Selasa, 14 Juli 2026

Andi M + Kiras Bangun

 [14/7 22.39] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Andi Mappanyukki 


Andi Mappanyukki (lahir 1885 - meninggal 18 April 1967) adalah salah tokoh pejuang dan seorang bangsawan di Sulawesi Selatan. Ia adalah Putra dari Raja Gowa ke XXXIV yaitu I'Makkulau Daeng Serang Karaengta Lembang Parang Sultan Husain Tu Ilang ri Bundu’na (Somba Ilang) dan I Cella We'tenripadang Arung Alita, putri tertua dari La Parenrengi Paduka Sri Sultan Ahmad, Arumpone Bone (Raja Bone). Ia pulalah yang memimpin raja raja di Sulawesi Selatan untuk bersatu dan bergabung dengan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) pada tahun 1950.


Informasi pribadi

Lahir : 

1885, Gowa, Celebes, Indonesia.

Meninggal :

18 April 1967, 

Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia.


Riwayat Hidup :

Ia sejak berusia 20 tahun sudah mengangkat senjata untuk berperang mengusir kolonial Belanda, perang yang dilakoni pada masa muda itu takala mempertahankan pos pertahanan kerajaan Gowa di daerah Gunung Sari.


Pernikahan & Keturunan :


Andi Mappanyukki memiliki permaisuri bernama I Mane'ne Karaengta Balla Sari & juga memiliki beberapa istri diantaranya I Batasai Daeng Taco, Besse Bulo (I Rakiyah Bau Baco Karaeng Balla Tinggi).


Ia juga mempunyai beberapa anak antara lain :


Andi Pangerang Petta Rani (L) dari Pernikahannya dengan I Batasi Daeng Taco

Andi Abdullah Bau Massepe(L) dari Pernikahannya dengan Besse Bulo (Putri La Sadapotto Addatuang Sidenreng XVI )

Andi Bau Tenri Padang Opu Datu (P) Istri dari Andi Djemma Datu Luwu

Andi Bau Datu Cella Bone (P)

Andi Bau Tenri Datu Bau (p)

Andi Bau Parenrengi Datu Lolo (L)

Andi Bau To'Appo Datu Appo (L)

Andi Bau Datu Sawa (L).

Salah satu cucu dari Andi Mappanyukki adalah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, S.H., M.H. atau sering disebut A.M. Bau Sawa Mappanyukki (lahir 7 Agustus 1964) adalah seorang purnawirawan perwira tinggi TNI-AD yang terakhir menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Militer XIV/Hasanuddin.

[14/7 22.39] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Andi Mappanyukki 


Raja Bone :


Pada tahun 1931 Kamis tanggal 12 April, atau 13 Syawal 1349H. atas usulan dewan adat ia diangkat menjadi Raja Bone ke-32 dengan gelar Sultan Ibrahim, sehingga ia bernama lengkap Andi Mappanyukki Sultan Ibrahim. Gelar Sultan Ibrahim sendiri merupakan gelar yang diberikan kepadanya manakala menjabat Raja Bone kala itu (mangkauE Ri Bone). Pada masanyalah Kompeni Belanda di Celebes Selatan bernama Tuan L.J.J. Karon serta Raja Belanda di Nederland pada waktu itu bernama A.C.A de Graff.


Pada masa pemerintahan La Mappanyukki di Bone, Perang Dunia II pecah dan melibatkan seluruh negara-negara besar di Eropa. Negeri Belanda diserbu oleh Jerman, Ratu Belanda Wilhelmina melarikan diri bersama seluruh keluarganya ke Inggris untuk minta perlindungan.


La Mappanyukki (Penyebutan La merupakan gelar bangsawan Bugis, sedangkan I Mappanyukki merupakan gelar dari bangsawan Gowa) diangkat menjadi Arung MangkauE’ (Untuk istilah raja di Kerajaan Bone bernama Arung MangkauE') di Kerajaan Bone menggantikan pamannya yaitu sepupu satu kali ayahnya, karena jelas bahwa dia adalah cucu dari MappajungE. Dia merupakan turunan La Tenri Tappu MatinroE ri Rompegading. Dengan demikian Hadat Tujuh Bone dianggap tidak salah pilih dalam menentukan pengganti La Pawawoi Karaeng Sigeri sebagai Mangkau’ di Kerajaan Bone.


