, tanah kelahirannya. Sam Ratulangi dijadikan Pahlawan Nasional pada tanggal 9 Nopember 1961.












































[32]














lahir: Nganjuk 30 Juli 1888 | meninggal: Surabaya 30 Mei 1938 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 657 Tahun 1961| tanggal penetapan: 27 Desember 1961





Sang Dohter pendiri Boedi Oetomo

Karena pengaruh seniornya, seorang pemuda 20 tahun yang telah 5 tahun studi di STOVIA [School tot Opleiding van Inlandsche Artsen] menjadi gusar. Di hari minggu jam 09.00 pagi, ia kumpulkan beberapa pelajar di ruang kelas sekolahnya. Dengan sungguh- sungguh ia jelaskan bahwa pemuda punya peran penting bagi masa depan bangsa pribumi Hindia, lalu dengan serius ia usulkan untuk membentuk sebuah organisasi. Para pelajar yang ikut dalam pertemuan itu khidmat mendengarkan. Setelahnya, terbentuklah Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908, dan pemuda yang mencetuskannya itu adalah Soetomo.





[33]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Calon dokter pribumi yang lahir di desa Ngepeh ini terlahir dengan nama Soebroto. Masa kecilnya berada di Nganjuk. Saat ia sekolah di Bangil, ia mengganti namanya menjadi Soetomo dan berada di bawah asuhan kakek dan neneknya. Kemudian, Wedono Ngepeh R Soewadji, ayah Soetomo, mengirim anaknya menuju Batavia untuk sekolah di STOVIA pada 10 Januari 1903.

Boedi Oetomo yang didirikan Soetomo segera berkembang pesat. Organisasi ini kemudian memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Kongres pertama segera digelar di Yogyakarta pada 3-5 Oktober 1908. Kepemimpinan segera dipegang oleh kaum aristokrat Jawa, kaum tua yang berpengalaman. Soetomo untuk sementara serius menyelesaikan pendidikan kedokterannya.

Pada 1911, Soetomo lulus dari STOVIA lalu segera bertugas sebagai dokter di Semarang. Ia segera pindah ke Tuban pada 1912 dan pindah lagi ke Lubuk Pakam [Sumatra Timur]. Ia ditarik lagi ke Jawa dan bertugas di Malang pada 1914. Saat bertugas di Malang, ia membasmi wabah pes yang melanda daerah Magetan pada 1916. Ia banyak memperoleh pengalaman dari seringnya berpindah tempat tugas. Antara lain, ia semakin banyak mengetahui kesengsaraan rakyat dan secara langsung dapat membantu mereka. Pada 1917, ia menuju ke Blora dan segera menikahi seorang noni Belanda, Everdina. Tidak lama setelahnya, ia bertugas di Baturaja. Hingga pada 1919, ia mendapat beasiswa untuk belajar di universitas Amsterdam Belanda. Tahun 1920, Soetomo berhasil lulus dengan baik dan kembali pulang ke Hindia.


[34]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Selain, berurusan dengan dunia penyembuhan yang sangat berarti bagi kaum kromo pribumi, Soetomo juga aktif dalam dunia pers pergerakan. Saat di Boedi Oetomo, ia ikut menerbitkan majalah Goeroe Desa dan juga surat kabar Boedi Oetomo yang terbit di Yogyakarta dan Bandung. Selepas ia kembali dari negeri Belanda, Soetomo juga mendirikan Indonesische Studie Club [ISC] di Surabaya pada 27 Juli 1924 dan dua tahun berikutnya segera menerbitkan surat kabar Soeloeh Indonesia. ISC berhasil mendirikan sekolah tenun, bank kredit, hingga koperasi. Pada 1931, ISC berganti nama menjadi Persatuan Bangsa Indonesia [PBI]. Di bawah pimpinan Soetomo, PBI berkembang pesat. Lalu pada Januari 1934, dibentuk Komisi Boedi Oetomo dengan PBI yang akhirnya membetuk fusi pada pertengahan 1935. Kongres peresmian fusi merupakan kongres terakhir Boedi Oetomo dan segera melahirkan Partai Indonesia Raya [Parindra]. Rapat perdana yang berlangsung pada 24-26 Desember 1935 segera mengangkat Sutomo sebagai ketua. Soetomo bersama Parindra berjuang untuk mencapai Hindia [Indonesia] merdeka.

Soetomo terus menggerakkan Parindra demi cita-cita kemerdekaan hingga tanpa tersadari, tiga tahun setelah membentuk partai politik itu, ia jatuh sakit. Saat itu, Soetomo berada di Surabaya. Dalam usia yang belum senja, Soetomo menghembuskan nafas terakhirnya. Ia meninggal dan dikuburkan di Surabaya dalam usia 49 tahun. Soetomo, seorang dokter Jawa, memiliki jasa besar bagi Hindia [Indonesia]. Hari lahir Boedi Oetomo, organisasi yang didirikan Soetomo, dikenang sebagai hari kebangkitan nasional. Dan selang 23 tahun selepas kepergiannya, presiden Soekarno memberi gelar pahlawan kemerdekaan Indonesia kepada dokter Soetomo.


[35]














Lahir: Yogyakarta 1 Agustus 1868 |meninggal: Yogyakarta

23 Februari 1923 | gelar: pahlawan kemerdekaan Indonesia| dasar penetapan: Keppres No. 657 Tahun 1961| tanggal penetapan: 27 Desember 1961





Sang Pembaharu

Awalnya, apa yang dilakukan Ahmad Dahlan mendapat tantangan dari masyarakat. Saat membetulkan arah kiblat di masjid- masjid Yogyakarta, masyarakat menjadi gempar dan marah. Di masjid Gede Yogyakarta ia membuat garis-garis saf menurut yang semestinya. Garis saf itu dihapus orang dan surau miliknya dibongkar, dihancurkan. Kala dakwah di Banyuwangi, ia diancam akan dibunuh, dituduh kyai palsu karena berani mengajarkan pengetahuan umum di sekolah agama. Namun, lama kelamaan, masyarakat menerima perubahan yang dijalankannya. Sekolah, masjid, langgar, rumah sakit, poliklinik, dan rumah yatim piatu banyak didirikan. Semua itu adalah hasil pembaharuannya melalui Muhammadiyah.




[36]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Ahmad Dahlan bernama kecil Muhammad Darwis. Ia putra keempat dari tujuh bersaudara keluarga K.H. Abu Bakar, seorang ulama dan khatib terkemuka di Masjid Gede Kesultanan Yogyakarta. Ibu Darwis merupakan keturunan H. Ibrahim yang juga menjabat penghulu Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Lalu ada yang meyakini bahwa Darwis termasuk keturunan kedua belas dari Sunan Gresik [Maulana Malik Ibrahim], salah seorang Walisongo terkemuka yang menyebarkan Islam di Jawa [Timur].

Dalam usia muda, 15 tahun, ia telah pergi haji dan tinggal di Mekah selama lima tahun. Darwis pada masa ini mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam di Mekah. Setelah dirasa cukup, ia kembali pulang ke kampung Kauman pada 1888, lalu ia berganti nama Ahmad Dahlan. Ia kembali ke Mekah pada 1903 dan menetap di sana selama dua tahun dan menjadi murid ulama besar Syeh Ahmad Khatib yang menjadi imam di Masjidil Haram. Ia kembali mendalami cita-cita pembaharuan Islam.

Ahmad Dahlan segera kembali lagi ke Yogyakarta dan berusaha memperbaiki keadaan umat Islam yang dirasanya mengalami kemunduran. Untuk memajukan umat harus dilakukan pembaharuan di bidang praktik keagamaan, dan pembaharuan itu harus dimulai dengan cara mengadakan perbaikan di bidang kemasyarakatan. Atas keyakinan ini, pada 18 November 1912, ia mendirikan Muhammadiyah, sebuah organisasi yang bergerak di bidang kemasyarakatan dan pendidikan. Dahlan berusaha memajukan pendidikan Islam dan membangun masyarakat Islam yang sebenarnya. Kegiatan dakwah ditingkatkan, pelajaran agama


[37]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


diberikan di sekolah-sekolah umum. Sebaliknya, di sekolah-sekolah agama diajarkan juga pengetahuan umum yang sebelumnya dilarang. Kegiatan ini awalnya menimbulkan keresahan kaum Islam konservatif. Mereka terkejut saat Dahlan mengajar pendidikan agama Islam di OSVIA Magelang, sekolah pamong milik Belanda, sesuatu yang tidak lazim kala itu. Bahkan Dahlan juga sering bertemu dengan Romo van Lith. Dahlan tidak ragu masuk gereja dengan pakaian kyai lalu bertemu sang romo.

Muhammadiyah berkembang pesat. Cabangnya telah ada diluar Yogyakarta bahkan hingga ke Ujung Pandang, meski dengan nama berbeda-beda, karena izin Muhammadiyah hanya untuk wilayah Yogyakarta pada 1914. Pesatnya perkembangan gerakan pembaharuan ini membuat Dahlan mendirikan Aisyiah pada 1918 untuk memajukan kaum perempuan. Di tahun yang sama, Dahlan juga membuka gerakan kepanduan Hisbul Wathan untuk kaum muda.

Barulah pada 2 September 1921, Muhammadiyah mendapat izin untuk membuka cabang diberbagai daerah di Hindia Belanda dengan nama sama, Muhammadiyah. Kegiatan Dahlan semakin padat. Ia terus aktif berdakwah, memberikan pemahaman baru, pembaharuan yang diharapkannya akan mengubah nasib umat, terutama kaum muslimin, di seluruh Nusantara. Dua tahun selepas Muhammadiyah yang didirikannya resmi membuka cabang di daerah-daerah lain di luar Yogyakarta, Ahmad Dahlan meninggal dunia dalam usia 54 tahun. Jenazahnya dikebumikan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta.


[38]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Atas jasa-jasanya, terutama dalam memajukan umat dan memerhatikan emansipasi kaum perempuan pribumi [Indonesia], pemerintah Indonesia mengangkat Ahmad Dahlan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia pada 1961.









































[39]














Lahir: Koto Gadang, Agam, Sumatera Barat, Hindia Belanda, 8 Oktober 1884| meninggal: Jakarta 4 November 1954| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional|dasar penetapan: Keppres No. 657 Tahun 1961| tanggal penetapan: 27 Desember 1961




Sang Pembela Kebenaran

Orang cerdas yang begitu benci kolonialisme ini bernama kecil Masyhudul Haq, yang berarti pembela kebenaran. Terbukti bahwa nantinya sang pembawa nama ini benar-benar selalu membela kebenaran. Kebenaran bagi bangsanya. Salim merupakan anak seorang bangsawan bernama Tuanku Imam Syech Abdullah bin Abdul Aziz dan ibunya bernama Zainatun Nahar. Pendidikan dasarnya ditempuh di Europeesche Lagere School [ELS], sekolah khusus anak-anak Eropa di kota kelahirannya. Setelah lulus, Salim merantau ke Batavia dan masuk HBS.

Pada 1903, diakhir tahun pendidikan, semua murid HBS sibuk menanti pengumuman kelulusan, terutama murid-murid



[40]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Belanda. Sekolah elit ini memang dikhususkan untuk kaum Belanda dan segelintir pribumi anak priyayi. Bahasa pengantarnya bahasa Belanda, maka wajar jika murid-murid Belanda menjadi yang terdepan di sekolah ini. Akan tetapi, di tahun itu, semua berubah. Semua tercengang saat mengetahui hasil kelulusan. Siapa yang paling tinggi nilainya? siapa yang juara? orang-orang Belanda kaget luar biasa saat tahu bahwa anak bernama Agus Salim menjadi juara umum HBS se-Hindia Belanda. Seorang inlander menjadi yang terbaik mengalahkan kaum kulit putih Belanda. Akan tetapi, diskriminasi terjadi, ia tidak langsung dapat beasiswa untuk sekolah lebih tinggi lagi. Saat pemerintah kolonial memberi beasiswa karena desakan banyak pihak, Agus Salim menolaknya. Ia terlanjur sakit hati. Tumbuhlah sikap melawan pada kolonial Belanda.

Salim konsisten melawan sistem kolonial. Dalam dekade 1920- an, saat ia telah duduk sebagai anggota volksraad, ia melawan. Tentu dengan gaya elegan. Satu kali, ia berpidato dalam volksraad. Lazimnya pidato dalam dewan, tentu dengan bahasa Belanda. Walaupun begitu, Salim mengagetkan anggota dewan dari kalangan Belanda saat ia dengan sadar memilih pidato dengan bahasa Melayu [Indonesia]. Ia ditegur, tetapi ia dengan cerdas berdalih bahwa tidak ada peraturan resmi yang mengatur ia harus berbahasa Belanda saat pidato. Saat ia mengucap kata ekonomi, seorang Belanda bernama Bergmeyer mengejeknya, apa kata ekonomi dalam bahasa Melayu? tentu semua tahu bahwa tidak ada padanan katanya dalam Melayu. Akan tetapi, Salim tidak hilang akal. Dengan senyum ia balik bertanya, coba tuan sebutkan apa kata ekonomi dalam bahasa Belanda, nanti saya sebutkan Melayu [Indonesia]nya. Bergmeyer terdiam. Ia mati kutu


[41]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


karena kelihaian Salim. Itulah gaya Salim menantang kolonialisme. Bahkan pada 2 Oktober 1945, saat juru warta BBC Richard Straub mewawancarainya, Salim yang saat itu berumur 60 tahun, berujar sangat geram: daripada Indonesia diberikan pada Belanda lebih baik saya bakar musnah pulau ini!.

Salim memang murid cerdas, ia belajar otodidak hingga mampu menguasai sembilan bahasa asing, bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Arab, Turki dan Jepang. Hal itu memungkinkannya membaca bermacam-macam buku ilmu pengetahuan. Mula-mula Agus Salim bekerja sebagai penerjemah, kemudian sebagai notaris. Dari tahun 1906 sampai 1911, ia bekerja pada konsulat Belanda di Jedah. Kesempatan itu dipakainya untuk memperdalam pengetahuan tentang agama Islam, sambil mempelajari seluk beluk diplomasi. Kegiatan politik dimulainya setelah memasuki Serikat Islam [SI] dan diangkat sebagai anggota Pengurus Pusat hingga mengantarkannya menjadi anggota Volksraad [1921-1924]. Pada 1929, Serikat Islam berganti nama menjadi Partai Serikat Islam Indonesia (PSII). Setelah Cokroaminoto meninggal pada tahun 1934, Haji Agus Salim diangkat menjadi ketua PSII. Selain aktif di bidang politik, ia aktif pula di bidang kewartawanan dan memimpin beberapa surat kabar, seperti Neratja, Hindia Baroe, Bandera Islam, Fadjar Asia, dan Mustika.

Dikala Jepang masuk, Agus Salim duduk sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia [PPKI]. Setelah Indonesia merdeka, ia diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung. Karena memiliki pengetahuan yang luas  dibidang diplomasi.


