[13/7 22.57] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan Infografis tentang
Biodata dan Kehidupan Awal Maskun Sumadireja
Biodata Pribadi
Nama Lengkap:
Maskoen Soemadiredja (Ejaan Baru: Maskun Sumadiredja)
Tempat Lahir:
Bandung, Jawa BaratTanggal Lahir: 25 Mei 1907
Meninggal Dunia:
Jakarta, 4 Januari 1986 (Usia 78 tahun)
Orang Tua:
Raden Umar Soemadiredja (Ayah) dan Nyi Raden Umi (Ibu)
Istri:
Nyi R. Djuhaeni
Sosok pahlawan asal Bandung ini lahir pada 25 Mei 1907. Ia adalah putra pasangan Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.
Maskun Sumadireja adalah sosok pahlawan nasional yang berperan penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Namanya memang jarang terdengar, tetapi jejak kontribusinya dalam pembangunan bangsa tak bisa dilupakan.
Maskoen Soemadiredja adalah seorang aktivis dan politisi yang berasal dari Jawa Barat. Pada 1927, Maskoen telah memulai perjuangannya dengan menyebarluaskan prinsip-prinsip nasionalisme melalui organisasi gerakan politik.
Akibatnya, tahun 1929, ia bersama tiga tokoh partai lainnya, Soekarno, Gatot Mangkoepradja, dan Suhada ditahan selama delapan bulan di penjara Banceuy. Kehidupan Maskoen Soemadiredja lahir di Bandung, 25 Mei 1907. Ia adalah putra dari Raden Umar Soemadiredja dan Nyi Raden Umi.
[13/7 22.57] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Maskun Sumadireja
Mengutip dari laman resmi Kota Bandung, Maskoen Soemadiredja sudah terpapar semangat juang sejak dini. Jejak perjuangannya dimulai pada 1927 melalui Partai Nasional Indonesia (PNI).
Ia bergabung dengan PNI yang saat itu dipimpin Soekarno. Ia bahkan memegang posisi komisaris sekaligus sekretaris II PNI Bandung.
Selama bertugas, Maskoen aktif menyebarkan ide-ide nasionalisme. Ia juga berupaya membangun kesadaran politik di kalangan rakyat.
Maskoen kerap melakukan aksi-aksi propaganda yang membuat pemerintah kolonial geram. Hal tersebut membuat dirinya sempat dipenjara di Penjara Banceuy, Bandung.
Maskoen Soemadiredja dipenjara bersama Soekarno dan dua pemimpin PNI lainnya, Gatot Mangkoepraja dan Soepriadinata. Mereka dipenjara selama delapan bulan mulai Desember 1929.
Setelah keluar dari penjara, Maskoen tak berhenti berjuang. Ia kembali bergelut dalam dunia politik.
Namun pada 1930, ia kembali ditangkap dan dibuang ke Digul. Tempat tersebut terkenal sebagai tempat pengasingan yang keras.
Politik Bawah Tanah :
Selama di pengasingan, ia beserta tokoh-tokoh pergerakan lain mengalami penderitaan yang luar biasa. Meski demikian, Maskoen tetap aktif dalam kegiatan politik bawah tanah.
Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia 1942, Maskoen dilarikan ke Australia. Maskoen mendirikan Organisasi Serikat Indonesia Baru di sana untuk menjaga semangat perjuangan di kalangan diaspora Indonesia.
Setelah masa kemerdekaan, Maskoen kembali ke Tanah Air dan aktif dalam berbagai kegiatan sosial-politik. Bersama para mantan tahanan politik lainnya, ia mendirikan Persatuan Perintis Kemerdekaan Bekas Boven Digul (PPKBD).
PPKBD bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak mereka dan membangun kembali kehidupan pasca-penjajahan.
Kesimpulan :
Aktivis PNI (1907):
Bergabung dengan PNI bentukan Bung Karno sejak tahun 1927 dan menjabat sebagai komisaris merangkap Sekretaris II PNI Cabang Bandung.
