Senin, 23 Februari 2026

Usulan Pahlawan

 

Wikipedia

Daftar tokoh yang diusulkan menjadi pahlawan nasional Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Berikut ini adalah daftar tokoh yang diusulkan menjadi pahlawan nasional Indonesia.

Daftar

Abbas Abdul Jamil

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Cirebon.

Abdul Karim Djamak

Ulama dan tokoh pendidikan asal KerinciJambi. Pendiri dan pembina organisasi Jam'iyyatul Islamiyah.

Abdul Moeloek

Dokter dan pejuang kemerdekaan Indonesia di Lampung.

Abdurrahman Alkadrie dari Pontianak

Sultan Pontianak pertama. Pendiri Kota Pontianak.

Abdoel Moeis Hassan

Pejuang asal Kalimantan Timur, Gubernur Kalimantan Timur ke-2. Lembaga Studi Sejarah Lokal Komunitas Samarinda Bahari (Lasaloka-KSB) mengusulkan kepada pemerintah untuk menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi Abdoel Moeis Hassan. Usulan ini dilakukan setelah Seminar dan Bedah Buku "Moeis Hassan dalam Sejarah Perjuangan dan Revolusi di Kalimantan Timur" tanggal 2 Juni 2018 di Gedung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Kalimantan Timur.[1]

Abdoel Moethalib Sangadji

Perintis kemerdekaan Indonesia yang juga dijuluki sebagai Jago Tua.

Abner Ohee

Pemuda Papua yang terlibat dalam peristiwa Sumpah Pemuda.

Abu Hanifah

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia ke-7.

Abuya Muda Waly

Ulama dan pejuang asal Aceh. Pendiri Dayah Darussalam Labuhan Haji.[2]

Achmad Tahir

Pejuang asal Sumatera Utara. Ia memimpin dalam peristiwa Pertempuran Medan Area.

Ade Irma Suryani Nasution

Putri dari pahlawan nasional jenderal Abdul Haris Nasution yang wafat selama Gerakan 30 September 1965. Pada 2 Juli 2018, Ketua DPR Bambang Soesatyo menyatakan dukungannya terhadap penetapan Ade Irma Nasution sebagai pahlawan nasional.[3]

Ahmad Husein

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Padang.

Aitai Karubaba

Pemuda Papua yang terlibat dalam peristiwa Sumpah Pemuda.

Alex Mendur

Pendiri Indonesian Press Photo Service.

Ali Moertopo

Tokoh intelijen dan politik Orde Baru.

Ali Sadikin

Prajurit KKO berpangkat Letnan JenderalGubernur DKI Jakarta ke-7. Adapun pihak yang mengusungnya menjadi pahlawan nasional antara lain Pemprov DKI Jakarta dan Pemprov Jawa Barat.[4][5][6]

Ali Sastroamidjojo

Perdana Menteri Indonesia ke-8.

Aloei Saboe

Dokter, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia di Gorontalo.[7]

AM Hanafi

Menteri Urusan Tenaga Rakyat di Kabinet Djuanda (1957-1958).[8]

Aman Dimot

Pejuang dan pahlawan dari dataran tinggi Gayo.

Ambo Dalle

Ulama sekaligus pendiri Darud Dakwah Wal Irsyad (DDI) yang dimintai restu Andi Mattalata sebelum berjuang di Pulau Jawa. Pada 12 Oktober 2018, Anggota DPR RI dari Fraksi PDIPHamka Haq bertemu dengan Gubernur Sulawesi Selatan Prof Nurdin Abdullah di Ruang Kerja Gubernur Sulsel untuk mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Ambo Dalle[9]

Aminah Sjoekoer

Tokoh pendidikan untuk kaum wanita pada zaman penjajahan kolonial Belanda, yang bernama asli Atje Voorstad. Pendiri Neisjes School, sekolah untuk kaum wanita di Samarinda Kalimantan Timur.

Amir Machmud

Jenderal, saksi dari Supersemar

Ammana Wewang

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Barat.

Anak Agung Gede Anom Mudita

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali.

Andi Makkasau

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Sulawesi Selatan.

Andi Mattalata

Pejuang Sulawesi Selatan, tokoh militer dan perintis olahraga. Pada 26 Juli 2015, Forum Peduli Kejuangan Andi Mattalatta dan Sejarahnya (Kamase) mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Andi Mattalata.[10]

Anwar Musaddad

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Garut.

Arnaldo dos Reis Araújo

Gubernur Timor Timur pertama.

As'ad Humam

Pencetus metode Iqro untuk belajar membaca Al Qur'an.

Assaat

Menteri Dalam Negeri Indonesia ke-9.

Awaloedin Djamin

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-8.

Bacharuddin Jusuf Habibie

Presiden Republik Indonesia ke-3, teknokrat, insinyur dirgantara, perancang N-250 Gatotkaca

Baharuddin Lopa

Berasal dari tanah Mandar yang sekarang disebut Kabupaten Polewali Mandar serta mantan Jaksa Agung Indonesia yang terbaik karena ia dikatakan sebagai orang yang sangat menentang adanya korupsi.[11] Dia pernah memperoleh jabatan tersebut pada zaman presiden Abdurrahman Wahid dan dia merupakan Duta Besar Indonesia untuk Arab Saudi juga pada waktu itu.[12]

Bagagarsyah dari Pagaruyung

Sultan Pagaruyung, yang melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Bahureksa

Bupati Kendal pertama.

Bambang Soegeng

Perwira yang terlibat dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Bambang Utoyo

Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-4.

Banau

Pejuang dari Maluku Utara yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda.

Basoeki Probowinoto

Aktivis kemerdekaan, pendiri Partai Kristen Indonesia.

Bisri Syansuri

Pelopor pendidikan pesantren modern di Indonesia. Ia adalah kakek dari Abdurrahman Wahid.

Chairil Anwar

Penyair angkatan Pujangga Baru. Pada 9 April 2017, sejumlah budayawan dan sastrawan asal Sumatera Barat yang tergabung dalam Forum Inisiator Pengusulan Chairil Anwar menjadi Pahlawan Nasional mengusulkan agar Chairil Anwar diberi gelar pahlawan nasional.[13]

Charles Choesj Taulu

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Manado.

Chasan Sochib

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Banten. Ia adalah orang tua dari Ratu Atut Chosiyah dan kakek dari Andika Hazrumy.

Chatib Sulaiman

Pejuang kemerdekaan Indonesia dari Sumatera Barat. Ia terlibat dalam perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia.

Daan Mogot

Pejuang yang memimpin dalam peristiwa Pertempuran Lengkong.

Dato Karama

Tokoh yang berdakwah menyebarkan agama Islam di lembah Palu terutama di Tanah Kaili.

Daud Beureu'eh

Gubernur Aceh ke-3.

Demmatande

Pejuang dari Sulawesi Barat yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda.

Dotu Lolong Lasut

Tokoh perjuangan yang berhasil mengusir penjajah dari Portugis untuk menjajah Wenang. Pendiri Kota Manado.

Djiaw Kie Siong

Pemilik rumah Rengasdengklok, tempat penyusunan teks Proklamasi.

Eddie Sukardi

Pejuang asal Sukabumi. Ia memimpin dalam peristiwa Pertempuran Bojong Kokosan. Ia adalah orang tua dari Laksamana Sukardi.

Elang Mulia Lesmana

Mahasiswa yang tewas pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Fatahillah

Tokoh perjuangan yang berhasil mengusir penjajah dari Portugis untuk menjajah Sunda Kelapa. Pendiri Kota Jakarta.

Frans Mendur

Pendiri Indonesian Press Photo Service.

Gele Harun Nasution

Residen Lampung pada tahun 1950-1955 setelah sebelumnya menjabat sebagai acting resident (Residen Perang) saat Agresi Militer Belanda II.

Gerrit Augustinus Siwabessy

Menteri Kesehatan Indonesia.

Gesang Martohartono

Pencipta lagu "Bengawan Solo". Pada 17 Maret 2013, warga Solo menggalang 1000 tanda tangan untuk pengusulan Gesang sebagai pahlawan nasional. Aksi tersebut diikuti oleh Gubernur Jakarta (kemudian Presiden) Joko Widodo dan kelak Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.[14]

Guru Patimpus

Pendiri Kota Medan.

H.A.S. Hanandjoeddin

Pendiri Korps Pasukan Khas.[15]

Hafidin Royan

Mahasiswa yang tewas pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Haji Hayun

Pemimpin Pemberontakan Tolitoli 1919 melawan Belanda.[16]

Hamengkubuwono II

Sultan Yogyakarta, melakukan perlawanan terhadap VOC.

Hasan Kasim

Perwira yang terlibat dalam peristiwa Pertempuran Lima Hari Lima Malam.

H.B. Jassin

Sastrawan dan pendiri Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.[17]

Hendriawan Sie

Mahasiswa yang tewas pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Heri Hertanto

Mahasiswa yang tewas pada saat demonstrasi menuntut Soeharto turun dari jabatan sebagai Presiden Republik Indonesia.

Hoegeng Imam Santoso

Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia ke-5, simbol integritas polisi.[18]

Ida Dewa Agung Istri Kanya

Ratu Klungkung (wilayah Bali). Pemimpin perang Kusamba pada tahun 1849.[19]

Indera Tjaja

Residen Bengkulu pertama. Menteri Perhubungan Kabinet Darurat pada 1948-1949.[20]

Inggit Garnasih

Mantan istri dari Presiden Republik Indonesia pertama, Soekarno.[6][21]

Iskandar Muhammad Djabir Sjah

Sultan Ternate ke-47.

Jacob Ponto

Raja Siau ke-14.

João da Costa Tavares

Panglima Milisi pro-Indonesia di Timor Leste.

Johanna Sunarti

Istri dari pahlawan nasional jenderal Abdul Haris Nasution.

Karaeng Galesong

Putra Sultan Gowa, melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda. Ia adalah putra dari Sultan Hasanuddin.

Kariadi

Dokter yang akan mengecek cadangan air minum di daerah Candi yang kabarnya telah diracuni oleh Jepang. Ia juga merupakan Kepala Laboratorium Dinas Pusat Purusara.[22]

KH Ma'mun Nawawi

Ulama dan pejuang asal Kabupaten BekasiJawa Barat. Salah satu penggagas Laskar Hizbullah.[23]

KH Saifuddin Zuhri

Menteri Agama di Era Nasakom[24][25]

Ki Ageng Pandan Arang

Bupati Semarang pertama. Pendiri Kota Semarang.

Lukas Kustaryo

Pejuang yang dicari-cari tentara Belanda pada saat Pembantaian Rawagede.

M. Jusuf

Jenderal, saksi dari Supersemar

Margono Djojohadikoesoemo

Ketua Dewan Pertimbangan Agung pertama. Ia adalah kakek dari Prabowo Subianto.

Marunduh

Raja Mori (wilayah Sulawesi Tengah). Berjuang melawan Belanda hingga gugur pada 1907.[26]

Maulana Muhammad Djalaluddin

Sultan Bulungan ke-10.

Midian Sirait

Pelopor pengembangan farmasi nasional.

Mohamad Roem

Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-10.

Mohammad Djamil

Residen Sumatera Barat ketiga.

Mohammad Hoesin

Dokter dan pejuang kemerdekaan Indonesia di Palembang.

Moeffreni Moe'min

Tentara berpangkat Letnan Kolonel berdarah Betawi. Pada 14 September 2018Forum Warga Betawi mengusulkannya menjadi pahlawan nasional di Jakarta.[27]

Muchtar Lutfi

Seorang ulama, politikus, dan pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia merupakan pengurus partai Persatuan Muslim Indonesia dan ketua Partai Masyumi cabang Sulawesi.

Muhammad Ali dari Siak (Marhum Pekan)

Sultan Siak ke-5. Pendiri Kota Pekanbaru.[28]

Muhammad Arsyad al-Banjari (Datu Kalampayan)

Ulama besar Kesultanan Banjar, penulis Sabilal Muhtadin.[29][30]

Muhammad Daud Syah

Sultan terakhir dari Aceh.

Muhammad Sroedji

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jember.

Muhammad Thahir Imam Lapeo

Tokoh yang berdakwah menyebarkan agama Islam di tanah Mandar terutama di sekitar Balanipa dan Campalagian.

Nartosabdo

Dalang dan seniman wayang kulit legendaris.

Orpa Pallo

Pemuda Papua yang terlibat dalam peristiwa Sumpah Pemuda.

Pakubuwana X dan Pakubuwana XI

Pada 10 November 2014, Pengageng Kusumawandawa, KGPH Puger mengaku telah mengirim surat permohonan kepada Presiden Joko Widodo untuk mengusulkan Pakubuwana X dan Pakubuwana XI menjadi pahlawan nasional.[31]

Pakubuwana XII

Susuhunan Surakarta dan aktivis kemerdekaan.

Pocut Meurah Intan

Pejuang wanita Aceh, dibuang ke Blora hingga wafat.[32]

Prawoto Mangkusasmito

Wakil Perdana Menteri Indonesia ke-7.

Pue Lasadindi (Mangge Rante)

Tokoh Sarekat Islam Sulawesi Tengah. Berpartisipasi dalam sejumlah perang anti-kolonial pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.[33]

Raden Ayu Lasminingrat

Pelopor pendidikan wanita Sunda.

Raden Siti Jenab

Pelopor pendidikan wanita Sunda.

Raden Trunajaya

Pejuang dari Madura yang melakukan perlawanan terhadap pasukan Kesultanan Mataram.

Raden Tumenggung Kertanegara IV (Banyak Wide)

Panglima perang Pangeran Diponegoro.

Rahadi Oesman

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Ketapang.

Rajawali Pusadan

Tokoh yang sangat berpengaruh dalam usulan pemekaran provinsi Sulawesi Tengah.

Ratu Sinuhun

Penulis Kitab Simbur Cahaya, yang merupakan undang-undang tertulis perpaduan antara hukum adat dengan ajaran Islam.

Roebiono Kertopati

Bapak Persandian Indonesia dan Pendiri Lembaga Sandi Negara.

Sabam Sirait

Politikus dan tokoh PDI-P. Anggota DPR GR (Gotong Royong) pada 1967-1973, anggota DPR RI pada 1973-1982 dan 1992-2009, dan anggota DPD RI pada 2014-2021.[34][35]

Sabirin Mochtar

Panglima Kodam X/Lambung Mangkurat ke-7

Saleh Darat as-Samarani

Ia adalah guru dari Hasyim Asy'ariAhmad Dahlan, dan Raden Ajeng Kartini.

Sanusi Pane

Sastrawan Indonesia yang digolongkan ke dalam angkatan Pujangga Baru.

Saridjah Niung

Komposer lagu kebangsaan "Tanah Airku"

Sartono

Ketua Parlemen Sementara (DPRS) pada Republik Indonesia Serikat (1949).

Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri

Ulama dan tokoh pendidikan asal Sulawesi Tengah. Mendirikan lembaga pendidikan Islam Alkhairaat.[36]

Sholeh Iskandar

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bogor.

Si Patai

Pejuang dari Padang yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda.

Soegarda Poerbakawatja

Tokoh pendidikan. Berperan dalam pendirian beberapa universitas di Indonesia, di antaranya Universitas Gajah MadaUniversitas Syiah Kuala, dan Universitas Cenderawasih.[37]

Soegondo Djojopoespito

Pemimpin Sidang pada Kongres Pemuda II.[38]

Soengkono

Perwira yang terlibat dalam peristiwa Peristiwa 10 November.

Soekiman Wirjosandjojo

Perdana Menteri Indonesia ke-6.

Soemitro Djojohadikoesoemo

Menteri Keuangan IndonesiaMenteri Perdagangan dan Menteri Riset dan Teknologi. Ia adalah ayah dari Prabowo Subianto.

Soerastri Karma Trimoerti

Jurnalis dan tokoh politik dalam perjuangan kemerdekaan. Menteri Ketenagakerjaan pertama.

Soeratin Sosrosoegondo

Pendiri dan Ketua Umum pertama PSSI.

Soerjadi Soerjadarma

Kepala Staf TNI Angkatan Udara pertama.

Suhardiman

Pendiri dan Ketua Umum pertama Partai Golkar.

Sulaiman Ar-Rasuli

Ulama Minangkabau, pendiri Persatuan Tarbiyah Islamiyah.[39]

Suriansyah dari Banjar

Sultan Banjar pertama. Pendiri Kota Banjarmasin.

Sutardjo Kertohadikusumo

Politikus, Anggota Volksraad, kemudian Gubernur Jawa Barat pertama.

KH Syaikhuna Badruzzaman

Ulama asal Garut, salah satu pejuang Laskar Hizbullah Fisabilillah.[40]

Syarif Hamid II dari Pontianak

Sultan dari Pontianak, Menteri Negara di Kabinet Republik Indonesia Serikat, perancang Lambang negara Indonesia. Adapun pihak yang mengusungnya menjadi pahlawan nasional ialah Yayasan Sultan Hamid II.[41] Namun usulan ini cukup kontroversial karena keterlibatannya dengan Raymond Westerling.

Teungku Chik Pantee Geulima

Pejuang dari Pidie Jaya yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda.

Teuku Abdul Hamid Azwar

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Aceh.

Todung Sutan Gunung Mulia

Aktivis kemerdekaan, pendiri Partai Kristen Indonesia.

Tuanku Nan Renceh

Tokoh Islam dari Sumatera Barat yang melakukan perlawanan terhadap pasukan kolonial Belanda dalam Perang Padri.

Umar Wirahadikusumah

Wakil Presiden Republik Indonesia ke-4.

W.J.S. Poerwadarminta

Ahli bahasa dan penyusun kamus bahasa Indonesia pertama.

Wiliater Hutagalung

Perwira yang terlibat dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949.

Wilopo

Perdana Menteri Indonesia ke-7.

Wiranatakusumah II

Bupati Bandung ke-6. Pendiri Kota Bandung.

Yoga Sugama

Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara ke-4.

Yunan Nasution

Politikus dan tokoh Masyumi. Anggota DPRS pada 1950-1956.

Yusuf Hasyim

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jombang. Ia adalah paman dari Abdurrahman Wahid.

Zainoel Abidin

Dokter dan pejuang kemerdekaan Indonesia di Aceh.

Zainutir

Tokoh pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Usulan Pahlawan

  Cari Ikuti Wikipedia bahasa Indonesia di    Facebook ,    Twitter/X ,    Instagram ,    Telegram , dan    Discord Daftar tokoh yang diusul...