37 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ahmad Yani.
Nama: Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani
Lahir di Purworejo, Jawa Tengah, 19 Juni 1922.
Meninggal di Jakarta, 1 Oktober 1965 (Gugur dalam peristiwa G30S/PKI).
Pendidikan Militer: Dinas Topografi Militer Malang, PETA (Pembela Tanah Air) Bogor, Command and General Staff College di Fort Leavenworth, AS.
Jabatan Terakhir: Menteri/Panglima Angkatan Darat (Men/Pangad) sejak 1962.
A. Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani (1922-1965) adalah Pahlawan Revolusi dan Menteri/Panglima Angkatan Darat yang gigih melawan PKI. Lahir di Purworejo, ia berkarir cemerlang sejak masa PETA hingga memimpin penumpasan PRRI, sebelum gugur dalam peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965 untuk mempertahankan ideologi Pancasila.
B. Perjuangan dan Karir Militer
1. Masa Kemerdekaan: Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berperan aktif mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda.
2. Penumpasan DI/TII: Membentuk pasukan khusus "Banteng Raiders" untuk menumpas pemberontakan Darul Islam di Jawa Tengah.
3. Penumpasan PRRI: Memimpin Operasi 17 Agustus di Sumatera Barat pada 1958, berhasil merebut kembali Padang dan Bukittinggi.
4. Anti-Komunis: Sebagai Panglima AD, Yani dikenal tegas berbeda paham dengan PKI dan menentang pembentukan Angkatan Kelima yang diusulkan PKI.
C. Gugur sebagai Pahlawan Revolusi
Ahmad Yani gugur di rumahnya di Menteng, Jakarta, pada dini hari 1 Oktober 1965, akibat ditembak pasukan penculik G30S/PKI karena melakukan perlawanan. Jenazahnya ditemukan di sumur tua Lubang Buaya dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Berdasarkan SK Presiden Nomor 3/ar Koti/1965, ia dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
D. Perjuangan Melawan Jepang:
Ahmad Yani memulai karir militer di masa pendudukan Jepang. Ia bergabung dengan kesatuan tentara PETA (Pembela Tanah Air) dan mengikuti pelatihan intensif di Bogor. Karena kecakapannya, ia diangkat menjadi instruktur tentara PETA di Magelang dengan pangkat Shodancho (Komandan Seksi I Batalyon II).
E. Perjuangan Melawan Belanda:
1. Agresi Militer Belanda I: Yani berperan aktif dalam memukul mundur Belanda di Jawa Tengah.
2. Julukan "Juru Selamat Magelang": Ia berhasil mempertahankan Magelang dari penguasaan Belanda, yang membuatnya mendapat julukan tersebut.
3. Benteng Raiders: Ahmad Yani membentuk satuan khusus Banteng Raiders untuk menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah yang mengancam kedaulatan negara (1950-an).
4. Diplomasi: Selain bertempur, Yani juga cakap dalam diplomasi sebagai delegasi Indonesia.
F. Perjuangan Usai Indonesia Merdeka (Pasca 1949)
Setelah pengakuan kedaulatan, perjuangan Yani berfokus pada menjaga keutuhan NKRI dari ancaman pemberontakan dalam negeri dan membangun profesionalisme militer.
1. Penumpasan DI/TII: Pada tahun 1950-an, Yani membentuk pasukan khusus "Banteng Raiders" untuk menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah.
2. Menumpas PRRI: Sebagai komandan operasi, ia berhasil memimpin penumpasan pemberontakan PRRI di Sumatera Barat pada tahun 1958.
3. Modernisasi TNI AD: Pada tahun 1962, Soekarno mengangkatnya sebagai Menpangad. Yani merombak struktur AD, meningkatkan profesionalisme, dan mengirim perwira muda untuk belajar ke luar negeri.
4. Sikap Anti-PKI: Meskipun dekat dengan Soekarno, Yani secara tegas menolak ideologi PKI dan menentang gagasan "Angkatan Kelima" (mempersenjatai buruh dan tani) yang diusulkan PKI, yang akhirnya menjadikan ia target utama dalam peristiwa G30S/PKI.
G. Pembunuhan oleh PKI
1. Mengapa Dibunuh: Ahmad Yani adalah target utama G30S/PKI karena kedudukannya sebagai Menpangad yang anti-komunis, setia kepada Presiden Soekarno namun menentang PKI secara halus, dan menjadi penghalang utama PKI dalam menguasai militer (Dewan Jenderal).
2. Siapa yang Membunuh: Pasukan penculik yang berafiliasi dengan PKI, di antaranya dipimpin oleh Sersan Bungkus dari Resimen Tjakrabirawa (pasukan pengawal presiden) yang bergerak di bawah perintah G30S.
3. Lokasi Penculikan: Di rumah dinasnya yang beralamat di Jl. Lembang No. D58, Menteng, Jakarta Pusat (sekarang menjadi Museum Sasmitaloka Ahmad Yani).
4. Kronologi Singkat: Pada 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan penculik menjemputnya. Yani menolak ikut dan mencoba melawan, namun ditembak di rumahnya (di depan kamar tidur) sebelum jasadnya dibawa ke Lubang Buaya, Jakarta Timur, dan dimasukkan ke dalam sumur tua.
H. Mengapa Menentang Angkatan ke-5
1. Ahmad Yani menentang gagasan "Angkatan Kelima" (persenjataan buruh dan tani) yang diusulkan oleh PKI karena:
2. Prinsip Profesionalisme: Ia meyakini bahwa persenjataan hanya boleh dipegang oleh militer resmi (TNI) untuk menjaga profesionalisme militer.
3. Kekhawatiran Kudeta: Ia menilai usulan tersebut merupakan taktik PKI untuk membangun kekuatan militer tandingan guna melakukan kudeta dan mengganti ideologi negara.
I. Usulan Angkatan ke-5
1. Siapa yang Mengusulkan: Gagasan ini didorong oleh pimpinan PKI, khususnya D.N. Aidit, yang kemudian didukung oleh Presiden Soekarno.
2. Tujuan: Secara resmi, tujuannya adalah memperkuat pertahanan negara dalam konfrontasi dengan Malaysia. Namun, secara politis, ini digunakan PKI untuk mempersenjatai massa pendukungnya (buruh dan tani).
J. Isu Dewan Jenderal
1. Apa itu: Isu yang diembuskan PKI bahwa terdapat "Dewan Jenderal" di tubuh TNI AD yang anti-Soekarno dan berencana melakukan kudeta.
2. Siapa yang Menghembuskan: Isu ini disebarkan oleh PKI (khususnya melalui Biro Khusus PKI) untuk memfitnah pimpinan TNI AD agar mereka disingkirkan.
3. Kebenaran: Isu tersebut adalah fitnah untuk menjustifikasi penculikan para jenderal yang anti-komunis, termasuk Ahmad Yani, yang sebenarnya setia kepada Presiden Soekarno.
K. Akhir Hayat dan Penemuan Jenazah
Ahmad Yani gugur setelah ditembak di rumahnya pada 1 Oktober 1965. Jenazahnya dibawa ke Lubang Buaya dan dimasukkan ke dalam sumur tua bersama enam perwira lainnya. Jenazahnya ditemukan pada 4 Oktober 1965 oleh pasukan RPKAD (sekarang Kopassus) dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
RISALAH PAHLAWAN REVOLUSI
Ahmad Yani
(Jenderal TNI Anumerta)
Lahir: Purworejo, Jawa Tengah – 19 Juni 1922
Wafat: Jakarta – 1 Oktober 1965 (Gugur dalam peristiwa G30S/PKI)
Pendidikan Militer: Dinas Topografi Militer Malang, PETA Bogor, Command and General Staff College – Fort Leavenworth, AS
Jabatan Terakhir: Menteri/Panglima Angkatan Darat (1962)
Gelar: Pahlawan Revolusi
A. PROFIL SINGKAT
Jenderal Ahmad Yani adalah tokoh militer Indonesia yang dikenal tegas, profesional, dan anti-komunis. Ia berperan besar dalam menjaga keutuhan NKRI serta membangun profesionalisme TNI Angkatan Darat pada masa awal kemerdekaan hingga 1965.
B. PERJUANGAN DAN KARIER MILITER
1️⃣ Masa Pendudukan Jepang
- Bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA)
- Mengikuti pelatihan militer di Bogor
- Menjadi instruktur PETA di Magelang dengan pangkat Shodancho
2️⃣ Perjuangan Melawan Belanda
- Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
- Aktif mempertahankan wilayah Jawa Tengah
- Dijuluki “Juru Selamat Magelang” karena berhasil mempertahankan kota tersebut
Banteng Raiders
Membentuk pasukan khusus Banteng Raiders untuk menumpas pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah pada 1950-an.
3️⃣ Penumpasan PRRI (1958)
Memimpin Operasi 17 Agustus di Sumatera Barat dan berhasil merebut kembali Padang serta Bukittinggi dari pemberontak PRRI.
4️⃣ Menteri/Panglima Angkatan Darat (1962)
Diangkat oleh Sukarno sebagai Menpangad.
Reformasi yang dilakukan:
✔ Modernisasi struktur TNI AD
✔ Peningkatan profesionalisme perwira
✔ Pengiriman perwira belajar ke luar negeri
C. SIKAP TEGAS TERHADAP PKI
Sebagai Panglima AD, Ahmad Yani dikenal menolak keras gagasan:
“Angkatan Kelima”
Gagasan mempersenjatai buruh dan tani yang didorong pimpinan D. N. Aidit.
Alasan Penolakan:
- Menjaga profesionalisme militer
- Menghindari milisi tandingan di luar TNI
- Kekhawatiran penyalahgunaan kekuatan bersenjata
Ia juga menjadi sasaran isu “Dewan Jenderal” yang disebarkan untuk melemahkan pimpinan TNI AD.