Karena menolak bersekutu dengan Belanda Ia pun “di turunkan” dari sebagai raja Bone oleh kekuatan dan kekuasaan Belanda, kemudian di asingkan bersama Istri (permaisuri) nya I' Mane'ne Karaengta Ballasari" dan Putra Putrinya selama 3,5 tahun di Rantepao, Tana Toraja. Ia pernah diangkat memimpin kerajaan suppa tahun 1902 s/d 1906.


Pada masa jabatan Andi sebagai Raja Bone, banyak konflik yang terjadi dengan kolonial Belanda. Saat itu Belanda menawarkan kerjasama dengan Andi Mappanyukki akan tetapi Ia menolaknya sehingga membuat Andi Mappanyukki diturunkan jabatannya dari Raja Bone oleh kekuatan kekuasaan Belanda. Setelah itu, Ia diasingkan bersama istri Permaisurinya, I'Mane'ne Karaengta Ballasari dan juga bersama dengan anak-anaknya selama 3,5 tahun di Rantepao, Tana Toraja.


Pada tanggal 21 Desember 1957, atas usulan Panglima Daerah Militer Sulsel, Andi Mappanyukki dilantik sebagai Kepala Daerah Bone yang juga masih bergelar sebagai Raja Bone. Pelantikan Kepala Daerah ini dilakukan secara adat dan dihadiri oleh Syamsul Rizal Gubernur DKI Jakarta sebagai perwakilan pemerintah pusat, Kementerian Dalam Negeri. Dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, Raja Bone yang sekaligus Kepala Daerah dibantu oleh seorang wakil kepala daerah yaitu Bupati Andi Patoppoi untuk bidang eksekutif dan lima orang anggota Dewan Pemerintah Daerah untuk bidang legislatif.

[14/7 22.39] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Andi Mappanyukki 


Wafat :

Ia Mangkat pada tanggal 18 April 1967 di Jongaya (Jl. Kumala no.160 Makassar dan masih terjaga dan terawat sampai sekarang sebagai Rumah Ex. Raja Bone Andi Mappanyukki), di mana daerah ia juga dilahirkan. 

Makamnya tidak diletakkan di pemakaman raja-raja Gowa atau Bone lazimnya, tetapi oleh masyarakat dan pemerintah Republik Indonesia Makamnya di letakkan di Taman makam Pahlawan Panaikang Makassar (Ujung Pandang) dengan upacara kenegaraan.


Pahlawan Nasional RI

berdasarkan SK Presiden: Keppres No. 089/TK/2004, Tgl. 5 November 2004, Andi Mappanyuki diangkat sebagai pahlawan nasional. 

Menjelang proklamasi, ia juga bertindak sebagai penasihat BPUPKI. Setelah Indonesia merdeka, ia menyatakan bahwa Kerajaan Bone merupakan bagian dari Republik Indonesia. Pada masa Republik Indonesia Serikat, ia ikut menuntut peleburan Negara Indonesia Timur ke dalam RI. Keteladanan dan keteguhan hati ia dalam berjuang diikuti oleh putra-putranya, yaitu Andi Pangerang Petta Rani dan Andi Abdullah Bau Massepe.

[14/7 22.58] rudysugengp@gmail.com: 1. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Kehidupan Awal Kiras Bangun (Garamata)


Kiras Bangun (1852 – 22 Oktober 1942), juga dikenal dengan julukan Garamata (berarti "bermata merah"), adalah salah seorang Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Desa Batukarang, Kec. Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara. Kiras Bangun menggalang kekuatan lintas agama di Sumatera Utara dan Karo untuk menentang penjajahan Belanda.[1] Kiras berhasil mengumpulkan kurang lebih 3000 pasukan. Kiras merupakan ayah kandung dari Payung Bangun, tokoh militer yang memimpin pasukan Barisan Harimau Liar (BHL).


Masa Muda :

Kiras Bangun pada waktu muda tidak pernah menempuh pendidikan formal. Meskipun begitu beliau berhasil menguasai bahasa Melayu dan aksara Karo. Tak hanya itu beliau juga mampu menulis dan membaca huruf latin. Kiras Bangun juga pernah diangkat sebagai Ketua Adat Karo Lima Senina hingga kemudian menjadi Penghulu Lima Senina di Batu Karang.

[14/7 22.58] rudysugengp@gmail.com: 2. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Perjuangan Kiras Bangun (Garamata)


Kiras Bangun lahir pada tahun 1852, di kampung Batu Karang, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.  Semasa mudanya, ia bekelana dari satu urung (desa) ke urung lain untuk memelihara norma, adat dan budaya. Kerja sama antar desa yang digalang tersebut menghasilkan pasukan yang disebut pasukan Urung, yang beberapa kali terlibat pertempuran dengan Belanda di Tanah Karo sejak tahun 1905. Kiras juga memimpin gerakan bawah tanah di daerah tersebut. Sementara itu tentara Belanda menggunakan taktik oportuniteit beginsel yang membuatnya keluar dari persembunyian dan menangkap serta membuangnya ke Riung. Pada tahun 1909, ia dilepaskan, meskipun masih dalam pengawasan Belanda. Dari tahun 1919 sampai 1926, ia dibantu oleh kedua putranya memimpin pemberontakan di Tanah Karo. Kiras yang juga dikenal dengan nama Garamata itu bersama kedua anaknya akhirnya dibuang ke Cipinang di mana ia terus berjuang melawan penjajahan Belanda dalam bidang kemanusiaan. 


Kronologi Perjuangan Melawan Belanda


Penolakan Kolonisasi (1902): 

Belanda ingin memperluas perkebunan ke Tanah Karo dan mencoba mendekati Kiras Bangun. Ia menolak dengan tegas dan berhasil mengusir utusan Belanda bernama Guillaume (Gulame) keluar dari wilayahnya.


Perang Karo (1900–1905): 

Menjadi puncak perlawanan fisik bersenjata. Kiras Bangun menggalang pasukan gabungan yang disebut Pasukan Urung berjumlah sekitar 3.000 prajurit.


Aliansi Lintas Etnis & Agama: 

Beliau berhasil menyatukan kekuatan lintas agama serta lintas etnis (meliputi suku Karo, Gayo, Alas, dan Singkil) di wilayah Sumatera Utara dan Aceh untuk mengepung basis Belanda.


Taktik Perang Gerilya: Menggunakan taktik gerilya jarak dekat dan memimpin gerakan bawah tanah yang membuat militer Belanda kewalahan.

[14/7 22.59] rudysugengp@gmail.com: 3. Buatkan gambar dan infografis tentang 

Akhir Hayat dan Penghargaan Kiras Bangun (Garamata)


Pengasingan dan Akhir Hayat


Pembuangan Pertama (1905): 

Belanda menggunakan taktik sandera (opportuniteit beginsel) untuk memaksa Kiras menyerah, lalu membuangnya ke Riung hingga tahun 1909.


Pemberontakan Kedua (1919–1926): 

Setelah bebas, ia kembali memimpin pemberontakan di Tanah Karo bersama kedua anak kandungnya.


Pembuangan ke Cipinang: 

Akibat pemberontakan tersebut, ia dan anak-anaknya ditangkap kembali lalu dibuang ke Penjara Cipinang, Jakarta.


Gugur (1942): 

Kiras Bangun wafat pada tanggal 22 Oktober 1942, tidak lama setelah masa pendudukan Jepang dimulai. Jenazahnya dimakamkan di tempat kelahirannya, Desa Batukarang, Kabupaten Karo, Sumatera Utara.


Kiras Bangun dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November 2005 dalam rangka peringatan Hari Pahlawan 10 November 2005.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

24 - 26 Juni 26

 [23/6 21.55] rudysugengp@gmail.com: Ganti Pahlawan [23/6 21.59] rudysugengp@gmail.com: Buatkan gambar dan infografis tentang  Perjuangan Pa...