[42]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Pemerintah RI mengangkatnya menjadi Menteri Muda Luar Negeri dalam Kabinet Syahrir I 1946 dan Kabinet Syahrir II 1947 dan kemudian Menteri Luar Negeri dalam Kabinet Hatta 1948- 1949. Saat agresi militer Belanda kedua, Salim ikut ditangkap dan diasingkan ke Bangka.

Sesudah pengakuan kedaulatan, Agus Salim tidak duduk lagi dalam pemerintahan. Pada 1953, ia sempat memberi ceramah tentang Islam di Universitas Cornell dan Princeton Amerika. Di Walaupun begitu, ia tetap diperlukan oleh pemerintah sehingga di tunjuk sebagai penasehat Menteri Luar Negeri hingga akhir hayatnya pada 1954. Jenazah Agus Salim dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Atas jasa-jasanya terhadap perjuangan kemerdekaan, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1961.
























[43]







Jenderal Gatot Subroto




Lahir: Banyumas, Jawa Tengah, 10 Oktober 1907| meninggal: Jakarta 11 Juni 1962| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 222 Tahun 1962| tanggal penetapan: 18 Juni 1962



Dari Sersan hingga Jenderal

Ia menempuh dua kali pendidikan militer di masa yang berbeda. Ia menjadi KNIL di masa Hindia Belanda dan masuk PETA di masa Jepang. Demi militer, ia mencurahkan perhatian sepenuh- penuhnya. Ia pun menggagas terbentuknya sekolah militer gabungan seluruh angkatan, Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia [AKABRI].

Gatot Subroto mula-mula sekolah di Europeesche Lagere School [ELS], tetapi dikeluarkan sebab berkelahi dengan seorang anak Belanda. Oleh karena itu, ia masuk ke Holands Inlandse School [HIS]. Setelah tamat, ia tidak meneruskan ke sekolah yang lebih tinggi, tetapi bekerja sebagai pegawai. Ternyata hal itu tidak cocok dengan jiwanya, dan pada tahun 1923 ia masuk sekolah militer di Magelang.

[44]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


Selesai pendidikan militer, Gatot menjadi anggota KNIL dan bertugas selama 5 tahun di Padang Panjang, dengan pangkat Sersan

II. Selanjutnya ia dikirim ke Suka bumi untuk mengikuti pendidikan marsose, kesatuan militer dengan tugas-tugas khusus. Selesai pendidikan, ia ditempatkan di Bekasi dan Cikarang [daerah yang kala itu sering dilanda kerusuhan yang bersumber pada tindakan- tindakan para lintah darat]. Di sini, ia sering mendapat teguran dari atasan karena dianggap terlalu memihak kepada rakyat kecil. Sebagian gajinya disumbangkan untuk membantu keluarga orang hukuman yang ada dibawah pengawasannya.

Pada masa Pendudukan Jepang, Gatot mengikuti pendidikan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor. Sesudah itu, ia diangkat menjadi komandan kompi di Sumpyuh, Banyumas, kemudian naik menjadi komandan batalyon. Ia sering menentang orang Jepang yang bertindak kasar terhadap anak buahnya. Tahun 1944, Kompi Gatot Subroto mengadakan latihan penjagaan pantai. Ia melihat bahwa anak buahnya sudah sangat letih. Ia meminta agar pelatih menghentikan latihan, namun tidak digubris. Ia marah dan melepaskan pedang dan atributnya sambil meninggalkan tempat latihan.

Sesudah Indonesia merdeka, Gatot memasuki Tentara Keamanan Rakyat [TKR] yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI). Ia dipercaya memegang beberapa jabatan penting. Pada masa Perang Kemerdekaan [1945-1950], ia pernah menjadi Panglima Divisi II, Panglima Corps Polisi Militer, dan Gubernur Militer Daerah Surakarta dan sekitarnya. Dalam jabatan terakhir itu ia menghadapi peristiwa Madiun Affair yang


[45]


Buku Pintar Super Lengkap Pahlawan Nasional


meletus pada September 1948. Sesudah Pengakuan Kedaulatan, ia diangkat menjadi Panglima Tentara & Teritorium (T&T) IV/ Diponegoro. Pada tahun 1953 Gatot Subroto mengundurkan diri dari dinas militer. Akan tetapi, tiga tahun kemudian ia diaktifkan kembali dan diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat. Ia ikut menangani pemberontakan PRRI/Permesta yang melanda daerah Sumatra dan Sulawesi Utara. Di masa akhir pengabdiannya, ia telah menyandang pangkat Letnan Jenderal.

Di kalangan militer, Gatot Subroto mempunyai perhatian yang besar terhadap perwira muda.Gagasannya untuk menyatukan akademi militer akhirnya terwujud dengan terbentuknya Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) di Magelang, kota dulu ia mendapat pendidikan militer pertama kali.

Ia meninggal dunia dalam usia 54 tahun dan jenazahnya dimakamkan di desa Mulyoharjo, Ungaran, Semarang. Hanya berselang tujuh hari selepas kematiannya, pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada Gatot Subroto.
















[46]













Sukarjo Wiryopranoto


Lahir: Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, 5 Juni 1903| meninggal: New York, Amerika Serikat 23 Oktober 1962| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 342 Tahun 1962| tanggal penetapan: 29 Oktober 1962


Sang Diplomat Ulung

Pahlawan Nasional Sukarjo Wiryopranoto lahir di Kesugihan, Cilacap pada 5 Juni 1903. Selesai lulus sekolah hukum pada tahun 1923, ia lalu bekerja berpindah dari kota satu ke kota lain di pengadilan negeri. Tahun 1929 ia memutuskan berhenti dan mendirikan kantor pengacara Wisnu di Malang. Setelah itu kariernya menanjak, Malang adalah pilihan tepat karena ia kemudian menjadi wakil walikota Malang. Selain itu, ia juga diangkat menjadi pengacara di Pengadilan Tinggi Surabaya. Tahun 1931 Sukarjo menjadi anggota Volksraad. Bersama dr. Sutomo, ia mendirikan Persatuan Bangsa Indonesia (PBI). Untuk membina para pemuda, pada 1934 didirikannya perkampungan kerja. Dalam perkampungan tersebut para pemuda dilatih menjadi ahli kayu, ahli besi, ahli pertanian, dan lain-lain.

Kegiatannya di bidang politik meningkat sejak tahun 1936 setelah ia menjadi anggota Partai Indonesia Raya (Parindra). Sebagai perwakilan partai, ia kerap berkunjung ke daerah-daerah, antara lain ke beberapa kota di Sumatra. Dalam sidang Volksraad tahun 1937, ia mengajukan mosi agar orang-orang Indonesia diberikan kesempatan untuk menjadi walikota. Mosi itu didukung oleh sebagian besar anggota Volksraad, tetapi ditolak oleh Pemerintah Hindia Belanda. Di samping aktif dalam Parindra, ia aktif pula sebagai sekretaris Gabungan Politik Indonesia (Gapi). Tanggal 22 Agustus 1940 Sukarjo menyampaikan seruan Gapi yang menuntut agar di Indonesia dibentuk parlemen dan pemerintah bertanggung jawab kepada parlemen.

Pada masa pendudukan Jepang, Sukarjo bergerak di jurnalis, memimpin surat kabar Asia Raya. Kegiatan kewartawanan tersebut terus dilanjutkan setelah Indonesia merdeka dengan turut membina majalah Mimbar Indonesia. Namun, ia lebih aktif menjadi duta-duta Besar Republik Indonesia di beberapa Negara paska kemerdekaan. Ia pernah menduduki jabatan Duta Besar Indonesia Republik Indonesia di Vatikan, Duta Besar Luar Biasa untuk Italia, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Republik Rakyat Cina. Pada tahun 1962 ia diangkat menjadi Wakil Tetap Indonesia di Perserikatan Bangsa- Bamgsa (PBB). Dalam jabatan itu ia berusaha memengaruhi negara- negara lain agar membantu perjuangan Indonesia dalam pembebasan Irian Barat dari Belanda.

Sukarjo Wiryopranoto meninggal dunia di New York pada tanggal 23 Oktober 1962. Jenazahnya dibawa ke tanah air dan dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta. Ia dinobatkan menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada tanggal 29 Oktober 1962.


Ferdinand Lumban Tobing 


Lahir: Sibuluan, Sibolga, Sumatera Utara, 19 Februari 1899 | meninggal: Jakarta, 7 Oktober 1962| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 361 Tahun 1962| tanggal penetapan: 17 November 1962


Pejuang Sibolga

Pada masa pendudukan Jepang, Lumbantobing diangkat menjadi dokter pengawas kesehatan Romusa. Dengan perasaan sedih menyaksikan bagaimana sengsaranya nasib para Romusa yang dipaksa membuat benteng di Teluk Sibolga. Oleh karena itu, ia melancarkan protes terhadap pemerintah Jepang. Akibatnya, Tobing dicurigai dan masuk dalam daftar orang terpelajar Tapanuli yang akan dibunuh oleh Jepang. Ia terhindar dari bahaya maut sebab berhasil menyelamatkan nyawa seorang tentara Jepang yang mengalami kecelakaan. Bagaimanapun ia seorang dokter yang harus menyelamatkan nyawa orang, meski ia membenci orang itu.

Ferdinand Lumbantobing telah berada di Bogor sejak sekolah dasar. Pada 1924, ia telah selesai menempuh studi kedokteran di STOVIA [Sekolah Dokter] Batavia. selepas itu ia bekerja menjadi dokter di Batavia, lalu pindah ke Tenggarong [Kalimantan Timur], kemudian ke Surabaya sampai tahun 1935. Sesudah itu, ia bertugas di Tapanuli, mula-mula di Padang Sidempuan, kemudian di Sibolga, tanah kelahirannya.

Pada 1943, ia diangkat menjadi ketua Syu Sangi Kai [Dewan perwakilan Daerah] Tapanuli di samping sebagai anggota Cuo Sangi In. Pada masa awal Revolusi kemerdekaan, ia merupakan tokoh penting di Tapanuli. Pada Oktober 1945, ia diangkat jadi Residen Tapanuli. Saat itulah ia menghadapi masa-masa sulit ketika daerah Tapanuli dilanda pertentangan bersenjata, antara sesama pasukan RI yang datang dari Sumatera Timur setelah daerah itu jatuh ke tangan Belanda dalam Agresi Militer I Belanda. Tetapi Tobing berpendirian tegas dan tidak mudah menyerah. Di masa Agresi Militer II Belanda, ia diangkat menjadi Gubernur Militer Tapanuli. Ia memimpin perjuangan gerilya di hutan-hutan, naik gunung turun gunung.

Sesudah pengakuan kedaulatan RI, ia menjadi Gubernur Sumatera Utara. selanjutnya, dalam Kabinet Ali pertama, ia diangkat menjadi Menteri Penerangan. Jabatan menteri lainnya yang pernah dipegangnya ialah Menteri Urusan Hubungan Antar Daerah dan terakhir Menteri Negara Urusan Transmigrasi. Ia meninggal dunia di Jakarta dalam usia 63 tahun dan jenazahnya dimakamkan di Kolang Sibolga. Sebulan setelahnya, pemerintah mengangkatnya sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional.


KH Zainul Arifin 


Lahir:  Barus,  Tapanuli  Tengah,  Sumatra  Utara, 2 September 1909 | meninggal: Jakarta, 2 Maret 1963| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 35 Tahun 1963| tanggal penetapan: 4 Maret 1963


Dari Gemeente hingga Ketua DPRGR

Ia saat itu telah menjadi ketua DPR Gotong Royong [DPRGR]. Akan tetapi, suhu politik yang panas harus membuatnya berkorban nyawa. Pada 14 Mei 1962, ia berada dalam saf paling depan bersama presiden saat salat Idul Adha. Saat itulah tiba-tiba seorang yang dianggap bagian gerakan DI/TII menembakkan pistol ke depan. Sebuah percobaan pembunuhan terhadap presiden tengah dilakukan, tetapi peluru justru mengarah pada Zainul. Ia tertembak di bagian bahu dan hampir sepuluh bulan berselang, ia meninggal dunia.

Zainul Arifin adalah anak tunggal keturunan raja Barus, Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan perempuan bangsawan asal Kotanopan, Mandailing, Siti Baiyah boru Nasution. Ia menyelesaikan HIS [Hollands Indische School] dan Normal School, sekolah guru, di Jambi. Ia juga belajar agama di Madrasah dan berlatih pencak silat. Saat usia 16 tahun, ia merantau ke Batavia. Di kota ini, ia bekerja sebagai pegawai Gemeente [pegawai Kotapraja]. Ia hanya bertahan lima tahun, setelahnya ia aktif sebagai guru di Meester Cornelis [Jatinegara], mendirikan kelompok sandiwara musikal tradisional Betawi Tonil Zainul dan giat pula dalam gerakan pemuda Ansor hingga menjadi pengurus NU [Nahdatul Ulama] hingga datangnya Jepang pada 1942.

Pemerintah Pendudukan Jepang melarang partai-partai politik berdiri. NU tidak luput dari larangan ini. Jepang lalu mengizinkan berdirinya Majelis Syuro Muslimin Indonesia [Masyumi] sebagai satu-satunya wadah bagi umat Islam. Zainul memasuki organisasi ini dan diangkat sebagai Kepala Bagian Umum. Di masa ini pula ia mengikuti latihan militer selama dua bulan, kemudian diangkat menjadi Panglima Hizbullah, sebuah organisasi semi militer yang anggota-anggotanya terdiri atas pemuda-pemuda Islam.

Selepas Proklamasi Kemerdekaan, ia tetap duduk dalam Pucuk Pimpinan Hizbullah. Laskar ini kemudian digabungkan ke dalam Tentara Nasional Indonesia [TNI]. Setelah penggabungan ini, ia diangkat sebagai sekretaris Pucuk Pimpinan TNI. Selain itu, ia duduk pula sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat [BK KNIP]. Sesudah Pengakuan Kedaulatan, ia diangkat menjadi anggota DPRS [Dewan Perwakilan Rakyat Sementara] dari tahun 1950-1953. Ia juga pernah duduk sebagai Wakil II Perdana Menteri. Selepas pembubaran dewan Konstituante selepas dekrit presiden 5 Juli 1959 dan terbentuk DPRGR [DPR Gotong Royong], Zainul diangkat menjadi Ketuanya.

Ia terus berkiprah dalam lembaga eksekutif ini hingga akhirnya ia tertembak tepat dihari Idul Adha. Zainul tidak mampu bertahan hingga ia mengembuskan napas terakhirnya dalam usia 53 tahun. Jenazahnya segera dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Pemerintah Indonesia kemudian memberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional tepat dua hari selepas kepergiannya.


Tan Malaka 


Lahir: Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897 | meninggal: Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 53 Tahun 1963| tanggal penetapan: 28 Maret 1963


Merdeha Seratus Persen

Ia pejuang militan dan radikal yang punya peran besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Ia juga tokoh revolusioner yang legendaris. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pembuangan di luar Hindia [Indonesia] dan selalu terancam penahanan oleh penguasa Belanda maupun Inggris. Tanpa henti ia perjuangkan kemerdekaan. Dua puluh tahun sebelum Indonesia merdeka, ia telah mengumandangkan sebuah negeri merdeka dalam tulisannya, “Naar de Republiek Indonesia, menuju republik Indonesia [1925] dan dua tahun berikutnya memproklamirkan Partai Republik Indonesia [PARI]. Jauh sebelum Indonesia merdeka, ia telah menyebut-nyebut bahkan berusaha mewujudkan kata Republik Indonesia.

Tokoh politik kontroversial dalam sejarah Indonesia modern ini bernama lengkap Ibrahim Datuk Tan Malaka. Ia lahir di tengah lingkungan Minangkabau, dari pasangan Rasad Caniago dan Sinah Simabur. Ia masuk sekolah dasar di Suluki pada 1902 lalu melanjutkan ke Kweekschool [sekolah guru] di Fort de Kock, dekat Bukittinggi. Oleh seorang pengajar, G.H. Horensma, ia didesak untuk melanjutkan pendidikan di negeri Belanda. Pada tahun 1912 ia berangkat ke Belanda untuk melanjutkan sekolah di Rijks Kweekschool Haarlem Belanda.

Di Belanda, ia mengembangkan diri. Ia menonjol dalam ilmu pasti sehingga dipuji para gurunya, yang umumnya mengira orang- orang Hindia Belanda tidak mampu mengerti soal ilmu pasti. Ia juga mengagumi kedisiplinan organisasi militer. Meski ia mendalami pendidikan guru, ia juga mendalami kemiliteran di Akademi Militer Breda, Ia membaca banyak buku kemiliteran. Bersamaan dengan Revolusi Rusia 1917 minatnya terhadap buah pikiran Marx dan Engels makin besar. Ia kerap mengikuti berbagai pembicaraan politik kaum kiri di Amsterdam, juga diskusi terbuka antara Sneevliet dan Suwardi tentang Kecenderungan Nasionalis dan Sosialis dalam Pergerakan Nasional Hindia di Amsterdam pada 1919.

Di akhir tahun itu pula, Malaka kembali ke Hindia [Indonesia] dan menjadi guru di perkebunan Deli. Ia tidak bertahan lama karena tidak suka dengan ketimpangan sosial kolonial. Ia lalu menuju Semarang, bergabung dengan tokoh-tokoh kiri radikal, mendirikan sekolah rakyat yang kemudian popular, dan segera bergabung dengan partai komunis, ia kemudian menjadi ketuanya pada 1921.

Ia menjadi tokoh terpenting partai ini sejak kepergian Semaun ke Rusia. Ia mengembangkan cabang Partai ini di daerah dan mengecam pemerintahan kolonial yang menindas para buruh. Ia lalu ditangkap karena terlibat dalam aksi pemogokan para buruh perkebunan pada 1922. Malaka lalu mengajukan permohonan kepada pemerintah kolonial Belanda untuk dibuang ke Belanda.

Jadilah ia dua kali mengunjungi Belanda, tetapi untuk yang kedua ini ia tidak lama. Ia kemudian justru pergi ke Moskwa Rusia (1922). Di sana ia berkumpul dengan tokoh komunis internasional. Pada 1924 ia telah menjadi duta Komintern [komunis internasional] Asia Pasifik yang berkedudukan di Kanton China.

Semenjak itu, ia lalu lalang di pelbagai negara di Asia pasifik. Diburu intelijen Belanda hingga Inggris dan harus menyamar menjadi orang lain dengan nama berbeda-beda, dari nama Cina hingga Arab. Pada 1924, ia menulis brosur menuju republik Indonesia yang baru bisa dicetak tahun 1925 di Cina. Buku ini dibaca kaum pergerakan di Hindia [Indonesia].

Saat akan meletus pemberontakan komunis 1926, Malaka menolak keputusan rapat PKI di Prambanan. Ia menyatakan gerakan itu masih prematur dan ia terbukti benar. Gerakan revolusi itu gagal total. Hampir berbarengan dengan pemberontakan, ia menulis buku Massa Actie sebagai pedoman untuk melancarkan revolusi. Setelah itu, demi pergerakan kemerdekaan, ia mendirikan PARI di Singapura. Malaka terus berjuang dengan berpindah-pindah tempat dari Cina hingga Singapura. Petualangannya yang legendaries itu akhirnya direkam dalam sebuah novel laris bertajuk Spionnage-Dienst [Patjar Merah Indonesia] yang terbit di Medan pada 1938.

Pada 1942, berbarengan dengan kedatangan tentara Jepang, ia menelusup kembali ke tanah air dan tiba di Jakarta. Ia kemudian berada di Bayah Banten, diantara para Romusha, menulis buku Madilog, serta menyusun kekuatan bawah tanah. Ia memiliki jaringan dengan pemuda Menteng 31 yang terlibat penjemputan Soekarno- Hatta ke Rengasdengklok. Malaka juga terlibat penggerakan massa dalam rapat raksasa lapangan Ikada 19 September 1945.

Tan Malaka segera membentuk front Persatuan Perjuangan di Purwakarta pada Januari 1946. Ia menentang perjanjian Linggajati dan Renville. Dalam front ini, Malaka mendesak untuk meraih kemerdekaan seratus persen dari Belanda. Ia berjuang menentang perjanjian Linggajati dan Renville yang merugikan Indonesia. Ia sempat diamankan sebentar oleh pemerintah pada Maret 1946. Setelah itu, Ia menjadi anggota KNI [Komite Nasional Indonesia] dan pada 7 November 1947, ia mendirikan partai Murba [Musyawarah Rakyat Banyak]. Ia ikut bergerilya di masa peristiwa madiun Affair hingga pada Februari 1949, ia tewas tertembak di lereng gunung Wilis. Kuburannya tidak pernah diketahui dengan pasti.

Atas perjuangan dan jasa-jasanya yang luar biasa dalam mewujudkan kemerdekaan Indonesia, pemerintah Indonesia di masa presiden Soekarno memberikan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada Tan Malaka pada tahun 1963. Malaka mendapat gelar Pahlawan 24 tahun setelah kepergiannya yang masih misterius.



Mgr. Albertus Sugiyapranata S.J.


Lahir: Surakarta 25 November 1896 | meninggal: Steyl, Belanda 22 Juli 1963| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 152 Tahun 1963| tanggal penetapan: 26 Juli 1963


Pendiri Gereja Katolih Indonesia

Meski mendapat pendidikan Barat dan beberapa kali menimba ilmu di Eropa, bukan berarti harus menerapkannya secara zakelijk. Malah sebaliknya, Mgr. Albertus Sugiyapranata adalah imam Katolik pertama yang berani menghilangkan sifat kebarat-baratan dalam upacara gereja di Indonesia. Ia pemula perubahan dengan maksud menyerasikan tradisi Barat dan tradisi Timur. Untuk gereja-gereja di Jawa, intrumen barat digantinya dengan gamelan.

Lahir di Solo pada 25 November 1896, Sugiyapranata menempuh pendidikan di Sekolah Dasar Katolik Solo, kemudian di Muntilan. Sesudah itu, di tahun 1915, ia melanjutkan ke Sekolah Guru. Sempat menjadi guru selama satu tahun, ia kembali memperdalam ilmu teologinya dengan mengikuti pendidikan imamat, dari sinilah kegiatan di bidang keagamaan dimulai. Tiga tahun kemudian ia dikirim ke negeri Belanda untuk memperdalam pengetahuan di bidang agama Kristen, bahasa latin, bahasa Yunani dan filsafat dan pulang dengan nama baru: Frater Soegijapranata .

Sekembalinya ke tanah air, Soegijapranata , bekerja sebagai guru Ilmu Pasti, bahasa Jawa dan agama di bagian Sekolah Guru pada kolese di Muntilan. Di samping mengajar, kesehariannya diisi pula dengan mengampu media cetak berbahasa Jawa, Swara Tama. Melalui surat kabar mingguan tersebut, ia banyak menulis tentang tari Jawa, pakaian adat Jawa, hubungan budaya Barat dan Timur, dan lain lain.

Di tahun 1928 Soegijapranata memperoleh kesempatan sekali lagi untuk mengikuti pelajaran teologi di negeri Belanda. Ia juga mewakili frater-frater Indonesia menghadiri perayaan kepausan di Roma, Italia dan ditasbihkan sebagai imam pada tahun 1931. Dua tahun di negeri orang, ia kembali ke Hindia Belanda dan diangkat menjadi Pastor Pembantu di Bintaran, kemudian menjadi Pastor Paroki. Pada 1938 ia diangkat menjadi penasihat Misi Jesus di pulau Jawa, lalu 1940 naik jabatan menjadi Vikaris Apostolik untuk memangku jabatan keuskupan.

Pada masa pendudukan Jepang, ia menghadapi masa sulit. Berkuasanya orang-orang Nippon ini mengubah kebijakan baru di tanah air, salah satunya mengubah cara pengadaan misa. Penggunaan bahasa Belanda dilarang, baik yang dilafalkan maupun yang ditulis, dan sejumlah bangunan milik Gereja disita. Ia menjadi pembela orang-orang Kristen dengan cara diplomasi. Kedudukannya sebagai uskup agung membuat pemerintah Jepang masih menghargainya, meskipun begitu usaha pun tidak selalu berhasil.

Soegijapranata kerap mengadakan pertemuan untuk membahas perlunya hierarki Katolik Roma di Indonesia hingga pada tahun 1959 Kardinal Grégoire-Pierre Agagianian mengunjungi Indonesia untuk memeriksa persiapan Gereja. Pada bulan Mei 1960, Konferensi Wakil Gereja Indonesia (KWI) secara resmi mengajukan surat permohonan untuk dibentuknya Gereja Katolik Indonesia. Di wilayah nusantara, kemudian dibentuk enam provinsi gerejawi, yaitu dua di pulau Jawa, satu di Sumatra, satu di Hores, satu di Sulawesi dan Maluku, dan satu di Kalimantan. Soegijapranata sendiri menjadi uskup agung di wilayah Semarang, ia diangkat pada tanggal 3 Januari 1961.

Setelah itu Soegijapranata sering bolak-balik Indonesia Eropa dalam urusan kegerejaan. Dalam Konsili Vatikan II, ia termasuk dalam salah satu dari enam uskup dan uskup agung dari Asia. Sepulangnya ke tanah air kondisi kesehatannya mulai menurun dan sempat dirawat di Rumah Sakit Elisabeth Candi. Pada tanggal 30 Mei 1963, ia memutuskan berangkat ke Eropa untuk menghadiri pemilihan Paus Paulus VI. Di sana, kondisi kesehatannya kembali menurun sehingga mengharuskannya menginap di Canisius Hospital Belanda sekitar sebulan. Namun, perawatan ini tidak berhasil, Soegijapranata meninggal pada tanggal 22 Juli 1963 di sebuah susteran di Steyl Belanda karena serangan jantung. Jenazah Soegijapranata diterbangkan ke Indonesia dan dikebumikan di Makam Pahlawan Giri Tunggal, Semarang. Dalam upacara pemakamannya ia dinyatakan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tanggal 26 Juli 1963. Di tahun 2012, kisah perjalanan uskup ini kemudian diabadikan dalam film berjudul Soegija produksi Studio Audio-Visual Puskat Yogyakarta.



Ir. Juanda Kartawijaya 


Lahir: Tasikmalaya, Jawa Barat, 14 Januari 1911| meninggal: Jakarta, 7 November 1963| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 244 Tahun 1963| tanggal penetapan: 6 November 1963

Dehlarasi Djuanda

Sebelumnya, wilayah Indonesia mengacu pada Ordonansi Hindia Belanda 1939, Teritoriale Zeeen en Maritieme Kringen Ordonantie 1939 [TZMKO 1939]. Pulau-pulau wilayah Nusantara dipisahkan laut sekelilingnya dan setiap pulau hanya mempunyai laut di sekeliling sejauh 3 mil dari garis pantai. Lalu pada 13 Desember 1957 dicetuskanlah sebuah deklarasi yang mengubah ordonansi warisan Belanda itu. Sebuah pernyataan pada dunia bahwa laut sekitar, laut di antara, dan di dalam kepulauan Indonesia menjadi satu kesatuan wilayah RI. Deklarasi itu bernama deklarasi Djuanda.

Pemrakarsa deklarasi itu adalah Djoeanda Kartawidjaja yang saat itu menjabat perdana menteri Indonesia. Djuanda merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School [HIS]. Ia menempuh pendidikan mula di HIS dan kemudian pindah ke Europesche Lagere School [ELS] dan tamat pada 1924. Selanjutnya, ia menempuh pendidikan Hogere Burger School [HBS] Bandung hingga lulus tahun 1929. Selepas itu, ia segera masuk Technische Hoogeschool [THS] di Dago Bandung mengambil jurusan teknik sipil dan lulus pada 1933.

Tawaran menjadi asisten dosen di THS dengan gaji yang lumayan, ditolaknya. Ia memilih untuk menjadi guru pada Sekolah Menengah Atas Muhammadiyah di Jakarta walaupun dengan gaji yang kecil. Beberapa waktu kemudian, ia diangkat menjadi direktur sekolah tersebut. Di samping itu, ia giat pula dalam organisasi Paguyuban Pasundan. Setelah empat tahun berkecimpung di bidang pendidikan, pada 1937 Djuanda menjadi tenaga ahli di Jawatan Pengairan Jawa Barat. Selain itu, ia duduk pula sebagai anggota Dewan Daerah Batavia.

Pada 28 September 1945, Djuanda memimpin para pemuda mengambil-alih Jawatan Kereta Api dari Jepang. Disusul pengambil- alihan Jawatan Pertambangan, Kotapraja, Keresidenan dan objek- objek militer di Gudang Utara Bandung. Selepas itu, Pemerintah RI segera mengangkatnya menjadi Kepala Jawatan Kereta Api seluruh Jawa dan Madura, kemudian menjadi Menteri Perhubungan.

Saat Agresi Militer II pada 19 Desember 1948, ia ditangkap, tetapi kemudian dapat bebas dan terlibat dalam perundingan KMB, ia bertindak sebagai Ketua Panitia Ekonomi dan Keuangan Delegasi Indonesia. Selepas itu, saat terbentuk RIS yang menguntungkan Belanda, dia dibujuk agar bersedia ikut dalam pemerintahan Negara Pasundan. Akan tetapi, ia menolak duduk dalam pemerintahan negara boneka ciptaan Belanda itu.

Djuanda merupakan tokoh yang paling sering duduk dalam kabinet, yakni sebanyak 17 kali mulai dari Menteri Muda Perhubungan sampai menjadi perdana Menteri. Ia seorang abdi negara yang bekerja tanpa kenal lelah hingga banyak orang menjulukinya, menteri marathon. Sebagai pejabat ia selalu berusaha menyehatkan perekonomian negara, dan memajukan pertanian, peternakan dan perikanan, agar hasilnya dapat dinikmati oleh rakyat banyak.

Pengabdian Djuanda harus berakhir saat usianya menginjak 52 tahun. Ia meninggal karena serangan jantung dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata Jakarta. Atas jasa-jasanya yang besar bagi negara, pemerintah Indonesia menganugrahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1963.



Dr. Saharjo


Lahir: Solo, Jawa Tengah, 26 Juni 1909| meninggal: Jakarta, 13 November 1963| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 245 Tahun 1963| tanggal penetapan: 29 November 1963

Perubah Wajah Peradilan Indonesia

Ia seorang sarjana produk pendidikan kolonial, tapi ia tidak begitu saja menerima semua model barat, terutama soal peradilan. Ia membongkar undang-undang warisan kolonial yang dianggapnya telah usang dan tidak sesuai lagi dengan negara Indonesia. Ia membuat undang-undang baru. Mengganti simbol-simbol peradilan kolonial dengan simbol yang lebih bernuansa asli Indonesia.

Saharjo lahir di Surakarta dan menamatkan Sekolah Dasar di kota kelahirannya. Ia kemudian pindah ke Batavia untuk meneruskan pendidikan hingga AMS. Selepas itu, ia masuk STOVIA [Sekolah Dokter], tetapi tidak menyelesaikannya hingga lulus. Ia memilih bekerja sebagai guru pada Perguruan Rakyat, sebuah perguruan swasta nasional di Batavia. Dalam kedudukan sebagai guru, ia turut berjuang menghadapi tekanan-tekanan yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda terhadap pendidikan nasional.

Di masa pergerakan, PNI telah pecah menjadi PNI baru dan Partindo. Saharjo terjun ke dunia politik dengan masuk sebagai anggota Partai Indonesia [Partindo]. Ia lalu diangkat sebagai anggota pengurus besar Partindo. Ia kemudian tertarik dengan bidang hukum dan masuk sekolah hukum, Rechtshogeschool di Batavia. Gelar sarjana hukum diperolehnya pada 1941. Sejak itu mulailah kegiatannya di bidang hukum. Sesudah Indonesia merdeka, berkali- kali ia diserahi jabatan penting antara lain Menteri Muda Kehakiman dalam Kabinet Kerja I dan Menteri Kehakiman dalam Kabinet Kerja

II. Jabatan terakhirnya ialah Wakil Menteri Pertama Bidang Dalam Negeri.

Sebagai seorang sarjana hukum, Saharjo banyak mengeluarkan buah pikiran yang berguna. Hasil-hasil pemikiran itu antara lain, Undang-undang Warga Negara Indonesia Tahun 1947 dan tahun 1948 serta Undang-undang Pemilihan Umum tahun 1953. Ia berusaha pula menyesuaikan hukum dengan kepribadian Indonesia dan menolak hukum kolonial yang tidak sesuai lagi dengan kehidupan bangsa yang sudah merdeka pada tahun 1962.

Tindakan paling vital dilakukan saat ia mengusulkan lambang keadilan yang berbentuk Dewi Justita, satu lambang peradilan dunia barat, diganti dengan lambang pohon beringin. Lambang ini lebih sesuai dengan kepribadian bangsa karena pohon beringin menyimbolkan perlindungan dan kesejukan bagi yang memerlukan.

Usulannya diterima oleh Seminar Hukum Nasional pada 1963 dan sejak itu belum pernah diganti lagi.

Masih dalam dunia peradilan, Saharjo juga mengganti istilah penjara menjadi lembaga kemasyarakatan khusus dan mengganti istilah orang hukuman dengan narapidana. Ia berpendapat, penjara bukanlah tempat memberikan penderitaan pada si terhukum, tetapi untuk membimbing dan mendidik mereka agar menjadi orang yang berguna dalam masyarakat.

Saharjo meninggal dunia di Jakarta dalam usia 54 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Atas jasa-jasanya dalam mengembangkan peradilan Indonesia, pemerintah memberi gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada Saharjo di tahun 1963.


Cut Nyak Dhien


Lahir: Lampadang, Kerajaan Aceh, 1848| meninggal: Sumedang, Jawa Barat, 6 November 1908| gelar: Pahlawan Kemerdekaan Nasional| dasar penetapan: Keppres No. 106 Tahun 1964| tanggal penetapan: 2 Mei 1964

Melawan Kape [kafir] di Tanah Renrong

Langit seperti memberi isyarat bahwa seorang wanita renta harus mengakhiri perjuangan panjangnya di rimba Aceh. Wanita itu harus menyarungkan rencong-nya. Butiran uap air yang menggumpal mulai menghujani persembunyiannya di pedalaman rimba. Pang Laot [tangan kanan Nyak Dhien] melangkahkan kakinya dengan bimbang menuju pucuk bukit. Sepasukan Marsose bersenjata lengkap tampak menyemut di belakangnya menuju tempat persembunyian sang panglima wanita itu. Cut Nyak Dien memang masih melakukan serangan terakhir dengan rencongnya, tetapi gagal. Pejuang Aceh itu akhirnya tertangkap. Perjuangannya memang berakhir dramatis, dikhianati anak buahnya sendiri yang kasihan melihat keadaannya.

Walaupun demikian, tentara Belanda sendiri mengakui betapa Cut Nyak Dhien sosok pemimpin perang Aceh yang ditakuti.

Cut Nyak Dien lahir di Lampadang, Aceh pada tahun 1850. Ia dilahirkan dalam suasana memburuknya hubungan antara kerajaan Aceh dan Belanda. Situasi itu berpengaruh terhadap dirinya. Ia menikah dalam usia muda dengan Teuku Ibrahim Lamnga. Pada Desember 1875, Lampadang diduduki Belanda. Cut Nyak Dien mengungsi ke tempat lain, berpisah dengan suami dan ayahnya yang terus melanjutkan perjuangan. Ibrahim Lamnga tewas dalam pertempuran di Gle Tarum pada Juni 1878. Cut Nyak Dien bersumpah hanya akan kawin dengan laki-laki yang bersedia membantu untuk menuntut balas kematian suaminya.

Pada 1880 ia menikah untuk kedua kalinya dengan Teuku Umar, kemenakan ayahnya. Teuku Umar adalah seorang pejuang Aceh yang akhirnya juga gugur dalam pertempuran di Meulaboh pada 11 Pebruari 1899. Sesudah itu, Cut Nyak Dien melanjutkan perjuangan di daerah pedalaman Meulaboh. Ia termasuk salah seorang pejuang yang pantang tunduk dan tidak mau berdamai dengan Belanda.

Enam tahun lamanya Cut Nyak Dien bergerilya melawan orang-orang Belanda yang disebutnya kape [kafir]. Pasukan Belanda berusaha menangkapnya, tetapi tidak berhasil. Lama-kelamaan jumlah pasukan makin berkurang. Bahan Makanan sulit diperoleh. Ia semakin tua, mata mulai rabun, dan penyakit mulai menyerang. Anak buahnya merasa kasihan melihat keadaan yang demikian itu. Atas dasar kasihan itu, Pang Laot, seorang panglima perang kepercayaan Cut Nyak Dien, menghubungi pihak Belanda. Sesudah itu, pasukan Belanda datang untuk menangkapnya.

Cut Nyak Dien segera ditawan di Banda Aceh. Lalu ia diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat. Di tempat pembuangan inilah, Cut Nyak Dhien meninggal dan dimakamkan di sana. Atas jasa- jasanya dalam perjuangan melawan kolonial Belanda, pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 1964.



Daftar Isi 

Abdoel Moeis ~1

Ki Hadjar Dewantara ~6

Raden Mas Soerjopranoto ~11

Mohammad Husni Thamrin ~14

Kyai Haji Samanhudi ~17

Hadji Oemar Said Tjokroaminoto (HOS Cokroaminoto) ~20

Ernest Douwes Dekker [Danudirdja Setiabudhi] ~23

Sisingamangaraja XII ~27

Sam Ratulangi ~30

dr. Soetomo ~33

Kyai Haji Ahmad Dahlan ~36

Haji Agus Salim ~40

Jenderal Gatot Subroto ~44

Sukarjo Wiryopranoto ~47

Ferdinand Lumbantobing ~50

Kiai Haji Zainul Arifin ~52

Tan Malaka ~55 (kosong di 90 pahlawan Orba)

Mgr. Albertus Sugiyapranata S.J. ~59

Ir. Raden Juanda Kartawijaya ~63

dr. Saharjo S.H. ~66

Cut Nyak Dhien ~69

Cut Nyak Meutia ~72

Raden Ajeng Kartini ~75

dr. Tjipto Mangoenkoesoemo ~78

Kiai Haji Fakhruddin ~81

Kiai Haji Mas Mansoer ~85

Alimin ~89 (kosong di 90 pahlawan Orba)

dr. Moewardi ~92

Wahid Hasyim ~95

Sri Susuhunan Pakubuwana VI ~99

Kyai Haji Mohammad Hasyim Asyari ~102

Raden Mas Tumenggung Ario Suryo ~106

Letnan Jenderal Urip Sumoharjo ~109

Jenderal Sudirman (kosong di 2015)


35. Prof. Dr. Soepomo ~112

36. Dr. Kusumah Atmaja S.H. ~114

37. Jenderal Ahmad Yani ~117

38. Letnan Jenderal Suprapto ~120

39. Letnan Jenderal Haryono ~123

40. Letnan Jenderal Siswondo Parman ~126

41. Mayor Jenderal Panjaitan ~129

42. Mayor Jenderal Sutoyo Siswomiharjo ~132

43. Kapten Pierre Tendean ~134

44. Karel Satsuit Tubun ~137

45. Brigadir Jenderal Katamso Darmokusumo ~139

46. Kolonel Sugiono ~142

47. Sutan Syahrir ~146

48. Laksamana Laut Martadinata ~149

49. Dewi Sartika ~152


50. Wilhelmus Zakaria Johannes ~156

51. Pangeran Antasari ~159

52. Usman Janatin ~162

53, Kopral Harun bin Said [Tohir] ~165 

54. Jenderal Basuki Rahmat ~169

55. Arie Frederik Lasut ~172

56. Martha Christina Tiahahu ~175

57. Maria Walanda Maramis ~177

58. Supeno ~180

59. Sultan Ageng Tirtayasa ~183

60. Wage Rudolf Supratman ~186

61. Nyai Ahmad Dahlan ~189

62. Kiai Haji Zainal Mustafa ~192

63. Sultan Hasanuddin ~196

64. Kapitan Pattimura ~199

65. Pangeran Diponegoro ~203

66. Tuanku Imam Bonjol ~207

67. Teungku Cik di Tiro ~210

68. Teuku Umar ~213

69. Wahidin Sudirohusodo ~216

70. Oto Iskandar di Nata ~219

71. Robert Wolter Monginsidi ~222

72. Prof. Mohammad Yamin S.H. ~225

73. Yos Sudarso ~228

74. Prof. Dr. Suharso ~231

75. Marsekal Muda Abdulrachman Saleh ~233

76. Marsekal Muda Agustinus Adisucipto ~236

77. Teuku Nyak Arief ~239

78. Nyi Ageng Serang ~242

79. Hajjah Rangkayo Rasuna Said ~244

80. Abdul Halim Perdanakusuma ~247

81. Marsekal Madya Iswahyudi ~250

82. I Gusti Ngurah Rai ~252

83. Supriyadi ~255

84. Sultan Agung Hanyokrokusumo ~258

85. Untung Suropati ~261

86. Tengku Amir Hamzah ~264

87. Sultan Th aha Sjaifuddin ~266

88. Sultan Mahmud Badaruddin II ~269

89. Soekarno ~272

90. Drs. Mohammad Hatta ~278

91. Suroso R.P ~281

92. Radin Inten II ~283

93. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunagara I ~285

94. Sri Sultan Hamengkubuwana IX ~289

95. Sultan Iskandar Muda ~293

96. I Gusti Ketut Jelantik ~297

97. Frans Kaisiepo ~300

98. Silas Papare ~303

99. Marthen Indey ~306

100. Nuku Muhammad Amiruddin ~309

101. Tuanku Tambusai ~311

102. Syech Yusuf Tajul Khalwati ~315

103. Siti Hartinah ~319

104. Raja Haji Fisabilillah


105. Adam Malik ~322 

106. Tjilik Riwut ~326

107. La Madukelleng ~329 

108. Sultan Syarif Kasim II ~332

109. H. Ilyas Yakoub ~334 

110. Prof. Dr. Hazairin ~337

111. Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan ~340

112. Fatmawati ~343

113. Ranggong Daeng Romo ~346 

114. Brigadir Jenderal Hasan Basry ~349

115. Gusti Pangeran Harya Jatikusumo ~352 

116. Abdul Haris Nasution

117. Andi Jemma ~355

118. Pong Tiku ~358

119. Prof. Dr. Iwa Kusumasumantri ~361 

120. Nani Wartabone ~365

121. Maskoen Soemadiredja ~368

122. Andi Mappanyukki ~371

123. Raja Ali Haji ~374

124. Kiai Haji Ahmad Rifai ~377

125. Gatot Mangkupraja ~381

126. Ismail Marzuki ~384

127. Kiras Bangun [Garamata] ~387

128. Bagindo Azizchan ~391

129. Andi Abdullah Bau Massepe ~394

130. Teuku Mohammad Hasan ~397

131. Raden Mas Tirto Adhi Soerjo ~400

132. Kiayi Haji Noer Alie ~402

133, Pajonga Daeng Ngalie ~406

134. Opu Daeng Risadju ~409

135. Izaak Huru Doko ~413

136. Sri Sultan Hamengku Buwana I ~416

137. Haji Andi Sultan Daeng Raja ~419

138. Mayor Jenderal Adenan Kapau Gani ~422

139. Ide Anak Agung Gde Agung ~424

140. Mayor Jenderal TNI Prof. Dr. Moestopo ~427

141. Slamet Riyadi ~429

142. Muhammad Natsir ~432

143. Kiai Haji Abdul Halim ~436

144. Sutomo ~440

145. Jahja Daniel Dharma ~444

146. Herman Johannes ~447

147. Achmad Subardjo ~450

148. Johanes Leimena ~453

149. Johannes Abraham Dimara ~456

150. Syafruddin Prawiranegara ~459

151. Idham Chalid ~463

152. Haji Abdul Malik Karim Amrullah ~466

153. Ki Sarmidi Mangunsarkoro ~470

154. I Gusti Ketut Pudja ~474

155. Pakubuwana X ~478

156. Ignatius Joseph Kasimo Hendrowahyono ~481

157. KRT Radjiman Wedyodiningrat

158. Lambertus Nicodemus Palar

159. Letjen TNI Purn. TB Simatupang








Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Muis ke Cut Nyak Dhien

 PAHLAWAN NASIONAL 1959 2025 216 ENSIKLOPEDIA  PAHLAWAN NASIONAL Kuncorohadi dan Sustianingsih Cetakan 2015 ada 156 ENSIKLOPEDIA PAHLAWAN NA...