D. GUGUR DALAM PERISTIWA G30S (1 OKTOBER 1965)
Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan penculik yang terlibat dalam Gerakan 30 September mendatangi rumah dinasnya di Jl. Lembang No. D58, Menteng (kini Museum Sasmitaloka Ahmad Yani).
Ahmad Yani menolak ikut dan melakukan perlawanan. Ia ditembak di rumahnya, kemudian jasadnya dibawa ke Lubang Buaya dan dimasukkan ke sumur tua bersama enam perwira lainnya.
Jenazah ditemukan 4 Oktober 1965 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Berdasarkan SK Presiden No. 3/Ar Koti/1965, ia dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
E. INFOGRAFIS RINGKAS
Nama Lengkap: Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani
Lahir: 19 Juni 1922 – Purworejo
Wafat: 1 Oktober 1965 – Jakarta
Jabatan: Menteri/Panglima Angkatan Darat
Gelar: Pahlawan Revolusi
Kontribusi Utama:
✔ Pahlawan pertahanan Jawa Tengah
✔ Pembentuk Banteng Raiders
✔ Penumpas PRRI
✔ Modernisator TNI AD
✔ Penolak Angkatan Kelima
F. NILAI KEPAHLAWANAN
• Loyalitas kepada negara dan Pancasila
• Ketegasan prinsip profesionalisme militer
• Keberanian menghadapi ancaman ideologi
• Kepemimpinan tegas dan disiplin
• Gugur demi mempertahankan negara
Jenderal Ahmad Yani dikenang sebagai Simbol Ketegasan dan Profesionalisme TNI, yang mengorbankan jiwa raganya demi mempertahankan ideologi negara dan keutuhan Republik Indonesia.
38 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Letjen Anumerta R. Suprapto
Nama Lengkap : Raden Suprapto
Lahir di Purwokerto, Jawa Tengah, 20 Juni 1920
Meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 (Pahlawan Revolusi).
Gelar: Letnan Jenderal Anumerta (Pahlawan Revolusi)
Orang Tua: R. Pusposeno dan RA Alimah
Pendidikan: MULO, AMS Bagian B (Yogyakarta, 1941), Akademi Militer Kerajaan (Bandung).
Pangkat Terakhir: Mayor Jenderal (dinaikkan setingkat menjadi Letnan Jenderal Anumerta).
A. Letjen Anumerta R. Suprapto (lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI pada 1 Oktober 1965. Ia adalah ajudan Jenderal Sudirman, berjuang melawan Jepang, dan menjabat Deputi II Menteri Panglima Angkatan Darat sebelum diculik dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
Letjen R. Suprapto dikenal sebagai perwira yang setia kepada negara dan menolak upaya PKI untuk membentuk "Angkatan Kelima" (mempersenjatai buruh dan tani), yang menyebabkan ia menjadi target dalam peristiwa G30S/PKI.
B. Perjuangan dan Karier Militer:
1. Masa Jepang: Mengikuti pelatihan Cuo Seinen Kunrensyo (Pusat Latihan Pemuda) dan pernah ditawan Jepang setelah pendidikan militer di Bandung terputus.
2. Awal Kemerdekaan: Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto, aktif melucuti senjata Jepang di Cilacap.
3. Pertempuran Ambarawa: Terlibat aktif melawan Sekutu, bahkan menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman.
4. Karier Strategis: Menjabat Kepala Staf Tentara dan Teritorium (T&T) IV/Diponegoro di Semarang, Staf Angkatan Darat, dan Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat.
5. Penumpasan PKI: Ikut serta dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.
C. Perjuangan Melawan Jepang
Pada awal pendudukan Jepang, Suprapto sempat ditawan karena merupakan taruna Akademi Militer Belanda. Setelah berhasil melarikan diri, ia mengikuti pelatihan pemuda (Cuo Seinen Kunrensyo) dan bekerja di kantor pendidikan desa. Saat Proklamasi Kemerdekaan, ia aktif dalam gerakan pemuda di Cilacap untuk merebut gedung-gedung dan senjata dari tangan Jepang.
D. Perjuangan Melawan Belanda (Masa Revolusi)
1. TKR: Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto dengan pangkat Kapten.
2. Palagan Ambarawa: Terlibat dalam pertempuran Ambarawa sebagai ajudan Panglima Besar Sudirman.
3. Kepala Staf: Menjadi Kepala Staf Divisi II yang membantu Gubernur Militer Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan & Karier Militer
1. Penumpasan PKI Madiun 1948: Terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan PKI di Madiun.
2. Kepala Staf Teritorium: Menjabat Kepala Staf Tentara dan Teritorium (T&T) IV/Diponegoro di Semarang.
4. Deputi Menpangad: Ditarik ke Jakarta menjadi staf Angkatan Darat dan kemudian diangkat menjadi Deputi II Menpangad.
5. Peristiwa G30S: Suprapto dikenal sebagai perwira yang setia kepada AD dan menolak ide PKI mengenai "Angkatan Kelima". Ia diculik dan dibunuh oleh pasukan G30S/PKI pada 1 Oktober 1965, lalu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
F. Penculikan dan Pembunuhan oleh PKI
1. Waktu Penculikan: Suprapto diculik dari rumahnya di Jalan Besuki, Menteng, Jakarta Pusat, pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965.
2. Kronologi: Sekelompok pasukan bersenjata yang mengaku dari Resimen Tjakrabirawa (pengawal Presiden) mendatangi rumahnya. Mereka berpura-pura bahwa Suprapto dipanggil Presiden Soekarno. Suprapto yang merasa tidak bersalah mengikuti mereka, namun ternyata dibawa ke kawasan Lubang Buaya.
3. Pembunuhan: Di Lubang Buaya, Suprapto disiksa dan dibunuh bersama perwira tinggi lainnya oleh anggota PKI dan simpatisannya. Jenazahnya kemudian dibuang ke dalam sumur tua.
4. Siapa Pelakunya: Penculikan dilakukan oleh pasukan pimpinan Komandan Batalyon I Resimen Tjakrabirawa, Letkol Untung Samsuri, atas perintah dari unsur pimpinan PKI.
5. Gelar: Setelah jenazahnya ditemukan pada 3 Oktober 1965, pemerintah memberinya gelar Pahlawan Revolusi dan menaikkan pangkatnya secara anumerta menjadi Letnan Jenderal.
G. Penemuan Jenazah
1. Lokasi: Jenazah Letjen R. Suprapto ditemukan di dalam sebuah sumur tua berdiameter 75 cm dengan kedalaman 12 meter di kawasan Lubang Buaya.
2. Waktu Penemuan: Sumur tua tersebut ditemukan pada tanggal 3 Oktober 1965 setelah daerah Lubang Buaya berhasil dibersihkan dan dikuasai kembali oleh pasukan TNI di bawah pimpinan Jenderal Soeharto.
3. Proses Evakuasi: Jenazah diangkat pada tanggal 4 Oktober 1965 dan dimakamkan di TMP Kalibata pada tanggal 5 Oktober 1965, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ABRI.
H. Akhir Hayat dan Nasib Keluarga
* Akhir Hayat: R. Suprapto gugur dalam usia 45 tahun. Pemerintah menganugerahinya gelar Pahlawan Revolusi dan menaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal TNI Anumerta pada 5 Oktober 1965.
* Keluarga: Suprapto menikah dengan Yulie Suparti pada tahun 1946. Berdasarkan catatan sejarah, keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya, mendapatkan perlindungan negara dan penghargaan atas pengorbanan Suprapto sebagai pahlawan bangsa.
RISALAH PAHLAWAN REVOLUSI
๐ฎ๐ฉ Letjen Anumerta R. Suprapto
✨ IDENTITAS TOKOH
Nama Lengkap: Raden Suprapto
Lahir: Purwokerto, Jawa Tengah – 20 Juni 1920
Gugur: Lubang Buaya, Jakarta – 1 Oktober 1965
Dimakamkan: TMP Kalibata, Jakarta
Orang Tua: R. Pusposeno & RA Alimah
Istri: Yulie Suparti (menikah 1946)
Pangkat Terakhir: Mayor Jenderal
Kenaikan Anumerta: Letnan Jenderal
Gelar: Pahlawan Revolusi
๐ PROFIL SINGKAT
Letjen Anumerta R. Suprapto adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September pada 1 Oktober 1965.
Ia dikenal sebagai:
- Ajudan Panglima Besar Sudirman
- Perwira setia Angkatan Darat
- Penolak gagasan “Angkatan Kelima” yang diusulkan PKI
Kesetiaannya kepada negara menjadikannya target penculikan dan pembunuhan dalam tragedi nasional tersebut.
⚔ PERJUANGAN & KARIER MILITER
๐ A. Masa Jepang
- Mengikuti pelatihan Cuo Seinen Kunrensyo
- Sempat ditawan Jepang karena latar belakang pendidikan militer
- Aktif dalam gerakan pemuda menjelang Proklamasi
๐ฎ๐ฉ B. Awal Kemerdekaan
1️⃣ Bergabung TKR
- Masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) di Purwokerto
- Melucuti senjata Jepang di Cilacap
2️⃣ Palagan Ambarawa
- Terlibat dalam pertempuran melawan Sekutu
- Menjadi ajudan Panglima Besar Sudirman
3️⃣ Jabatan Strategis
- Kepala Staf Divisi II
- Kepala Staf T&T IV/Diponegoro (Semarang)
- Staf Angkatan Darat
- Deputi II Menteri/Panglima Angkatan Darat
๐ฅ C. Penumpasan PKI Madiun 1948
Suprapto ikut serta dalam operasi militer menumpas pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 demi menjaga keutuhan Republik.
๐ฉธ PERISTIWA G30S & PENCULIKAN
๐ Kronologi
- Diculik dari rumahnya di Jalan Besuki, Menteng, Jakarta
- Dini hari 1 Oktober 1965
- Pasukan mengaku dari Resimen Tjakrabirawa menyatakan ia dipanggil Presiden
Ia dibawa ke kawasan Lubang Buaya dan disiksa sebelum dibunuh bersama perwira tinggi lainnya.
Penculikan dipimpin Letkol Untung Samsuri.
๐ณ PENEMUAN JENAZAH
- Lokasi: Sumur tua di Lubang Buaya (diameter ±75 cm, kedalaman ±12 meter)
- Ditemukan: 3 Oktober 1965
- Dievakuasi: 4 Oktober 1965
- Dimakamkan: 5 Oktober 1965 (bertepatan HUT ABRI) di TMP Kalibata
๐ PENGHARGAAN
Pada 5 Oktober 1965 pemerintah:
✔ Menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi
✔ Menaikkan pangkat menjadi Letnan Jenderal Anumerta
๐ NILAI PERJUANGAN
- Kesetiaan kepada Negara
- Keberanian
- Integritas Militer
- Nasionalisme
- Pengorbanan Tanpa Pamrih
๐ AKHIR HAYAT & WARISAN
Letjen R. Suprapto gugur dalam usia 45 tahun.
Pengorbanannya menjadi simbol kesetiaan prajurit terhadap negara dan konstitusi.
Ia dikenang sebagai:
๐ฎ๐ฉ Ajudan setia Panglima Besar
๐ฎ๐ฉ Perwira profesional
๐ฎ๐ฉ Pahlawan Revolusi yang mempertahankan keutuhan NKRI
Semangat dan pengorbanannya tetap hidup dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia.
39 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Letnan Jenderal Anumerta M.T. Haryono
Nama Lengkap : Mas Tirtodarmo Haryono.
Lahir di Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924.
Meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 (Gugur sebagai Pahlawan Revolusi)
Pendidikan: ELS (Sekolah Dasar), HBS (Sekolah Menengah), dan Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa Jepang - tidak tamat)
Jabatan Terakhir: Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad).
A. Letnan Jenderal Anumerta Mas Tirtodarmo (M.T.) Haryono (lahir di Surabaya, 20 Januari 1924) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia yang gugur pada 1 Oktober 1965 akibat penculikan G30S/PKI. Perwira cerdas fasih tiga bahasa ini merupakan Deputi III Menpangad yang vokal menolak ideologi komunis, mempertahankan Pancasila, dan aktif dalam perundingan diplomatik.
B. Perjuangan dan Karier Militer
* Awal Karier: Memulai karir militer dengan bergabung ke Tentara Keamanan Rakyat (TKR) setelah proklamasi kemerdekaan.
* Diplomat Militer: Fasih berbahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, menjadikannya andalan dalam perundingan, termasuk sebagai sekretaris delegasi militer Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB).
* Atase Militer: Pernah menjabat sebagai Atase Militer RI di Den Haag, Belanda (1950).
* Penentang PKI: Saat menjabat sebagai Deputi III Menpangad, ia secara tegas menolak usulan PKI untuk membentuk Angkatan Kelima (mempersenjatai buruh dan tani), yang membuatnya menjadi target penculikan.
C. Perjuangan Melawan Jepang
* Memilih Jalur Militer: Saat masa pendudukan Jepang, M.T. Haryono tidak melanjutkan pendidikan kedokterannya. Ia memilih bergabung dengan militer, yaitu masuk ke Giyugun (pasukan pembela tanah air bentukan Jepang).
* Peralihan Sikap: Meskipun bergabung dalam bentukan Jepang, ia aktif mempersiapkan diri untuk mendukung kemerdekaan Indonesia.
D. Perjuangan Melawan Belanda (Masa Revolusi Fisik)
Setelah kemerdekaan 17 Agustus 1945, M.T. Haryono bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan berperan penting karena kemampuan bahasanya:
* Diplomasi: Karena kefasihannya dalam bahasa Belanda dan Inggris, ia berperan aktif sebagai perwira penghubung dalam perundingan-perundingan antara pemerintah Indonesia dengan pihak Belanda dan Inggris, termasuk perundingan yang membahas pengakuan kedaulatan.
* Jabatan: Selama revolusi (1945-1950), ia memegang posisi strategis yang berkaitan dengan diplomasi dan intelijen militer untuk mempertahankan kemerdekaan.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
Setelah pengakuan kedaulatan, karier militer M.T. Haryono melesat karena kecerdasannya:
* Atase Militer: Ia pernah bertugas sebagai Atase Militer Indonesia untuk Belanda dan kemudian ditarik kembali ke Indonesia.
* Deputi Menpangad: Ia diangkat menjadi Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Jenderal Ahmad Yani.
* Penolakan Ideologi Komunis: M.T. Haryono dikenal tegas menolak ide PKI yang ingin membentuk "Angkatan Kelima" (mempersenjatai buruh dan tani). Ia khawatir hal tersebut akan mengancam Pancasila dan menggantinya dengan komunisme.
F. Proses Penculikan dan Gugur
* Siapa yang Menculik: Pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh Letkol Untung (bagian dari gerakan G30S/PKI).
* Rumah Tempat Penculikan: Kediaman M.T. Haryono yang terletak di Jalan Prambanan, Menteng, Jakarta Pusat.
* Kronologi:
1. Penculikan terjadi pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965.
2. Sekitar 30-40 anggota Cakrabirawa mendatangi rumahnya.
3. Pasukan masuk melalui pintu samping. Haryono sempat terbangun, mencoba melawan, dan berusaha masuk ke kamar tidur.
* M.T. Haryono ditembak secara membabi buta oleh pasukan penculik di dalam rumah, tepatnya di depan pintu kamar mandi.
* Jenazahnya diseret keluar rumah, dilempar ke truk, dan dibawa ke Lubang Buaya untuk dibuang ke sumur tua.
G. Akhir Hayat dan Nasib Keluarga
* Akhir Hayat: Gugur di rumahnya akibat tembakan, kemudian jenazahnya ditemukan di dalam sumur tua di Lubang Buaya bersama 6 pahlawan revolusi lainnya pada 3 Oktober 1965.
* Nasib Keluarga: Ia meninggalkan seorang istri dan anak-anak. Di mata keluarganya, M.T. Haryono adalah sosok yang lemah lembut, penyayang, sederhana, suka anggrek, dan tidak pernah memperlihatkan kemarahan seperti tentara pada umumnya. Anak-anaknya menyaksikan langsung penculikan tersebut.
Berikut adalah Risalah dan naskah infografis versi hitam-putih klasik tentang:
RISALAH NASIONAL
M.T. Haryono
Letnan Jenderal Anumerta – Pahlawan Revolusi
1924 – 1965
A. IDENTITAS
Nama Lengkap: Mas Tirtodarmo Haryono
Lahir: Surabaya, Jawa Timur, 20 Januari 1924
Wafat: Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965
Gugur sebagai: Pahlawan Revolusi
Jabatan Terakhir:
Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat (Menpangad)
Pendidikan:
- ELS (Sekolah Dasar)
- HBS (Sekolah Menengah)
- Ika Dai Gakko (Sekolah Kedokteran masa Jepang – tidak tamat)
B. PROFIL SINGKAT
Letnan Jenderal Anumerta M.T. Haryono adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur akibat peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada 1 Oktober 1965.
Beliau dikenal sebagai perwira cerdas, fasih berbahasa Belanda, Inggris, dan Jerman, serta teguh mempertahankan Pancasila dari ancaman ideologi komunisme.
C. PERJUANGAN & KARIER MILITER
1. Awal Karier
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945, M.T. Haryono bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa.
2. Diplomat Militer
Karena kemampuannya dalam bahasa asing, ia menjadi perwira andalan dalam berbagai perundingan internasional, termasuk:
- Sekretaris delegasi militer Indonesia dalam Konferensi Meja Bundar (KMB)
- Perwira penghubung dalam perundingan dengan Belanda dan Inggris
- Berperan dalam proses pengakuan kedaulatan RI
3. Atase Militer
Tahun 1950, beliau dipercaya menjadi Atase Militer RI di Den Haag, Belanda, memperkuat diplomasi pertahanan Indonesia di luar negeri.
4. Deputi Menpangad
Diangkat menjadi Deputi III Menteri/Panglima Angkatan Darat di bawah pimpinan
Ahmad Yani.
Sebagai pejabat tinggi Angkatan Darat, ia dikenal tegas dan berprinsip.
D. PERJUANGAN MASA JEPANG
Saat pendudukan Jepang:
- Tidak melanjutkan sekolah kedokteran
- Memilih jalur militer dengan bergabung ke Giyugun (pasukan bentukan Jepang)
- Secara diam-diam mempersiapkan diri untuk mendukung kemerdekaan Indonesia
E. PENOLAKAN TERHADAP PKI
Sebagai Deputi III Menpangad, M.T. Haryono secara tegas menolak usulan PKI untuk membentuk “Angkatan Kelima” (mempersenjatai buruh dan tani).
Beliau menilai gagasan tersebut berbahaya dan dapat mengancam Pancasila serta stabilitas negara.
Sikap tegas inilah yang membuatnya menjadi target penculikan.
F. PROSES PENCULIKAN & GUGUR
Pelaku
Pasukan Cakrabirawa yang dipimpin oleh
Untung Syamsuri
Lokasi
Rumah kediaman di Jalan Prambanan, Menteng, Jakarta Pusat.
Kronologi Singkat
- Dini hari, 1 Oktober 1965, sekitar 30–40 pasukan mendatangi rumahnya.
- Pasukan masuk melalui pintu samping.
- M.T. Haryono terbangun dan mencoba melawan.
- Ia ditembak di dalam rumah, di depan pintu kamar mandi.
- Jenazahnya diseret dan dibawa ke Lubang Buaya.
Pada 3 Oktober 1965, jenazah beliau ditemukan di sumur tua Lubang Buaya bersama enam perwira tinggi lainnya.
G. AKHIR HAYAT & KELUARGA
Beliau meninggalkan seorang istri dan anak-anak.
Di mata keluarga, M.T. Haryono dikenal sebagai:
- Sosok lemah lembut
- Penyayang keluarga
- Sederhana
- Penyuka tanaman anggrek
- Tidak pernah menunjukkan kemarahan berlebihan
Anak-anaknya menyaksikan langsung peristiwa penculikan tersebut.
H. PENGHARGAAN
✔ Dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi
✔ Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata
✔ Nama beliau diabadikan menjadi nama jalan di berbagai kota di Indonesia
WARISAN PERJUANGAN
M.T. Haryono adalah simbol:
- Keberanian moral
- Keteguhan mempertahankan Pancasila
- Loyalitas kepada bangsa dan negara
- Perpaduan kecerdasan diplomatik dan ketegasan militer
SEMANGAT PERJUANGAN
Setia kepada Negara, Teguh pada Pancasila, Gugur demi Indonesia.
Jika Anda ingin, saya dapat membuatkan versi lebih ringkas untuk poster infografis satu halaman agar langsung siap ditempel pada desain hitam putih klasik.
40 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman
Nama Lengkap
Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman.
Lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918.
Meninggal di 1 Oktober 1965, Lubang Buaya, Jakarta.
Pendidikan: HIS, MULO, AMS-B, sekolah kedokteran (GHS)
Keluarga: Salah satu kakaknya, Sakirman, adalah petinggi PKI, namun S. Parman tetap teguh pada pendirian anti-komunis.
A. Letjen TNI (Anumerta) Siswondo Parman (4 Agustus 1918 – 1 Oktober 1965) adalah perwira intelijen TNI AD dan Pahlawan Revolusi Indonesia yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Sebagai Asisten I Intelijen Men/Pangad, ia teguh menolak pembentukan "Angkatan Kelima" PKI, menjadikannya target penculikan dan dibunuh di Lubang Buaya.
B. Perjuangan dan Karier Militer:
* Masa Jepang: Bekerja sebagai penerjemah dan polisi militer Kempeitai, kemudian dikirim ke Jepang untuk pelatihan intelijen.
* Pasca Kemerdekaan: Aktif di Badan Pengawas Undang-Undang (BPU), berperan merebut senjata dari Jepang di Yogyakarta, dan mendukung Serangan Umum 1 Maret 1949.
* Karier Militer: Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya, Komandan CPM, Atase Militer di London, dan Asisten I Bidang Intelijen Angkatan Darat (1962) dengan pangkat Mayor Jenderal.
* Melawan PKI: S. Parman dikenal sebagai perwira intelijen andal yang mengetahui rencana rahasia PKI. Ia secara tegas menentang usul PKI membentuk "Angkatan Kelima" (mempersenjatai buruh dan tani).
C. Perjuangan Melawan Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, S. Parman bekerja sebagai penerjemah bahasa Inggris untuk polisi militer Jepang (Kempeitai) di Yogyakarta setelah sebelumnya ditangkap karena dicurigai, namun kemudian dibebaskan. Selama menjadi penerjemah, ia memanfaatkan posisinya untuk mengumpulkan informasi intelijen dan tetap berhubungan dengan teman-temannya di pergerakan nasional.
D. Perjuangan Melawan Belanda
Setelah kemerdekaan, S. Parman bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Ia berperan penting dalam bergerilya pada masa Agresi Militer II Belanda, termasuk membantu kesuksesan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Setelah pengakuan kedaulatan, ia menjabat sebagai Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya dan turut menangani pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil).
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan
* Ahli Intelijen: S. Parman menempuh pendidikan Military Police School di Amerika Serikat pada 1951, kemudian menjabat berbagai posisi strategis, termasuk Atase Militer RI di London (1959).
* Penentang PKI: Sebagai Asisten Intelijen, S. Parman adalah salah satu penentang terkuat rencana PKI membentuk "Angkatan Kelima" (mempersenjatai buruh dan tani).
* Gugur: Akibat pendiriannya menentang PKI, ia diculik oleh pasukan Cakrabirawa pada dini hari 1 Oktober 1965, dibawa ke Lubang Buaya, dan dibunuh. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
F. Proses Penculikan oleh PKI
* Waktu: Jumat dini hari, 1 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB.
* Rumah: Rumah S. Parman berlokasi di Jl. Kembang Sepatu, Jakarta Pusat (kawasan Menteng).
* Pelaku/Penculik: Penculikan dilakukan oleh Pasukan Cakrabirawa (pasukan pengawal presiden) yang dipimpin oleh Letkol Untung dan kaki tangan PKI.
* Kronologi: Pasukan bersenjata mendatangi rumahnya. S. Parman dibawa dalam keadaan hidup dengan alasan dipanggil menghadap Presiden Soekarno. Ia kemudian dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dan dibunuh bersama jenderal lainnya, lalu jasadnya dimasukkan ke dalam sumur tua.
G. Akhir Hayat dan Nasib Kakaknya (Sakirman)
* Akhir Hayat: Jenazah S. Parman ditemukan di sumur tua Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965, kemudian dimakamkan di TMP Kalibata dengan kenaikan pangkat menjadi Letnan Jenderal Anumerta.
* Kakak Kandung (Ir. Sakirman): Tragisnya, S. Parman memiliki kakak kandung bernama Ir. Sakirman, yang merupakan salah satu petinggi Politbiro CC PKI. Meskipun bersaudara, keduanya berseberangan jalan politik secara ekstrem.
* Nasib Sakirman: Pasca G30S, Sakirman menjadi buronan Angkatan Darat. Ia ditangkap di Solo pada tahun 1966 dan tewas ditembak di tempat karena mencoba melarikan diri.
* Keluarga: S. Parman meninggalkan seorang istri, Sumiyati, dan anak-anak. Kisah mereka dikenal sebagai kisah tragis dua saudara dalam satu rahim yang berbeda jalan politik.
H. Kisah ini menunjukkan ironi tragis di mana dua saudara kandung dari Wonosobo menempuh jalan politik yang berseberangan, yang satu menjadi pahlawan nasional (S. Parman) dan yang lain menjadi petinggi partai komunis (Sakirman).
Berikut Risalah dan Konsep Infografis Hitam Putih Klasik tentang Pahlawan Revolusi:
๐ RISALAH PAHLAWAN REVOLUSI
Siswondo Parman
(4 Agustus 1918 – 1 Oktober 1965)
Nama Lengkap: Letnan Jenderal TNI (Anumerta) Siswondo Parman
Lahir: Wonosobo, Jawa Tengah – 4 Agustus 1918
Gugur: 1 Oktober 1965 – Lubang Buaya, Jakarta
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Kalibata
๐️ Gelar: Pahlawan Revolusi Indonesia
Pendidikan:
HIS – MULO – AMS-B – Sekolah Kedokteran (GHS)
Keluarga:
Istri: Sumiyati
Salah satu kakaknya, Sakirman, merupakan petinggi PKI — namun S. Parman tetap teguh sebagai perwira anti-komunis.
A. Tokoh Intelijen dan Pahlawan Revolusi
Letjen TNI (Anumerta) Siswondo Parman adalah perwira intelijen Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI).
Sebagai Asisten I Intelijen Men/Pangad, ia dikenal tegas menolak gagasan pembentukan “Angkatan Kelima” yang diusulkan PKI.
B. Perjuangan dan Karier Militer
๐ฏ๐ต Masa Jepang
- Pernah ditangkap Jepang karena dicurigai
- Dibebaskan dan bekerja sebagai penerjemah bahasa Inggris di Kempeitai
- Dikirim ke Jepang mengikuti pelatihan intelijen
- Memanfaatkan posisinya untuk mengumpulkan informasi bagi pergerakan nasional
๐ฎ๐ฉ Pasca Kemerdekaan
- Bergabung dengan TKR
- Berperan dalam perebutan senjata dari Jepang di Yogyakarta
- Mendukung keberhasilan Serangan Umum 1 Maret 1949
- Turut menangani pemberontakan APRA
๐️ Karier Strategis
- Kepala Staf Gubernur Militer Jakarta Raya
- Komandan CPM
- Atase Militer RI di London (1959)
- Asisten I Intelijen Angkatan Darat (1962)
Ia dikenal sebagai perwira intelijen andal yang memahami pergerakan bawah tanah PKI.
C. Penentangan terhadap “Angkatan Kelima”
PKI mengusulkan pembentukan “Angkatan Kelima” (mempersenjatai buruh dan tani).
S. Parman menolak keras gagasan tersebut karena dinilai membahayakan stabilitas negara dan struktur TNI.
Sikap tegasnya menjadikannya target penculikan.
D. Proses Penculikan
๐
Waktu: 1 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB
๐ Rumah: Jl. Kembang Sepatu, Menteng, Jakarta Pusat
Penculikan dilakukan oleh pasukan Cakrabirawa yang dipimpin Untung Syamsuri.
Ia dibawa dengan alasan menghadap Presiden Sukarno, namun kemudian dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dan dibunuh.
Jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur tua bersama enam perwira tinggi lainnya.
E. Akhir Hayat
Jenazah ditemukan pada 4 Oktober 1965.
Dimakamkan di TMP Kalibata dan dinaikkan pangkatnya menjadi Letnan Jenderal (Anumerta).
F. Ironi Tragis Dua Saudara
Kisah S. Parman menjadi tragis karena kakaknya, Ir. Sakirman, adalah anggota Politbiro CC PKI.
Setelah peristiwa G30S, Sakirman menjadi buronan dan tewas ditembak pada 1966.
Dua saudara dari Wonosobo menempuh jalan sejarah yang sangat berlawanan:
- Satu menjadi Pahlawan Revolusi
- Satu menjadi petinggi partai yang kemudian dilarang
๐ผ️ KONSEP INFOGRAFIS HITAM PUTIH KLASIK
๐️ HEADER UTAMA
RISALAH PAHLAWAN REVOLUSI
LETNAN JENDERAL TNI (ANUMERTA) SISWONDO PARMAN
(1918–1965)
๐งพ BAGIAN 1 – IDENTITAS
- Potret resmi berseragam TNI AD
- Peta Wonosobo
- Timeline 1918–1965
⚔️ BAGIAN 2 – PERJUANGAN
- Ilustrasi Kempeitai (masa Jepang)
- Serangan Umum 1 Maret 1949
- TKR & perjuangan gerilya
๐ต️ BAGIAN 3 – INTELIJEN & PENENTANG PKI
- Dokumen intelijen
- Penolakan Angkatan Kelima
- Jabatan Asisten I Intelijen
⚫ BAGIAN 4 – TRAGEDI G30S
- Ilustrasi rumah di Menteng
- Penculikan dini hari
- Sumur Lubang Buaya
๐️ BAGIAN 5 – WARISAN
✔ Pahlawan Revolusi
✔ Dimakamkan di TMP Kalibata
✔ Teladan integritas & kesetiaan negara
Kutipan inspiratif:
"Setia pada negara meski harus berhadapan dengan takdir paling pahit."
Jika Anda ingin, saya bisa langsung membuatkan:
๐ผ️ Poster infografis visual hitam putih klasik gaya dokumen 1965,
๐ Versi PDF siap cetak,
atau ๐จ versi edukatif untuk bahan presentasi sekolah.
41 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan.
Nama Lengkap: Donald Isaac Panjaitan
Lahir di Balige, Tapanuli, Sumatera Utara, 9 Juni 1925
Meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 (Gugur dalam G30S/PKI).
Pendidikan Militer: Pendidikan Gyugun (Jepang), Associated Command and General Staff College, Amerika Serikat
Jabatan Terakhir: Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat (Brigadir Jenderal).
A. Mayor Jenderal TNI Anumerta Donald Isaac (D.I.) Panjaitan (1925-1965) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia, tokoh anti-komunis, dan Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Ia dikenal berjasa membongkar penyelundupan senjata dari Tiongkok untuk PKI dan gugur ditembak di rumahnya pada 1 Oktober 1965.
B. Perjuangan dan Karier Militer
* Masa Kemerdekaan: Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) sebagai komandan batalyon, lalu menjadi Komandan Pendidikan Divisi IX/Banteng di Bukittinggi (1948).
* Perjuangan PDRI: Menjadi Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) saat Agresi Militer Belanda II.
* Karir di Angkatan Darat: Menjabat sebagai Kepala Staf Operasi Tentara dan Teritorium (T&T) I Bukit Barisan di Medan, serta Kepala Staf T&T II/Sriwijaya di Palembang.
* Atase Militer: Berhasil bertugas sebagai Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat.
* Pahlawan Revolusi: Berhasil membongkar rahasia pengiriman senjata dari Republik Rakyat Cina (RRC) untuk PKI, yang disimpan dalam peti bangunan untuk proyek Conefo.
C. Perjuangan Melawan Jepang (Masa Pendudukan)
Bergabung dengan Gyugun: Pada masa pendudukan Jepang, D.I. Panjaitan mengikuti pelatihan militer Giugun (tentara sukarela bentukan Jepang) dan ditempatkan di Pekanbaru, Riau.
Pendidikan Opsir: Setelah pelatihan, ia menjadi anggota militer dan sempat dididik untuk menjadi perwira (opsir) militer bentukan Jepang.
Karier Awal: Setelah pendidikan, ia bertugas sebagai anggota militer di Gyugun Pekanbaru.
D. Perjuangan Melawan Belanda (Masa Mempertahankan Kemerdekaan)
Membentuk TKR: Setelah proklamasi kemerdekaan, Panjaitan bersama para pemuda membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) yang menjadi cikal bakal TNI.
Komandan Batalyon: Ia pernah menjabat sebagai komandan batalion di TKR.
Agresi Militer Belanda II: Saat Agresi Militer Belanda II, Panjaitan ditunjuk sebagai Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Kepala Staf Umum: Ia juga pernah menjabat Kepala Staf Umum IV Komandemen Tentara Sumatera saat Agresi Militer II.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (1950-1965)
Staf Operasi: Menjabat Kepala Staf Operasi Tentara dan Territorium (T&T) I Bukit Barisan dan T&T II Sriwijaya.
Atase Militer: Menjadi atase militer RI di Bonn, Jerman Barat, setelah mengikuti kursus terkait.
Membongkar Senjata PKI: Sebagai Asisten IV Men/Pangad (sejak 1962), ia berhasil mengungkap penyelundupan senjata dari RRT untuk PKI yang disembunyikan di proyek Conefo.
Target G30S/PKI: Sikap anti-komunis dan keberhasilannya membongkar penyelundupan senjata menjadikan Panjaitan salah satu target utama G30S/PKI.
F. Proses Penculikan dan Gugur (G30S/PKI)
D.I. Panjaitan merupakan target G30S/PKI karena perannya dalam mengungkap penyelundupan senjata untuk PKI.
Waktu & Tempat: Pagi hari, 1 Oktober 1965, di rumahnya, Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Penculik: Pasukan bersenjata, sebagian besar anggota Cakrabirawa pimpinan Serda Sukarjo.
Kronologi: Setelah rumah diserang dan sempat terjadi perlawanan, D.I. Panjaitan menyerahkan diri demi melindungi keluarga. Beliau ditembak mati di tempat setelah sempat berdoa.
Pasca Kejadian: Jenazah dibawa ke Lubang Buaya, ditemukan pada 4 Oktober 1965, dan dimakamkan di TMP Kalibata.
G. Nasib Keluarga
Keluarga mengalami trauma namun menyatakan telah memaafkan pelaku.
Panjaitan dimakamkan di TMP Kalibata pada 5 Oktober 1965 dan dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi.
RISALAH PAHLAWAN REVOLUSI
๐ฎ๐ฉ Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan
✨ IDENTITAS TOKOH
Nama Lengkap: Donald Isaac Panjaitan
Lahir: Balige, Tapanuli, Sumatera Utara – 9 Juni 1925
Gugur: Lubang Buaya, Jakarta – 1 Oktober 1965
Dimakamkan: TMP Kalibata, Jakarta
Pangkat Terakhir: Brigadir Jenderal
Kenaikan Anumerta: Mayor Jenderal
Jabatan Terakhir: Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat
Gelar: Pahlawan Revolusi
๐ PROFIL SINGKAT
Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Panjaitan adalah salah satu Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September pada 1 Oktober 1965.
Ia dikenal sebagai:
- Perwira profesional dan tegas
- Tokoh anti-komunis
- Pengungkap penyelundupan senjata untuk PKI
- Asisten IV Men/Pangad yang strategis
Keberaniannya membongkar pengiriman senjata ilegal dari RRT untuk PKI menjadikannya target utama dalam tragedi nasional tersebut.
⚔ PERJUANGAN & KARIER MILITER
๐ A. Masa Pendudukan Jepang
- Mengikuti pendidikan militer Gyugun (tentara sukarela bentukan Jepang)
- Ditempatkan di Pekanbaru, Riau
- Dididik menjadi opsir (perwira) militer
๐ฎ๐ฉ B. Masa Mempertahankan Kemerdekaan
1️⃣ Membentuk TKR
- Bergabung dan membentuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
- Menjadi Komandan Batalyon
2️⃣ Agresi Militer Belanda II
- Pimpinan Perbekalan Perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI)
- Kepala Staf Umum IV Komandemen Tentara Sumatera
๐ก C. Karier Pasca Kemerdekaan (1950–1965)
- Kepala Staf Operasi T&T I Bukit Barisan (Medan)
- Kepala Staf T&T II Sriwijaya (Palembang)
- Atase Militer RI di Bonn, Jerman Barat
- Lulusan Associated Command and General Staff College (Amerika Serikat)
- Sejak 1962 menjabat Asisten IV Menteri/Panglima Angkatan Darat
๐ Membongkar Penyelundupan Senjata
Sebagai Asisten IV Men/Pangad, Panjaitan berhasil mengungkap penyelundupan senjata dari Republik Rakyat Tiongkok yang disamarkan dalam peti proyek Conefo dan diduga diperuntukkan bagi PKI.
Sikap tegas dan anti-komunisnya membuatnya menjadi target utama G30S.
๐ฉธ PENCULIKAN & GUGUR (1 OKTOBER 1965)
๐ Lokasi: Rumahnya di Jalan Hasanuddin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
⏰ Waktu: Pagi hari, 1 Oktober 1965
Kronologi:
- Rumahnya diserang pasukan bersenjata
- Terjadi ketegangan dan ancaman terhadap keluarga
- Panjaitan menyerahkan diri demi melindungi keluarganya
- Sempat berdoa sebelum akhirnya ditembak di tempat
Jenazahnya dibawa ke Lubang Buaya dan ditemukan pada 4 Oktober 1965.
Dimakamkan pada 5 Oktober 1965 di TMP Kalibata.
๐ PENGHARGAAN
✔ Dianugerahi gelar Pahlawan Revolusi
✔ Dinaikkan pangkat secara anumerta menjadi Mayor Jenderal TNI
๐จ๐ฉ๐ง NASIB KELUARGA
Keluarga mengalami trauma mendalam atas tragedi tersebut, namun menyatakan telah memaafkan para pelaku. Negara memberikan penghormatan dan perlindungan atas jasa-jasanya.
๐ NILAI PERJUANGAN
- Keberanian Moral
- Kesetiaan kepada Negara
- Integritas Militer
- Ketegasan terhadap Ancaman Ideologi
- Pengorbanan Demi Bangsa
๐ WARISAN SEJARAH
Mayor Jenderal Anumerta D.I. Panjaitan dikenang sebagai:
๐ฎ๐ฉ Perwira cerdas dan berani
๐ฎ๐ฉ Penjaga profesionalisme TNI
๐ฎ๐ฉ Pahlawan Revolusi yang gugur demi mempertahankan keutuhan NKRI
Semangat pengabdiannya menjadi teladan bagi generasi penerus bangsa Indonesia.
42 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
Nama Asli :
Sutoyo Siswomiharjo
Lahir di Kebumen, Jawa Tengah, 28 Agustus 1922.
Meninggal di Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965 (Gugur).
Pendidikan: HIS Semarang, AMS (1942), Balai Pendidikan Pegawai Negeri Jakarta.
Pendidikan: Pernah menempuh pendidikan di Kepolisian Sekolah (masa Jepang) dan Gatot Soebroto's Military Academy.
Pangkat Terakhir: Brigadir Jenderal TNI (Dinaikkan menjadi Mayor Jenderal Anumerta).
A. Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo (28 Agustus 1922 – 1 Oktober 1965) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia, perwira tinggi Polisi Militer yang gugur dalam peristiwa G30S/PKI. Sebagai Inspektur Kehakiman Angkatan Darat (Irkehad), ia dikenal teguh menentang pembentukan Angkatan Kelima dan setia pada Pancasila, menjadikannya sasaran penculikan dan gugur di Lubang Buaya.
B. Perjuangan dan Karier Militer
* Awal Karier (TKR): Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian kepolisian setelah proklamasi.
* Ajudan Gatot Soebroto: Menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto dan menjabat Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara di Purworejo pada 1946.
* Penumpasan Pemberontakan: Aktif dalam menumpas pemberontakan komunis di Madiun pada 1948.
* Gerilya: Ikut serta dalam gerilya selama Agresi Militer Belanda II dan Serangan Umum 1 Maret 1949.
* Puncak Karier: Diangkat menjadi Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat (Irkehad) pada 1961.
* Sikap Politik: Teguh menentang pembentukan Angkatan Kelima (persenjataan buruh/tani) yang diusung PKI, sehingga ia menjadi target penculikan.
C. Meskipun Sutoyo tidak secara langsung terlibat dalam pertempuran garis depan melawan Jepang seperti pertempuran konvensional, perjuangannya dimulai pada masa pendudukan Jepang dengan bergabung dalam kepolisian.
Masa Jepang: Sutoyo menempuh pendidikan kepolisian di Kepolisian Sekolah Menengah di Kebumen. Setelah lulus, ia menjadi pegawai kepolisian di Purworejo.
D. Perjuangan Melawan Belanda.
Masa Kemerdekaan/Belanda (NICA): Setelah proklamasi, ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Bagian Kepolisian yang menjadi cikal bakal Kepolisian Republik Indonesia [1].
Agresi Militer: Ia aktif mempertahankan kemerdekaan saat Belanda melancarkan Agresi Militer, khususnya dalam mempertahankan wilayah dari kembalinya NICA.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan Indonesia
Pasca kemerdekaan, karier militer Sutoyo berkembang pesat berkat kemampuan di bidang hukum dan organisasi.
* Pendidikan Militer: Sutoyo menempuh pendidikan di General Staff and Command School di Filipina pada tahun 1956 dan Army Staff College di Amerika Serikat pada tahun 1959.
* Puncak Karier: Ia diangkat menjadi Inspektur Kehakiman Angkatan Darat pada tahun 1961 dengan pangkat Kolonel.
* Perjuangan Melawan PKI: Jabatan sebagai Oditur Jenderal menempatkan Sutoyo sebagai salah satu perwira yang paham akan pergerakan dan ancaman PKI. Ia seringkali memberikan pandangan hukum yang berseberangan dengan kepentingan PKI, menjadikannya target penculikan.
* Gugur: Sutoyo Siswomiharjo diculik dari rumahnya di Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta Pusat, pada dini hari 1 Oktober 1965 oleh pasukan Cakrabirawa yang terlibat G30S/PKI, lalu dibawa ke Lubang Buaya dan gugur di sana.
F. Penculikan oleh PKI (G30S/PKI)
Sutoyo Siswomiharjo diculik pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 dalam rangkaian peristiwa Gerakan 30 September (G30S/PKI).
* Rumah Tempat Penculikan: Rumah dinas Mayjen Sutoyo terletak di Jl. Sumenep No. 16, Menteng, Jakarta Pusat.
* Pelaku: Penculikan dilakukan oleh Pasukan Cakrabirawa yang telah dipengaruhi PKI, yang masuk ke rumahnya pada dini hari.
* Kronologi: Sekitar pukul 03.00 - 04.00 WIB, pasukan Cakrabirawa mengepung rumah, mendobrak masuk, dan membawa Sutoyo dengan alasan dipanggil Presiden Soekarno ke Istana. Keluarga, termasuk putri beliau, Nani Nurahman, mendengar kegaduhan dan melihat barang-barang di rumah berserakan. Keluarga tidak bisa berbuat apa-apa karena rumah sudah dikepung.
* Gugur: Setelah diculik, beliau dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dibunuh, dan jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur tua.
G. Nasib Keluarga
* Sutoyo meninggalkan seorang istri dan anak-anak. Salah satu putrinya, Nani Nurahman, memberikan kesaksian bahwa keluarganya sempat trauma mendalam, namun bangga dengan perjuangan ayahnya.
* Anak-anak beliau tetap melanjutkan pendidikan dan karir dengan baik, salah satunya adalah Agus Widjojo, yang mencapai karir tinggi di TNI sebagai Letnan Jenderal dan pernah menjabat sebagai Gubernur Lemhannas.
* Sutoyo Siswomiharjo ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi melalui Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/1965, tanggal 5 Oktober 1965.
Apakah yang Anda maksud tulisannya kurang jelas / kurang rapi / ada yang salah ejaan, atau Anda ingin saya menuliskan ulang isi risalahnya dalam teks yang rapi dan benar agar bisa dicetak ulang?
Karena pada versi gambar hitam-putih klasik biasanya memang ada teks yang terlihat kurang tajam atau tidak sesuai.
Berikut saya tuliskan ulang versi teks yang rapi dan benar untuk Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo agar bisa digunakan kembali untuk desain infografis:
RISALAH PAHLAWAN REVOLUSI
Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo
Nama Asli: Sutoyo Siswomiharjo
Lahir: Kebumen, Jawa Tengah, 28 Agustus 1922
Gugur: Lubang Buaya, Jakarta, 1 Oktober 1965
Pangkat Terakhir: Brigadir Jenderal TNI (dinaikkan menjadi Mayor Jenderal Anumerta)
Jabatan Terakhir: Inspektur Kehakiman Angkatan Darat (Irkehad)
Gelar: Pahlawan Revolusi
A. Profil Singkat
Mayor Jenderal TNI (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo adalah perwira tinggi Polisi Militer yang dikenal tegas, berintegritas, dan setia kepada Pancasila. Ia gugur dalam peristiwa G30S pada 1 Oktober 1965 dan ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi melalui Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/1965.
B. Pendidikan
- HIS Semarang
- AMS (1942)
- Balai Pendidikan Pegawai Negeri Jakarta
- Pendidikan Kepolisian (masa pendudukan Jepang)
- Pendidikan militer lanjutan di Filipina (1956)
- Army Staff College, Amerika Serikat (1959)
C. Perjuangan dan Karier Militer
1. Masa Jepang
Pada masa pendudukan Jepang, Sutoyo menempuh pendidikan kepolisian di Kebumen dan bertugas sebagai pegawai kepolisian di Purworejo.
2. Masa Kemerdekaan
- Bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bagian Kepolisian.
- Menjadi ajudan Kolonel Gatot Soebroto.
- Menjabat Kepala Bagian Organisasi Resimen II Polisi Tentara (1946).
- Aktif dalam gerilya saat Agresi Militer Belanda II.
- Ikut dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.
3. Penumpasan Pemberontakan
- Terlibat dalam penumpasan pemberontakan komunis Madiun (1948).
- Berperan menjaga stabilitas keamanan negara pasca kemerdekaan.
4. Puncak Karier
Tahun 1961 diangkat sebagai Inspektur Kehakiman Angkatan Darat (Irkehad). Dalam jabatan ini ia dikenal tegas dalam penegakan hukum militer.
D. Sikap terhadap Angkatan Kelima
Sutoyo menentang gagasan “Angkatan Kelima” (mempersenjatai buruh dan tani) karena:
- Menjaga profesionalisme militer
- Menghindari militer tandingan di luar TNI
- Setia kepada Pancasila dan konstitusi
Sikap ini menjadikannya salah satu target penculikan dalam peristiwa G30S.
E. Penculikan dan Gugur
- Lokasi penculikan: Jl. Sumenep No. 16, Menteng, Jakarta Pusat
- Waktu: Dini hari, 1 Oktober 1965
- Diculik oleh pasukan Cakrabirawa yang terlibat dalam G30S
- Dibawa ke Lubang Buaya
- Gugur dan jenazahnya dimasukkan ke sumur tua
- Ditemukan pada 4 Oktober 1965
- Dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata
F. Warisan dan Keteladanan
- Integritas dalam penegakan hukum
- Loyalitas kepada negara
- Ketegasan dalam prinsip
- Keteladanan bagi generasi TNI
Jika Anda mau, saya bisa:
- ✍️ Membuat ulang desain infografis dengan teks ini agar lebih jelas dan tidak ada kesalahan ejaan
- ๐ฐ Membuat versi hitam putih klasik yang lebih bersih (tanpa teks buram)
- ๐ Menyusunnya dalam format siap cetak (A4 / A3)
Tinggal beri tahu mau format apa ๐
43 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean
Nama Lengkap : Pierre Andreas Tendean.
Lahir di Batavia (Jakarta), 21 Februari 1939.
Meninggal di Jakarta, 1 Oktober 1965 (umur 26).
Orang Tua: Dr. A.L. Tendean (Minahasa) & Maria Elizabeth Cornet (Indo-Prancis).
Pendidikan: SMA Bagian B Semarang, Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) Bandung (lulus 1961).
Jabatan Terakhir: Lettu, Ajudan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (Menko Hankam/KASAB) Jenderal A.H. Nasution.
Penghargaan: Pahlawan Revolusi (Keputusan Presiden RI No. 111/KOTI/Tahun 1965, tgl 5 Oktober 1965), Anumerta Kapten Czi.
A. Kapten Anumerta Pierre Andreas Tendean (21 Februari 1939 – 1 Oktober 1965) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia yang gugur dalam peristiwa G30S saat menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution. Berdarah Minahasa-Prancis, ia dikenal berprestasi, pemberani, dan rela berkorban, mengaku sebagai Nasution untuk melindungi atasannya sebelum diculik dan dibunuh di Lubang Buaya.
B. Perjuangan dan Kisah Heroik:
* Karier Militer: Lulus ATEKAD pada 1961, ia bergabung dengan Batalyon Zeni Tempur 2/Bukit Barisan di Medan.
* Intelijen & Dwikora: Menempuh pendidikan intelijen di Bogor dan terlibat aktif dalam operasi intelijen penyusupan di Malaysia selama konfrontasi (Dwikora), memanfaatkan wajah kebarat-baratannya.
* Ajudan Nasution: Atas dedikasinya, ia diangkat menjadi ajudan Jenderal A.H. Nasution pada April 1965.
* Malam G30S/PKI: Pada dini hari 1 Oktober 1965, pasukan Cakrabirawa mendatangi rumah Nasution. Pierre, yang saat itu berada di rumah ajudan, keluar dan mengaku sebagai Nasution untuk melindungi jenderalnya. Ia ditangkap, dibawa ke Lubang Buaya, disiksa, dan gugur di usia muda.
C. Perjuangan Setelah Lulus Sekolah (Militer)
* Setelah lulus ATEKAD pada tahun 1961/1962 dengan pangkat Letnan Dua, Pierre Tendean menunjukkan dedikasi tinggi dalam berbagai tugas penting:
* Komandan Peleton (1962): Ia ditempatkan sebagai Komandan Peleton Batalyon Zeni Tempur 2 Kodam II/Bukit Barisan di Medan.
* Operasi Sumatra Barat (1958-1961): Saat masih menjadi taruna ATEKAD, ia sudah terlibat dalam operasi pemberantasan PRRI di Sumatera Barat.
* Operasi Dwikora (Konfrontasi Malaysia): Ia terlibat dalam operasi intelijen dan penyusupan ke Malaysia. Ia memimpin pasukan gerilya dan melakukan sabotase.
* Ajudan Jenderal A.H. Nasution (April 1965): Karena prestasi dan kemampuannya, ia dipercaya menjadi ajudan Menteri Koordinator Pertahanan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata, Jenderal Abdul Haris Nasution.
D. Proses Penculikan oleh PKI
Malam Jahanam: Pada 1 Oktober 1965 dini hari, pasukan Cakrabirawa yang terlibat G30S/PKI mendatangi rumah dinas Jenderal A.H. Nasution di Jl. Teuku Umar No. 40, Jakarta.
Mengaku sebagai Nasution: Pierre yang saat itu tertidur di paviliun ajudan, terbangun karena keributan dan langsung keluar menghadapi pasukan penculik.
Pengorbanan Diri: Saat ditanya oleh pasukan penculik di mana Nasution, Pierre mengaku, "Saya Nasution" untuk melindungi sang Jenderal.
Diculik dan Gugur: Pierre kemudian ditangkap, dibawa ke Lubang Buaya, dan dibunuh pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965, lalu jenazahnya dimasukkan ke dalam sumur.
E. Mengapa Dia Dianggap Nasution?
Pierre Tendean dianggap sebagai Jenderal AH Nasution oleh pasukan penculik karena:
Situasi Gelap: Penculikan terjadi dini hari, membuat suasana rumah gelap dan panik.
Pengakuan Palsu: Saat ditanya oleh pasukan Cakrabirawa, "Mana Nasution?", Pierre dengan gagah berani menjawab bahwa dirinyalah Nasution untuk mengecoh mereka dan memberikan waktu bagi Jenderal Nasution untuk menyelamatkan diri.
Salah Sasaran: Fisik Pierre yang tegap dan wajah blasterannya disalahartikan oleh pasukan yang tidak mengenali sosok Nasution secara dekat di malam yang kacau tersebut.
F. Keadaan Kekasih dan Keluarga
* Kekasih (Rukmini Chamim): Pierre Tendean menjalin cinta dengan seorang wanita asal Medan bernama Rukmini Chamim. Mereka berencana menikah pada bulan November 1965, namun kandas karena peristiwa tragis tersebut. Berita kematian Pierre membuat Rukmini sangat terpukul. Ia kemudian melanjutkan hidup dan menikah dengan orang lain, namun kisah cintanya dengan Pierre tetap dikenang sebagai kisah tragis Pahlawan Revolusi.
* Keluarga: Keluarga besar Pierre Tendean, terutama ibunya (Maria), sangat berduka karena seharusnya Pierre pulang cuti untuk merayakan ulang tahun ibunya di Semarang pada 30 September 1965, namun ia memilih tetap bertugas di Jakarta. Kakaknya, Rooswidiati, dan adiknya, Mitzi Farredan, sering mengenang Pierre sebagai sosok yang berdedikasi tinggi.
G. Balas Jasa Keluarga AH Nasution
Keluarga Jenderal AH Nasution sangat menghormati pengorbanan Pierre Tendean.
Bentuk Balas Jasa:
* Penghormatan Keluarga: Jenderal Nasution dan istrinya, Johanna Sunarti Nasution, selalu memperlakukan Pierre sebagai keluarga, bukan sekadar ajudan.
* Penyebutan Nama: Keluarga Nasution selalu mengenang keberanian Pierre yang menyelamatkan nyawa Nasution dalam tragedi tersebut.
* Penyematan Pahlawan: Jenderal Nasution berperan besar dalam memperjuangkan gelar Pahlawan Revolusi dan kenaikan pangkat Anumerta bagi Pierre.
* Saksi Mata: Johanna Sunarti Nasution memberikan kesaksian detail mengenai detik-detik terakhir pengorbanan Pierre untuk melestarikan sejarah perjuangannya.
44 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Ajun Inspektur Polisi (Anumerta) Karel Satsuit Tubun.
Nama: Karel Satsuit Tubun (sering disebut K.S. Tubun).
Polisi yang gugur saat menjaga rumah Menteri Leimena.
Lahir di Tual, Maluku Tenggara, 14 Oktober 1928.
Meninggal di Jakarta, 1 Oktober 1965 (Gugur dalam tugas G30S/PKI).
Agama: Katolik.
Pangkat Akhir: Ajun Inspektur Polisi Dua (Aipda) Anumerta.
Istri: Margaritha Waginah (menikah 1959).
A. Ajun Inspektur Polisi (Anumerta) Karel Satsuit Tubun (1928-1965) adalah Pahlawan Revolusi Indonesia dari Polri yang gugur saat mempertahankan rumah Dr. J. Leimena dari penculikan G30S/PKI pada 1 Oktober 1965 di Jakarta. Ia melawan delapan penculik meski akhirnya tertembak, dianugerahi pangkat anumerta, dan dimakamkan di TMP Kalibata.
B. Perjuangan dan Karier:
1. Awal Karier: Bergabung dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) dan ditempatkan di Kesatuan Brimob Ambon.
2. Operasi Militer: Terlibat dalam operasi penumpasan pemberontakan DI/TII, PRRI di Sumatera Barat (1960), dan Operasi Trikora pembebasan Irian Barat.
3. Pengawal Negara: Sejak April 1965, dipercaya sebagai anggota pasukan pengawal kediaman Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena di Jakarta.
4. Peristiwa G30S/PKI: Pada dini hari 1 Oktober 1965, KS Tubun yang sedang piket terbangun ketika pasukan penculik G30S/PKI menyerbu. Meskipun senjata berhasil direbut, ia memberikan perlawanan gigih melawan delapan orang penculik sebelum akhirnya tewas tertembak.
C. Perjuangan Melawan Jepang dan Belanda
* KS Tubun tumbuh pada masa penjajahan, yang memupuk rasa nasionalisme dan keinginannya melawan penindasan asing.
* Masa Penjajahan Belanda & Jepang: Meskipun rincian pertempuran bersenjata secara spesifik tidak tercatat luas di masa remaja, latar belakangnya di Maluku menjadikannya pribadi yang bertekad menentang penjajahan asing.
* Bergabung dengan Polri (1951): Pasca kemerdekaan, ia mendaftarkan diri menjadi anggota Kepolisian Negara (sekarang Polri) di Ambon pada tahun 1951.