Penjara Banceuy & Sukamiskin (1929):
Ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda pada Desember 1929 bersama Soekarno, Gatot Mangkupraja, dan Soepriadinata karena aktivitas politik mereka dianggap mengancam. Kasus inilah yang memicu Bung Karno membacakan pledoi terkenal "Indonesia Menggugat".
Pengasingan Boven Digoel (1934):
Setelah dibebaskan, ia kembali aktif di pergerakan (Pendidikan Nasional Indonesia) hingga ditangkap lagi oleh Belanda pada 1934 dan diasingkan ke Boven Digoel, Papua, bersama Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir.
Pergerakan di Australia:
Menjelang invasi Jepang, para tahanan Digoel dipindahkan ke Australia. Di sana, Maskoen mendirikan Organisasi Serikat Indonesia Baru untuk menghimpun pemuda dan terus menyuarakan kemerdekaan Indonesia.
[13/7 22.57] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Maskun Sumadireja
Pasca-Kemerdekaan:
Pasca-proklamasi, ia tetap aktif di dunia politik nasional dan sempat diundang oleh Presiden Soeharto pada tahun 1978 sebagai salah satu pemuka masyarakat dalam pembentukan tim penasihat P4.
Akhir Hidup :
Maskoen Soemadiredja wafat pada 4 Januari 1986 karena jatuh sakit. Jenazahnya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata.
Atas jasanya, Maskoen diberi penghargaan oleh pemerintah Indonesia berupa: Setya Lencana Perintis Kemerdekaan Setya Lencana Perjuangan Kemerdekaan Bintang Maha Putera Utama Kemudian pada 5 November 2004, berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 089/TK/TH/2004, Maskoen Soemadiredja dinobatkan menjadi Pahlawan Nasional.
[13/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang
Kehidupan Awal Raja Ali Haji
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad atau juga dikenal dengan nama pena Raja Ali Haji (lahir di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, ca 1808 - meninggal di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga, ca adalah ulama, sejarawan, dan pujangga abad 19 keturunan Bugis dan Melayu.
Dia terkenal sebagai pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar (juga disebut bahasa Melayu baku) itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis.
Riwayat hidup :
Raja Ali Haji dilahirkan di Pulau Penyengat, Kepulauan Riau tahun 1808 atau 1809. Dia adalah putra dari Raja Ahmad, yang bergelar Engku Haji Tua setelah melakukan ziarah ke Mekah. Dia adalah cucu Raja Ali Haji Fisabilillah (Yang Dipertuan Muda IV dari Kesultanan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis, saudara Raja Lumu). Fisabilillah adalah keturunan keluarga kerajaan Riau, yang merupakan keturunan dari prajurit Bugis yang datang ke daerah tersebut pada abad ke-18. Bundanya Hamidah binti Malik adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga dari keturunan Melayu.
Raji Ali Haji dibesarkan dan banyak menjalani masa hidupnya serta menerima pendidikan di Pulau Penyengat, Kesultanan Lingga, yang pada masa kini merupakan bagian dari Provinsi Kepulauan Riau, Indonesia.
Keluarga :
RAH (Raja Ali Haji) lahir di Pulau Penyengat Kepulauan Riau tahun 1808 atau 1809. Beliau adalah putra dari Raja Ahmad , yang bergelar engku haji tua setelah melakukan ziarah ke Mekkah. Dia adalah cucu raja Ali Haji fisabilillah (yang dipertuan muda IV dari Kesultanan Lingga – Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis saudara Raja Lumu. Fisabilillah adalah keturunan keluarga Kerajaan Riau yang merupakan keturunan dari perajurit Bugis yang datang ke daerah tersebut pada abad ke 18. Bundanya Encik Hamidah binti Malik adalah saudara sepupu dari ayahnya dan juga keturunan suku Bugis.
Pendidikan :
Dalam sejarah dunia kependidikannya, Raja Ali Haji mendapatkan pendidikan dasarnya dari ayahnya langsung. Dan di samping itu, beliau juga mendapatkan pendidikan dari lingkungan istana Kesultanan Riau-Lingga di Pulau Penyengat . Di lingkungan kesultanan ini, secara langsung ia mendapatkan pendidikan dari tokoh tokoh terkenal dan terkemuka yang pernah datang dan singgah di istana. Tujuannya tidak hanya untuk mengajar tapi juga untuk belajar dan berguru di istana. Di antara ulama-ulama yang dimaksud adalah Habib Syeikh as-Saqaf, Syeikh Ahmad Jabarti, Syeikh Ismail bin Abdullah al-Minkabawi, Syeikh Abdul Ghafur bin Abbas al-Manduri, dan masih banyak lagi.
[13/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang
Hasil Karya Raja Ali Haji
Karya :
Mahakarya beliau yaitu: Gurindam Dua Belas (1846), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu Kamus Bahasa Melayu Riau-Lingga penggal yang pertama, merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis ("Hadiah yang Berharga" tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasehat kerajaan.
Karya terkenal :
Puisi :
1847: Gurindam Dua Belas
Buku :
1860: Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga)
1865: Silsilah Melayu dan Bugis
Karya lain :
1857: Bustan al-Kathibin
1850-an: Kitab Pengetahuan Bahasa (Tidak selesai)
1857: Intizam Waza'if al-Malik
1857: Thamarat al-Mahammah
Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad atau biasa dipanggil Raja Ali Haji adalah ulama, sejarawan, sastrawan dan pujangga keturunan bugis dan melayu pada abad ke-19. Raja Ali Haji dikenal sebagai seorang pencatat pertama dasar dasar tata bahasa Melayu lewat buku pedoman bahasa yaitu buku yang menjadi standard bahasa Melayu. Bahasa Melayu standard (juga disebut bahasa Melayu baku) karena itulah dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia.
Gurindam dua belas (1847) merupakan mahakarya Raja Ali Haji yang menjadikan awal dari pembaruan arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul kitab pengetahuan bahasa, yaitu sebuah kamus bahasa Melayu Riau- lingga penggal yang pertama merupakan kamus kabahasan pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk.
Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dibilang menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya.
[13/7 23.35] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang
Akhir Hayat dan Penghargaan Raja Ali Haji
Wafat :
Sebagian besar sumber menyatakan bahwa Raja Ali Haji wafat pada tahun 1872 di Pulau Penyengat di Kepulauan Riau, tetapi tanggal kematiannya sedang diperdebatkan setelah bukti-bukti yang tersebar muncul untuk menentang klaim ini. Di antaranya, bukti yang terkenal adalah surat yang ditulis pada tahun 1872 ketika Raja Ali Haji menulis surat kepada Herman Von De Wall, seorang ahli kebudayaan Belanda, yang kemudian meninggal di Tanjung Pinang pada tahun 1873.
Penghargaan :
Pada tanggal 10 November 2004, Raja Ali Haji memperoleh penghargaan gelar pahlawan nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada saat peringatan Hari Pahlawan 10 November di Istana Negara, gelar pahlawan nasional dikeluarkan pada 5 November 2004 dengan Keppres No. 89/TK/2004, Jakarta.
Buku karya Raja Ali Haji berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa (selesai ditulis tahun 1851 M, dicetak di Singapura tahun 1925 M) telah ditetapkan dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 sebagai bahasa nasional (Indonesia). Atas dasar kontribusi yang sangat penting inilah, penghargaan tersebut memang layak diberikan kepada Raja Ali Haji.
Dalam budaya populer :
Dalam film Raja Ali Haji: Mata Pena Mata Hati (2009), Raja Ali Haji diperankan oleh Alex Komang.
Dalam film Raja Ali Haji: Mata Pena Mata Hati (2009), Raja Ali Haji (remaja) diperankan oleh Reiner Manopo.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar