[25/6 00.57] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Latar Belakang dan Pendidikan Teuku Cik Di Tiro
Teuku Cik Di Tiro (bernama asli Muhammad Saman) adalah ulama besar dan panglima perang asal Aceh yang memimpin perlawanan sengit melawan penjajah Belanda melalui taktik perang gerilya dan Perang Sabil.
Ia diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia pada 6 November 1973.
Kelahiran:
Lahir di Cumbok Lamlo, Tiro, Pidie, Aceh, pada tahun 1836.
Pendidikan:
Dibesarkan dalam keluarga yang religius, ia belajar Al-Qur'an dan ilmu agama dari kedua orang tuanya.
Ia juga memperdalam ilmu agama di Mekkah, di mana ia menyerap pemikiran anti-kolonialisme.
[25/6 01.02] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Peran Teuku Cik Di Tiro dalam Perang Aceh
Panglima Perang Sabil:
Sekembalinya dari Mekkah pada 1880, ia mengobarkan semangat jihad rakyat Aceh yang dikenal sebagai Perang Sabil.
Strategi Gerilya:
Ia memimpin pasukan bergerak dari hutan ke hutan dan melakukan serangan mendadak yang sangat merepotkan Belanda.
Kemenangan Signifikan:
Di bawah komandonya, pejuang Aceh berhasil merebut banyak wilayah kekuasaan Belanda hingga menyisakan kawasan Kota Raja (Banda Aceh) pada 1885.
[25/6 01.04] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Gugurnya Pahlawan Teuku Cik Di Tiro
Wafat:
Setelah serangkaian pertempuran hebat, Belanda menggunakan taktik licik dengan meracuni makanannya. Ia wafat di Benteng Anekalong pada 21 Januari 1891.
Penetapan Gelar:
Atas jasa dan pengorbanannya, pemerintah menganugerahkannya gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 087/TK/Tahun 1973.
[25/6 01.30] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Profil Pahlawan Sisingamangaraja XII
Sisingamangaraja XII (18 Februari 1845 – 17 Juni 1907) adalah seorang Raja, Pandita Raja (pemimpin spiritual), dan Pahlawan Nasional Indonesia dari tanah Batak Toba, Sumatera Utara.
Ia memiliki nama asli Patuan Bosar Sinambela dan bergelar Ompu Pulo Batu.
Ia memimpin perlawanan bersenjata yang gigih melawan penjajahan kolonial Belanda selama hampir tiga dekade dalam peristiwa yang dikenal sebagai Perang Batak (1878–1907).
Nama Asli:
Patuan Bosar Sinambela.
Gelar Adat:
Ompu Pulo Batu.Asal Daerah: Bakkara, Toba, Sumatera Utara.
Masa Kuasa:
Naik takhta pada tahun 1876 menggantikan ayahnya, Sisingamangaraja XI.
Status:
Dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 1961 melalui SK Presiden RI No. 590/1961.
[25/6 01.32] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan Sisingamangaraja XII Melawan Belanda
(Perang Batak)
Perjuangan Melawan Belanda (Perang Batak)
Perang Batak pecah pada tahun 1878 ketika pemerintah kolonial Belanda mulai memperluas ekspansi militer dan pengaruhnya ke wilayah Tapanuli dan tanah Batak.
Sisingamangaraja XII dengan tegas menolak berkompromi, menolak tawaran Belanda untuk menjadi "Sultan Batak", dan memilih angkat senjata.
Perang Gerilya:
Ia memimpin pasukan rakyat Batak dengan taktik gerilya di berbagai wilayah seperti Tarutung, Bahal Batu, Siborong-borong, Balige, Dairi, hingga meluas ke perbatasan Aceh.
Pemimpin Lintas Batas:
Pengaruh ketokohannya sangat luas karena ia merangkul berbagai marga tanpa memandang perbedaan agama untuk bersatu melawan penindasan kolonial.
[25/6 01.36] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Gugurnya dan Warisan Sisingamangaraja XII
Gugurnya Sang Raja
Sisingamangaraja XII gugur dalam pertempuran sengit pada 17 Juni 1907 di daerah Dairi setelah disergap oleh pasukan elite Belanda, Marsose. Ia tertembak saat berusaha melindungi putrinya, Siboru Lopian, yang juga gugur dalam peristiwa tersebut.
Jasadnya awalnya dimakamkan di Tarutung, kemudian dipindahkan oleh pihak keluarga dan pemerintah ke Komplek Taman Makam Pahlawan Nasional Sisingamangaraja XII di Balige.
Warisan
Wajahnya diabadikan dalam uang kertas Rp1.000 emisi lama berdasarkan lukisan seniman Augustin Sibarani.
[25/6 01.44] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Dinasti Singamangaraja
Patuan Bosar Sinambela adalah Singamangaraja XII sekaligus sebagai Singamangaraja terakhir dari Dinasti Singa Mangaraja. Setelah kematiannya, tidak ada lagi penerus dinasti Singa Mangaraja di Bangkara, sebab seluruh keluarganya telah ditawan oleh Belanda di Pearaja Tarutung. Untuk menghindarkan pengikutnya para parbaringin mencoba menobatkan putranya menjadi Si Singamangaraja penggantinya. Untuk menghindarkan itu Kolonial Belanda mengasingkan lima putranya ke pulau Jawa. Dua putranya; Raja Pangkilim Raja Mangarandang meninggal di Jawa. Raja Buntal menyelesaikan pendidikan tinggi hukum di Batavia, sempat bekerja di pengadilan di Batavia, sebelum kembali ke Balige dan diberi tempat di Soposurung Balige. Saat itu muncul tuntutan agar dia dinobatkan, sehingga tahun 1929 Belanda membentuk komite Goobe-van Lith. Namun, komite itu merekomendasikan agar penobatan itu diurungkan.
Adapun nama para Singamangaraja yang pernah bertakhta di Bangkara adalah sebagai berikut:
1. Sisingamangaraja I, bernama Raja Manghuntal Sinambela
2. Sisingamangaraja II, bernama Ompu Raja Tinaruan Sinambela
3. Sisingamangaraja III, bernama Raja Itubungna Sinambela
4. Sisingamangaraja IV, bernama Sori Mangaraja Sinambela
5. Sisingamangaraja V, bernama Pallongos Sinambela
6. Sisingamangaraja VI, bernama Pangulbuk Sinambela
7. Sisingamangaraja VII, bernama Ompu Tuan Lumbut Sinambela
8. Sisingamangaraja VIII, bernama Ompu Sotaronggal Sinambela
9. Sisingamangaraja IX, bernama Ompu Sohalompoan Sinambela
10. Sisingamangaraja X, bernama Ompu Tuan Nabolon Sinambela
11. Sisingamangaraja XI, bernama Raja Ompu Sohahuaon Sinambela
12. Sisingamangaraja XII, bernama Patuan Bosar Sinambela
[25/6 10.15] rudysugengp@gmail.com: Kisah Keren
[25/6 10.16] rudysugengp@gmail.com: Lagi naik motor pelan. Nglewatin toko gadget, showroom kendaraan, apotek, resto fast food dan lahan sawah yg sekarang jadi perumahan. Tiba2 pikiranku melayang. Aku ngebayangin sebuah ruangan. Di lantai tertinggi sebuah gedung. Di dalamnya, para 'pemilik' dunia ngumpul.