* Karier Kepolisian: Setelah lulus pendidikan di Sekolah Polisi Negara (SPN) Ambon, ia menunjukkan bakat kepolisian yang baik dan dedikasi tinggi.
D. Perjuangan Pasca Kemerdekaan (Peristiwa G30S/PKI)
Perjuangan puncaknya terjadi saat bertugas sebagai pengawal (bodyguard) Wakil Perdana Menteri II, Dr. J. Leimena, di Jakarta.
* Tragedi G30S/PKI (1 Oktober 1965): Pada malam kejadian, kelompok penculik mendatangi rumah Dr. J. Leimena yang bersebelahan dengan rumah Jenderal A.H. Nasution.
* Perlawanan KS Tubun: Ketika penculik memaksa masuk ke pos jaga, KS Tubun yang sedang bertugas memberikan perlawanan yang gigih. Namun, karena kalah jumlah dan persenjataan, ia gugur ditembak oleh para penculik.
* Gelar Pahlawan: Atas keberaniannya, pemerintah Indonesia menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi dan menaikkan pangkatnya menjadi Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta.
E. Siapa yang Menembak dan Mengapa?
* Siapa yang Menembak: KS Tubun ditembak oleh pasukan penculik dari batalyon I Kawal Kehormatan Resimen Tjakrabirawa yang terlibat dalam gerakan G30S/PKI.
* Mengapa Ditembak: Meskipun KS Tubun bukan target utama (target utama di wilayah itu adalah A.H. Nasution), ia ditembak karena ia melawan dan berusaha menghalangi penculik yang memaksa masuk ke rumah J. Leimena.
F. Kondisi J. Leimena Saat Itu
* Target Terjebak: Saat kejadian, Dr. J. Leimena berada di dalam rumahnya. Terdapat desas-desus keliru bahwa ia juga menjadi target, namun fokus utama pasukan adalah Nasution.
* Selamat: J. Leimena selamat dari peristiwa tersebut karena pasukan penculik fokus ke rumah sebelah (Nasution) dan karena perlawanan yang diberikan oleh KS Tubun.
G. Mengapa Hanya Pengawal KS Tubun yang Tertembak & Yang Lain Kemana
* Mengapa Hanya KS Tubun: Berdasarkan kesaksian, KS Tubun saat itu sedang berada di pos jaga. Ketika gerombolan penculik masuk, ia tidak menyerah, melainkan melakukan perlawanan fisik dan mencoba melawan balik, sehingga ia dihujani tembakan.
* Yang Lain Kemana:
Pengawal lainnya dalam situasi panik dan kalah jumlah/senjata.
Dalam beberapa versi, disebutkan bahwa beberapa petugas jaga sempat dilumpuhkan atau diikat lebih dulu oleh pasukan penculik sebelum KS Tubun sempat melawan, atau situasi malam itu sangat cepat dan kacau sehingga perlawanan hanya berpusat pada KS Tubun.
H. Akhir Hayat dan Nasib Keluarga
* Akhir Hayat: KS Tubun gugur pada 1 Oktober 1965 di Jakarta akibat peluru penculik.
* Mengapa Tidak di Lubang Buaya: Berbeda dengan 7 Pahlawan Revolusi lainnya yang jenazahnya dibuang dan ditemukan di sumur tua Lubang Buaya, jenazah KS Tubun ditemukan di pos penjagaan di rumah tempat ia bertugas. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
* Nasib Keluarga: Setelah gugur, pemerintah memberikan gelar Pahlawan Revolusi dan kenaikan pangkat Anumerta. Keluarganya mendapatkan santunan dan penghormatan sebagai keluarga pahlawan. KS Tubun dikenang sebagai simbol keberanian polisi dalam menjaga kedaulatan negara.
45 Suk
Buatlah Risalah dan Infografis tentang Pahlawan :
Brigjen TNI Anumerta Katamso Darmokusumo.
(Komandan Korem 072/Pamungkas, gugur setelah dipukul dengan kunci mortir di Kentungan, Yogyakarta).
Lahir di Sragen, Jawa Tengah, 5 Februari 1923.
Meninggal di Kentungan, Yogyakarta, 2 Oktober 1965.
Jabatan Terakhir: Komandan Korem 072/Pamungkas, Kodam VII/Diponegoro (sejak 1963).
A. Brigjen Anumerta Katamso Darmokusumo (lahir 5 Februari 1923, Sragen) adalah Pahlawan Revolusi dan Komandan Korem 072/Pamungkas yang gugur akibat peristiwa G30S/PKI di Yogyakarta. Ia diculik dan dibunuh secara keji pada 2 Oktober 1965 di Kentungan, Yogyakarta, dengan dipukul kunci mortir, lalu dimakamkan di TMP Kusumanegara.
B. Perjuangan dan Karier
Masa Kemerdekaan: Aktif memimpin pasukan melawan Belanda.
Penumpasan Pemberontakan: Berperan penting dalam menumpas pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah.
Operasi PRRI/Permesta: Menjabat Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus di bawah pimpinan Kolonel Ahmad Yani pada 1958.
Gugur di Yogyakarta: Sebagai Danrem 072/Pamungkas, beliau gigih mempertahankan korem dari pengaruh PKI. Pada dini hari 2 Oktober 1965, beliau diculik oleh kelompok pemberontak, dibawa ke Kentungan, dan dieksekusi dengan pukulan kunci montir/mortir di bagian kepala hingga gugur.
C. Perjuangan Melawan Jepang
* Pendidikan PETA: Katamso menempuh pendidikan militer pada masa pendudukan Jepang melalui Tentara Sukarela Pembela Tanah Air (PETA).
* Shodanco (Komandan Platoon): Beliau pernah menjabat sebagai Shodanco PETA di Solo.
* Masa Perang Kemerdekaan: Setelah proklamasi, ia bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan kemudian Tentara Keamanan Rakyat (TKR), di mana ia memimpin pasukan melawan penjajah yang kembali datang.
D. Perjuangan Melawan Belanda (Agresi Militer)
* Komandan Kompi: Katamso diangkat menjadi Komandan Kompi Batalyon 28 Divisi IV di Klaten, Jawa Tengah, dengan pangkat kapten pada tahun 1946.
* Perang Gerilya: Beliau aktif memimpin pasukan dalam Batalyon 351 Brigade V dan kemudian Batalyon 417 Brigade V Resimen Infanteri 15 untuk melawan Agresi Militer Belanda.
E. Perjuangan Pasca Kemerdekaan & Pemberontakan
* Penumpasan Pemberontakan Batalyon 426: Setelah Indonesia merdeka, Katamso ditugaskan menumpas pemberontakan Batalyon 426 di Jawa Tengah.
* Menumpas DI/TII: Beliau terlibat dalam mengatasi gangguan pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di wilayah Jawa Tengah.
* PRRI/Permesta: Pada tahun 1958, saat terjadi pemberontakan PRRI/Permesta di Sumatra, ia menjabat sebagai Komandan Batalyon "A" Komando Operasi 17 Agustus yang dipimpin oleh Kolonel Ahmad Yani.
* Komandan Korem 072/Pamungkas: Tahun 1963, ia menjabat sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas di Yogyakarta. Selama menjabat, beliau dikenal sebagai perwira yang tegas dan tidak menyetujui keberadaan PKI di wilayahnya.
F. Proses Penculikan dan Gugurnya Brigjen Katamso
* Brigjen Katamso diculik karena sikapnya yang teguh menolak pembentukan "Dewan Revolusi" oleh PKI di Yogyakarta.
* Waktu dan Lokasi: Penculikan terjadi pada 1 Oktober 1965 sore hari (sekitar pukul 17.00 WIB) di rumah dinas Komandan Korem 072/Pamungkas, Yogyakarta.
* Pelaku: Sekelompok prajurit TNI AD yang terhasut oleh gerakan G30S/PKI. Pimpinan utama operasi di Yogya adalah Mayor Mulyono (Kepala Seksi 5 Korem 072).
* Proses Kejadian:
Katamso dijemput paksa di kediamannya oleh gerombolan yang dipimpin oleh oknum anggota Yon L (Batalyon L).
Beliau dibawa ke daerah Kentungan, Sleman.
Di markas komando Yon L, Kentungan, Katamso dipukul dengan kunci mortir (pelontar peluru mortir) di bagian belakang kepala hingga gugur.
Pelda Kamil memerintahkan untuk memukul kembali hingga dipastikan gugur, yang kemudian dilaksanakan oleh Sertu Alip Toyo.
* Penemuan Jenazah: Jenazah Katamso, bersama Letkol Sugiyono (Kepala Staf Korem 072) yang juga diculik, dimasukkan ke dalam lubang yang sudah disiapkan di kompleks Yon L Kentungan, Yogyakarta. Jenazah keduanya ditemukan pada 21 Oktober 1965.
G. Akhir Hayat dan Penemuan Jenazah. Jenazah Brigjen Katamso ditemukan tiga minggu kemudian, pada 21 Oktober 1965, dalam keadaan rusak/terurai. Jenazah kemudian dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kusumanegara, Yogyakarta pada 22 Oktober 1965.
H. Nasib Keluarga dan Staff
* Nasib Keluarga: Setelah gugur, anak-anak dan istri Brigjen Katamso mendapatkan santunan dan perhatian dari negara sebagai keluarga Pahlawan Revolusi.
* Staff/Teman: Letkol Sugiyono (Kepala Staf Korem 072) juga diculik dan dieksekusi di lokasi yang sama (Kentungan). Oknum-oknum pelaku penculikan dan pembunuhan (Mayor Mulyono, Pelda Kamil, dll) ditangkap dan diadili setelah situasi berhasil dikendalikan oleh AD.
* Untuk mengenang jasa beliau, di lokasi penemuan jenazah di Kentungan dibangun Monumen Pahlawan Pancasila.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar