Senin, 03 November 2025

20 SITUS DAN CANDI JATIM

1. Buatlah Risalah tentang :

Candi Gedhong Putri atau Candi Puro (Kloposawit, Candipuro).

Kabupaten Lumajang


Candi Gedhong Putri (atau dikenal juga sebagai Candi Puro)

1. Lokasi & Penamaan

  • Terletak di Dusun Kloposawit (atau disebut Kloposawit), Desa Sumberejo, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
  • Nama “Gedhong Putri” secara harfiah berarti “Gedung Putri” atau “Istana Putri”, merujuk pada legenda setempat yang mengaitkan bangunan ini dengan seorang putri kerajaan.
  • Sebutan “Candi Puro” muncul karena letaknya di kecamatan Candipuro dan tradisi menamainya demikian dalam literatur purbakala.

2. Sejarah Singkat & Penemuan

  • Situs ini pertama kali diketahui oleh masyarakat lokal (pencari kayu) pada sekitar tahun 1897.
  • Berdasarkan kajian arkeologi, candi ini diperkirakan berkaitan dengan pemukiman kuno pada lereng Timur Gunung Semeru, dan memiliki unsur Hindu (sek Siva) karena ditemukannya lingga-yoni serta altar naga.
  • Kondisi fisik saat ini sebagian besar berupa reruntuhan batu bata dan andesit, tidak lagi berdiri seperti bangunan utuh.

3. Struktur, Ciri & Khasiat

  • Di lokasi dijumpai batu lingga-yoni dengan pahatan naga yang khas, dianggap sebagai unsur keagamaan.
  • Sistem pengairan di kawasan candi dilaporkan baik; persawahan hijau di sekitarnya menandakan kesuburan tanah yang kemungkinan menjadi bagian dari fungsi pemukiman atau sakral.
  • Karena kondisi banyak terkubur dan rusak, akses ke situs agak terbatas, dan petunjuk arah ke lokasi masih dinilai kurang.

4. Nilai Budaya & Tantangan Pelestarian

  • Candi Gedhong Putri merupakan salah satu dari candi-peninggalan penting di Lumajang, menyumbang bukti bahwa daerah ini memiliki sejarah keagamaan dan pemukiman kuno yang signifikan.
  • Pelestarian menjadi perhatian: misalnya, situs ini tercatat mendapat alokasi anggaran pemeliharaan oleh pemerintah kabupaten.
  • Tantangan pelestarian meliputi kerusakan fisik (termasuk pencurian/pengrusakan artefak seperti lingga-yoni) serta kesulitan akses dan kurangnya fasilitas interpretasi untuk pengunjung.

5. Mengapa Penting

  • Sebagai warisan budaya lokal, situs ini memperkaya narasi sejarah di Lumajang — tidak hanya sebagai kawasan pertanian atau alam tetapi juga sebagai pusat pemukiman dan ritual kuno.
  • Situs ini bisa dijadikan media pendidikan untuk masyarakat dan wisata sejarah, khususnya untuk memperkuat identitas lokal.
  • Memiliki potensi wisata budaya yang belum sepenuhnya tergali, dengan suasana persawahan dan nuansa alam yang masih alami di sekitar lokasi.

6. Panduan Ringkas untuk Kunjungan

  • Akses: Menuju Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, lalu mengikuti petunjuk lokal ke lokasi candi yang berada di tengah persawahan.
  • Waktu terbaik: Pagi hari atau sore untuk pencahayaan yang bagus dan suasana yang tenang.
  • Etika: Karena kondisi situs sensitif, hindari memindahkan batu, merusak struktur yang tersisa, atau membawa artefak.
  • Bersiaplah dengan alas kaki yang cocok karena medan bisa berupa sawah atau permukaan tidak rata.


2. Buatlah Risalah tentang :

Candi Gelisah atau Candi Agung (Randuagung).

Kabupaten Lumajang

Candi Gelisah (atau dikenal sebagai Candi Agung Randuagung)

1. Lokasi & Penamaan

  • Candi ini berada di Desa Randuagung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
  • Masyarakat sekitar menyebutnya Candi Gelisah karena kisah lokal tentang Patih Nambi yang disebut-sebut melakukan perenungan atau kegelisahan di tempat ini.
  • Nama “Candi Agung” digunakan sebagai sebutan formal atau resmi bagi situs ini.

2. Sejarah Singkat & Fungsi

  • Candi Agung Randuagung diperkirakan dibangun sekitar abad ke-14 hingga ke-15 sebagai bagian dari budaya Hindu di wilayah Lumajang.
  • Situs ini diyakini mempunyai hubungan dengan Patih Nambi dari kerajaan lokal (Kerajaan Lamajang Tigang Juru) yang menjadi tokoh penting dalam cerita sejarah daerah.
  • Hasil penelitian arkeologi memperlihatkan bahwa bagian-bawah candi (termasuk pagar dan fondasi) masih terkubur dan baru sebagian teridentifikasi.

3. Struktur, Ciri & Kondisi

  • Bangunan utama terbuat dari batu bata merah, dengan struktur yang saat ini tersisa hanya bagian tubuh; bagian atas atau mahkota candi telah runtuh.
  • Survei arkeologi menemukan pondasi pagar batu bata di beberapa sisi; misalnya pagar sisi selatan berjarak sekitar 40 m dari badan candi.
  • Situs ini terletak di area permukaan yang lebih tinggi dibanding lingkungan sekitarnya (persawahan/ladang) sehingga posisi candi cukup menonjol di lanskap lokal.

4. Nilai Budaya & Tantangan Pelestarian

  • Candi ini penting sebagai bukti warisan keagamaan dan arsitektur Hindu di wilayah Jawa Timur bagian timur khususnya Lumajang.
  • Pemerintah Kabupaten Lumajang dan lembaga kebudayaan telah memberikan perhatian khusus terhadap candi ini dalam kaitan upaya pelestarian.
  • Tantangan utama meliputi kondisi fisik yang rusak atau tertimbun, kurangnya penelitian menyeluruh, dan pengelolaan situs yang masih terbatas.

5. Mengapa Penting

  • Menjadi sumber inspirasi pendidikan dan penelitian sejarah lokal, terutama dalam memahami dinamika pemerintahan dan budaya Hindu-Buddha di Timur Jawa.
  • Dapat dikembangkan sebagai- wisata sejarah-budaya yang memperkuat identitas daerah dan meningkatkan nilai ekonomi lokal apabila dikelola dengan baik.
  • Menunjukkan bahwa wilayah luar pusat kerajaan besar (misalnya bukan hanya di Trowulan) juga memiliki situs bersejarah yang signifikan.

6. Panduan Kunjungan Singkat

  • Alamat: Desa Randuagung, Kecamatan Randuagung, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.
  • Waktu terbaik: pagi atau sore hari untuk mendapatkan cahaya yang lembut dan suasana tenang.
  • Etika: Karena struktur masih rapuh dan sebagian terkubur, hindari naik atau memindahkan batu, serta ikuti petunjuk lokal atau pengelola.
  • Persiapkan alas kaki yang nyaman karena medan di sekitar situs mungkin persawahan atau tanah merah.
  • Manfaatkan kunjungan sebagai waktu refleksi sejarah — bawa catatan atau kamera untuk dokumentasi, dan hormati lingkungan setempat.


3. Buatlah Risalah tentang :

Candi Kunir ( Kedungmoro, Kunir).

Kabupaten Lumajang



Berikut risalah lengkap yang dapat langsung dijadikan bahan visual sejarah atau risalah ilustratif untuk Candi Kunir, Lumajang:


🏛️ RISALAH CANDI KUNIR – KABUPATEN LUMAJANG

Nama Situs: Candi Kunir
Lokasi: Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur
Koordinat: Sekitar 8 km arah barat daya dari pusat kota Lumajang
Periode: Diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Majapahit (abad ke-14 M)


ðŸŠķ Deskripsi Umum

Candi Kunir merupakan situs purbakala yang ditemukan di wilayah perbukitan Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir. Lokasinya berada di area lahan pertanian yang dikelilingi persawahan subur dan jalur irigasi peninggalan kuno. Sebagian besar struktur candinya kini telah runtuh, namun masih menyisakan pondasi bata merah yang kokoh dan beberapa fragmen batu andesit yang menunjukkan ciri khas arsitektur Majapahit.

Nama “Kunir” diyakini berasal dari kata kuni atau kuning, yang kemungkinan berkaitan dengan warna bata candi yang memerah kekuningan, atau berasal dari tanaman kunir (kunyit) yang banyak tumbuh di sekitarnya.


ðŸ§ą Struktur dan Arsitektur

  • Bahan utama bangunan: bata merah dengan ukuran besar (±40 cm x 20 cm x 10 cm).
  • Denah bangunan candi berbentuk persegi, menghadap ke barat, seperti kebanyakan candi Hindu.
  • Di sekitarnya ditemukan arca perwara, fragmen yoni, lingga, serta batu berlubang yang menandakan tempat suci untuk pemujaan.
  • Diduga terdapat candi induk dan bangunan perwara di sekelilingnya.

Situs ini juga memperlihatkan adanya sisa-sisa saluran air batu bata yang mengindikasikan keberadaan tata air suci (jaladwara), yang lazim digunakan dalam upacara keagamaan Hindu.


🕉️ Makna dan Fungsi

Candi Kunir diyakini sebagai tempat pemujaan Hindu Siwa, sebagaimana ditunjukkan oleh temuan yoni-lingga.
Selain berfungsi religius, candi ini juga memiliki nilai historis penting karena menunjukkan perluasan wilayah dan perkembangan budaya Majapahit di daerah selatan Jawa Timur.


🏚 Temuan Arkeologis

  • Fragmen lingga-yoni (simbol kesuburan dan penciptaan).
  • Pecahan batu andesit dengan pahatan motif flora.
  • Batu lumpang dan bata kuno bersusun.
  • Diduga masih terdapat lapisan struktur bawah tanah yang belum seluruhnya diekskavasi.

ðŸŒū Kondisi Sekarang

Candi Kunir kini berada di area terbuka dan telah ditata menjadi situs cagar budaya oleh pemerintah Kabupaten Lumajang. Beberapa bagian struktur telah dipagar dan diberi papan informasi sejarah. Upaya pelestarian masih terus dilakukan agar tidak rusak akibat aktivitas pertanian dan cuaca.


📜 Nilai Historis

Candi Kunir menjadi salah satu bukti nyata bahwa kawasan Lumajang pada masa Majapahit bukan hanya wilayah pertanian, tetapi juga pusat keagamaan dan spiritual penting di selatan Jawa Timur. Candi ini memperkaya peta sebaran arkeologi Majapahit setelah Trowulan, Jombang, dan Blitar.


🗚️ Catatan Tambahan

  • Di sekitar situs Kunir juga ditemukan fragmen bata besar lain di Desa Kunir Kidul dan Kunir Lor.
  • Diperkirakan dahulu wilayah Kunir merupakan perkampungan kuno (wanua) yang memiliki peranan administratif dan spiritual di masa Majapahit.


4. Buatlah Risalah tentang :

Situs Candi Burung ( Burung, Proppo ).

Kabupaten Pamekasan



Berikut risalah lengkap tentang Situs Candi Burung – Kabupaten Pamekasan, yang dapat digunakan sebagai naskah atau teks pendukung risalah visual sejarah:


🏛️ RISALAH SITUS CANDI BURUNG – KABUPATEN PAMEKASAN

Nama Situs: Candi Burung
Lokasi: Dusun Burung, Desa Jambringin, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan, Pulau Madura, Jawa Timur
Koordinat: ±16 km arah selatan Kota Pamekasan


ðŸŠķ Deskripsi Umum

Situs Candi Burung merupakan peninggalan purbakala penting di Pulau Madura yang menunjukkan jejak peradaban Hindu-Buddha di kawasan ini. Meski tidak berupa bangunan utuh seperti candi di Jawa Tengah atau Jawa Timur, situs ini menyimpan batu bata kuno, struktur pondasi, serta fragmen arca yang menandakan pernah berdirinya bangunan suci di lokasi tersebut.

Nama “Burung” berasal dari nama dusun tempat ditemukannya situs ini, bukan karena adanya relief atau arca burung. Namun dalam beberapa temuan arkeologis, terdapat batu dengan pahatan sederhana yang diperkirakan berfungsi sebagai bagian dari altar atau perwara kecil.


ðŸ§ą Struktur dan Arsitektur

  • Bangunan candi diduga terbuat dari bata merah berukuran besar, khas gaya Majapahit dan pasca-Majapahit.
  • Struktur yang tersisa meliputi susunan bata pondasi, dengan denah berbentuk persegi panjang.
  • Di sekitar situs ditemukan batu andesit kecil, fragmen yoni, dan bata berlubang.
  • Tidak ditemukan bagian puncak atau stupa, menandakan bahwa situs ini mungkin tidak besar, melainkan candi perwara atau bangunan pelengkap.

🕉️ Konteks Sejarah dan Fungsi

Situs Candi Burung memperlihatkan bahwa Pulau Madura, terutama wilayah Pamekasan, juga mengalami pengaruh budaya Hindu-Buddha sebelum berkembangnya Islam.
Candi ini kemungkinan dibangun pada masa akhir Majapahit (abad ke-14–15 M) sebagai tempat pemujaan lokal atau punden berundak yang disakralkan oleh masyarakat setempat.


🏚 Temuan Arkeologis

  • Bata merah kuno besar (panjang ±40 cm).
  • Batu lumpang dan batu berlubang.
  • Fragmen yoni kecil tanpa lingga.
  • Pecahan gerabah dan keramik kuno dari masa Majapahit.
  • Sisa abu pembakaran ritual ditemukan di lapisan tanah sekitar pondasi.

ðŸŒū Kondisi Sekarang

Situs Candi Burung kini hanya menyisakan reruntuhan bata kuno dan sebagian lahan yang telah dijadikan cagar budaya lokal. Lokasi ini sering dikunjungi peneliti arkeologi dan mahasiswa untuk mempelajari persebaran candi di luar Pulau Jawa.
Pemerintah daerah telah memasang papan informasi dan melakukan pendataan rutin untuk mencegah kerusakan lebih lanjut akibat aktivitas warga sekitar.


📜 Nilai Historis

Candi Burung merupakan bukti penting bahwa pengaruh Hindu-Buddha telah menjangkau Pulau Madura jauh sebelum Islam berkembang pesat pada abad ke-16.
Situs ini memperkaya narasi sejarah Madura sebagai wilayah yang memiliki kontinuitas budaya panjang dari masa prasejarah hingga klasik Hindu-Buddha.


🗚️ Catatan Tambahan

  • Situs ini sering dikaitkan dengan jaringan candi kecil di Madura bagian timur seperti Candi Larangan Tokol (Sampang) dan Candi Budur (Pamekasan).
  • Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk memastikan fungsi dan kronologinya secara lebih akurat.



5. Buatlah Risalah tentang :

Candi Deres (Gumukmas, Jember)

Kabupaten Jember


Berikut risalah lengkapnya:


🏛️ RISALAH CANDI DERES

Lokasi: Desa Deres, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember, Jawa Timur

ðŸŠķ Deskripsi Umum

Candi Deres merupakan salah satu peninggalan arkeologis penting di wilayah selatan Kabupaten Jember. Letaknya berada di Desa Deres, Kecamatan Gumukmas, tidak jauh dari aliran Sungai Bedadung bagian hilir. Candi ini merupakan bukti bahwa kawasan pesisir selatan Jember pernah menjadi bagian dari jaringan kebudayaan Hindu–Buddha di masa klasik Jawa Timur.

ðŸ§ą Bahan dan Struktur

Candi Deres terbuat dari batu bata merah berukuran besar, disusun tanpa perekat semen melainkan menggunakan sistem kunci antar bata dan bahan organik alami seperti tanah liat dan air nira.
Dari sisa-sisa pondasi yang masih tampak, bentuk candinya diperkirakan berbentuk persegi empat dengan ukuran sekitar 8 x 8 meter. Di bagian tengahnya kemungkinan dahulu terdapat arca atau lingga–yoni, yang menjadi pusat pemujaan.

🕉️ Fungsi dan Keagamaan

Para arkeolog menduga bahwa Candi Deres merupakan candi pemujaan Hindu Siwaistis, berdasarkan temuan fragmen batu yoni, bata berukir, dan pecahan gerabah ritual di sekitar lokasi.
Namun, belum ditemukan prasasti atau arca yang dapat memastikan periode dan penguasa yang membangunnya.

ðŸ§Đ Konteks Sejarah

Candi Deres kemungkinan dibangun pada masa Kerajaan Majapahit akhir (abad ke-14–15 M), bersamaan dengan berkembangnya permukiman di kawasan selatan Jawa Timur. Lokasi Gumukmas yang berdekatan dengan jalur sungai dan dataran subur membuat daerah ini strategis sebagai wilayah pertanian dan spiritual.

🗚️ Kondisi Sekarang

Kini, sisa-sisa struktur Candi Deres hanya berupa tumpukan bata dan fondasi candi yang sebagian telah tertimbun tanah dan vegetasi. Pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI (Jatim) telah melakukan pendataan serta pemagaran sederhana untuk melindungi situs ini dari kerusakan lebih lanjut.

ðŸŒŋ Nilai Penting

Candi Deres menjadi jejak sejarah peradaban Majapahit di wilayah selatan Jember, menunjukkan bahwa pengaruh kebudayaan Hindu–Buddha tidak hanya berpusat di utara Jawa Timur, tetapi juga menyebar hingga ke pesisir selatan.


📖 Ringkasan Fakta

Unsur Keterangan
Nama Situs Candi Deres
Lokasi Desa Deres, Kecamatan Gumukmas, Kabupaten Jember
Bahan Bata merah
Periode Majapahit akhir (abad ke-14–15 M)
Fungsi Tempat pemujaan agama Hindu (Siwaistis)
Kondisi Reruntuhan dan fondasi masih tampak
Pengelola Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur


6. Buatlah Risalah tentang :

Situs Altar Raja Dharmawangsa, Dusun Watu Dhukun, Desa Pager Ukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo

Berikut Risalah tentang Situs Altar Raja Dharmawangsa di Ponorogo yang bisa digunakan sebagai bahan untuk risalah sejarah atau visual:


🏛️ RISALAH SITUS ALTAR RAJA DHARMAWANGSA

Lokasi: Dusun Watu Dhukun, Desa Pager Ukir, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur


1. Deskripsi Umum

Situs Altar Raja Dharmawangsa merupakan peninggalan arkeologis yang dipercaya berkaitan dengan masa pemerintahan Raja Dharmawangsa Teguh Anantawikramottunggadewa, salah satu raja besar dari Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada abad ke-10 Masehi.
Situs ini terletak di area pedesaan perbukitan kapur wilayah Sampung, Ponorogo, yang dahulu dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam penyebaran budaya Hindu di Jawa Timur bagian barat.


2. Ciri dan Bentuk Fisik

Di lokasi situs ditemukan struktur batu besar berbentuk altar atau meja batu persegi panjang, disusun dari bongkahan batu andesit berukuran besar. Permukaannya menunjukkan bekas tatah dan lekukan yang diduga digunakan untuk upacara pemujaan atau peringatan leluhur raja.
Di sekitarnya terdapat beberapa batu tegak (menhir kecil) dan fragmen arca, yang mengindikasikan fungsi ritualistik di masa lalu. Masyarakat setempat menyebut tempat ini “Watu Dhukun”, merujuk pada tradisi kuno bahwa batu tersebut digunakan oleh “dhukun” atau pendeta kerajaan untuk upacara suci.


3. Nilai Historis

Nama “Altar Raja Dharmawangsa” muncul dari tradisi lisan dan hasil kajian arkeolog lokal yang mengaitkan situs ini dengan masa akhir Kerajaan Medang. Setelah kehancuran istana Dharmawangsa akibat serangan Wurawari pada tahun 1016 M (Pralaya Medang), banyak peninggalan spiritual dan artefak kerajaan yang tersebar ke wilayah barat dan selatan, termasuk Ponorogo.
Situs ini diyakini menjadi tempat perhentian atau pemujaan terakhir para pengikut Dharmawangsa sebelum mereka bermigrasi ke timur dan melahirkan kebudayaan Kahuripan di bawah Airlangga.


4. Nilai Arkeologis

Temuan-temuan di sekitar situs meliputi:

  • Batu andesit besar dengan bentuk altar.
  • Fragmen arca dan batu lingga-yoni kecil.
  • Pecahan tembikar kuno dan bata merah kuno.

Temuan tersebut memperkuat dugaan bahwa situs ini merupakan lokasi peribadatan Hindu-Siwaistik, sekaligus menjadi jejak spiritual dari kerajaan Medang di Ponorogo.


5. Kondisi dan Pelestarian

Kini situs Altar Raja Dharmawangsa masih terjaga oleh masyarakat setempat. Beberapa ritual sedekah bumi atau doa bersama masih dilakukan di sekitar situs sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Pemerintah daerah Ponorogo telah menandai lokasi ini sebagai cagar budaya potensial, meski masih membutuhkan penelitian arkeologis lanjutan dan konservasi agar peninggalan batu-batu altar tidak rusak oleh erosi dan aktivitas pertanian.


6. Nilai Budaya dan Spiritual

Situs ini menjadi simbol perpaduan antara sejarah dan spiritualitas lokal Ponorogo. Warga percaya bahwa tempat ini memancarkan aura ketenangan dan menjadi saksi bisu perjalanan panjang kerajaan Hindu di tanah Jawa.
Melalui pelestarian situs ini, generasi muda diharapkan dapat memahami warisan sejarah Kerajaan Medang dan tokoh Raja Dharmawangsa yang berjasa dalam menyebarkan kebudayaan Jawa klasik.


🕉️ Makna Simbolik

“Watu Dhukun bukan sekadar batu, tetapi tapak kesetiaan kepada leluhur dan raja yang menjaga dharma dalam kehidupan.”



7. Buatlah Risalah tentang :

Situs Kayangan Api, Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem.

Kabupaten Bojonegoro

Berikut risalah lengkap tentang situs bersejarah Kayangan Api di Bojonegoro:


ðŸ”Ĩ RISALAH SITUS KAYANGAN API

Lokasi: Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur

🌋 Deskripsi Umum

Situs Kayangan Api merupakan fenomena alam unik berupa api abadi yang menyala dari dalam tanah tanpa henti. Api ini keluar dari rekahan batuan di kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, sekitar 15 km ke arah selatan Kota Bojonegoro.
Kayangan Api dikenal sebagai situs geologi sekaligus tempat spiritual, yang telah digunakan masyarakat setempat sejak masa kuno untuk upacara adat dan keagamaan.

ðŸ”Ĩ Asal-usul dan Legenda

Menurut legenda masyarakat Bojonegoro, api abadi ini pertama kali ditemukan oleh seorang pertapa sakti bernama Mpu Supa, seorang pandai besi dari zaman Majapahit. Ia dipercaya membuat senjata pusaka kerajaan di tempat ini.
Nama “Kayangan Api” berasal dari kata “kayangan” (tempat para dewa) dan “api” (unsur sakral), menggambarkan bahwa lokasi ini dianggap suci dan berhubungan dengan kekuatan spiritual tinggi.

ðŸŠĻ Kondisi Alam dan Geologi

Fenomena api abadi ini terjadi karena adanya gas alam yang keluar melalui celah tanah dan terbakar secara terus-menerus akibat suhu tinggi.
Selain sumber api, di kawasan ini juga terdapat Sendang Dander (sumber air suci) yang dipercaya dapat menyucikan diri sebelum melakukan ritual di Kayangan Api.

🙏 Fungsi Sosial dan Budaya

Situs Kayangan Api menjadi pusat kegiatan budaya dan spiritual masyarakat Bojonegoro.
Setiap tahun, di tempat ini diselenggarakan Upacara Ritual Jamasan Pusaka dan Malam Sura, yang dihadiri ribuan orang untuk memohon berkah dan keselamatan.
Selain itu, situs ini juga berfungsi sebagai objek wisata alam dan edukasi geologi.

🏛️ Nilai Sejarah dan Pelestarian

Kayangan Api mencerminkan perpaduan antara warisan budaya Majapahit dan fenomena geologi alamiah.
Kini, situs ini dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Bojonegoro bekerja sama dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur, serta telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya dan Wisata Nasional.


📖 Ringkasan Fakta

Unsur Keterangan
Nama Situs Kayangan Api
Lokasi Desa Sendangharjo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro
Fenomena Api abadi dari gas alam
Legenda Mpu Supa, pandai besi Majapahit
Fungsi Ritual spiritual, wisata alam, dan budaya
Kegiatan Tahunan Upacara Jamasan Pusaka, Malam 1 Suro
Pengelola Pemkab Bojonegoro & BPK Wilayah XI Jawa Timur


8. Buatlah Risalah tentang :

Candi Kepuh Klagen, Desa Kepuh Klagen, Kecamatan Weringin Anom

Kabupaten Gresik


Berikut Risalah tentang Candi Kepuh Klagen di Kabupaten Gresik, disusun dalam format historis dan informatif seperti risalah-risalah sebelumnya:


🏛️ RISALAH CANDI KEPUH KLAGEN

Lokasi: Desa Kepuh Klagen, Kecamatan Wringinanom, Kabupaten Gresik, Jawa Timur


1. Deskripsi Umum

Candi Kepuh Klagen merupakan salah satu peninggalan arkeologi bercorak Hindu-Buddha yang terdapat di wilayah selatan Kabupaten Gresik. Situs ini menandakan bahwa kawasan Gresik—yang kini dikenal sebagai kota pelabuhan dan penyebaran Islam awal—pernah menjadi bagian dari peradaban klasik Jawa Timur pada masa Kerajaan Majapahit.

Candi ini ditemukan dalam kondisi reruntuhan dan terdiri atas susunan batu bata merah khas bangunan suci abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Masyarakat setempat menyebut lokasi ini sebagai “Watu Candi” atau “Petilasan Candi”.


2. Ciri dan Bentuk Fisik

Situs Candi Kepuh Klagen berada di area lahan pertanian yang agak tinggi, dengan struktur bata merah besar yang tersusun tidak beraturan di permukaan tanah.
Temuan yang masih tampak antara lain:

  • Sisa pondasi kaki candi berbentuk bujur sangkar.
  • Potongan bata berukir dan pecahan atap stupa kecil.
  • Fragmen arca perwara serta batu lumpang.

Teknik pembuatannya menunjukkan kesamaan dengan gaya arsitektur Majapahit akhir, yaitu bata merah yang direkatkan tanpa semen, melainkan dengan campuran air dan getah alami.


3. Nilai Historis

Keberadaan Candi Kepuh Klagen memperkaya bukti bahwa wilayah Gresik bagian selatan pernah menjadi jalur penyangga kebudayaan Majapahit yang menghubungkan Mojokerto, Sidoarjo, dan Gresik.
Diperkirakan, candi ini berfungsi sebagai tempat pemujaan dewa pelindung desa atau tempat peristirahatan spiritual para brahmana yang menuju pelabuhan-pelabuhan di utara.

Situs ini juga menunjukkan transisi penting antara masa Hindu-Buddha dan awal Islamisasi Gresik, di mana banyak bangunan suci dibiarkan terbengkalai saat pusat pemerintahan berpindah ke arah pesisir.


4. Nilai Arkeologis

Temuan di sekitar situs meliputi:

  • Bata merah besar khas Majapahit.
  • Pecahan tembikar dan gerabah kuno.
  • Fragmen batu dengan ukiran hias sulur dan geometris.

Analisis arkeologis menunjukkan bahwa Candi Kepuh Klagen kemungkinan tidak berukuran besar, melainkan tipe candi perwara atau candi desa, berfungsi lokal dan bersifat ritual.


5. Kondisi dan Pelestarian

Saat ini, Candi Kepuh Klagen belum dipugar secara penuh, namun telah dilindungi oleh warga Desa Kepuh Klagen.
Masyarakat menjaga lokasi dari perusakan dan penjarahan bata kuno. Pemerintah Kabupaten Gresik dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur juga telah memasukkan situs ini dalam daftar cagar budaya potensial untuk penelitian lanjutan dan dokumentasi ilmiah.


6. Nilai Budaya

Bagi masyarakat, tempat ini tidak hanya menjadi sisa sejarah, tetapi juga pusat spiritual dan simbol keseimbangan alam. Dalam beberapa tradisi lokal, dilakukan doa bersama atau sedekah bumi di sekitar situs untuk mengenang leluhur yang menjaga desa sejak masa lampau.


ðŸŒū Makna Simbolik

“Candi Kepuh Klagen adalah jejak sunyi Majapahit di tanah Gresik — saksi antara masa dewa dan masa dakwah.”



9. Buatlah Risalah tentang :

Candi Wonorejo, Jalan Candi, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan

Kabupaten Madiun


Berikut risalah lengkap tentang Candi Wonorejo di Kabupaten Madiun:


🏛️ RISALAH CANDI WONOREJO

Lokasi: Jalan Candi, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun, Jawa Timur

🏚 Deskripsi Umum

Candi Wonorejo merupakan peninggalan purbakala yang ditemukan di kawasan Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Lokasi situs ini berada di jalur dataran tinggi antara Madiun dan Caruban, di sekitar area persawahan dan perkampungan penduduk.
Situs ini menjadi bukti penting bahwa daerah Madiun pada masa lampau pernah menjadi bagian dari jaringan keagamaan dan permukiman Hindu–Buddha di pedalaman Jawa Timur.

ðŸ§ą Bahan dan Struktur

Candi Wonorejo dibangun menggunakan batu bata merah berukuran besar, yang disusun tanpa semen modern. Struktur yang ditemukan berupa pondasi bata berbentuk persegi panjang dengan sisa dinding setinggi ±1 meter.
Di sekitar situs, juga ditemukan fragmen batu andesit, bata berukir, dan pecahan gerabah kuno yang menunjukkan adanya aktivitas pemujaan.

🕉️ Fungsi dan Keagamaan

Para peneliti dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur memperkirakan bahwa Candi Wonorejo merupakan tempat pemujaan agama Hindu, kemungkinan beraliran Siwaistis.
Hal ini diperkuat dengan temuan fragmen yoni serta pola orientasi bangunan yang menghadap ke Timur — arah matahari terbit yang sering digunakan dalam arsitektur keagamaan Hindu.

📜 Konteks Sejarah

Berdasarkan hasil penelitian arkeologi, Candi Wonorejo diperkirakan berasal dari masa Kerajaan Kediri atau Majapahit awal (abad ke-12–14 M).
Wilayah Madiun dan sekitarnya pada masa itu dikenal sebagai daerah penting dalam jalur perdagangan pedalaman serta pusat pertanian subur yang mendukung aktivitas keagamaan dan ekonomi kerajaan.

🏚️ Kondisi Sekarang

Saat ini, situs Candi Wonorejo telah mengalami pemugaran ringan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Madiun.
Area sekitar candi telah dipagari dan ditata menjadi kawasan cagar budaya terbuka, meskipun sebagian struktur masih berupa reruntuhan bata yang belum seluruhnya terungkap.

ðŸŒū Nilai Penting

Candi Wonorejo memiliki nilai arkeologis dan historis tinggi karena memperlihatkan sebaran budaya Hindu–Buddha di wilayah barat Jawa Timur.
Selain itu, keberadaan candi ini menegaskan peran Madiun sebagai daerah yang ikut menyumbang warisan budaya masa klasik Nusantara.


📖 Ringkasan Fakta

Unsur Keterangan
Nama Situs Candi Wonorejo
Lokasi Jalan Candi, Desa Wonorejo, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun
Bahan Bata merah dan batu andesit
Periode Kediri – Majapahit awal (abad ke-12–14 M)
Fungsi Pemujaan agama Hindu (Siwaistis)
Kondisi Reruntuhan dan fondasi, sebagian telah dipugar
Pengelola Dinas Kebudayaan & Pariwisata Kabupaten Madiun, BPK Wilayah XI Jawa Timur


10. Buatlah Risalah tentang :

Candi Pendem Ngawi

Kabupaten Ngawi


Berikut risalah tentang Candi Pendem Ngawi:


🏛️ RISALAH CANDI PENDEM – NGAWI

Lokasi

Candi Pendem terletak di Desa Candirejo, Kecamatan Tegalrejo, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Situs ini berada tidak jauh dari aliran Sungai Bengawan Solo, di daerah dataran rendah yang subur dan sering tergenang air pada musim hujan — sebab itu dinamakan “Pendem” (artinya: tertimbun atau terpendam tanah).


Deskripsi Umum

Candi Pendem merupakan salah satu peninggalan penting dari masa Kerajaan Mataram Kuno (abad IX–X Masehi). Sebagian besar bangunan awalnya ditemukan dalam keadaan tertimbun tanah, dan baru sebagian yang berhasil dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.
Bangunan candi tersusun dari batu andesit dan bata merah, menghadap ke arah barat, serta berdiri di atas batur (alas) berundak.


Arsitektur dan Struktur

  • Bentuk dasar: Persegi dengan ukuran sekitar 13 x 13 meter.
  • Bahan utama: Batu andesit di bagian kaki dan bata merah di bagian atas.
  • Tangga masuk: Di sisi barat, dengan hiasan pelipit sederhana.
  • Relief dan arca: Ditemukan beberapa fragmen arca Dewa Wisnu, lingga-yoni, serta batu peripih yang menunjukkan fungsi keagamaan Hindu.
  • Sumuran candi: Di bagian tengah terdapat lubang persegi vertikal, kemungkinan digunakan untuk penyimpanan pripih (benda suci).

Fungsi dan Makna

Candi Pendem diperkirakan merupakan candi pemujaan Hindu, khususnya pemujaan terhadap Dewa Wisnu atau Siwa, sebagaimana terlihat dari temuan lingga-yoni dan fragmen arca.
Letaknya yang strategis di tepi jalur Bengawan Solo menandakan peran penting daerah ini sebagai wilayah transit dan pusat kegiatan keagamaan masyarakat pedesaan pada masa klasik Jawa Timur.


Penemuan dan Pemugaran

  • Ditemukan oleh warga pada tahun 1992 ketika melakukan penggalian tanah.
  • Dilakukan ekskavasi oleh tim arkeolog dari BPCB Trowulan pada tahun 2003–2005.
  • Pemugaran dilakukan secara bertahap karena sebagian struktur masih berada di bawah permukaan air tanah.

Nilai Historis dan Arkeologis

Candi Pendem menjadi bukti nyata bahwa wilayah Ngawi memiliki akar peradaban yang kuat sejak masa Hindu-Buddha. Penemuan ini melengkapi jaringan situs kuno di sepanjang Bengawan Solo, seperti Situs Trinil dan Candi Sadon.
Candi ini menunjukkan peralihan gaya arsitektur dari Mataram Kuno ke Kadiri–Singhasari, sehingga penting bagi penelitian evolusi bentuk candi di Jawa Timur bagian barat.



11. Buatlah Risalah tentang :

Candi Dewi Sri ( Simbatan, Kuntoronadi, Magetan).


Berikut risalah tentang Candi Dewi Sri – Simbatan, Kuntoronadi, Magetan:


🏛️ RISALAH CANDI DEWI SRI – SIMBATAN, MAGETAN

Lokasi

Candi Dewi Sri terletak di Dusun Simbatan, Desa Simbatan, Kecamatan Kuntoronadi, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Situs ini berada di kawasan dataran tinggi kaki Gunung Lawu, dikelilingi persawahan dan perkampungan yang subur. Nama “Dewi Sri” diambil dari dewi kesuburan dan padi dalam kepercayaan masyarakat Jawa.


Deskripsi Umum

Candi Dewi Sri merupakan situs percandian bercorak Hindu yang diyakini berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno atau era Kediri–Singhasari (abad XI–XIII Masehi).
Berbeda dengan candi batu andesit besar, Candi Dewi Sri berukuran relatif kecil dan menggunakan bata merah sebagai bahan utama. Keberadaannya mencerminkan fungsi religius masyarakat agraris yang memuja kesuburan dan kemakmuran.


Arsitektur dan Struktur

  • Bentuk dasar: Persegi panjang berukuran sekitar 6 x 6 meter.
  • Bahan: Bata merah dengan sisa fondasi yang masih tampak jelas.
  • Orientasi: Menghadap ke arah barat.
  • Temuan di sekitar situs: Fragmen arca Dewi Sri, lingga-yoni, dan batu peripih.
  • Ciri khas: Tidak ditemukan relief besar, menunjukkan candi ini lebih bersifat lokal rakyat, bukan pusat kerajaan.

Fungsi dan Makna

Candi Dewi Sri diperkirakan merupakan tempat pemujaan terhadap Dewi Sri, simbol kesuburan, panen, dan kemakmuran. Masyarakat sekitar meyakini situs ini sebagai tempat yang membawa berkah bagi pertanian. Hingga kini, sebagian warga masih melakukan selamatan dan ritual nyadran di sekitar situs untuk memohon kesuburan lahan.


Penemuan dan Penelitian

  • Situs ini pertama kali dilaporkan oleh masyarakat pada tahun 1981.
  • Penelitian arkeologis dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur dan menemukan beberapa lapisan bata serta struktur candi.
  • Ditemukan pula pecahan tembikar dan gerabah yang memperkuat indikasi adanya aktivitas keagamaan dan pertanian kuno di kawasan itu.

Nilai Historis dan Arkeologis

Candi Dewi Sri menjadi bukti kuat bahwa wilayah Magetan sudah menjadi bagian dari jaringan budaya Hindu agraris yang berkembang di lereng Gunung Lawu. Situs ini juga menunjukkan sinkretisme antara kepercayaan lokal Jawa dan ajaran Hindu yang menekankan hubungan antara manusia, alam, dan dewa kesuburan.


Pelestarian

Kini situs Candi Dewi Sri telah dilindungi oleh Pemerintah Kabupaten Magetan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur. Area situs ditandai dengan pagar sederhana dan papan informasi, serta dijadikan media edukasi sejarah bagi siswa dan wisatawan lokal.


Kesimpulan

Candi Dewi Sri bukan sekadar peninggalan arkeologi, tetapi juga lambang penghormatan terhadap alam dan kesuburan tanah Jawa. Warisan ini mengajarkan bahwa kesejahteraan manusia sangat bergantung pada keharmonisan dengan bumi — nilai yang masih relevan hingga kini.



12. Buatlah Risalah tentang :

Arca Joko Dolog ( Taman Aspari, Tegalsari )

Surabaya.



Berikut risalah tentang Arca Joko Dolog – Taman Apsari, Tegalsari, Surabaya:


ðŸŠķ RISALAH ARCA JOKO DOLOG – TAMAN APSARI, SURABAYA

Lokasi

Arca Joko Dolog terletak di Taman Apsari, Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya, Jawa Timur. Lokasinya berada di pusat kota, tidak jauh dari Gedung Grahadi dan Monumen Gubernur Suryo. Arca ini menjadi salah satu peninggalan arkeologi paling terkenal di Surabaya yang masih berdiri di ruang publik terbuka.


Deskripsi Umum

Arca Joko Dolog merupakan arca batu besar dari abad ke-13 Masehi yang menggambarkan sosok seorang pendeta Buddha dalam posisi duduk bersila di atas padmasana (tahta teratai).
Arca ini terbuat dari batu andesit berukuran tinggi ± 1,7 meter dan memiliki prasasti berbahasa Sanskerta dan huruf Jawa Kuno (Nagari) di bagian alasnya.

Menurut penelitian, arca ini aslinya berasal dari Candi Wurung (sekitar Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto) dan kemudian dipindahkan ke Surabaya pada masa kolonial.


Makna dan Identifikasi

Menurut para ahli, Joko Dolog adalah perwujudan Raja Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari (memerintah tahun 1268–1292 M). Arca ini menggambarkan sang raja dalam bentuk Ardhanari-Buddha (perpaduan unsur Siwa-Buddha), mencerminkan sinkretisme agama Hindu dan Buddha yang berkembang di masa itu.

Nama “Joko Dolog” berasal dari sebutan masyarakat Surabaya — “joko” berarti pemuda, dan “dolog” berarti gundul atau polos, karena kepalanya plontos seperti pendeta.


Isi Prasasti

Prasasti di bawah arca dikenal sebagai Prasasti Wurare (1289 M).
Isinya menyebutkan:

  • Pujian kepada Wisnu dan Buddha sebagai sumber kebijaksanaan.
  • Penyebutan tokoh Rakai Jayawardhana (Kertanegara) yang telah menegakkan ajaran Siwa-Buddha di Nusantara.
  • Tahun pembuatan arca disebutkan dalam sistem Śaka 1211 (1289 M), pada masa kerajaan Singhasari.

Prasasti ini menjadi sumber penting dalam sejarah penyatuan spiritual Jawa dan legitimasi politik kerajaan.


Nilai Sejarah dan Arkeologi

  • Arca Joko Dolog adalah artefak monumental dari masa akhir Singhasari, menjembatani masa transisi menuju Majapahit.
  • Prasastinya menjadi dokumen tertulis tertua yang menyebutkan ajaran Siwa-Buddha secara resmi.
  • Dari sisi seni, arca ini menunjukkan puncak gaya arca Singhasari dengan anatomi halus, ekspresi tenang, dan simbolisme religius mendalam.

Pelestarian

Kini Arca Joko Dolog telah menjadi Cagar Budaya Nasional dan dikelola oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.
Di sekeliling arca dibuat pagar pelindung, dan kawasan taman difungsikan sebagai area edukasi sejarah serta wisata religi.
Warga Surabaya sering datang untuk berdoa atau sekadar menghaturkan bunga sebagai penghormatan.


Kesimpulan

Arca Joko Dolog merupakan warisan spiritual dan historis yang menandai kejayaan budaya Jawa Timur abad ke-13. Ia tidak sekadar batu berwujud pendeta, melainkan simbol persatuan keagamaan, kebijaksanaan, dan kekuasaan yang pernah menaungi Nusantara.
Surabaya pantas berbangga karena menjaga peninggalan yang menjadi saksi perjalanan sejarah dari Singhasari menuju Majapahit.


13. Buatlah Risalah tentang :

Kompleks Percandian Gunung Ringgit, Gunung Ringgit, Dusun Godean, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen.

Pasuruan.


Berikut risalah tentang Kompleks Percandian Gunung Ringgit – Prigen, Pasuruan:


🏛️ RISALAH KOMPLEKS PERCANDIAN GUNUNG RINGGIT – PRIGEN, PASURUAN

Lokasi

Kompleks Percandian Gunung Ringgit terletak di Dusun Godean, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Situs ini berada di lereng Gunung Ringgit, bagian dari kawasan pegunungan Arjuno–Welirang, pada ketinggian sekitar 600 meter di atas permukaan laut. Lingkungannya dikelilingi hutan pinus dan jalur pendakian, menciptakan suasana sakral dan alami.


Deskripsi Umum

Kompleks Percandian Gunung Ringgit merupakan kompleks percandian bercorak Hindu-Siwais, yang diyakini berasal dari abad IX–X Masehi, sezaman dengan masa Mataram Kuno atau periode awal Kerajaan Medang di Jawa Timur.
Situs ini terdiri atas beberapa struktur batu yang tersebar di berbagai teras lereng gunung, mencerminkan sistem pemujaan yang berlapis dari bawah hingga puncak.


Struktur dan Arsitektur

  • Jumlah situs: Sedikitnya enam teras dengan sisa pondasi candi batu andesit.
  • Candi utama: Berbentuk bujur sangkar berukuran sekitar 8 x 8 meter, menghadap ke barat.
  • Bahan: Batu andesit vulkanik lokal, sebagian masih tertanam di tanah.
  • Teras bawah: Ditemukan struktur menyerupai altar dan sisa tangga batu.
  • Fragmen arca: Beberapa arca lingga-yoni, Ganesha, dan Nandi ditemukan di sekitar lokasi, menunjukkan pemujaan terhadap Dewa Siwa.

Fungsi dan Makna

Kompleks ini diperkirakan berfungsi sebagai tempat suci pemujaan para resi atau pendeta Hindu yang bersemayam di lereng gunung.
Gunung Ringgit sendiri dianggap sebagai gunung suci (Mahameru kecil) dalam kepercayaan lokal Jawa Kuno, simbol hubungan antara dunia manusia dan para dewa.
Struktur bertingkatnya mencerminkan konsep kosmologi Hindu — dari dunia bawah (bhurloka) ke dunia atas (svargaloka).


Penemuan dan Penelitian

  • Pertama kali dicatat oleh arkeolog Belanda Oudheidkundige Dienst pada awal abad ke-20.
  • Ekskavasi dan dokumentasi lanjutan dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur pada 2012 dan 2018.
  • Ditemukan pula pecahan keramik Tiongkok abad ke-10 dan sisa arang pembakaran upacara (yajÃąa), memperkuat indikasi fungsi ritual.

Nilai Historis dan Arkeologis

Kompleks Percandian Gunung Ringgit menunjukkan bahwa kawasan Prigen–Pasuruan merupakan salah satu pusat penting kegiatan spiritual dan keagamaan pada masa klasik Jawa Timur.
Situs ini juga memperlihatkan kesinambungan antara tradisi Hindu-Siwais dan tradisi lokal Jawa pegunungan, menjadikannya bukti nyata perpaduan budaya, religi, dan lingkungan alam.


Pelestarian

Situs Gunung Ringgit kini berada dalam pengawasan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.
Masyarakat Desa Dayurejo turut menjaga kawasan ini dengan melaksanakan ritual bersih situs dan kegiatan edukatif bagi pelajar. Pemerintah daerah tengah mengembangkan jalur wisata sejarah dan spiritual berbasis konservasi.


Kesimpulan

Kompleks Percandian Gunung Ringgit adalah warisan spiritual yang menegaskan pentingnya gunung sebagai pusat pemujaan dalam budaya Jawa kuno. Di balik kesunyian lereng Prigen, terpendam jejak peradaban yang pernah menjunjung tinggi keselarasan antara manusia, alam, dan ketuhanan.



14. Buatlah Risalah tentang :

Candi Lulumbang (Lumbang, Pasuruan)



Berikut risalah lengkap tentang Candi Lulumbang – Lumbang, Pasuruan:


🏛️ RISALAH CANDI LULUMBANG – LUMBANG, PASURUAN

Lokasi

Candi Lulumbang terletak di Dusun Lulumbang, Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Situs ini berada di lereng bagian utara Gunung Bromo, di ketinggian sekitar 850 meter di atas permukaan laut, dikelilingi hutan dan perbukitan yang sejuk.


Deskripsi Umum

Candi Lulumbang merupakan salah satu peninggalan bercorak Hindu dari masa Kerajaan Singhasari atau awal Majapahit (abad XIII–XIV Masehi).
Walaupun kini hanya tersisa bagian pondasi dan reruntuhan struktur bata, candi ini diyakini dulu digunakan sebagai tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa atau persembahan leluhur lokal.


Struktur dan Arsitektur

  • Bahan utama: Bata merah berukuran besar.
  • Bentuk dasar: Persegi dengan sisi sekitar 6–8 meter.
  • Orientasi: Menghadap ke timur, sebagaimana kebanyakan candi Hindu Jawa Timur.
  • Kondisi: Sebagian besar bangunan telah runtuh; yang tersisa hanyalah lapisan bawah pondasi dan beberapa fragmen bata yang tersebar.
  • Temuan di sekitar situs: Batu andesit kecil, fragmen yoni, dan sisa peripih yang menunjukkan fungsi ritual keagamaan.

Fungsi dan Makna

Nama Lulumbang berasal dari kata “Lumbang” atau “Lumbung”, yang dalam bahasa Jawa berarti tempat penyimpanan hasil bumi. Hal ini mengindikasikan bahwa candi ini mungkin juga berfungsi sebagai tempat persembahan bagi Dewi Sri atau roh pelindung kesuburan.
Dengan posisi di dataran tinggi, candi ini mungkin menjadi titik spiritual bagi masyarakat pertanian di lereng Gunung Bromo.


Penemuan dan Penelitian

  • Candi ini pertama kali didata oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur pada tahun 1983.
  • Penelitian lanjutan menemukan pola susunan bata yang menunjukkan teknik konstruksi khas masa Singhasari–Majapahit.
  • Di sekitar area juga ditemukan pecahan tembikar dan batu peripih, menunjukkan bahwa lokasi ini aktif secara keagamaan pada masa lampau.

Nilai Historis dan Arkeologis

Candi Lulumbang mencerminkan jejak peradaban Hindu di kawasan pegunungan Pasuruan.
Selain sebagai peninggalan arkeologi, situs ini juga memiliki nilai budaya karena menjadi bukti hubungan antara manusia Jawa kuno dengan alam dan gunung yang mereka anggap suci.


Pelestarian

Kini, Candi Lulumbang telah dilindungi sebagai Situs Cagar Budaya Kabupaten Pasuruan. Pemerintah daerah bersama masyarakat setempat berupaya menjaga kelestarian situs ini dengan melakukan pembersihan area dan pemasangan pagar pembatas sederhana.


Kesimpulan

Candi Lulumbang menjadi saksi bisu perjalanan spiritual dan agraris masyarakat lereng Bromo. Meski tinggal reruntuhan, nilai historisnya tetap kuat — mengingatkan kita bahwa harmoni antara manusia, alam, dan leluhur adalah warisan abadi peradaban Nusantara.



15. Buatlah Risalah tentang :

Candi Setono Gedong, Candi masa Kerajaan Kadhiri yang terletak di Jl. Dhoho ini pada bulan Oktober 2013 hampir dihancurkan demi perluasan Masjid. Kediri.

ðŸŠķ RISALAH SEJARAH JAWA TIMUR

CANDI SETONO GEDONG

📍 Lokasi: Jalan Dhoho, Kelurahan Setono Gedong, Kota Kediri, Jawa Timur
🏛️ Periode: Kerajaan Kadhiri (abad XI–XII M)
ðŸ§ą Bahan: Batu andesit dan bata merah
🕰️ Status: Situs Cagar Budaya – nyaris hilang akibat pembangunan tahun 2013


1. Deskripsi Umum

Candi Setono Gedong merupakan peninggalan penting dari masa Kerajaan Kadhiri, salah satu kerajaan besar di Jawa Timur yang berjaya pada abad ke-11 hingga ke-12 Masehi.
Candi ini terletak di pusat Kota Kediri, tepatnya di Jl. Dhoho, yang dahulu diyakini sebagai jalur utama kerajaan dan pusat kegiatan keagamaan.

Struktur candinya tersusun dari batu andesit dan bata merah, dengan gaya arsitektur transisi antara era Mataram Kuno dan Kadhiri — menandakan perpaduan seni bangunan Hindu-Siwa yang kuat.


2. Asal Usul dan Fungsi

Nama “Setono Gedong” berasal dari dua kata:

  • Setono = tempat suci atau bangunan keramat.
  • Gedong = bangunan atau rumah besar dari batu.

Candi ini diyakini sebagai tempat pemujaan kepada Dewa Siwa, dan juga makam suci bagi tokoh bangsawan atau resi kerajaan Kadhiri.
Beberapa ahli menduga, candi ini termasuk dalam kompleks pemujaan kerajaan Jayabaya, raja besar Kadhiri yang terkenal dengan ramalannya (Jangka Jayabaya).


3. Arsitektur dan Ciri Khas

  • Bahan utama: batu andesit dan bata merah, disusun tanpa semen.
  • Bentuk bangunan: persegi empat dengan tangga kecil di sisi timur.
  • Ornamen: ukiran kala-makara, motif sulur, dan simbol Siwa-Lingga-Yoni.
  • Fungsi: tempat pemujaan dan peringatan tokoh suci.

Meski ukurannya kecil, Candi Setono Gedong mencerminkan karakter candi keluarga kerajaan Kadhiri, yang lebih bersifat keagamaan pribadi daripada monumental.


4. Peristiwa Tahun 2013

Pada Oktober 2013, keberadaan Candi Setono Gedong terancam hancur karena lokasi situs ini berada di dalam kompleks Masjid Setono Gedong.
Rencana perluasan masjid sempat memicu reaksi publik dan arkeolog, yang kemudian berhasil menyelamatkan bagian utama candi.
Berkat advokasi komunitas sejarah Kediri dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, candi ini akhirnya dilestarikan dan dijadikan situs perlindungan.


5. Nilai Historis dan Spiritual

Candi Setono Gedong merupakan:

  • Bukti keberlanjutan tradisi Hindu di Kediri hingga masa Islam awal.
  • Simbol sinkretisme spiritual Jawa Timur, di mana tempat suci lama tetap dihormati meski agama mayoritas berubah.
  • Jejak nyata pusat pemerintahan dan keagamaan Kediri Kuno yang dahulu disebut Dahanapura.

6. Kondisi Kini

Kini, reruntuhan Candi Setono Gedong masih dapat dijumpai di halaman Masjid Setono Gedong, tersusun rapi di bawah naungan bangunan pelindung.
Di sekitarnya juga ditemukan fragmen arca Siwa, Nandi, dan Lingga-Yoni, yang memperkuat bukti sifat keagamaan Hindu Siwa.

Upaya konservasi terus dilakukan oleh pihak BPCB dan masyarakat setempat agar candi ini tidak hilang tertimbun modernisasi kota.


7. Makna bagi Kediri

Candi Setono Gedong menjadi simbol keseimbangan antara sejarah, budaya, dan toleransi beragama di tengah kota modern.
Kisah penyelamatannya pada tahun 2013 menjadi pengingat penting bahwa warisan leluhur harus dijaga sebagai sumber identitas dan kebijaksanaan lokal.


📖 SIMPUL SEJARAH:

“Candi Setono Gedong bukan sekadar batu kuno di tengah kota Kediri, melainkan saksi perjalanan panjang antara Kadhiri, Majapahit, dan masa kini. Ia mengajarkan bahwa kemajuan sejati terletak pada kemampuan menjaga jejak masa lalu sambil melangkah ke depan dengan hormat.”



16. Buatlah Risalah tentang :

Candi Pandean (Arca Durga)

ðŸŠķ RISALAH CANDI PANDEAN (ARCA DURGA) – KEDIRI


🏛️ 1. Nama dan Lokasi Situs

Candi Pandean (Arca Durga Mahisasuramardhini)
📍 Terletak di Dusun Pandean, Desa Pamenang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.
Lokasi ini berada di kawasan yang dikenal memiliki banyak peninggalan masa Kerajaan Kadhiri (abad XI–XII M), yang merupakan salah satu kerajaan besar penerus Wangsa Isyana di Jawa Timur.


🊔 2. Sejarah dan Penemuan

Situs Candi Pandean dikenal melalui penemuan arca Durga Mahisasuramardhini yang sangat indah dan terpelihara. Arca ini ditemukan di antara reruntuhan struktur bata merah, diduga merupakan bagian dari bangunan candi yang kini telah hilang atau tertimbun.

Arca tersebut pertama kali diketahui oleh warga sekitar dan kemudian dilaporkan ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur. Melalui kajian arkeologi, diperkirakan bahwa situs ini merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Siwa, dengan Durga sebagai perwujudan sakti beliau.


🕉️ 3. Deskripsi Arca Durga

Arca Durga Mahisasuramardhini di Pandean menggambarkan Dewi Durga membunuh raksasa Mahisa (kerbau).
Ciri-ciri:

  • Terbuat dari batu andesit.
  • Tinggi arca sekitar 1,2 meter.
  • Dewi Durga digambarkan berdiri di atas tubuh Mahisa, memegang senjata seperti cakra, gada, busur, dan anak panah.
  • Terdapat aura kekuatan sekaligus ketenangan di wajah arca — mencerminkan gaya seni klasik Kadhiri–Singhasari.

Keindahan proporsi tubuh, pahatan pakaian, dan perhiasan menunjukkan keterampilan pemahat lokal masa itu, serta menjadi bukti kuat tradisi pemujaan Siwaistik di Kediri.


📜 4. Konteks Historis

Pada masa Kerajaan Kadhiri (1042–1222 M), daerah Pamenang dan sekitarnya merupakan wilayah penting yang penuh aktivitas keagamaan dan ekonomi.
Nama Pamenang bahkan diabadikan dalam beberapa prasasti, termasuk Prasasti Pamenang (1116 M) yang dikeluarkan oleh Raja Bameswara.

Situs Candi Pandean diduga berhubungan dengan kompleks percandian Siwaistik di sekitar Kediri seperti Candi Setono Gedong, Candi Tegowangi, dan Candi Surawana.
Kehadiran arca Durga menjadi simbol kuat keberadaan sekte Siwa Durga di masa itu.


ðŸ§ą 5. Kondisi Situs Saat Ini

Kini, struktur candinya sudah tidak tampak utuh — hanya tersisa pondasi bata merah yang sebagian tertimbun tanah dan sisa-sisa batu candi berserakan di sekitar area.
Arca Durga disimpan dan dijaga oleh warga setempat dengan dukungan Dinas Kebudayaan Kediri, agar tidak rusak atau hilang.

Upaya pelestarian dilakukan secara sederhana, termasuk pembuatan cungkup pelindung untuk arca dan pendataan arkeologis oleh BPCB.


ðŸŒū 6. Nilai Arkeologis dan Budaya

  • Menunjukkan sinkretisme agama Hindu–Siwaistik di Kediri.
  • Bukti adanya pemujaan Durga di Jawa Timur pada masa klasik.
  • Meningkatkan pemahaman tentang pola sebaran situs religi masa Kadhiri di wilayah Pamenang.
  • Memiliki nilai seni tinggi dalam pahatan arca batu andesit.

ðŸŠķ 7. Catatan Penutup

Candi Pandean bukan sekadar peninggalan arkeologis — ia adalah saksi bisu kebesaran spiritual masyarakat Kadhiri.
Arca Durga Mahisasuramardhini yang megah di tengah desa menjadi lambang kekuatan, perlindungan, dan kesetiaan terhadap tradisi leluhur.
Melalui risalah ini, semoga masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga dan mengenang jejak-jejak suci dari masa klasik Jawa Timur.


ðŸ•Ŋ️ "Dari batu yang bisu, terpahat sejarah yang tak pernah padam."



17. Buatlah Risalah tentang :

Situs Adan-Adan (Gurah, Kediri)


RISALAH SITUS ADAN-ADAN – GURAH, KEDIRI


Identitas Situs

  • Nama Situs: Situs Adan-Adan
  • Lokasi: Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur
  • Perkiraan Zaman: Masa Kerajaan Kediri (abad XI–XIII Masehi)

Deskripsi Umum

Situs Adan-Adan merupakan kompleks peninggalan arkeologi penting di wilayah Kediri yang menjadi saksi peradaban Hindu-Buddha pada masa klasik Jawa Timur. Situs ini terletak di dataran rendah subur dekat aliran Sungai Konto, yang pada masa lampau menjadi jalur penting pengairan dan perdagangan.

Penelitian arkeologis menunjukkan bahwa Situs Adan-Adan pernah menjadi kawasan suci atau kompleks percandian, tempat kegiatan ritual keagamaan berlangsung. Temuan di lokasi ini menunjukkan gaya arsitektur dan seni pahat yang khas masa Kediri.


Temuan Arkeologis

Beberapa peninggalan penting dari Situs Adan-Adan antara lain:

  • Batu Lingga dan Yoni, simbol kesuburan dan lambang pemujaan terhadap Dewa Siwa.
  • Fragmen arca dan bata kuno, menunjukkan adanya bangunan candi dari bata merah.
  • Sisa pondasi batu dan bata kuno berukuran besar yang tersusun rapi, menandakan struktur bangunan suci.
  • Prasasti batu kecil dengan aksara Jawa Kuna yang belum seluruhnya terbaca, diduga berhubungan dengan dedikasi candi.

Nilai Sejarah dan Budaya

Situs Adan-Adan memiliki nilai historis tinggi karena:

  1. Menunjukkan kesinambungan budaya Hindu-Siwaistik di wilayah Kediri setelah masa Mataram Kuno.
  2. Mencerminkan sistem sosial dan religius masyarakat Jawa Timur kuno yang memuliakan dewa melalui pendirian bangunan suci.
  3. Menjadi bukti perkembangan arsitektur bata merah, yang kemudian banyak digunakan pada masa Majapahit.

Kondisi dan Pelestarian

Kini, sebagian besar struktur situs sudah tidak utuh karena faktor alam dan aktivitas manusia. Namun, sebagian artefak telah diamankan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur untuk penelitian dan konservasi. Upaya pelestarian meliputi pembersihan area, dokumentasi digital, dan sosialisasi kepada warga setempat agar menjaga situs ini sebagai warisan budaya bangsa.


Makna Historis

Situs Adan-Adan merupakan jejak nyata peradaban Kediri yang religius, mandiri, dan berkembang. Dari situs inilah masyarakat dapat menelusuri akar kebudayaan Hindu di Jawa Timur dan memahami hubungan spiritual antara manusia, alam, dan dewa dalam kehidupan masa lalu.


Kategori: Situs Cagar Budaya Hindu
Periode: Abad XI–XIII Masehi
Fungsi: Kompleks suci/percandian Hindu-Siwa
Status: Dilindungi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya


18. Buatlah Risalah tentang :

Situs Candi Semen (Pagu, Kediri), Penemuan pada November 2013, situs ini sempat dihancurkan.

Berikut teks risalah yang siap dijadikan desain visual:


ðŸŠķ RISALAH SITUS CANDI SEMEN – PAGU, KEDIRI
Jejak Keagamaan dan Kehancuran Warisan Majapahit Akhir

📍 Lokasi: Desa Semen, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri
🕰️ Periode: Akhir Masa Majapahit
📅 Penemuan: November 2013

Situs Candi Semen ditemukan pada November 2013 di kawasan Pagu, Kediri, yang dikenal sebagai wilayah penting peninggalan Kerajaan Kadhiri dan Majapahit. Struktur bata merah berukuran besar dan susunan batuan menunjukkan bahwa situs ini dulunya merupakan bagian dari kompleks suci atau pemujaan.

Sayangnya, tidak lama setelah ditemukan, situs ini sempat dihancurkan oleh pihak yang tidak memahami nilai sejarahnya, demi kepentingan pembangunan lokal. Tindakan ini sempat menimbulkan keprihatinan para arkeolog dan pemerhati sejarah, sebab Kediri merupakan kawasan padat situs klasik peninggalan Hindu-Buddha.

Hingga kini, hanya sebagian kecil reruntuhan dan bata asli yang masih tersisa. Pemerintah daerah dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur berupaya melakukan pendataan serta pelindungan terbatas terhadap area tersebut.

🏛️ Makna Sejarah:
Situs Candi Semen mencerminkan persebaran kebudayaan religius di kawasan Pagu yang erat kaitannya dengan aktivitas spiritual Hindu dan Buddhis di masa akhir Majapahit. Penemuan ini memperkuat bukti bahwa kawasan Kediri memiliki jaringan pemujaan dan pendidikan spiritual yang luas sejak abad ke-14 hingga 15 M.



19. Buatkan Risalah tentang :

Prasasti Prapancasarapura dari zaman Majapahit yang bertarikh 1337 M, yang ditemukan di Surabaya.

ðŸŠķ RISALAH PRASEJARAH & SEJARAH JAWA TIMUR

PRASASTI PRAPANCASARAPURA

📍 Lokasi Temuan: Surabaya, Jawa Timur
🕰️ Periode: Zaman Kerajaan Majapahit
📜 Tahun Penulisan: 1337 Masehi (tahun 1259 Śaka)
👑 Masa Pemerintahan: Raja Hayam Wuruk (sebelum masa pemerintahan puncaknya, pada periode Tribhuwanatunggadewi)


1. Deskripsi Umum

Prasasti Prapancasarapura merupakan salah satu peninggalan penting masa Majapahit awal, yang ditemukan di wilayah Surabaya. Prasasti ini terbuat dari batu andesit, berukuran sedang, dan beraksara Jawa Kuno (Aksara Kawi) dengan bahasa Sanskerta dan Jawa Kuna.

Tulisan pada prasasti ini mencatat pemberian status sima (tanah perdikan) oleh pihak kerajaan kepada sebuah wilayah bernama Prapancasarapura, yang diperkirakan berada di kawasan sekitar Surabaya modern.


2. Isi dan Makna Historis

Isi utama prasasti menyebutkan:

  • Penetapan desa Prapancasarapura sebagai tanah sima (tanah bebas pajak) karena jasa-jasa penduduknya dalam menjaga ketertiban dan ketahanan wilayah di sekitar aliran sungai besar (kemungkinan Brantas atau Kali Mas).
  • Disebutkan pula adanya pembangunan tempat suci atau pertapaan bagi para pendeta Siwa-Budha, mencerminkan sinkretisme agama Majapahit pada masa itu.
  • Prasasti ini juga memuat nama pejabat kerajaan dan stempel kerajaan Majapahit, yang menandakan administrasi pemerintahan sudah sangat rapi di wilayah pesisir utara Jawa Timur.

3. Konteks Waktu dan Politik

Tahun 1337 M merupakan masa ketika Majapahit tengah memperluas pengaruhnya di Jawa bagian timur dan pantai utara. Pada masa ini, Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani memerintah Majapahit, dibantu oleh Mahapatih Gajah Mada, yang mulai menyatukan wilayah Nusantara melalui Sumpah Palapa (1336 M).

Prasasti ini memperlihatkan bahwa Surabaya telah menjadi daerah penting strategis, baik secara ekonomi (pelabuhan sungai) maupun politik, bahkan sebelum masa kejayaan Hayam Wuruk.


4. Nilai Arkeologis dan Kebudayaan

Prasasti Prapancasarapura menunjukkan:

  • Bukti awal terbentuknya permukiman besar di Surabaya pada masa Majapahit.
  • Adanya integrasi sistem pemerintahan pusat dengan daerah pesisir.
  • Penggunaan gelar dan sistem kalender Śaka, yang menjadi ciri khas administrasi Majapahit.
  • Cerminan kerukunan Siwa-Budha sebagai dasar spiritual kerajaan.

5. Kondisi dan Pelestarian

Prasasti ini kini disimpan  di Museum Nasional Indonesia di Jakarta, dengan nomor inventaris D.38. 

  • Lokasi penyimpanan: Museum Nasional Indonesia, Jakarta.
  • Nomor inventaris: D.38.
  • Asal: Prasasti ini ditemukan di Surabaya, Jawa Timur. 

Permukaan prasasti sebagian telah aus, namun tulisan utama masih dapat dibaca oleh ahli epigrafi.

Upaya pelestarian meliputi:

  • Dokumentasi digital dan transliterasi huruf Kawi.
  • Pengkajian ulang lokasi Prapancasarapura sebagai cikal bakal Surabaya Majapahit.

6. Makna bagi Surabaya Masa Kini

Prasasti ini menjadi bukti tertua yang menyebut wilayah Surabaya dalam konteks Majapahit, menegaskan bahwa kota ini sudah memiliki peran administratif dan spiritual penting sejak abad ke-14.
Nama “Prapancasarapura” secara etimologis berarti “kota kelima dari pusat kekuasaan” — mengindikasikan bahwa Surabaya adalah salah satu kota penyangga utama Majapahit di jalur pelabuhan utara.


📖 SIMPUL SEJARAH:

Prasasti Prapancasarapura (1337 M) adalah saksi sejarah lahirnya Surabaya sebagai kota Majapahit. Melalui prasasti ini, tampak jelas kebijakan pemerintahan Majapahit yang teratur, toleransi agama yang tinggi, dan tumbuhnya pusat kehidupan di pesisir utara Jawa Timur yang kelak menjadi Surabaya.

Catatan :

Sebagai perbandingan, Prasasti Kudadu justru ditemukan di Desa Krembangan, tetapi lokasinya berada di Kecamatan Taman, Kabupaten Sidoarjo, bukan di Krembangan Surabaya. 


Prasasti Prapancasarapura menggunakan bahasa Jawa Kuno dan isinya menyebutkan tiga tokoh penting Majapahit: Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Adityawarman. Prasasti ini dibuat pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi pada tahun 1337 M. 

  • Bahasa: Prasasti Prapancasarapura ditulis dalam bahasa Jawa Kuno.
  • Isi:
    • Menyebutkan tiga tokoh penting dari Kerajaan Majapahit: Hayam Wuruk, Gajah Mada, dan Adityawarman.
    • Dibuat pada tahun 1337 Masehi, pada masa pemerintahan Ratu Tribhuwana Tunggadewi.
    • Sebagian isi, terutama bagian penanggalan, hilang karena bagian atas prasasti rusak atau dipangkas.
Prasasti Prapancasarapura dibaca oleh para ahli epigrafi atau ahli tulisan kuno, salah satunya adalah Trigangga dari Museum Nasional. Beliau adalah orang yang berhasil membaca isi prasasti tersebut dan mencatat nama-nama tokoh yang tertera, seperti Pu Gajah Mada sebagai Rake Mapatih ring Majapahit. 
  • Siapa pembacanya: Trigangga, seorang ahli epigrafi dari Museum Nasional.
  • Apa yang ia baca: Ia membaca isi prasasti yang mencantumkan nama-nama pejabat tinggi Majapahit.
  • Contoh tokoh yang disebut: Prasasti ini menyebutkan nama Pu Gajah Mada yang menjabat sebagai Rake Mapatih ring Majapahit. 
Prasasti Prapancasarapura pertama kali diteliti oleh arkeolog Belanda N.J. Krom sekitar tahun 1900-an. 
Proses alih aksara (transkripsi) prasasti ini juga pernah dilakukan oleh filolog Belanda lainnya, J.L.A. Brandes, meskipun hasilnya belum secara lengkap karena kondisi prasasti yang ditemukan dalam keadaan tidak utuh (bagian atasnya hilang). 

Prasasti Prapancasarapura

Prasasti Prapancasarapura adalah sebuah prasasti dari zaman Majapahit yang bertarikh 1337 M, yang ditemukan di Surabaya.[1][2] Pembuatan prasasti ini bertepatan dengan masa pemerintahan ratu Tribhuwanottunggadewi (1328-1350 M).[2][3] Prasasti ini ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa Kuno.[2]

Bagian atas prasasti ini hilang, sehingga sebagian besar tulisan yang biasanya memuat unsur penanggalan tidak ada.[1] Prasasti ini kemungkinan telah dipangkas dan akan dijadikan potongan balok-balok batu yang lebih kecil, karena bentuk patahannya yang merata.[1] Prasasti ini pertama kali diteliti oleh arkeolog N.J. Krom sekitar tahun 1900-an.[2] Alihaksara prasasti ini pernah dilakukan oleh filolog J.L.A Brandes, meskipun belum secara lengkap.[4]

Prasasti ini kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia, dengan nomor inventaris D.38.[1][2]

Isi

Prasasti ini adalah sumber primer arkeologi salah satu dari beberapa prasasti yang menyebutkan nama kerajaan Majapahit (dalam prasasti ditulis Majhapait); sedangkan sumber-sumber sekunder sastra babad yang menyebutkannya antara lain adalah Pararaton dan Babad Tanah Jawi.[2] Kakawin Nagarakretagama menyebut kerajaan itu dengan nama krama desanya, yaitu Wilwatikta (wilwa = buah maja, tikta = pahit).[2]

Prasasti ini juga menyebut tentang tiga tokoh penting Majapahit, yaitu Hayam Wuruk (dalam prasasti ini ditulis Ayam Wuruk), Gajah Mada, dan Adityawarman.[1] Hayam Wuruk disebutkan bergelar Rajasanagara; ia telah dinobatkan sebagai raja muda (kumararaja) dengan daerah kekuasaan (lungguh) di Jiwana (Kahuripan).[1][3] Gajah Mada (ditulis Pu Gajah Mada) ketika itu sudah menjadi patih Majapahit (rake mapatih ring Majhapait), serta Adityawarman (ditulis Aryyadewaraja Pu Aditya) menjadi menteri senior (wreddhamantri).[2





20. Buatkan Risalah tentang :

Sumur Jobong era Majapahit yang ditemukan di Surabaya.


ðŸŠķ RISALAH ARKEOLOGI MAJAPAHIT – SURABAYA

SUMUR JOBONG ERA MAJAPAHIT

📍 Lokasi Temuan: Surabaya, Jawa Timur
🕰️ Periode: Zaman Kerajaan Majapahit (abad XIV–XV M)
🏚 Jenis Artefak: Struktur Sumur Bata Merah (Jobong)


1. Deskripsi Umum

Sumur Jobong merupakan peninggalan arkeologis khas era Majapahit, yang ditemukan di berbagai tempat di Jawa Timur, termasuk kawasan Surabaya bagian timur dan utara.
Ciri khas sumur ini adalah bentuknya yang bulat vertikal, tersusun dari bata merah berukuran besar yang disusun rapat melingkar ke dalam tanah dengan teknik pengunci jobong — yaitu sistem sambungan antar bata yang miring menahan tekanan tanah.

Sumur ini digunakan sebagai sarana pengambilan air bersih, tetapi juga memiliki fungsi ritual dan simbolik pada masa Majapahit.


2. Ciri Khas Arsitektur

  • Bahan: Bata merah Majapahit, dibakar sempurna dan keras.
  • Diameter: ±1–1,2 meter, kedalaman 5–12 meter.
  • Pola susunan: Bata disusun miring ke dalam (sistem jobong) untuk menahan dinding agar tidak ambruk.
  • Letak: Biasanya berada di halaman rumah bangsawan, tempat suci, atau kompleks pemerintahan.

Bentuk dan tekniknya menunjukkan kemajuan teknologi bangunan hidrolik pada masa Majapahit yang memanfaatkan tanah liat dan bata tanpa semen.


3. Penemuan di Surabaya

Beberapa sumur jobong ditemukan di kawasan:

  • Ketabang dan Bubutan, sisa permukiman kuno pesisir Majapahit.
  • Krembangan dan Peneleh, dekat aliran Kali Mas, yang dahulu menjadi bagian dari jalur pelayaran Majapahit.
  • Tambaksari, yang kini banyak ditemukan pecahan keramik dan struktur bata kuno sejenis.

Sumur-sumur ini menjadi bukti bahwa Surabaya merupakan daerah pemukiman padat sejak masa Majapahit, dengan sistem sanitasi dan sumber air yang maju.


4. Fungsi dan Makna Budaya

Selain untuk kebutuhan air, sumur jobong memiliki fungsi simbolik:

  • Sebagai lambang kesucian dan kehidupan (unsur air dalam kosmologi Hindu-Buddha).
  • Sebagai tempat pembersihan diri sebelum memasuki candi atau tempat suci.
  • Sebagai pusat orientasi halaman rumah tradisional Majapahit.

Air dari sumur dianggap air hidup (tirta amerta) yang disakralkan, terutama bila berada di kompleks bangunan suci atau petirtaan.


5. Nilai Arkeologis

Sumur jobong di Surabaya memperlihatkan:

  • Persebaran teknologi arsitektur bata Majapahit hingga kawasan pesisir.
  • Hubungan antara pusat kekuasaan Majapahit di Trowulan dengan pelabuhan Surabaya.
  • Bukti sistem tata kota dan kebersihan lingkungan yang sudah maju.

6. Kondisi dan Pelestarian

Sebagian sumur jobong kini telah tertimbun atau rusak akibat pembangunan modern. Namun, beberapa telah:

  • Didokumentasikan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.
  • Dipindahkan ke museum dan situs terbuka di Surabaya sebagai bahan edukasi sejarah lokal.

7. Makna bagi Surabaya Masa Kini

Keberadaan sumur jobong menjadi penanda identitas arkeologis Surabaya sebagai kota warisan Majapahit.
Sumur-sumur ini bukan sekadar lubang air, melainkan peninggalan sistem peradaban yang menata kehidupan manusia, air, dan kesucian secara harmonis.


📖 SIMPUL SEJARAH:

“Sumur Jobong adalah saksi bisu peradaban air Majapahit di Surabaya. Dari bata merah yang tersusun rapi, tersimpan kisah tentang kearifan teknik, kesucian air, dan kehidupan masyarakat yang menata ruang dengan keselarasan alam.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjanjian Lawas

 Buatlah Risalah dan Infografis tentang Perjanjian Kerajaan di  Indonesia yaitu : Perjanjian Giyanti. Ditandatangani pada 13 Februari 1755, ...