Sabtu, 05 Agustus 2023

IKIP PGRI 1984

 [29/6 20.38] rudysugengp@gmail.com: PSPB


Jurusan Sejarah IKIP PGRI Surabaya, di bawah naungan FPIPS (Sekarang STKIP Adhi Buana) merupakan awal berdirinya jurusan Sejarah. Fakultas yang paling lama adalah FIP dengan jurusan KTP, BP, PKn, dan Bahasa Indonesia sekitar tahun 1974 yang mengeluarkan ijazah Sarjana Muda (BA) setara dengan D3. 

Kampus berasal di Trunojoyo (SDN Dokter Sutomo V), kemudian berpindah ke Bintang Diponggo.

Saat ada jurusan Sejarah yaitu tahun 1984  kampus bergeser secara pelan-pelan ke Ngagel Dadi (dekat dengan Sumur Minyak).


Kehadiran Jurusan Sejarah ini untuk menjawab tantangan bahwa Sejarah meski ada dianggap kurang penting.

Mendikbud Prof. Dr. Nugroho Notosusanto memutuskan untuk membuka pelajaran baru yaitu PSPB.


Waktu itu, aku tidak ingin kuliah mengingat sudah menjadi guru PNS sejak 1982. Khawatir tidak dapat ijin dari Sekolah. Ternyata kuliahnya sore hari pukul 16.00.

Hingga akhirnya aku kuliah karena hobby. (Jadi tidak bermaksud mencari gelar).


Mulai dari tes yang jumlah soalnya 10  harus di jawab secara uraian dalam waktu 2 jam di bangku SDN yang tengahnya masih ada lobang tempat tinta.


Mulailah Kuliah di bulan Agustus 1984 yang sebelumnya didahului OSPEK Mahasiswa di Kampus Ngagel Dadi.

[29/6 20.51] rudysugengp@gmail.com: *UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA JAWA TIMUR*


Alamat Kampus I: 

Jl. Ngagel Dadi III-B/37, Surabaya, 60245 

Telepon: (031) 5041097, 5041190 

Faks: (031) 5042804 

Kampus II: 

Jl. Dukuh Menanggal XII, Surabaya 60234 

Telepon: (031) 8281181, 8281183 

E-mail: admin@unipasby.ac.id 


Pada tahun 1971, didirikan perguruan tinggi yang diberi nama Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sarmidi Mangunsarkoro disingkat IKIP Sarmidi Mangunsarkoro berkedudukan di Surabaya. Pada waktu diresmikan, IKIP Sarmidi Mangunsarkoro memiliki Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dengan jurusan Pendidikan Umum. 


Pada tahun 1974, diubah namanya menjadi IKIP-PGRI Sarmidi Mangunsarkoro Surabaya. 


Kemudian pada tahun 1976, IKIP PGRI Sarmidi Mangunsarkoro berada di bawah pembinaan Pengurus Daerah VIII PGRI Jawa Timur dan namanya diubah menjadi IKIP PGRI Jawa Timur dengan beberapa cabang yang tersebar di kota atau kabupaten di provinsi Jawa Timur dengan kantor pusat di Surabaya. IKIP PGRI di Surabaya bernama IKIP PGRI Jawa Timur Koordinator Surabaya. 


Selanjutnya pada tahun 1985 IKIP PGRI Jawa Timur di Surabaya diubah manjadi IKIP PGRI Surabaya berdasarkan SK. MENDIKBUD RI No. 070/1985, tertanggal 18 Februari 1985 dan berada di bawah naungan Yayasan Pembina Lembaga Pendidikan Perguruan Tinggi IKIP PGRI Surabaya (YPLP-PT IKIP PGRI Surabaya). 


Akhirnya pada tahun 1998-sekarang IKIP PGRI Surabaya memperoleh perluasan mandat untuk dapat menyelenggarakan program kependidikan maupun non-kependidikan. IKIP PGRI Surabaya berubah menjadi Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (Unipa Surabaya) setelah merger dengan Sekolah Tinggi Teknik Adi Buana Surabaya (STT Adi Buana Surabaya) yang dikuatkan dengan SK MENDIKBUD RI No. 47/D/O/1998 tertanggal 23 Juni 1998.

[30/6 02.24] rudysugengp@gmail.com: SAAT OSPEK


Berpakaian atas putih bawah gelap. Untuk yang perempuan pakai pita rafia warna warni. Pria pakai sabuk rafia warna warni.

Diberi buku untuk mencari nama dosen, teman, + ttd.


Hari ke lima yaitu Jumat mengumpulkan karya tulis atau makalah.


Aku memperoleh kalungan dari rafia yang diberi gandulan dari ketela pohon.


Meski kadang dibentak-bentak oleh Senior, terutama bila ada yang terlambat rasanya biasa saja termasuk yang bergurau saat Upacara di lapangan.


Semua diperlakukan sebagai Mahasiswa baru, walaupun ada diantara yang sudah berkeluarga, punya anak, atau sudah bekerja. 


Prof. Dr. Hudan Dardiri selaku rektor dan beberapa PR seperti Ali Basyar (memiliki anak yang menjadi penyanyi dengan lagu andalan, "Jadikan Aku Yang Kedua. Buatlah diriku bahagia...." yaitu Astrid Sartiasari).

[30/6 15.12] rudysugengp@gmail.com: *Prasasti Cunggrang*


    Prasasti Cunggrang (juga ditulis Cungrang atau Cungkrang) merupakan prasasti peninggalan Kerajaan Medang yang berlokasi di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, di lereng timur laut Gunung Penanggungan (Pawitra). Menurut catatan penanggalan yang tertulis di situ, prasasti ini dibuat pada masa Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang periode Jawa Timur.


Siapa yang masih ingat perjalanan Wisata Sejarah tahun 1985 oleh HMJ Sejarah yang diketuai oleh Mulyono ?


Perjalanan ini dengan beaya Mandiri untuk Bus, sedang untuk Dosen Pembimbing dibantu oleh Kampus.

Ada Bendahara, Sekretaris, Sie Transportasi, Konsumsi, dll.

Selain satu bus, juga dibantu oleh mobil Kampus berlogo IKIP PGRI Surabaya sebagai sarana promosi di luar kampus dengan driver pak Sudarso.


Untuk menentukan nilai nominal bagi peserta yang akan ikut, cukup alot.


Setelah disepakati maka sebagian peserta yaitu Mahasiswa Sejarah 1984 ikut.

Sekitar 50 an peserta.


Selain itu acara berlanjut ke Candi Jago di Tumpang Malang. Pulang ke Candi Singasari dan 2 Dwarapala. Acara berlanjut ke Pasar Lawang untuk belanja-belanja.


Kegiatan ini memicu rasa iri atau pingin dari Jurusan lain yang sudah ada dan lebih tua dari HMJ SEJARAH IKIP PGRI 1984.

[3/7 15.16] rudysugengp@gmail.com: PPL


Apakah PPL dan PKL itu sama?

PPL pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan PKL. Bedanya adalah jika PKL dilakukan di perusahaan atau lembaga pemerintah, maka PPL dilakukan dalam lembaga pendidikan (Sekolah). Ini menjadi salah satu perbedaan KKL, KKN, KP, PKL, dan PPL.


Istilah popular lainnya selain KKL adalah KKN yang merujuk pada Kuliah Kerja Nyata. Jika KKL menyasar pada pemilik usaha yang prospektif sebagai tempat kerja masa depan bagi mahasiswa, KKN merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa secara interdisipliner.

[3/7 15.56] rudysugengp@gmail.com: *KKL Horor berakhir Happy*


Istilah popular lainnya selain KKL adalah KKN yang merujuk pada Kuliah Kerja Nyata. Jika KKL menyasar pada pemilik usaha atau lembaga pendidikan yang prospektif sebagai tempat kerja masa depan bagi mahasiswa, KKN merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa secara interdisipliner.


Tahun 1987, IKIP PGRI SURABAYA juga meminta Mahasiswa untuk melakukan KKL usai PPL.

Beberapa perwakilan Mahasiswa berbagai jurusan mengajukan proposal ke berbagai sekolah di Wilayah Gresik.


Jurusan Sejarah mendapatkan pilihan satu sekolah Negeri yaitu SMPN Sedayu Gresik dan SMP (Tsanawiyah) Kanjeng Sepuh Sedayu Gresik.


Permohonan Proposal disetujui langsung ketika menemui Kepala Sekolah masing-masing. 


Mulailah pelaksanaan KKL.

Saat pelaksanaan membagi angket ada salah satu jurusan lain di luar sejarah menginginkan membagi angket di kelas terlebih dahulu, padahal jadwal awal oleh Jurusan Sejarah.


Singkat cerita, Ketua Jurusan tersebut melapor pada Dekan FPIPS Drs. KP dan mengadukan bahwa,"Rudy menghalangi pelaksanaan KKL."


Tanpa konfirmasi terlebih dahulu ke Ketua KKL Jurusan Sejarah dan Kajur Ibu Benidictus Budiyanto di saat Pertemuan di Alun-alun Sedayu Gresik yang dihadiri oleh Perangkat Desa dan Kecamatan, pak Dekan memaki-maki dengan bahasa kasar dan kotor di acara tersebut.


Suasana saat itu mencekam bahkan saya yang merasa dimaki-maki merasa tenang dan tidak dapat membela diri.

Bahkan saat akan membela diri, diingatkan oleh Ibu Budi dan Bp. Wiryoto untuk tetap diam dan tidak melawan.


Suasana mencekam pun semakin tegang seperti horor.


Saat sesi tanya jawab, saya malah yang bertanya paling awal mengenai KKL, tanpa menyinggung kemarahan Pimpinan tersebut.


"Apakah boleh mengadakan KKL untuk dua sekolah yang berbeda Negeri dan Tsanawiyah ?", tanyaku.


Semua bernafas dalam menunggu cemas jawaban pak Dekan.


Satu kata, "Boleh !"


Inilah pengalaman pertama dan terakhir dimaki-maki di Alun-alun Sedayu Gresik tanpa dapat membela diri.


Usai perhelatan KKL, saya beranikan diri menghadap pak Dekan yang temperamental dan mudah terima aduan tanpa di cek di Ruang Dekan Kampus Ngagel Dadi.


Satu kata, "Minta maaf !" sembari menyampaikan kronologi kejadian yang sebenarnya.


Hikmahnya, dua bulan kemudian ada utusan dari Kampus untuk datang ke rumah dan memberikan beasiswa Supersemar tanpa prosedur. Katanya, saya direkomendasikan oleh Kampus. Nilai Beasiswa saat itu Rp 25.000,00 per bulan selama satu tahun atau dua semester yaitu semester VII dan VIII.


Apakah temanku ada yang ingat kejadian tersebut ?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

6+8+6+8 Kota Gaib, Desa Hilang

 1. Saranjana (Kalimantan Selatan): Kota gaib paling melegenda, digambarkan sebagai kota modern dengan gedung tinggi namun tidak tercatat di...