Mereka ga lagi ngebahas saham. Ga jg ngebahas ekspansi bisnis. Mereka ngumpul buat ngebahas satu masalah: makanan.
Di luar sana, populasi manusia makin meledak. Lahan pangan makin nyusut. Harga kebutuhan pokok meroket. Orang2 miskin mulai kelaparan. Mereka mulai berdemo. Mulai ngerusak. Mulai nyuri dari lumbung2 orang kaya.
"Ini ga bisa dibiarin," kata salah satu dari mereka. "Kalo mereka terus nambah, makanan kita yg habis."
Seorang tokoh kapitalis tua angkat bicara. "Masalahnya sederhana. Populasi manusia terlalu banyak. Kalo dibiarin, mereka akan terus berebut makanan dgn kita. Kita ganti dg Robot. Mesin ga butuh makan. Manusia? Mereka terus nggerogotin persediaan kita."
CEO perusahaan gadget dan otomotif nyela, "Tapi mereka berguna buat marketku. Kalo mereka mati, siapa yg beli ponsel dan mobilku? Siapa yg akan bekerja di pabrik2ku?"
Si kapitalis tua tersenyum sinis. "Ponselmu ga bisa dimakan. Mobilmu ga bisa dimakan. Kalo mereka kelaparan. Mereka akan nekat menjarah harta bendamu untuk kemudian ditukar dg makanan."
Ruangan hening.
CEO perusahaan farmasi ngangguk. "Bener. Aku setuju. Populasi harus dikurangin. Kita ciptain wabah aja. Sebarin di Afrika. Di sana udah banyak yg kelaparan. Hidup mereka ga punya masa depan. Kurangin aja. Nanti, buat yg punya duit... beli vaksinku."
CEO perusahaan senjata langsung nyamber. "Itu sih keuntungan cuma buat kamu. Curang. Aku juga mau untung. Kita ciptain perang aja. Adu domba. Biar mereka saling bunuh. Populasi berkurang. Pasokan pangan aman buat kita. Aku untung dari jual senjata."
CEO perusahaan tambang dan energi nimbrung, suaranya dingin. "Kalo populasi berkurang, siapa yg akan nambang buatku? Siapa yg akan bayar listrikku? Robot mahal. Manusia murah. Mereka bisa kupake sampe sekarat, lalu kutinggalin. Aku butuh mereka tetep miskin. Tapi cukup kaya buat bayar tagihanku."
CEO perusahaan property ikut bicara, nadanya lebih sinis. "Kalo mereka mati, siapa yg akan nyewa apartemenku? Aku ga butuh gedung kosong. Aku butuh mereka yg terus beranak-pinak, biar mereka terus ngontrak, terus berhutang."
CEO perusahaan asuransi, dgn senyum tipis, ikut angkat bicara. "Justru kita harus bikin mereka tetep hidup. Tapi hidup dalam ketakutan. Takut sakit. Takut mati. Takut masa depan. Dari situlah kita ngerauk untung."
CEO perusahaan makanan cepat saji, retail, dan distribusi pangan angkat bicara. Suaranya tenang, tapi nusuk. "Kalian terlalu ribet. Perang, wabah... terlalu mahal. Aku punya cara yg lebih murah. Biarin mereka hidup. Tapi kasih makanan murah. Penuh gula. Penuh lemak. Kenyang instan, mati pelan2. Bikin mereka sakit pelan2. Biar perusahaan farmasi bisa jual obat. Biar kami bisa jual 'kenikmatan'. Mereka cukup kenyang buat bekerja besok, cukup sakit buat beli obat lusa. Dan yg terpenting... mereka ga akan pernah kuat buat memberontak."
CEO perusahaan media dan teknologi, yg dari tadi cuma diem, akhirnya bicara. "Biar semua rencana itu berjalan. Tapi kita butuh kendali penuh atas narasi. Akan kuciptain algoritma yg bikin mereka kecanduan. Bikin mereka terpecah belah. Bikin mereka saling benci. Bikin mereka sibuk sendiri. Selama mereka sibuk bertengkar, mereka ga akan sadar siapa musuh sebenarnya. Mereka akan sibuk nonton, sambil nunggu ajal."
Si kapitalis tua itu nghela napas. "Kalian masih belum paham. Aku ga peduli dgn gadgetmu. Ga peduli dgn propertimu. Ga peduli dgn asuransimu. Yg kupeduliin cuma satu: makanan. Kalo populasi manusia ga dikurangin, mereka akan terus berebut pangan dgn kita. Dan saat itu terjadi, ga ada gadget, ga ada mobil, ga ada apartemen yg bisa nyelamatin kalian. Sebab persamaan antara kita dan mereka adalah kita sama2 butuh makan. Ini menyakitkan."
Ruangan hening. Rapat ga mencapai mufakat. Masing2 CEO mempertahanin kepentingannya sendiri. Mereka bubar dgn rencana masing2.
Tapi malam belum berakhir.
Jauh dari hingar-bingar kota, di tengah Samudra Atlantik, ada sebuah pulau terpencil. Ga ada dalam peta resmi. Citra satelitnya sengaja diburamkan. Pulau ini bernama Black House.
Cuma segelintir orang yg tahu. Lebih rahasia dari Gedung Putih. Lebih berkuasa dari kongres manapun. Di sinilah para penguasa tertinggi dunia ngumpul. Mereka yg ga dikenal publik. Mereka yg namanya ga pernah muncul di majalah. Mereka yg bener2 megang kendali.
"Rapat di kota tadi gagal," kata salah satu dari mereka. "Masing2 egois."
Penguasa tertinggi itu angkat bicara. Suaranya tenang. "Ga apa2. Biarin mereka bersaing. Tapi tujuan kita harus tercapai. Pengurangan populasi ga bisa ditunda."
"Lalu gimana dgn mereka yg ngeyel? Yg ga setuju?"
"Kita patungan. Bikin holding. Perusahaan investasi. Kita beli saham perusahaan2 mereka yg ngeyel itu. Satu per satu. Pelan2. Sampe kita bisa ngendaliin mereka. Kalo mereka ga mau dijual? Kita bikin perusahaan saingan. Kita gulung mereka. Biarin mereka hidup. Biarin mereka bertahan. Tapi jangan biarin mereka jd mayoritas. Dalam hal apapun."
Semua ngangguk.
Lalu penguasa itu melanjutkan, suaranya lebih dingin. "Tapi ada satu musuh terbesar kita. Yg lebih berbahaya dari para CEO yg ngeyel tadi."
Semua nunggu.
"Pendidikan."
Ruangan hening.
"Selama masih ada lembaga pendidikan yg nyetak manusia unggul, manusia yg berpikir kritis, manusia yg berani nanya... kita ga akan pernah aman. Mereka adalah ancaman terbesar bagi kekuasaan kita."
"Lalu apa yg harus kita lakuin?"
"Kita beli sekolah2 itu. Atau kita bikin saingan. Atau lebih baik lagi... kita atur kurikulumnya. Biarin pendidikan cuma nyetak pekerja yg patuh. Pekerja yg ga nanya. Pekerja yg cuma bisa ngejalanin perintah. Jangan ajari mereka filsafat. Jangan ajari mereka berpikir. Ajari mereka keterampilan. Itu aja. Cukup buat bikin mereka bekerja. Jangan biarkan mereka punya waktu buat berpikir."
Semua ngangguk.
"Lalu, beli semua tokoh masyarakat. Beli tokoh agama, biar mereka ngajarin buat selalu bersyukur dan ga mempertanyakan. Bayar politisi, biar mereka bikin aturan yg nguntungin kita. Bayar akademisi, biar mereka nyebarin gagasan bahwa hidup adalah perlombaan. Bahwa mereka harus bekerja lebih keras. Bahwa mereka harus bersaing satu sama lain. Bikin mereka sibuk. Bikin mereka lelah. Bikin mereka ga punya waktu buat berpikir."
Ruangan itu hening. Semua terpana.
"Intinya, bikin sistem serapih mungkin. Bikin masyarakat berhenti berpikir kritis. Bikin mereka berhenti nanyain sesuatu. Kerahin semua alat yg kita milikin. Uang. Media. Agama. Politik. Pendidikan. Semua. Buat ngelanggengin kekuasaan kita di dunia."
Aku berhenti ngebayangin.
Hari itu terasa sunyi. Dan entah kenapa, aku ngerasa... mungkin ini bukan sekadar imajinasi.
Apa kamu pernah ngerasa, bahwa hidup kita ini kaya udah diatur oleh seseorang di atas sana?
.
#DongengMalam #RefleksiDiri #CurhatGuru #RuangAman #PenguasaDunia
[25/6 21.04] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Awal Perjuangan dan Sumpah Setia Cut Nyak Dien
Perjuangan Cut Nyak Dien adalah kisah kegigihan luar biasa seorang perempuan Aceh dalam melawan penjajahan Belanda.
Ia memimpin pertempuran gerilya selama 25 tahun setelah suaminya gugur.
Dikenal sebagai "Ratu Aceh", ia terus mengobarkan semangat rakyat hingga masa tua dan pengasingannya.
Awal Perjuangan dan Sumpah Setia
Lahir di Lampadang, Aceh Besar, pada tahun 1848, Cut Nyak Dien berasal dari keluarga bangsawan yang taat beragama.
Keterlibatannya di medan perang bermula ketika suami pertamanya, Teuku Cek Ibrahim Lamnga, gugur dalam pertempuran melawan Belanda di Gle Tarun pada 29 Juni 1878.
Kehilangan tersebut tidak membuatnya menyerah, melainkan memicu tekadnya untuk bersumpah menghancurkan Belanda.
Ia kemudian menikah dengan tokoh pejuang Aceh, Teuku Umar, pada tahun 1880, setelah Teuku Umar mengizinkannya untuk ikut serta langsung ke medan perang.
[25/6 21.07] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Strategi Perang Gerilya Cut Nyak Dien
Strategi Perang Gerilya
Bersama Teuku Umar, Cut Nyak Dien memimpin perlawanan sengit dengan taktik gerilya dan perang fi'sabilillah.
Mereka bahkan sempat berpura-pura menyerah dan bekerja sama dengan Belanda pada tahun 1893.
Strategi ini digunakan semata-mata untuk mengumpulkan senjata, amunisi, dan mempelajari taktik militer Belanda sebelum akhirnya kembali berbalik menyerang mereka.
Pasangan ini menjadi momok yang sangat ditakuti oleh pasukan kolonial.
[25/6 21.08] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Cut Nyak Dien Memimpin Pasukan Sendirian
Memimpin Pasukan Sendirian
Pada 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam pertempuran di Meulaboh.
Duka mendalam kembali dirasakan Cut Nyak Dien, namun ia kembali mengambil alih komando perlawanan seorang diri.
Ia memimpin pasukan gerilya kecil keluar masuk hutan di pedalaman Aceh selama enam tahun.
Pasukannya terus memberikan perlawanan sengit meskipun kondisi fisiknya semakin melemah karena penyakit (seperti encok) dan penglihatannya mulai kabur akibat usia tua.
[25/6 21.11] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Penangkapan dan Pengasingan Cut Nyak Dien
Penangkapan dan Pengasingan
Pada tahun 1901, Belanda melakukan pengejaran besar-besaran karena perlawanan yang dipimpinnya tak kunjung padam.
Pasukan Cut Nyak Dien akhirnya berhasil didesak dan dihancurkan.
Penangkapan terjadi akibat salah satu pengikutnya yang kasihan melihat penderitaan sang pejuang dan membocorkan lokasi persembunyiannya kepada Belanda.
Ia ditangkap dan sempat ditahan di Batavia sebelum akhirnya diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat.
Di Sumedang, ia dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Ibu Perbu karena keluasan ilmu agama dan keteladanannya.
Ia wafat dalam pengasingan pada 6 November 1908 dan makamnya baru ditemukan kembali pada tahun 1959.
Atas jasa dan keberaniannya yang tak kenal kompromi, pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Cut Nyak Dien pada 2 Mei 1964.
[25/6 21.14] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Awal Perjuangan
Cut Nyak Meutia
Cut Nyak Meutia adalah pahlawan nasional dari Aceh yang gigih melawan penjajahan Belanda.
Ia memimpin taktik gerilya di hutan belantara dan menyerang pos-pos kolonial bersama suaminya. Ia gugur dalam pertempuran sengit di Alue Kurieng pada tahun 1910, menolak menyerah hingga akhir hayatnya.
Awal Perjuangan
Cut Nyak Meutia memulai perjuangannya bersama suami pertamanya, Teuku Chik Muhammad (Teuku Chik Di Tunong). Bersama-sama, mereka mengatur strategi dan memimpin pasukan untuk menyerang markas-markas Belanda di wilayah Aceh Utara.
Wasiat Terakhir Suami:
Sebelum Teuku Chik Di Tunong dieksekusi mati oleh Belanda pada tahun 1905, ia berwasiat agar istrinya menikah dengan Pang Nangroe.
Tujuannya adalah agar sang istri memiliki pelindung dan dapat melanjutkan perjuangan.
[25/6 21.16] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Perjuangan
Cut Nyak Meutia bersama Pang Nangroe
Perjuangan Bersama Pang Nangroe
Setelah menikah dengan Pang Nangroe, Cut Meutia melanjutkan perlawanan menggunakan taktik gerilya dari hutan ke hutan.
Mereka melancarkan berbagai serangan mematikan ke pos-pos kolonial Belanda di wilayah pedalaman Aceh.
Pang Nangroe akhirnya gugur dalam pertempuran melawan pasukan khusus Belanda (Marechausee) pada 26 September 1910.
Kehilangan ini tidak mematahkan semangatnya; ia justru mengambil alih komando sisa pasukannya dan menolak untuk menyerah.
[25/6 21.19] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Pertempuran Terakhir dan Gugurnya Cut Nyak Meutia
Pertempuran Terakhir dan Gugurnya Cut Meutia
Dalam kondisi terdesak dan terpaksa bergerilya di dalam hutan, pasukan Cut Meutia terus diburu oleh Belanda.
Persediaan makanan menipis dan pasukannya mengalami kelelahan yang luar biasa.
Walaupun dalam kondisi sangat lemah, ia menolak tawaran damai dari Belanda dan terus memimpin perlawanan.
Pada 24 Oktober 1910, terjadi pertempuran penghabisan yang tidak seimbang antara pasukan Cut Meutia dan pasukan Marechausee di Alue Kurieng.
Dalam pertempuran tersebut, Cut Meutia gugur sebagai syuhada setelah terkena tembakan di bagian dada dan kepala.
[25/6 21.22] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Wasiat Cut Nyak Meutia
Sepeninggalan Pang Nanggroe pimpinan pasukan diserahkan kepada Cut Meutia oleh anak buahnya dan Cut Meutia tidak menolaknya.
Setalah bermufakat, mereka lalu berankat ke Gayo untuk menggabungkan diri dengan pasukan lain-lainnya.
Di persimpangan Krueng Peutoe, yaitu di Alue Kurieng, rombongan itu berhenti untuk menanak nasi. Disanalah mereka dengan mendadak diserang oleh pasukan Christoffel.
Secepatnya pasukan muslimin yang sudah amat kecil kekuatannya itu siap menghadapi lawan.
Pada pertempuran itulah Cut Meutia ditembak kakinya dan terus terduduk ditanah. Cut Meutia tidak menyerah, bahkan dengan pedang terhunus ia terus mengadakan perawanan hingga ia terbunuh oleh musuh.
Sebelum gugur Cut Meutia sempat berpesan kepada Teuku Syekh Buwah yang berada didekatnya. Katanya dengan pendek, ‘’Selamatkanlah anakku, Raja Sabi. Aku serahkan dia ketanganmu’’.
Dan amanat itu dapat dilaksanakan dengan baik sehingga Teuku Raja Sabi, putra Cik Tunong dan Cut Meutia, selamat dan dapat mengalami kemerdekaan Indonesia, namun dalam tahun 1946 ia mati terbunuh dalam apa yang disebut ‘’Revolusi sosial’’ di Sumatera Utara.
Pemerintah RI dengan SK Presiden RI No. 107/Tahun 1964 tanggal 2 Mei 1964 menganugerahi Cut Meutia gelar Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
[25/6 23.52] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Awal Perjuangan Teuku Umar
Teuku Umar (lahir di Meulaboh pada tahun 1854) adalah pahlawan nasional Indonesia yang terkenal karena kecerdikannya dalam memimpin perang gerilya melawan kolonialisme Belanda di Aceh.
Ia melakukan taktik penyamaran yang legendaris dengan berpura-pura menyerah dan bekerja sama dengan Belanda demi mengumpulkan senjata serta logistik untuk pejuang Aceh.
Awal Perjuangan
Teuku Umar berasal dari kalangan keluarga bangsawan (hulubalang) dan telah berjuang sejak Perang Aceh meletus pada 1873, ketika ia masih berusia sekitar 19 tahun.
Awalnya, ia melakukan perlawanan gerilya di kampung halamannya di Aceh Barat. Bersama sang istri, Cut Nyak Dhien, ia memimpin pertempuran dan membuat pasukan kolonial kewalahan.
Teuku Umar yang dilahirkan di Meulaboh Aceh Barat pada tahun 1854, adalah anak seorang Uleebalang bernama Teuku Achmad Mahmud dari perkawinan dengan adik perempuan Raja Meulaboh. Umar mempunyai dua orang saudara perempuan dan tiga saudara laki-laki.
Nenek moyang Umar adalah Datuk Makhudum Sati berasal dari Minangkabau. Dia merupakan keturunan dari Laksamana Muda Nanta yang merupakan perwakilan Kesultanan Aceh pada zaman pemerintahan Sultan Iskandar Muda di Pariaman.
Salah seorang keturunan Datuk Makhudum Sati pernah berjasa terhadap Sultan Aceh, yang pada waktu itu terancam oleh seorang Panglima Sagi yang ingin merebut kekuasaannya. Berkat jasanya tersebut, orang itu diangkat menjadi Uleebalang VI Mukim dengan gelar Teuku Nan Ranceh. Teuku Nan Ranceh mempunyai dua orang putra yaitu Teuku Nanta Setia dan Teuku Ahmad Mahmud. Sepeninggal Teuku Nan Ranceh, Teuku Nanta Setia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai Uleebalang VI Mukim. la mempunyai anak perempuan bernama Cut Nyak Dhien.
Teuku Umar dari kecil dikenal sebagai anak yang cerdas, pemberani, dan kadang suka berkelahi dengan teman-teman sebayanya. Ia juga memiliki sifat yang keras dan pantang menyerah dalam menghadapi segala persoalan.
Teuku Umar tidak pernah mendapakan pendidikan formal. Meski demikian, ia mampu menjadi seorang pemimpin yang kuat, cerdas, dan pemberani.
[25/6 23.54] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Taktik Berpura-pura Tunduk (Het verraad), Perjuangan Teuku Umar
Taktik Berpura-pura Tunduk (Het verraad)
Untuk mengatasi keterbatasan persenjataan pejuang Aceh, Teuku Umar melakukan manuver paling berani pada tahun 1893. Ia dan pasukannya berpura-pura menyerah kepada Belanda.
Pihak kolonial yang percaya mengangkatnya sebagai komandan pasukan Belanda. Posisi ini ia manfaatkan secara cerdas untuk mengumpulkan senjata, amunisi, serta dukungan logistik militer Belanda.
Teuku Umar kemudian mencari strategi untuk mendapatkan senjata dari pihak Belanda. Akhirnya, Teuku Umar berpura-pura menjadi antek Belanda. Belanda berdamai dengan pasukan Teuku Umar pada tahun 1883.
Gubernur Van Teijn pada saat itu juga bermaksud memanfaatkan Teuku Umar sebagai cara untuk merebut hati rakyat Aceh. Teuku Umar kemudian masuk dinas militer.
Ketika bergabung dengan Belanda, Teuku Umar menundukkan pos-pos pertahanan Aceh, hal tersebut dilakukan Teuku Umar secara pura-pura untuk mengelabui Belanda agar Teuku Umar diberi peran yang lebih besar. Taktik tersebut berhasil, sebagai kompensasi atas keberhasilannya itu, pemintaan Teuku Umar untuk menambah 17 orang panglima dan 120 orang prajurit, termasuk seorang Pang Laot (panglima Laut) sebagai tangan kanannya, dikabulkan.
[25/6 23.56] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Teuku Umar Membelot Kembali dan Kerjasama Senjata
Membelot Kembali dan Kerjasama Senjata
Tiga tahun kemudian (sekitar 1896), Teuku Umar melancarkan aksi "curian strategis".
Ia membelot kembali ke pihak pejuang Aceh dengan membawa ribuan pasukan bersenjata lengkap dan pasokan yang ia dapatkan dari Belanda. Peristiwa ini dikenal sebagai salah satu taktik penipuan militer paling memalukan bagi Belanda di Nusantara. Setelah itu, pasukannya terus melakukan tekanan terhadap Belanda.
Teuku Umar sendiri merasa perang ini sangat menyengsarakan rakyat. Rakyat tidak bisa bekerja sebagaimana biasanya, petani tidak dapat lagi mengerjakan sawah ladangnya.
Teuku Umar pun mengubah taktik dengan cara menyerahkan diri kembali kepada Belanda.
September 1893, Teuku Umar menyerahkan diri kepada Gubernur Deykerhooff di Kutaraja bersama 13 orang Panglima bawahannya, setelah mendapat jaminan keselamatan dan pengampunan.
Teuku Umar dihadiahi gelar Teuku Johan Pahlawan Panglima Besar Nederland. Istrinya, Cut Nyak Dien sempat bingung, malu, dan marah atas keputusan suaminya itu. Umar suka menghindar apabila terjadi percekcokan.
Teuku Umar menunjukkan kesetiaannya kepada Belanda dengan sangat meyakinkan.
Setiap pejabat yang datang ke rumahnya selalu disambut dengan menyenangkan.
Ia selalu memenuhi setiap panggilan dari Gubernur Belanda di Kutaraja, dan memberikan laporan yang memuaskan, sehingga ia mendapat kepercayaan yang besar dari Gubernur Belanda.
Kepercayaan itu dimanfaatkan dengan baik demi kepentingan perjuangan rakyat Aceh selanjutnya.
Sebagai contoh, dalam peperangan Teuku Umar hanya melakukan perang pura-pura dan hanya memerangi Uleebalang yang memeras rakyat (misalnya Teuku Mat Amin). Pasukannya disebarkan bukan untuk mengejar musuh, melainkan untuk menghubungi para Pemimpin pejuang Aceh dan menyampaikan pesan rahasia.
Makam Teuku Umar di Mugo Rayek, Panton Reu, Aceh Barat.
Pada suatu hari di Lampisang, Teuku Umar mengadakan Pertemuan rahasia yang dihadiri para pemimpin pejuang Aceh, membicarakan rencana Teuku Umar untuk kembali memihak Aceh dengan membawa lari semua senjata dan perlengkapan perang milik Belanda yang dikuasainya.
Cut Nyak Dhien pun sadar bahwa selama ini suaminya telah bersandiwara di hadapan Belanda untuk mendapatkan keuntungan demi perjuangan Aceh. Bahkan gaji yang diberikan Belanda secara diam-diam dikirim kepada para pemimpin pejuang untuk membiayai perjuangan.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar keluar dari dinas militer Belanda dengan membawa pasukannya beserta 800 pucuk senjata, 25.000 butir peluru, 500 kg amunisi, dan uang 18.000 dollar.
Berita larinya Teuku Umar menggemparkan Pemerintah Kolonial Belanda.
Gubernur Deykerhooff dipecat dan digantikan oleh Jenderal Vetter. Tentara baru segera didatangkan dari Pulau Jawa.
Vetter mengajukan ultimatum kepada Umar, untuk menyerahkan kembali semua senjata kepada Belanda. Umar tidak mau memenuhi tuntutan itu. Maka pada tanggal 26 April 1896 Teuku Johan Pahlawan dipecat sebagai Uleebalang Leupung dan Panglima Perang Besar Gubernemen Hindia Belanda.
Teuku Umar mengajak uleebalang-uleebalang yang lain untuk memerangi Belanda.
Seluruh komando perang Aceh mulai tahun 1896 berada di bawah pimpinan Teuku Umar. la dibantu oleh istrinya Cut Nyak Dhien dan Panglima Pang Laot, dan mendapat dukungan dari Teuku Panglima Polem Muhammad Daud. Pertama kali dalam sejarah perang Aceh, tentara Aceh dipegang oleh satu komando.
Pada bulan Februari 1898, Teuku Umar tiba di wilayah VII Mukim Pidie bersama seluruh kekuatan pasukannya lalu bergabung dengan Panglima Polem. Pada tanggal 1 April 1898, Teuku Panglima Polem bersama Teuku Umar dan para Uleebalang serta para ulama terkemuka lainnya menyatakan sumpah setianya kepada raja Aceh Sultan Muhammad Daud Syah.
[25/6 23.57] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Teuku Umar Gugur di Medan Pertempuran dan Penghargaan
Gugur di Medan Pertempuran
Belanda yang marah dan merasa diperalat mengerahkan kekuatan besar di bawah pimpinan Jenderal Van Heutsz untuk menangkap Teuku Umar.
Pada tanggal 11 Februari 1899, Teuku Umar gugur dalam sebuah penyergapan mendadak yang dilancarkan oleh pasukan Belanda di Meulaboh. Meski gugur, semangat perlawanannya tidak padam, dan perjuangannya kemudian dilanjutkan oleh sang istri, Cut Nyak Dhien.
Februari 1899, Jenderal Van Heutsz mendapat laporan dari mata-matanya mengenai kedatangan Teuku Umar di Meulaboh, dan segera menempatkan sejumlah pasukan yang cukup kuat di perbatasan Meulaboh.
Malam menjelang 11 Februari 1899 Teuku Umar bersama pasukannya tiba di pinggiran kota Meulaboh. Pasukan Aceh terkejut ketika pasukan Van Heutsz mencegat.
Posisi pasukan Umar tidak menguntungkan dan tidak mungkin mundur. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan pasukannya adalah bertempur.
Dalam pertempuran itu Teuku Umar gugur terkena peluru pasukan Marsose asal Minahasa, Jesajas Pongoh yang menembus dadanya.
Jenazahnya dimakamkan di Mesjid Kampung Mugo di Hulu Sungai Meulaboh. Mendengar berita kematian suaminya, Cut Nyak Dhien sangat bersedih, namun bukan berarti perjuangan telah berakhir.
Dengan gugurnya suaminya tersebut, Cut Nyak Dhien bertekad untuk meneruskan perjuangan rakyat Aceh melawan Belanda. Ia pun mengambil alih pimpinan perlawanan pejuang Aceh.
Atas pengabdian dan perjuangan serta semangat juang rela berkorban melawan penjajah Belanda, Teuku Umar dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Nama Teuku Umar juga diabadikan sebagai nama jalan di sejumlah daerah di tanah air. Salah satu kapal perang TNI AL dinamakan KRI Teuku Umar (385). Selain itu Universitas Teuku Umar di Meulaboh diberi nama berdasarkan namanya.
[26/6 00.20] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Profil Sultan Iskandar Muda dan Masa Kejayaan Maritim
Sultan Iskandar Muda (1607–1636) adalah raja terbesar Kesultanan Aceh yang membawa kerajaan tersebut ke puncak kejayaannya sebagai pusat perdagangan internasional dan pertahanan Islam di Asia Tenggara.
Ia gigih melawan monopoli Portugis, memperluas wilayah kekuasaan hingga Semenanjung Malaya, dan menerapkan sistem hukum tata negara yang adil.
Masa Kejayaan Maritim:
Di bawah pemerintahannya, Aceh menguasai jalur perdagangan di Selat Malaka dan menjadi bandar transit utama untuk lada, timah, dan rempah-rempah yang tersohor hingga ke Eropa.
Sultan Iskandar Muda dilahirkan di Bandar Aceh Darussalam kesultanan Aceh pada tahun 1590. Nama asli Sultan Iskandar Muda yaitu Perkasa Alam. Dilihat dari garis keturunannya, Sultan Iskandar Muda merupakan keturunan dari Sultan Alaudin al-Qahhar, Penguasa dari kesultanan Aceh yang berkuasa pada tahun 1537 hingga 1571.
Biografi Sultan Iskandar Muda
Ibu Sultan Iskandar Muda bernama Putri Raja Indra bangsa, Sementara ayahnya bernama Sultan Mansyur Syah. Ketika mereka menikah upacara pernikahannya dilakukan secara besar-besaran.
Seperti yang diketahui sebelumnya semasa kecil sultan iskandar muda dikenal dengan nama Perkasa Alam ini lahir dan besar di lingkungan istana kesultanan Aceh.
Di usia muda Sultan Iskandar Muda belajar mengenai agama kepada seorang ulama yang berasal dari Baitul Mukadis. Ulama tersebut bernama Teungku Di Bitai Yang dikenal sangat ahli di bidang ilmu Falak dan ilmu Firasat.
Sultan Iskandar Muda juga belajar kepada beberapa ulama paling berpengaruh yang berasal dari Mekkah serta Gujarat India. Ulama tersebut yaitu Syekh Abdul Khoir Ibnu Hajar, Syekh Muhammad Jailani Bin Hasan Ar-Raniri yang berasal dari Gujarat India serta Syekh Muhammad Zamani yang berasal dari Mekah Arab Saudi.
Istri Sultan Iskandar Muda bernama Putroe Phang. Iya merupakan seorang putri dari Kesultanan Pahang yang berada di wilayah Malaysia.
Dikatakan bahwa Sultan Iskandar Muda membangun Gunongan untuk mengobati kesedihan istrinya yang selalu rindu akan kampung halamannya di Pahang. Dari pernikahannya dengan Putroe Phang, Sultan Iskandar Muda memiliki anak bernama Sultanah Safiatuddin dan Meurah Pupok.
[26/6 00.30] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Masa Pemerintahan Sultan Iskandar Muda
Sultan Iskandar Muda naik sebagai Sultan Kerajaan Aceh menggantikan Sultan Ali Riayat Syah yang mangkat. Dikutip dari buku Agama dan Perubahan Sosial (2001) yang ditulis oleh Djokosurjo disebutkan Pada masa kepemimpinan Sultan Ali Riayat Syah, Kesultanan Aceh mengalami kekacauan internal serta ancaman dari bangsa Portugis.
Di situlah Sultan Iskandar Muda yang kala itu masih dikenal dengan nama Perkasa Alam melancarkan perlawanan terhadap Sultan Ali Riayat Syah namun perlawanan tersebut gagal dan Perkasa alam kemudian dipenjara.
Perkasa Alam yang kala itu di penjara Kemudian menawarkan Sultan Ali Riayat Syah Bahwa jika diizinkan memiliki sedikit pasukan serta senjata. Ia meyakinkan Sultan Ali Riayat Syah niscaya dapat mengusir Portugis dari tanah Aceh.
Pada masa itu tekanan Portugis sangat kuat untuk dapat menguasai Aceh serta jalur perdagangan Malaka. Sultan Ali Riayat Syah kemudian menerima tawaran dari Perkasa alam.
Jalannya perjuangan sultan iskandar muda dimulai dari berbekal sedikit pasukan dan senjata yang diberikan oleh Sultan Ali Riayat Syah, Perkasa Alam dapat mengusir Portugis dari tanah Aceh di mana hal itu terjadi pada tahun 1606.
Hal inilah yang kemudian membuat Perkasa alam atau Sultan Iskandar Muda kemudian disegani oleh Inggris serta Belanda. Pada tahun 1607, Perkasa alam atau Sultan Iskandar Muda kemudian naik sebagai Sultan Aceh menggantikan Sultan Ali Riayat Syah yang mangkat. Sultan Iskandar Muda dikenal sebagai orang yang pemberani, cakap serta para ulama.
Adapun langkah langkah Sultan Iskandar Muda dalam memperkokoh posisi dan kekuatannya di kesultanan Aceh yaitu dengan merangkul negeri-negeri di sekitar kesultanan Aceh serta semua pelabuhan yang berada di sekitar Selat Malaka.
Semua ini ia lakukan agar tidak mudah terpengaruh oleh bangsa-bangsa asing Seperti bangsa Portugis, Inggris serta Belanda seperti yang dikutip dari buku Aceh Sepanjang Abad (1981) yang ditulis oleh Mohammad Said.
[26/6 00.32] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Kerajaan Aceh Mencapai Puncak Kejayaan Sultan Iskandar Muda
Kebijakan ketat diterapkan oleh Sultan Iskandar Muda di bidang perdagangan serta ekonomi. Bandar dagang utama juga dibangun di Aceh kala itu serta Sultan Iskandar Muda juga mengontrol harga pasaran hasil bumi dan juga mengontrol pergerakan orang-orang asing yang berada di Wilayah kesultanan Aceh.
Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda kesultanan Aceh melakukan penaklukan daerah-daerah di sekitar Pulau Sumatera hingga berhasil menguasai hampir sebagian besar pulau Sumatera kala itu.
Wilayah kerajaan Aceh dibawah kekuasaan Sultan Iskandar Muda diperluas bahkan sampai menguasai wilayah Semenanjung Malaya (Malaysia) seperti Malaka, Pahang, Johor, Perak hingga sampai ke Patani, Thailand.
Kesultanan Aceh juga dikenal memiliki angkatan laut yang sangat tangguh yang terdiri dari ratusan kapal perang yang dilengkapi dengan meriam. Angkatan Daratnya pun tidak kalah tangguh.
Kesultanan Aceh kalah itu bahkan memiliki puluhan ribu prajurit, ratusan pasukan gajah serta pasukan berkuda. Kekuatan militer kesultanan Aceh ini Portugis kala itu mengalami kekalahan dalam beberapa pertempuran.
[26/6 00.34] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Hubungan Kesultanan Aceh dan Negara Di Eropa
Belanda yang kala itu juga ingin menguasai Selat Malaka mengalihkan perhatiannya ke Jawa serta Maluku dan menghormati kekuasaan kesultanan Aceh. Inggris bahkan menaruh hormat kepada Sultan Iskandar Muda Yang kalah itu sebagai rekan dagang kesultanan Aceh.
Raja Inggris kala itu yang bernama Raja James I bahkan mengirimkan hadiah kepada Sultan Iskandar Muda berupa sebuah meriam. Meriam tersebut kemudian dinamakan sebagai Meriam Raja James yang hingga kini masih terawat.
Meriam tersebut kini menjadi salah satu benda peninggalan Sultan Iskandar Muda dan Kesultanan Aceh. Salah satu peninggalan lainnya dari Kesultanan Aceh yaitu Masjid Baiturrahman yang dibangun pada masa Sultan Iskandar Muda.
Prancis sendiri menaruh hormat kepada Sultan Iskandar Muda dan kesultanan Aceh. Mereka bahkan mengirimkan utusan Raja Perancis yang Turut serta mengirimkan hadiah berupa cermin yang sangat indah namun cermin tersebut pecah dalam perjalanan. Meskipun begitu Sultan Iskandar Muda tetap senang hati menerima hadiah serpihan kaca cermin tersebut .
Kesultanan Aceh dibawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda juga Memiliki hubungan yang baik dengan Kesultanan Utsmaniyah di Turki. Sultan Turki kala itu bernama Sultan Ahmed I bahkan mengirimkan sebuah meriam sebagai hadiah atas kunjungan wakil dari kesultanan Aceh. Kesultanan utsmaniyah bahkan mengirimkan beberapa orang nya untuk mengajari kesultanan Aceh dalam bidang ilmu militer.
[26/6 00.36] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Serangan Melawan Portugis oleh Sultan Iskandar Muda
Ancaman bangsa Portugis di Malaka merupakan salah satu masalah yang dihadapi oleh kesultanan Aceh. Sultan Iskandar Muda bersama dengan pasukan kesultanan Aceh kemudian melancarkan serangan pertama kepada Portugis di Malaka pada tahun 1615. Namun serangan tersebut mengalami kegagalan.
Pada tahun 1629 serangan kedua dilancarkan secara besar-besaran oleh Sultan Iskandar Muda menggempur pertahanan Portugis di Malaka.
Pasukan Portugis kalau itu hampir terkepung dan menyerah, Namun bantuan dari India serta beberapa kerajaan Melayu di Semenanjung Malaya yang berhasil dihasut oleh Portugis membuat Serangan yang dilancarkan oleh Sultan Iskandar Muda dapat dipatahkan.
[26/6 01.11] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Sultan Iskandar Muda Wafat dan Gelar Pahlawan
Setelah perang besar melawan Portugis berakhir, Kondisi kesehatan Sultan Iskandar Muda memburuk. Sultan Iskandar Muda akhirnya wafat pada usia 43 tahun tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.
Biografi Sultan Iskandar Muda, Kisah Sang Pemimpin Terbesar Kesultanan Aceh
Ia kemudian dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda. Namanya juga bahkan diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Aceh serta beberapa nama jalan di Indonesia.
Sultan Iskandar Muda merupakan Penguasa kesultanan Aceh besar dan paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Aceh. Dia bahkan sanggup membawa kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya di Sumatera serta di Malaka.
Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh kemudian dipimpin oleh Sultan Iskandar Thani. Namun Ia tidak sanggup membawa kembali Kejayaan kesultanan Aceh saat Sultan Iskandar Muda berkuasa.
Buatkan gambar dan infografis tentang
Sultan Iskandar Muda Wafat
Setelah perang besar melawan Portugis berakhir, Kondisi kesehatan Sultan Iskandar Muda memburuk. Sultan Iskandar Muda akhirnya wafat pada usia 43 tahun tepatnya pada tanggal 27 Desember 1636.
Ia kemudian dimakamkan di Kompleks Pemakaman Sultan Aceh Kandang XII, Banda Aceh. Atas jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Sultan Iskandar Muda. Namanya juga bahkan diabadikan sebagai nama Bandar Udara di Aceh serta beberapa nama jalan di Indonesia.
Sultan Iskandar Muda merupakan Penguasa kesultanan Aceh besar dan paling terkenal dalam sejarah Kerajaan Aceh. Dia bahkan sanggup membawa kesultanan Aceh mencapai puncak kejayaannya di Sumatera serta di Malaka.
Sepeninggal Sultan Iskandar Muda, Kesultanan Aceh kemudian dipimpin oleh Sultan Iskandar Thani. Namun Ia tidak sanggup membawa kembali Kejayaan kesultanan Aceh saat Sultan Iskandar Muda berkuasa.
Gelar Pahlawan Nasional:
Atas jasa, keberanian, dan kebijaksanaannya, pemerintah Republik Indonesia menetapkan Sultan Iskandar Muda sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden RI No. 007/TK/Tahun 1993 pada 14 September 1993.
[26/6 01.14] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Profil Sultan Mahmud Badaruddin II
Sultan Mahmud Badaruddin II (23 November 1767 - 26 November 1852)[1] adalah Sultan Palembang yang berkuasa dari 12 April 1804; sepuluh hari setelah Ayahnya wafat, hingga diasingkan Belanda pada 1 Juli 1821.
Gelar Sultan Mahmud Badaruddin II Pangeran Ratu.
Dalam masa pemerintahannya, ia beberapa kali memimpin pertempuran melawan Inggris dan Belanda, di antaranya yang disebut Perang Menteng.
Pada tanggal 14 Juli 1821, ketika Belanda berhasil menguasai Palembang, Sultan Mahmud Badaruddin II dan keluarga ditangkap. Mereka diasingkan ke Batavia, sebelum akhirnya dipindahkan ke Ternate pada tahun 1822.
Namanya kini diabadikan sebagai nama bandara internasional di Palembang, Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan mata uang rupiah pecahan 10.000 yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2005. Penggunaan gambar SMB II di uang kertas ini sempat menjadi kasus pelanggaran hak cipta, diduga gambar tersebut digunakan tanpa izin pelukisnya, tetapi kemudian terungkap bahwa gambar ini telah menjadi hak milik panitia penyelenggara lomba lukis wajah SMB II.
[26/6 01.20] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Sultan Mahmud Badaruddin II Konflik dengan Inggris
Sejak timah ditemukan di Bangka pada pertengahan abad ke-18, Palembang dan wilayahnya menjadi incaran Inggris dan Belanda.
Demi menjalin kontrak dagang, bangsa Eropa berniat menguasai Palembang.
Awal mula penjajahan bangsa Eropa ditandai dengan penempatan Loji (kantor dagang) di Sungai Aur (10 Ulu), Palembang.
Orang Eropa pertama yang dihadapi Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II) adalah Sir Thomas Stamford Raffles.
Raffles tahu persis tabiat Sultan Palembang ini.
Karena itu Raffles sangat menaruh hormat, di samping ada kekhawatiran sebagaimana tertuang dalam laporan kepada atasannya, Lord Minto, tanggal 15 Desember 1810:
Sultan Palembang adalah salah seorang pangeran Melayu yang terkaya dan benar apa yang dikatakan bahwa gudangnya penuh dengan dollar dan emas yang telah ditimbun oleh para leluhurnya. Saya anggap inilah yang merupakan satu pokok yang penting untuk menghalangi Daendels memanfaatkan pengadaan sumber yang besar tersebut.
Bersamaan dengan adanya kontak antara Inggris dan Palembang, hal yang sama juga dilakukan Belanda.
Dalam hal ini, melalui utusannya Raffles berusaha membujuk SMB II untuk mengusir Belanda dari Palembang (surat Raffles tanggal 3 Maret 1811).
Dengan bijaksana, SMB II membalas surat Raffles yang intinya mengatakan bahwa Palembang tidak ingin terlibat dalam permusuhan antara Inggris dan Belanda, serta tidak ada niatan bekerja sama dengan Belanda.
Namun akhirnya terjalin kerja sama Inggris-Palembang, di mana pihak Palembang lebih diuntungkan.
Pada tanggal 14 September 1811 terjadi peristiwa pembumihangusan dan pembantaian penghuni loji Sungai Aur.
Belanda menuduh Inggris-lah yang memprovokasi Palembang agar mengusir Belanda. Sebaliknya, Inggris cuci tangan, bahkan langsung menuduh SMB II yang berinisiatif melakukannya.
Raffles terpojok dengan peristiwa loji Sungai Aur, tetapi masih berharap dapat berunding dengan SMB II dan mendapatkan Bangka sebagai kompensasi kepada Inggris.
Harapan Raffles ini tentu saja ditolak SMB II. Akibatnya, Inggris mengirimkan armada perangnya di bawah pimpinan Gillespie dengan alasan menghukum SMB II. Dalam sebuah pertempuran singkat, Palembang berhasil dikuasai dan SMB II menyingkir ke Muara Rawas, di hulu Sungai Musi.
Setelah berhasil menduduki Palembang, Inggris merasa perlu mengangkat penguasa boneka yang baru. Setelah menandatangani perjanjian dengan syarat-syarat yang menguntungkan Inggris, tanggal 14 Mei 1812 Pangeran Adipati (adik kandung SMB II) diangkat menjadi sultan dengan gelar Sultan Ahmad Najamuddin II. Pulau Bangka berhasil dikuasai dan namanya diganti menjadi Duke of York's Island.
Di Mentok, yang kemudian dinamakan Minto, ditempatkan Kapten Robert Meares dari kesatuan 17th Native Infantry of East India Company sebagai residen.
Meares berambisi menangkap SMB II yang telah membuat kubu di Muara Rawas. Pada tanggal 28 Agustus 1812, ia membawa pasukan dan persenjataan yang diangkut dengan perahu untuk menyerbu Muara Rawas.
Dalam sebuah pertempuran di Buay Langu, Meares tertembak dan akhirnya tewas setelah dibawa kembali ke Bangka.
Kedudukannya lalu digantikan oleh Mayor Robison.
Belajar dari pengalaman Meares, Robison mau berdamai dengan SMB II.
Melalui serangkaian perundingan, SMB II kembali ke Palembang dan naik takhta kembali pada 13 Juli 1813 hingga dilengserkan kembali pada Agustus 1813. Sementara itu, Robison dipecat dan ditahan Raffles karena mandat yang diberikannya tidak sesuai.
[26/6 01.25] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang
Sultan Mahmud Badaruddin II Konflik dengan Belanda
Konvensi London 13 Agustus 1814 menghasilkan kesepakatan bahwa Inggris akan menyerahkan semua koloninya yang telah direbut sejak Januari 1803 kepada Belanda. Kebijakan ini tidak menyenangkan Raffles, yang terpaksa harus menyerahkan Palembang kepada Belanda.
Serah terima itupun terjadi pada 19 Agustus 1816, tertunda selama dua tahun dan setelah kedudukan Raffles digantikan oleh John Fendall.
Belanda kemudian mengangkat Herman Warner Muntinghe sebagai komisaris di Palembang.
Tindakan pertama yang dilakukannya adalah mendamaikan kedua sultan, SMB II dan Ahmad Najamuddin II. Tindakannya berhasil, SMB II berhasil naik tahta kembali pada 7 Juni 1818.
Sementara itu, Ahmad Najamuddin II yang pernah bersekutu dengan Inggris berhasil dibujuk oleh Muntinghe ke Batavia dan akhirnya dibuang ke Cianjur.
Pada dasarnya pemerintah kolonial Belanda tidak percaya kepada raja-raja Melayu.
Mutinghe mengujinya dengan melakukan penjajakan ke pedalaman wilayah Kesultanan Palembang dengan alasan inspeksi dan inventarisasi daerah.
Ternyata di daerah Muara Rawas, ia dan pasukannya diserang pengikut SMB II yang masih setia.
Sekembalinya ke Palembang, ia menuntut agar putra mahkota diserahkan kepadanya.
Ini dimaksudkan sebagai jaminan kesetiaan sultan kepada Belanda. Bertepatan dengan habisnya waktu ultimatum Mutinghe untuk penyerahan putra mahkota, SMB II mulai menyerang Belanda.
Pertempuran melawan Belanda yang dikenal sebagai Perang Menteng (dari kata Muntinghe) pecah pada tanggal 12 Juni 1819. Perang ini merupakan perang paling dahsyat pada waktu itu, di mana korban terbanyak ada pada pihak Belanda. Pertempuran berlanjut hingga keesokan hari, tetapi pertahanan Palembang tetap sulit ditembus.
Sampai akhirnya Muntinghe kembali ke Batavia tanpa membawa kemenangan.
Belanda tidak menerima kenyataan itu.
Gubernur Jenderal G.A.G.Ph. van der Capellen merundingkannya dengan Laksamana Constantijn Johan Wolterbeek dan Mayjen Hendrik Merkus de Kock dan diputuskan mengirimkan ekspedisi ke Palembang dengan kekuatan dilipatgandakan. Tujuannya melengserkan dan menghukum SMB II. Setelah berhasil diadu domba, Belanda mengangkat SAN II adik SMB II menjadi sultan di bawah pengaruh kekuasaan Belanda.
SMB II telah memperhitungkan akan ada serangan balik. Karena itu, ia menyiapkan sistem perbentengan yang tangguh.
Di beberapa tempat di Sungai Musi, sebelum masuk Palembang, dibuat benteng-benteng pertahanan yang dikomandani keluarga sultan.
Kelak, benteng-benteng ini sangat berperan dalam pertahanan Palembang.
Pertempuran sungai dimulai pada tanggal 21 Oktober 1819 oleh Belanda dengan tembakan atas perintah Wolterbeek.
Serangan ini disambut dengan tembakan-tembakan meriam dari tepi Musi. Pertempuran baru berlangsung satu hari, Wolterbeek menghentikan penyerangan dan akhirnya kembali ke Batavia pada 30 Oktober 1819.
SMB II masih memperhitungkan dan mempersiapkan diri akan adanya serangan balasan.
Persiapan pertama adalah restrukturisasi dalam pemerintahan. Putra mahkota, Sultan Ahmad Najamuddin Pangeran Ratu.
SMB II lengser dan bergelar susuhunan. Penanggung jawab benteng-benteng dirotasi, tetapi masih dalam lingkungan keluarga sultan.
Bulan Juni 1821 bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Hari Jumat dan Minggu dimanfaatkan oleh dua pihak yang bertikai untuk beribadah.
De Kock memanfaatkan kesempatan ini. Ia memerintahkan pasukannya untuk tidak menyerang pada hari Jumat dengan harapan SMB II juga tidak menyerang pada hari Minggu.
Pada waktu dini hari Minggu 24 Juni, ketika rakyat Palembang sedang makan sahur, Belanda secara tiba-tiba menyerang Palembang.
Serangan dadakan ini tentu saja melumpuhkan Palembang karena mengira pada hari Minggu orang Belanda tidak menyerang. Setelah melalui perlawanan yang hebat, tanggal 25 Juni 1821 Palembang jatuh ke tangan Belanda. Kemudian pada 1 Juli 1821 berkibarlah bendera rod, wit, en blau di bastion Benteng Kuto Besak.
Maka resmilah kolonialisme Hindia Belanda di Palembang.
Tanggal 13 Juli 1821, menjelang tengah malam, SMB II beserta sebagian keluarganya menaiki kapal menuju Batavia.
Dari Batavia, SMB II dan pengikut setianya diasingkan ke Pulau Ternate hingga akhir hayatnya di tanggal 26 November 1852.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar