Sabtu, 18 April 2026

1-18 Ap Kumpulan Sejarah FB

 











[31/3 23.32] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Istri ke-2 

HAMKA


Ketika Takdir Mengetuk di Usia Senja: Cinta Kedua Buya Hamka


Setelah kepergian sang istri tercinta, Siti Raham, pada awal tahun 1972, kehidupan Buya Hamka memasuki babak sunyi yang panjang. Di usia yang tidak lagi muda, beliau menjalani hari-hari dengan kesibukan dakwah, menulis, dan mengabdi kepada umat, namun kesendirian tetap menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.


Takdir kemudian mempertemukan beliau dengan seorang janda sederhana asal Cirebon bernama Sitti Khadijah. Kisah awal pertemuan mereka terbilang unik, bahkan terasa seperti skenario yang telah digariskan jauh sebelumnya.


Suatu hari, ketika Khadijah berkunjung ke Bandung untuk menemui anaknya yang tinggal bersama mertuanya, mereka menyaksikan siaran khotbah Buya Hamka di layar kaca TVRI. Dalam suasana santai itu, sang ibu besan tiba-tiba melontarkan kalimat yang terdengar sederhana namun sarat makna,

"Bu Khadijah, kalau ingin mencari suami lagi, inilah orangnya."


Khadijah pun tersenyum dan menjawab dengan rendah hati,

"Mana mungkin… beliau ulama besar."


Namun siapa sangka, ucapan yang semula terdengar seperti gurauan itu justru menjadi awal dari sebuah perjalanan yang tak terduga. Beberapa waktu kemudian, sang besan benar-benar mengajak Khadijah ke Jakarta dan langsung menuju kediaman Buya Hamka di kawasan Kebayoran Baru. Niat mereka sederhana namun berani: menyampaikan maksud untuk meminang sang ulama.


Saat itu, Buya Hamka sedang tidak berada di rumah. Khadijah pun meninggalkan sepucuk surat berisi maksud kedatangannya—sebuah langkah yang bagi banyak orang terasa tak biasa, namun menunjukkan keteguhan hati dan keberanian seorang perempuan yang ingin menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab.


Ketika surat itu sampai di tangan Buya, beliau sempat menolak secara halus melalui balasan tertulis. Alasannya sederhana namun menyentuh: beliau masih dalam masa duka, dan merasa usia yang semakin senja bukan lagi waktu untuk memulai kehidupan rumah tangga baru.


Namun Khadijah tidak menyerah. Dengan penuh kesantunan, ia kembali memohon izin untuk bertemu langsung, bukan untuk mendesak, melainkan sekadar bersilaturahmi dan menyampaikan niat tulusnya. Dalam pertemuan itulah, Buya Hamka mendengar sendiri keteguhan hati Khadijah—niatnya bukan sekadar mencari pasangan, tetapi ingin mengabdikan diri, merawat, dan mendampingi sang ulama di masa tuanya.


Ketulusan itu akhirnya meluluhkan hati Buya Hamka. Setelah melalui pertimbangan yang matang, beliau pun bersedia menikahi Khadijah yang saat itu telah berusia 50 tahun. Pernikahan mereka kemudian berlangsung pada 19 Agustus 1973—sebuah kisah yang bukan hanya tentang pertemuan dua insan, tetapi juga tentang kesabaran, keberanian, dan takdir yang bekerja dengan cara yang sering kali tak terduga.


Kisah ini mengajarkan bahwa jodoh tidak selalu datang di awal kehidupan, dan tidak selalu melalui jalan yang biasa. Kadang, ia hadir setelah kehilangan, setelah kesabaran, dan setelah keyakinan yang tidak goyah. Sebab dalam perjalanan hidup, Allah selalu menyiapkan pendamping bagi mereka yang tetap percaya pada takdir-Nya. ✨

[1/4 12.57] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Pahlawan OTISTA


PAHLAWAN DI UANG 20 RIBU INI HILANG TANPA JEJAK, KISAHNYA MASIH JADI MISTERI


Nama Raden Otto Iskandar di Nata mungkin sudah akrab di telinga banyak orang, terutama karena wajahnya terpampang di uang kertas Rp20.000. Namun, di balik penghormatan itu, tersimpan kisah tragis yang hingga kini belum sepenuhnya terungkap.


Lahir pada 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Otto berasal dari keluarga bangsawan Sunda. Ia menempuh pendidikan tinggi di masa Hindia Belanda dan memulai karier sebagai seorang pendidik. Namun, perjalanannya tidak berhenti di dunia pendidikan—ia justru menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan nasional.


Otto aktif dalam organisasi seperti Budi Utomo dan Paguyuban Pasundan, serta duduk sebagai anggota Volksraad. Di forum tersebut, ia dikenal vokal menyuarakan kepentingan rakyat pribumi di tengah tekanan kolonial.


Perannya semakin krusial menjelang kemerdekaan Indonesia. Otto terlibat dalam BPUPKI dan PPKI, dua lembaga penting dalam proses lahirnya negara. Ia juga termasuk tokoh yang mengusulkan pengangkatan Soekarno dan Mohammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.


Setelah proklamasi, Otto dipercaya menjadi Menteri Negara. Ia juga berperan dalam mengoordinasikan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR), yang kemudian berkembang menjadi Tentara Nasional Indonesia (TNI).


Namun, perjalanan hidupnya berakhir secara tragis.


Pada Desember 1945, di tengah situasi politik dan keamanan yang belum stabil, Otto dilaporkan diculik oleh sekelompok orang bersenjata. Peristiwa itu terjadi di wilayah Banten, dan sejak saat itu ia tidak pernah kembali.


Berbagai kesaksian tidak langsung menyebutkan bahwa ia diduga dibunuh dan jasadnya dibuang ke laut di sekitar Pantai Mauk. Namun hingga kini, tidak ada bukti pasti yang bisa memastikan bagaimana sebenarnya akhir hidupnya.


Pemerintah kemudian menetapkan tanggal wafatnya pada 20 Desember 1945. Karena jasadnya tidak pernah ditemukan, dilakukan pemakaman simbolis pada tahun 1952 di Lembang, dengan peti berisi pasir dan air laut sebagai simbol kepergiannya.


Upaya hukum sempat dilakukan. Satu orang pernah diadili, namun proses tersebut gagal mengungkap siapa dalang utama di balik penculikan dan dugaan pembunuhan tersebut. Motifnya pun tetap menjadi tanda tanya besar dalam sejarah Indonesia.


Meski diselimuti misteri, jasa Otto Iskandar di Nata tidak pernah dilupakan. Pada 6 November 1973, ia resmi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia. Namanya kini diabadikan sebagai nama jalan, stadion, dan berbagai fasilitas publik, serta dikenang melalui uang kertas yang setiap hari berpindah tangan di seluruh negeri.


Kisahnya bukan sekadar tentang perjuangan melawan penjajahan, tetapi juga tentang bab gelap sejarah yang belum tuntas. Seorang tokoh besar bangsa yang menghilang tanpa jejak—meninggalkan warisan besar, sekaligus misteri yang belum terpecahkan hingga hari ini.


#PahlawanNasional

#SejarahIndonesia

#OttoIskandarDinata

#FaktaSejarah

#Indonesia

[1/4 13.06] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Ibuknya BK


Kisah hidup ibunda Ir. Soekarno, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah perpaduan antara keberanian menabrak tradisi dan pengabdian seorang ibu yang memiliki intuisi kuat terhadap masa depan anaknya.

Berikut adalah poin-puning penting dalam perjalanan hidup beliau:

1. Pertemuan yang Mendobrak Kasta

Ida Ayu Nyoman Rai lahir di Banjar Bale Agung, Buleleng, Bali, sekitar tahun 1881. Sebagai seorang putri bangsawan Hindu (kasta Brahmana), ia memiliki tugas suci sebagai penunggu pura.

Pertemuannya dengan Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang guru asal Jawa yang beragama Islam, memicu konflik besar. Pada masa itu, hubungan beda kasta dan beda agama adalah hal yang sangat tabu di Bali. Karena cinta mereka tidak direstui, keduanya memutuskan untuk kawin lari (ngrangkat) pada tahun 1897.

2. Hijrah ke Jawa dan Kesulitan Ekonomi

Setelah menikah, beliau mengikuti suaminya pindah ke Jawa. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan. Saat Soekarno (yang waktu itu bernama Kusno) lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901, keluarga ini hidup sangat sederhana.

Bahkan, ada cerita terkenal bahwa saat Soekarno lahir, mereka tidak punya uang untuk memanggil dukun bayi, sehingga Soekemi sendiri yang membantu proses persalinan.

3. "Putra Sang Fajar"

Ida Ayu Nyoman Rai-lah yang memberikan julukan "Putra Sang Fajar" kepada Soekarno. Konon, sesaat setelah Soekarno lahir, beliau memangkunya dan melihat matahari terbit. Beliau berkata kepada Soekarno kecil:

> "Engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin rakyatmu, karena ibu melahirkanmu tepat pada saat fajar menyingsing."

4. Sosok yang Sangat Dihormati Soekarno

Soekarno dikenal sangat berbakti kepada ibunya. Setiap kali akan mengambil keputusan besar atau menghadapi kesulitan politik, Soekarno sering bersimpuh di kaki ibunya untuk memohon doa restu.

Bagi Soekarno, ibunya adalah simbol kekuatan dan akar budayanya yang berasal dari perpaduan Jawa dan Bali. Beliau jugalah yang menanamkan nilai-nilai spiritual dan kepercayaan diri yang tinggi pada diri Soekarno.

5. Akhir Hayat

Ida Ayu Nyoman Rai wafat pada tanggal 12 September 1958 di Jakarta. Beliau dimakamkan di Blitar, berdampingan dengan makam suaminya, dan kemudian menjadi tempat peristirahatan terakhir Soekarno juga.

Fakta Menarik:

 * Nama panggilan kesayangan beliau dari keluarga di Bali adalah "Nyoman Rai" atau "Srimaben".

 * Meski anaknya menjadi Presiden RI pertama, beliau tetap memilih hidup sederhana dan tidak terlalu menonjolkan diri di dunia politik.#sorotan #bali

[1/4 13.24] rudysugengp@gmail.com: Kisah 

RORO MENDUT dan PRANACITRO


RARA MENDUT – PRANACITRA


Oleh M. Basyir Zubair


Di sudut pasar yang riuh, seorang perempuan duduk tenang, seolah dunia tidak pernah benar-benar memedulikannya, padahal justru ia sedang menjadi pusat segala perhatian.


Tangannya cekatan melinting rokok klobot dari daun jagung kering. Lidahnya yang kemerahan perlahan menjilat pinggiran daun itu, merekatkannya dengan air liur yang hangat dari tubuhnya sendiri. Sebuah tindakan sederhana, namun di mata puluhan lelaki yang mengerumuni, itu berubah menjadi sesuatu yang mengguncang nalar.


Rokok itu dinyalakan. Ia mengisapnya dua kali.


Lalu ditawarkan.


Dan mendadak, harga kehilangan arti.


Rokok klobot yang biasanya hanya seharga sepicis, melonjak menjadi sepuluh picis. Bukan karena kualitas tembakaunya. Bukan karena kelangkaannya. Tapi karena satu hal yang tak bisa ditimbang: ia telah menyentuh bibir Rara Mendut.


Hasrat, kuasa, dan ekonomi bertemu dalam satu lintingan kecil.


Namanya Rara Mendut.


Ia bukan sekadar perempuan pasar. Ia adalah bagian dari sejarah yang pahit, sejarah tentang penaklukan, tubuh perempuan, dan kekuasaan yang merampas pilihan.


Dalam tradisi sejarah Jawa abad ke-17, terutama pada masa ekspansi Kesultanan Mataram, praktik membawa perempuan dari wilayah taklukan bukanlah hal yang asing. Wilayah Pati yang dalam beberapa sumber babad disebut pernah ditundukkan oleh Mataram, menjadi salah satu latar penting dari kisah ini.


Perempuan-perempuan yang dibawa dari daerah yang kalah perang sering kali menjadi bagian dari sistem patronase kekuasaan: dipersembahkan, dinikahkan, atau dijadikan simbol kemenangan.


Rara Mendut adalah salah satu bayangan dari kenyataan itu.


Ia cantik. Tubuhnya ramping, kulitnya kuning langsat. Tetapi di balik itu, ia adalah manusia yang direnggut kebebasannya.


Seorang pejabat tinggi Mataram, Tumenggung Wiraguna, menginginkannya.


Bukan sekadar ingin memiliki, tetapi ingin menguasai.


Namun cinta yang lahir dari kekuasaan adalah cinta yang timpang.

Dan Rara Mendut menolak.


Penolakan itu bukan sekadar persoalan hati. Itu adalah tindakan politik, perlawanan seorang perempuan terhadap sistem feodal yang menganggap dirinya sebagai objek.


Wiraguna murka.


Dan seperti banyak kekuasaan dalam sejarah, ia tidak membalas dengan dialog melainkan dengan tekanan.


Rara Mendut dikenai pajak yang sangat tinggi. Pajak yang mustahil dibayar oleh seorang perempuan tanpa kekuasaan. Sebuah jebakan yang jelas arahnya: tunduk… atau hancur.


Namun di titik inilah Rara Mendut menjadi lebih dari sekadar korban.


Ia memilih melawan.


Ia berdagang. Ia menjual rokok klobot.

Tetapi ia tidak menjualnya seperti pedagang lain.


Ia mengubah tubuhnya yang sebelumnya menjadi simbol penindasan menjadi alat kekuatan. Rokok yang telah disentuh bibirnya menjadi mahal. Air liurnya menjadi “nilai tambah”.


Dalam perspektif antropologi, ini adalah bentuk agensi perempuan yang luar biasa: mengubah posisi lemah menjadi sumber daya.


Hari demi hari, ia mengumpulkan uang. Membayar pajak itu.


Ia tidak tunduk.


Lalu datanglah cinta, yang tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun, bahkan oleh kekuasaan.


Seorang pemuda dari daerah Bata Kentheng, bernama Pranacitra, menatapnya.


Dan dunia berubah.


Tubuhnya gemetar. Kata-kata hilang. Langkahnya terhenti.

Cinta tidak pernah rasional dan justru karena itu, ia menjadi kekuatan yang paling sulit dikalahkan.


Sejak saat itu, mereka tidak lagi dua nama.

Rara Mendut selalu disebut bersama Pranacitra.


Mereka berjalan berdampingan, seolah dunia tidak memiliki kuasa atas mereka.


Tetapi sejarah sering kali kejam terhadap cinta.


Kabar itu sampai ke telinga Wiraguna.


Amarahnya kali ini tidak lagi sekadar dendam pribadi, tetapi rasa kehilangan kontrol. Ia memerintahkan penangkapan.


Rara Mendut dan Pranacitra melarikan diri.

Namun dalam dunia feodal, rakyat biasa tidak pernah benar-benar bisa lari dari kekuasaan.


Mereka tertangkap.


Dan vonis dijatuhkan: mati.


Di hadapan kekuasaan, cinta itu diuji sampai batas paling akhir.


Wiraguna sendiri yang mengeksekusi.


Keris menembus dada Pranacitra.

Ia jatuh. Tubuhnya menghantam tanah, dan seketika, dunia kehilangan makna.


Rara Mendut menjerit.


Bukan sekadar tangisan, tetapi ledakan jiwa yang kehilangan segalanya.


Ia mencabut keris itu.

Dan tanpa ragu menusukkannya ke dadanya sendiri.


Ia tidak memilih hidup tanpa cinta.

Ia memilih mati… bersama.


Dalam pelukan terakhir, dua tubuh itu menyatu.

Bukan lagi sebagai manusia yang ditindas, tetapi sebagai simbol kesetiaan yang tak bisa dihancurkan.


Hari ini, saya duduk di sebuah cungkup kecil di wilayah Berbah, di tempat yang oleh masyarakat disebut sebagai makam Rara Mendut dan Pranacitra.


Di bawah pohon kering, dengan rumput yang rebah seperti kehilangan daya hidup, tempat itu terasa sunyi, namun penuh gema masa lalu.


Tetapi sebagai seorang yang melihat dari perspektif sejarah dan arkeologi, kita harus jujur:


Tidak ada bukti arkeologis yang pasti yang dapat mengonfirmasi bahwa makam itu benar milik Rara Mendut dan Pranacitra. Tidak ditemukan prasasti, artefak bertanggal, atau sumber primer sezaman abad ke-17 yang menyebut mereka secara faktual.


Kisah ini hidup dalam tradisi babad, seperti Babad Tanah Jawi, dan cerita rakyat yang berkembang dari generasi ke generasi, yang memang mencampurkan sejarah, simbol, dan imajinasi kolektif.


Namun justru di situlah kekuatannya.


Legenda ini adalah artefak budaya non-material, yang merekam realitas sosial:

tentang penaklukan,

tentang tubuh perempuan dalam politik kekuasaan,

tentang pajak sebagai alat penindasan,

dan tentang cinta yang berani melawan struktur.


Rara Mendut mungkin tidak tercatat dalam prasasti batu.

Pranacitra mungkin tidak pernah tertulis dalam dokumen kerajaan.


Namun mereka hidup, di ingatan, di cerita, di emosi yang terus diwariskan.


Dan mungkin…

sejarah tidak selalu harus ditemukan dalam tanah.


Kadang, ia hidup dalam luka yang terus diceritakan.


Dalam cinta yang tidak pernah selesai.


Dalam bisikan angin di Berbah yang seolah berkata:


kekuasaan bisa membunuh tubuh,

tetapi tidak pernah mampu mengalahkan kesetiaan.


Berbah, 01 04 2026

[1/4 13.40] rudysugengp@gmail.com: Pahlawan 

R. Soeprapto 


R. Suprapto yang lahir di Purwokerto, 20 Juni 1920. Awal kirier militernya saat beliau masuk Akademi militer kerajaan KMA di Bandung tapi terhenti akibat masuknya Jepang tahun 1942. Masa revolusi kemerdekaan biliau ikut bertempur di Ambarawa dan kemudian menjadi ajudan Panglima besar Jendral Sudirman. 


Di tahun 60'an beliau menduduki jabatan sebagai Deputi II Menteri Panglima Angkatan Darat di Jakarta. Saat itulah belaiu jendral AD yang paling keras menentang pembentukan angkatan ke 5 yang digagas oleh PK1. Kemudian beliau dituduh menjadi bagian dari anggota Dewan Jendral yang akan melakukan kudet4 pada 5 Oktober 1965. 


Akibatnya beliau menjadi salah satu target pencul1kan. Tanggal 30 September siang beliau sempat pergi ke dokter gigi untuk mencabut giginya yang sakit. Karena itulah malamnya bilau sulit untuk tidur karena giginya masih ngilu. Beliau membuat gambar tentang sebuah bangunan RS tentara di Jogja yang dikomentari oleh istrinya sebagi mirip kuburan. Pada tanggal 1 Oktober 1965, sekitar pukul 4  Subuh, pasukan pencul1k sampai di rumah Mayjen R. Suprapto. 


Pasukan ini terdiri dari 19 personil di bawah pimpinan Serka Sulaiman dan Serda Sukiman. Saat itu di rumah Mayjen Suprapto tidak ada penjagaan. Sehingga dengan mudah mereka menerobos masuk, Mereka berdalih bahwa Jendral Suprapto dipanggil presiden, dan dibawah tod0ngan senjata beliau dinaikan ke atas truk dan dibawa ke Lubang buaya dalam keadaan mata tertutup. 

Beliau merupakan salah seorang yang di bawa hidup-hidup dari rumahnya. Dan di lubang buaya itu kemudian beliau mengalami peng4niayaan berat sebelum dibunvh dan dan jenaz4hnya dimasukan ke Sumur tua bersama 6 korban lainya. J4sadnya baru ditemukan pada 3 Oktober 1965 dan besoknya baru berhasil di evakuasi. 

Setelah gugur dalam peristiwa G30S, R. Suprapto meninggalkan istrinya, Julie Suparti, dan lima anak, yaitu Ratna Purwati, Sri Lestari, Pudjadi Setiadharma, Asung Pambudi, dan Arif Prihadi Ajidharma. 


Sumber : Tribunnews.

[1/4 21.09] rudysugengp@gmail.com: Prasasti Lamongan 


**Menemukan Lamongan dalam Prasasti:


Antara Fakta Sejarah dan Politik Ingatan**


Oleh: Priyo Kalacakra 


Di tengah hiruk-pikuk pembangunan daerah dan kompetisi identitas lokal hari ini, satu pertanyaan mendasar jarang diajukan secara serius: sejak kapan sebuah wilayah benar-benar “ada” dalam sejarah?


Banyak wilayah mendasarkan keber"ada"an mereka melalui cerita legenda, tutur, mitos, juga babad lokal yang ditulis jauh sesudah wilayah tersebut tumbuh dan berkembang. Pun demikian dengan Surabaya dan Lamongan secara umum.


Untuk Lamongan, dalam tulisan kali ini jawaban tidak datang dari legenda, melainkan dari lempeng perunggu—dari sebuah prasasti abad ke-13 yang nyaris terlupakan: "prasasti Sångå". Dua lempeng perunggu yang sekarang tersimpan membisu di museum Leiden.


Di dalamnya, terdapat satu baris pendek namun menentukan:


“Ing Lāmoṅan…”¹


Dua kata itu cukup untuk mengguncang cara kita memandang sejarah Lamongan.


---


Lamongan: Bukan Sekadar Nama, tetapi Fakta Administratif


Berbeda dengan cerita tutur yang sering kali cair dan berubah, prasasti adalah dokumen resmi negara pada masanya. Ia mencatat keputusan, hadiah, dan struktur kekuasaan.


Dalam prasasti Sångå, Lamongan muncul bukan sebagai mitos, melainkan sebagai unit administratif yang konkret. Disebutkan adanya pejabat lokal:


“juru samya, kuda rimoṅ…”²


Istilah juru samya mengindikasikan adanya struktur sosial yang terorganisasi—semacam pejabat komunitas atau pengelola wilayah. Ia bahkan menerima hadiah berupa kain (wdihan) dan satuan nilai uang (māṣa), tanda adanya sistem ekonomi dan redistribusi yang berjalan.³


Artinya jelas:

pada abad ke-13, Lamongan sudah menjadi bagian dari sistem birokrasi Jawa Kuna.


---


Janggala: Bayangan Negara yang Masih Hidup


Menariknya, prasasti ini juga menyebut:


“panugraha śrī jaṅgala…”⁴


Nama Janggala sering dianggap sebagai kerajaan yang telah lama lenyap sejak konflik pasca pembagian oleh Airlangga pada abad ke-11. Namun bukti epigrafis menunjukkan hal yang lebih kompleks.


Dalam prasasti Mula-Malurung, Janggala masih muncul sebagai entitas politik di bawah bayang-bayang Singhasari.⁵


Ini memberi kita gambaran penting:

Janggala bukan hilang—ia bertransformasi menjadi wilayah administratif.


Dan jika Lamongan disebut dalam konteks ini, besar kemungkinan wilayah ini termasuk dalam jaringan Janggala tersebut.


---


Dari Harsawijaya ke Raden Wijaya: Sejarah sebagai Alat Legitimasi


Jejak ini tidak berhenti di abad ke-13. Dalam prasasti Balawi (1305), nama Śrī Harsawijaya muncul sebagai tokoh penting yang kemudian dikaitkan dengan Raden Wijaya, pendiri Majapahit.⁶


Raden Wijaya bahkan meneguhkan kembali kebijakan lama yang dibuat leluhurnya.


Di sini kita melihat sesuatu yang lebih dalam dari sekadar sejarah:

➡ masa lalu digunakan untuk membangun legitimasi kekuasaan.


Sejarah tidak hanya diingat—ia dipilih, disusun, dan digunakan.


---


Masalah Kita Hari Ini: Antara Kebanggaan dan Ketergelinciran


Temuan seperti ini sering kali langsung ditarik ke dalam narasi kebanggaan daerah:

“Lamongan sudah ada sejak abad ke-13!”


Pernyataan ini tidak salah—tetapi bisa menyesatkan jika tidak dipahami secara kritis.


Karena:


Nama bisa bertahan, tetapi struktur bisa berubah


Wilayah administratif bukan berarti identitas budaya yang sama


Sejarah bukan garis lurus, melainkan lapisan-lapisan yang saling menimpa


Tanpa kehati-hatian, sejarah mudah berubah menjadi alat klaim, bukan sumber pemahaman.


---


Mengapa Ini Penting?


Di era politik yang semakin pragmatis, kebudayaan sering diposisikan sebagai ornamen—sekadar festival atau seremoni.


Padahal, data seperti prasasti Sångå menunjukkan bahwa:

➡ identitas lokal memiliki akar yang dalam dan kompleks


Bagi Lamongan, ini membuka peluang strategis:


penguatan narasi sejarah berbasis data


pendidikan publik yang lebih kritis


dan bahkan diplomasi budaya di tingkat regional


Namun semua itu hanya mungkin jika sejarah diperlakukan sebagai pengetahuan, bukan sekadar kebanggaan.


---


Penutup: Dari Batu ke Masa Depan


Dari satu baris pendek:


> “Ing Lāmoṅan…”


kita belajar bahwa sejarah tidak selalu berbicara keras.


Ia sering hadir dalam fragmen—dan tugas kitalah untuk menafsirkannya dengan jujur.


Lamongan, dalam hal ini, bukan hanya tempat di peta.

Ia adalah bagian dari jaringan sejarah Jawa yang panjang—

yang baru mulai kita pahami, dan mungkin, baru sekarang mulai kita hargai.


---

Catatan Kaki


1. Griffiths, Arlo & Bastiawan, I Made. The Sanga Inscription (Edition and Study), hlm. 96. 


2. Ibid.


3. Zoetmulder, P.J. Old Javanese-English Dictionary. Den Haag: Martinus Nijhoff, 1982.


4. Griffiths & Bastiawan, op.cit. 


5. Boechari. Prasasti Mula-Malurung dan Masalah Janggala.


6. Damais, Louis-Charles. Études d’Épigraphie Indonésienne; lihat juga Prasasti Balawi (1305 M).

---

[2/4 19.07] rudysugengp@gmail.com: Prasasti, Patung Anusapati, dan Qur'an Aceh





Advertisement


Kultur

Di Balik Tiga Koleksi Indonesia yang Dikembalikan dari Belanda

Belanda serahkan lagi tiga benda bersejarah kepada Indonesia. Arca Siwa, Prasasti Damalung dan sebuah Al-Quran direpatriasi untuk disimpan di Museum Nasional.


Oleh :

Randy Wirayudha

1 Apr 2026


bg-gray.jpg

camera_edited_30.png

Serah terima tiga benda repatriasi dari Directeur-generaal Cultuur en Media Youssef Louakili (kiri) kepada Dubes RI untuk Belanda Laurentius Amrih Jinangkung (X @kbridenhaag)


ENAM bulan pasca-Belanda mengembalikan artefak-artefak koleksi Eugene Dubois, termasuk fosil “Manusia Jawa”, upaya repatriasi terkini kembali menghasilkan pengembalian tiga benda lain. Ada Arca Siwa, Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman, dan sebuah Al-Quran dari abad ke-19.



Menurut laman resmi pemerintah Belanda, Selasa (31/3/2026), dua bendanya berasal dari Wereldmuseum Amsterdam, yakni arca Siwa dan Prasasti Damalung. Sementara yang berupa Al-Quran dari koleksi pemerintah kota Rotterdam yang disimpan di Wereldmuseum Rotterdam.



“Penandatanganan persetujuan penyerahannya dilakukan Duta Besar Indonesia (untuk Belanda, red.) Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Youssef Louakili, dilakukan pada 31 Maret di (kantor) Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan,” bunyi pernyataan tersebut.



Sebelum dikembalikan, ketiga benda itu lebih dulu menjalani provenance research (penelitian asal-usul) yang dilakukan bersama antara tim Commissie Koloniale Collecties dari Belanda dengan para pakar Indonesia dari Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda pimpinan I Gusti Agung Wesaka Puja –yang diteruskan Tim Repatriasi Objek Pemajuan Kebudayaan dan Pengembalian Cagar Budaya yang Berada di Luar Wilayah Republik Indonesia ke dalam Wilayah Republik Indonesia pimpinan Ismunandar– sebagaimana juga dengan 472 benda bersejarah yang direpatriasi pada Juli 2023 dan 288 benda lain yang direpatriasi pada September 2024. Ketiga artefak baru di atas juga akan menempati “rumah” baru di Museum Nasional Indonesia di Jakarta.



Baca juga: Resmi! Belanda Serahkan 472 Benda Bersejarah ke Indonesia


Baca juga: Belanda Kembalikan 288 Benda Warisan Nusantara ke Indonesia



Arca Siwa dari Candi Kidal


Arca Siwa Anusapati (Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)


Arca Siwa Anusapati (Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen)


Menurut dokumen Commissie Koloniale Collecties dengan nomor rekomendasi ID-2025-3, Arca Siwa yang dimaksud sudah jadi usulan pihak Indonesia untuk direpatriasi sejak 20 September 2023. Penelitian terhadapnya lantas dilakukan pakar Wereldmuseum Leiden, Rosalie Hans dan Tom Quist.



Dari penelitian awal, arca setinggi sekitar 123 cm itu terpahat dari material andesit dan diketahui berasal dari abad ke-13. Mulanya, arca merupakan bagian dari Candi Kidal di Malang, Jawa Timur. Disimpulkan, arca Siwa itu berasal dari masa Kerajaan Singhasari karena mengidentikkan Dewa Siwa dengan penguasa Singhasari yang jadi penerus Ken Angrok, yakni Raja Anusapati (bertakhta 1227-1248).



“Candi Kidal bersifat agama Hindu-Siwa, karena di ruangan candi (garbhagrha) dahulunya terdapat arca Siwa Mahadewa yang sekarang disimpan di Royal Tropical Institute di Amsterdam. Arca tersebut kemungkinan adalah arca perwujudan Raja Anusapati, raja kedua Kerajaan Singhasari, karena dalam kitab Nagarakrtagama puluh 41:1, dikatakan ketika (Anusanatha) pulang ke tempat Raja Gunung arca perwujudannya ditempatkan di Kidal,” tulis Edi Sedyawati, Hasan Djafar dkk. dalam Candi Indonesia: Seri Jawa.



Salah satu referensi utama provenance research adalah catatan arkeolog dan orientalis Frederic Martin Schnitger berjudul “De herkomst van het Krtanagara-beeld te Berlijn” yang terdapat dalam Jurnal Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde, tahun 1936. Arca itu, menurutnya, diambil dari Candi Kidal pada 1802 oleh pejabat kolonial Nicolaus Engelhard saat ia pelesiran ke Malang dan mengunjungi candi itu.



Namun, belum dapat dipastikan siapa yang menbawa arca itu ke Belanda. Hanya terdapat catatan bahwa arca itu merupakan donasi dari seorang saudagar Belanda, Isaac Gerard Veening, kepada lembaga Natura Artis Magistra pada 1851. Tak dijelaskan pula dari mana Veening mendapatkannya. Mulai 1921, arcanya diserahkan kepada Kolonaal Instituut Amsterdam dan dijadikan koleksi di Wereldmuseum Amsterdam.



Prasasti Damalung dari Lereng Merbabu


Prasasti Damalung/Ngadoman dari era akhir Majapahit (X @bonnietriyana)


Prasasti Damalung/Ngadoman dari era akhir Majapahit (X @bonnietriyana)


Sempat hilang catatannya begitu lama, Prasasti Damalung alias Prasasti Ngadoman ditemukan kembali pada 7 Agustus 2024 ketika sejarawan dan sekretaris Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, Bonnie Triyana, mengunjungi seguah gudang museum di kota kecil Gravenzande. Sebelumnya, ia mendengar tentang prasasti itu dalam sebuah diskusi di Salatiga pada awal 2023 dan kemudian melacaknya dengan dibantu kurator Museum Volkenkunde Leiden, Pim Westerkamp.



Disebut Prasasti Ngadoman karena benda tersebut ditemukan di Ngadoman (kini wilayah Kabupaten Semarang) oleh Residen Semarang Hendrik Jacob Domis, medio 1824. Sedangkan nama Damalung merujuk pada lokasi Ngadoman di lereng Gunung Merbabu, yang dalam bahasa Jawa Kuno disebut Damalung.



Setelah menemukannya di Lereng Merbabu, Domis memindahkannya ke kediamannya di Salatiga. Ia lalu minta bantuan Demang Salatiga Ngabehi Ronodipuro dan panembahan Sumenep untuk menafsirkan isi prasasti dalam aksara Jawa Kuna itu.



“Saya menemukan benda itu di sisi timur (lereng) Gunung Merbabu, di mana bendanya terdapat aksara tertentu (kuno) dan saya merasa bendanya begitu penting untuk jadi perhatian. Saya bawa ke Salatiga dan Demang Salatiga Ronodipuro memastikan bahwa itu aksara Jawa Kuna,” tulis Domis dalam Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels.



Menurut penelitian yang juga dilakukan Rosalie Hans dalam dokumen rekomendasi bernomor ID-2025-4, prasasti yang berasal dari tahun 1371 Saka (1449/1450 Masehi) itu dipelihara Domis di kediamannya di Salatiga hingga pada 1827 diserahkan kepada Koninklijke Bataviaasch Genootschap (KBG). Gubernur Jenderal Leonard Pierre Joseph Du Bus de Gisignies lalu mengangkutnya ke Belanda. Prasasti itu mulai jadi koleksi Rijks Etnographisch Museum (kini Wereldmuseum Leiden) pada 1904.



Baca juga: Prasasti Damalung yang Hilang Ditemukan di Negeri Seberang


Baca juga: Prasasti Damalung Wajib Dipulangkan, Begini Kata Arkeolog



Al-Quran Rampasan Perang Aceh


Al-Quran yang diyakini milik Teuku Umar atau kerabatnya (Wereldmuseum Rotterdam)


Al-Quran yang diyakini milik Teuku Umar atau kerabatnya (Wereldmuseum Rotterdam)


Dalam keterangan dokumen rekomendasi Commissie Koloniale Collecties bernomor ID-2025-2, Al-Quran dimaksud punya ciri berupa versi cetak buatan perusahaan penerbitan Al-Hasaniyya di Mumbai, India, dengan titimangsa cetak Februari 1879. Bersampul kulit berwarna merah, kondisi Al-Qurannya masih baik.



Tim repatriasi dari Indonesia sudah mengusulkan repatriasi Al-Quran yang diduga milik pemimpin Perang Aceh, Teuku Umar, itu sejak 1 Juli 2022. Adapun penelitian asal-usulnya dilakoni Mirjam Shatanawi dengan bantuan Tom Quist.



Dalam wawancara dengan Historia.ID medio November 2022, sebelumnya ia meneliti empat Al-Quran yang juga diduga milik Teuku Umar. Satu di Wereldmuseum Rotterdam berupa Al-Qur'an cetak. Dua Al-Quran lain di Tropenmuseum Amsterdam, masing-masing berupa Al-Qur'an cetak dan Al-Quran tulis tangan.



“Al-Quran yang keempat ada di Universitas Leiden. Yang (versi) tulis tangan juga ada sedikit kerusakan namun wajar mengingat usianya,” kata Shatanawi kala itu.



Setelah riset lebih mendalam dari Shatanawi dan setelah disetujui tim repatriasi Indonesia dalam pertemuan pada 26 Mei 2025, diputuskan bahwa yang dipulangkan adalah versi cetak yang sebelumnya berada di Wereldmuseum Rotterdam. Sebab, yang disepakati untuk direpatriasi merupakan benda peninggalan yang berkaitan dengan Teuku Umar, baik milik pribadi maupun kerabatnya.



Al-Quran itu dirampas setelah serbuan Belanda terhadap posisi Teuku Umar di Lampisang pada 25 Mei 1896. Bendanya diambil oleh perwira Tentara Kerajaan Hindia Belanda Letnan Dua KNIL Ferdinand Kennick dari kediaman Teuku Umar.



Bertahun-tahun Al-Quran itu jadi koleksi pribadi keluarga Kennick hingga pada 1940 diserahkan ke Kementerian Koloni lalu disimpan di Koloniaal Instituut (kini Wereldmuseum Amsterdam). Bendanya pernah ditebus Landbouwhogeschool (kini Universita Wageningen) pada 1948 dan sempat dipinjamkan ke Stedelijk Gymnasium Schiedam pada 1962. Baru pada 1997, bendanya didonasikan ke Museum voor Land-en Volkenkunde (kini Wereldmuseum Rotterdam).

[2/4 21.51] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Gerilya Sudirman 


Mungkinkah ide gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman 1948-1949 diilhami dari gerilya Pangeran Diponegoro pada 1825 - 1830 ? 

.

Jenderal Soedirman meninggalkan ibukota RI Yogyakarta dr Bintaran Wetan ke Pajangan Bantul lalu ke wilayah lain sepanjang 1000 km meliputi DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur  pada saat agresi militer II Belanda (1948).


Jalur yang ditempuh : Yogyakarta, Bantul, Panggang, Wonosari, Pracimantoro, Wonogiri, Purwantoro, Ponorogo, Sambit, Trenggalek, Bendorejo, Tulungagung, Kediri, Bajulan, Girimarto, Warungbung, Gunungtukul, Trenggalek (lagi), Panggul, Wonokarto dan Sobo (memimpin gerilya selama 3 bulan, 28 hari). 

.

Pangeran Diponegoro meninggalkan Ndalem Tegalrejo di barat kuthanegara Yogya pada Rabu, 20 Juli  1825 setelah Belanda menyerbu ndalem tersebut. Ia menuju ke Dekso, Kulonprogo lalu ke Pajangan (Selarong) dan selanjutanya selama 5 tahun bergerilya ke wilayah di Bagelen dan Kedu.


Jenderal Sudirman tiba kembali di Ibukota RI pada 10 Juli 1949. Ia bertolak dari Sobo, Baturetno, Gajahmungkur, Pulo, Ponjong, Piyungan, Prambanan dan disambut ribuan rakyat di alun2 utara Yogyakarta. 

.

Pangeran Diponegoro bergerilya ke wilayah Negaragung & Mancanegara Mataram Islam, mendirikan banyak pos, jaringan, masjid dan pondok yg mendukung perjuangannya. 


Pada 26/27/28 Maret 1830 Pangeran Diponegoro tertangkap setelah ditipu oleh Belanda di Magelang.


Sudirman telah belajar dari sejarah bagaimana Perang Diponegoro bisa memporak porandakan Belanda dengan taktik gerilya. Dan ia berhasil.


Pangeran Diponegoro walau akhirnya tertangkap telah memberikan pelajaran berharga bagi generasi berikutnya, tentang perjuangan dan berkorban bagi tanah air.


Sumber:@sejarahjogya

[3/4 13.09] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

UFO di Surabaya 1964


Salah satu kejadian yang menarik adalah tentang artileri pertahanan udara (arhanud) TNI yang menembaki benda asing diduga UFO di Jawa Timur pada masa Operasi Dwikora terkait konfrontasi Indonesia-Malaysia.


Peristiwa itu dipaparkan oleh mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jacob Salatun, dalam bukunya "UFO, Salah Satu Masalah dunia Saat Ini" (1982). Menurut uraian Salatun, sewaktu masih berkecamuknya Operasi Dwikora, aparat TNI dilaporkan melihat penampakan benda asing yang terbang melintas di langit Surabaya.


Menurut laporan, penampakan benda asing itu terjadi antara 18 sampai 24 September 1964. 


Benda-benda terbang aneh itu dilaporkan muncul mulai malam hari dan menghilang menjelang fajar.


Surabaya adalah salah satu pangkalan militer dan dilengkapi dengan sistem arhanud. Persenjataan berat itu selalu siaga sepanjang Operasi Dwikora, seperti dikutip dari surat kabar Kompas edisi 11 Oktober 1992. Benda-benda aneh atau UFO itu dilaporkan tampak secara serentak baik di layar radar maupun dengan mata telanjang, sehingga tergolong sebagai fenomena RV (Radar-Visual Sightings).


Karena TNI dalam keadaan siaga, maka mereka menganggap benda-benda asing itu sebagai musuh. Menurut laporan, benda-benda aneh itu beterbangan di Surabaya, Malang, dan Bangkalan-Madura.


Karena dianggap sebagai musuh, maka sistem arhanud TNI menembaki UFO itu. Akan tetapi, tidak ada satupun UFO yang berhasil ditembak jatuh, seperti dikutip dari surat kabar Kompas edisi 11 Oktober 1992. Beberapa saksi menyebutkan benda aneh itu terlihat seperti mengeluarkan cahaya yang mirip dengan lidah api. Selain itu ada juga yang terlihat seperti membawa lampu yang sangat terang. Selain itu, menurut sejumlah saksi, gerakan benda asing atau UFO itu tidak bisa diprediksi. Terkadang bergerak perlahan seperti helikopter, tetapi terkadang mendadak melesat cepat.


Menurut kesaksian seorang penerbang TNI AU, UFO yang dia lihat menyala dan berwarna merah padam. Sementara sebagian saksi lain menyebut berbentuk elips dengan warna kebiru-biruan. UFO itu juga tidak terbang tinggi, hanya sekitar 1.200 meter.


Akan tetapi, ketika ditembaki dengan persenjataan antipesawat, UFO itu bisa dengan cepat menghindar. Pecahan peluru artileri yang ditembakkan ke arah UFO justru jatuh ke wilayah pemukiman dan melukai sejumlah warga. Kejadian itu juga dituliskan dalam laporan staf Komando Pertahanan Udara Nasional berjudul "Penerbangan-penerbangan tidak dikenal di Sektor II (Surabaya)" tertanggal 29 September 1964. Dalam laporan itu disebutkan, benda-benda asing itu disimpulkan sebagai esawat terbang biasa dan pesawat tanpa awak, bahwa kegiatan sasaran adalah kegiatan lawan, dan bahwa tujuannya adalah untuk perang urat saraf (psywar) di samping secara tidak langsung mempengaruhi roda perekonomian.


Peristiwa itu sempat membuat masyarakat resah. Maka dari itu, Pejabat Presiden Dr. J. Leimana menerbitkan imbauan pada 8 Oktober 1964, yang berisi supaya masyarakat tetap tenang dan tidak memperkeruh suasana, serta dilarang untuk membuat desas-desus dan tafsiran.

[3/4 22.16] rudysugengp@gmail.com: Salah satu kejadian yang menarik adalah tentang artileri pertahanan udara (arhanud) TNI yang menembaki benda asing diduga UFO di Jawa Timur pada masa Operasi Dwikora terkait konfrontasi Indonesia-Malaysia.


Peristiwa itu dipaparkan oleh mantan Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Jacob Salatun, dalam bukunya "UFO, Salah Satu Masalah dunia Saat Ini" (1982). Menurut uraian Salatun, sewaktu masih berkecamuknya Operasi Dwikora, aparat TNI dilaporkan melihat penampakan benda asing yang terbang melintas di langit Surabaya.


Menurut laporan, penampakan benda asing itu terjadi antara 18 sampai 24 September 1964. 


Benda-benda terbang aneh itu dilaporkan muncul mulai malam hari dan menghilang menjelang fajar.


Surabaya adalah salah satu pangkalan militer dan dilengkapi dengan sistem arhanud. Persenjataan berat itu selalu siaga sepanjang Operasi Dwikora, seperti dikutip dari surat kabar Kompas edisi 11 Oktober 1992. Benda-benda aneh atau UFO itu dilaporkan tampak secara serentak baik di layar radar maupun dengan mata telanjang, sehingga tergolong sebagai fenomena RV (Radar-Visual Sightings).


Karena TNI dalam keadaan siaga, maka mereka menganggap benda-benda asing itu sebagai musuh. Menurut laporan, benda-benda aneh itu beterbangan di Surabaya, Malang, dan Bangkalan-Madura.


Karena dianggap sebagai musuh, maka sistem arhanud TNI menembaki UFO itu. Akan tetapi, tidak ada satupun UFO yang berhasil ditembak jatuh, seperti dikutip dari surat kabar Kompas edisi 11 Oktober 1992. Beberapa saksi menyebutkan benda aneh itu terlihat seperti mengeluarkan cahaya yang mirip dengan lidah api. Selain itu ada juga yang terlihat seperti membawa lampu yang sangat terang. Selain itu, menurut sejumlah saksi, gerakan benda asing atau UFO itu tidak bisa diprediksi. Terkadang bergerak perlahan seperti helikopter, tetapi terkadang mendadak melesat cepat.


Menurut kesaksian seorang penerbang TNI AU, UFO yang dia lihat menyala dan berwarna merah padam. Sementara sebagian saksi lain menyebut berbentuk elips dengan warna kebiru-biruan. UFO itu juga tidak terbang tinggi, hanya sekitar 1.200 meter.


Akan tetapi, ketika ditembaki dengan persenjataan antipesawat, UFO itu bisa dengan cepat menghindar. Pecahan peluru artileri yang ditembakkan ke arah UFO justru jatuh ke wilayah pemukiman dan melukai sejumlah warga. Kejadian itu juga dituliskan dalam laporan staf Komando Pertahanan Udara Nasional berjudul "Penerbangan-penerbangan tidak dikenal di Sektor II (Surabaya)" tertanggal 29 September 1964. Dalam laporan itu disebutkan, benda-benda asing itu disimpulkan sebagai esawat terbang biasa dan pesawat tanpa awak, bahwa kegiatan sasaran adalah kegiatan lawan, dan bahwa tujuannya adalah untuk perang urat saraf (psywar) di samping secara tidak langsung mempengaruhi roda perekonomian.


Peristiwa itu sempat membuat masyarakat resah. Maka dari itu, Pejabat Presiden Dr. J. Leimana menerbitkan imbauan pada 8 Oktober 1964, yang berisi supaya masyarakat tetap tenang dan tidak memperkeruh suasana, serta dilarang untuk membuat desas-desus dan tafsiran.

[4/4 02.04] rudysugengp@gmail.com: Siti Khadijah 

Sejarah Islam 


Kalau majalah Forbes udah ada di abad ke-6, wajah Khadijah binti Khuwailid pasti bakal bertengger di sampul depannya setiap tahun berturut-turut tanpa ada yang berani geser posisinya. Kita sering denger narasi kalau Khadijah itu "kaya raya", tapi kata "kaya" itu terlalu kerdil buat ngegambarin realitas finansialnya. Mari kita main hitung-hitungan kasar biar otak kita bisa nyerna seberapa mentereng aset wanita ini. Di Mekkah, tolok ukur ekonomi makro itu dinilai dari volume kafilah dagang musim panas ke Syam dan musim dingin ke Yaman. Dalam catatan sejarah yang paling valid, disebutkan bahwa ketika seluruh pedagang Quraysh—yang isinya bapak-bapak elit macam Abu Jahal, Abu Sufyan, dan bos-bos klan lainnya—menggabungkan seluruh modal dan armada mereka jadi satu, total kafilah mereka itu baru setara dengan satu kafilah milik Khadijah sendirian. 


Lo bayangin ini: satu kota Mekkah patungan, dan modal gabungan satu kota itu cuma bisa nyamain modal satu orang janda.

​Coba kita konversi ke angka modern biar lebih ngeri. Satu kafilah dagang Khadijah bisa terdiri dari ribuan unta. Kita ambil angka konservatif aja, seribu unta pengangkut kualitas premium. Di zaman sekarang, satu ekor unta bakrah yang bagus nilainya bisa tembus 50 sampai 100 juta rupiah. Dari armada transportasinya doang, alias "truk logistik"-nya aja, Khadijah udah megang aset puluhan hingga ratusan miliar rupiah. Itu baru kendaraannya, belum muatannya. Di atas punggung unta-unta itu bukan bawa kerikil, tapi komoditas high-end: sutra Yaman, minyak wangi, gaharu, rempah-rempah eksotis, dan kepingan emas perak. Sekali jalan, perputaran uang di kafilah Khadijah itu nilainya triliunan rupiah kalau ditarik ke valuasi modern. Dia bukan miliarder, dia adalah trillionaire lokal yang menguasai setengah dari Produk Domestik Bruto (PDB) sebuah kota pusat perdagangan internasional. Dia punya supply chain sendiri, punya gudang raksasa sendiri, dan rumahnya yang terbuat dari batu kokoh dua lantai itu adalah bursa saham independen tempat harga pasar ditentukan.


​Tapi yang bikin Khadijah luar biasa bukan seberapa banyak harta warisan yang dia dapet dari bapaknya, melainkan gimana cara otaknya ngelipatgandakan harta itu di tengah sistem yang patriarkis abis. Kejeniusan bisnis Khadijah yang pertama adalah kemampuannya membaca peta risiko dan mendelegasikan tugas. Di zaman itu, jalanan padang pasir adalah arena pembantaian; begal ada di mana-mana, badai pasir bisa ngubur manusia hidup-hidup. Khadijah tahu, sebagai wanita, turun langsung ke lapangan adalah risiko fisik yang bodoh. Jadi, apa yang dia lakuin? Dia mempraktikkan sistem Venture Capital dan Angel Investing jauh sebelum Wall Street nemuin istilah itu. Dia pake sistem Mudarabah (bagi hasil). Dia yang nyediain 100% modal (Capital), dan dia nyari manajer-manajer lapangan (CEO/Direktur Operasional) buat jalanin ekspedisinya. Khadijah adalah Human Resource Director paling mematikan di masanya. Dia nggak peduli seberapa besar otot seorang laki-laki atau seberapa panjang silsilah kebangsawanannya; kalau rekam jejaknya abu-abu, dia nggak bakal kasih modal.

​Kejeniusan kedua adalah sistem audit dan Due Diligence-nya yang nggak kenal kompromi.


 Lo inget kenapa dia ngutus Maisarah buat nemenin Muhammad ke Syam? Itu bukan kebetulan dan bukan sekadar ngasih asisten. Maisarah itu mata-mata, seorang auditor internal yang ditugasin langsung sama sang CEO buat nge-baca karakter manajer barunya di bawah tekanan. Khadijah tahu persis bahwa integritas adalah aset yang jauh lebih langka daripada emas. Laki-laki pintar di Mekkah itu banyak, tapi laki-laki pintar yang nggak nyolong pas lagi sendirian ngitung duit di tengah gurun, itu barang gaib. Lewat laporan intelijen Maisarah, Khadijah bisa tahu detail terkecil soal gimana Muhammad negosiasi, gimana dia nolak kompromi akidah demi cuan, dan gimana dia nge-treat bawahan. Ini adalah strategi bisnis tingkat dewa: mempekerjakan karakter, bukan cuma mempekerjakan keahlian. Khadijah paham bahwa Good Ethics is Good Business.


​Branding Khadijah juga sangat jenius. Dia dijuluki At-Tahira (Yang Suci). Di pasar Ukaz yang penuh dengan tukang tipu, lintah darat, dan pedagang yang suka nyampur susu sama air, nama Khadijah adalah sertifikasi ISO 9001 versi abad ke-6. Kalau lo beli barang dari kafilah Khadijah, lo nggak perlu ngecek ulang timbangannya. Reputasi ini bikin Khadijah punya pricing power; dia bisa jual barang dengan harga premium karena pembeli rela bayar lebih mahal untuk sebuah "Trust" (kepercayaan) dan ketenangan pikiran. Orang-orang elit dari kabilah lain sampai ngantri, rela nawarin mahar gila-gilaan buat nikahin dia, karena mereka tahu nikah sama Khadijah berarti dapet akses cheat code ke monopoli ekonomi terbesar di Jazirah Arab. Tapi Khadijah terlalu pintar buat jatuh ke perangkap "Merger dan Akuisisi" berkedok pernikahan itu. Dia menolak mereka semua dengan dingin, menjaga perusahaannya tetap independen di bawah kendali penuh seorang wanita.


​Puncak dari segala kejeniusan bisnis Khadijah justru terlihat di akhir kisahnya, ketika dia menginvestasikan seluruh hartanya untuk sesuatu yang di luar nalar ekonomi manusia biasa. Begitu Muhammad pulang dari Gua Hira membawa risalah kenabian, Khadijah nggak nahan hartanya. Insting Venture Capitalist-nya ngeliat ini bukan sekadar revolusi sosial, tapi "Start-Up" peradaban yang bakal ngubah dunia. Dia melikuidasi semua asetnya. Gudang-gudang sutranya kosong, unta-untanya disumbangkan, emas-emasnya habis untuk membebaskan budak-budak muslim yang disiksa dan untuk mensubsidi umat Islam saat diboikot di Syi'ib Abu Thalib selama tiga tahun. Dari seorang triliuner yang rumahnya wangi gaharu, dia turun kasta secara materi menjadi wanita yang menahan lapar sampai perutnya diganjal batu, tidur di atas pelepah kurma yang kasar, dan meninggal dalam kondisi tidak meninggalkan warisan sepeser pun.

​Bagi investor duniawi, itu adalah kebangkrutan yang paling tragis. Tapi bagi Khadijah, itu adalah Exit Strategy paling brilian dalam sejarah alam semesta. Dia menukar harta fana yang nilainya triliunan itu, memborong habis kavling surga tertinggi di sisi Tuhannya. Dia tidak bangkrut, dia hanya memindahkan seluruh depositonya ke bank akhirat lewat tangan laki-laki yang paling dia cintai. Itulah kehebatan Khadijah; dia tahu cara menghasilkan uang lebih baik dari siapa pun, tapi dia juga tahu persis bahwa uang hanyalah alat untuk membeli keabadian.

[4/4 12.03] rudysugengp@gmail.com: JPU


ada LHKPN, ada pakta integritas, ada UU terkait korupsi, suap, jual beli kasus. namun toh korupsi, suap, jual beli kasus, penyalahgunaan jabatan..trendnya semakin meningkat significant, baik dari sisi jumlah pelaku maupun jumlah nominal uang yang diembat. sementara sanksi pidana, plus kewajiban pengembalian uang negara sangat tidak setara dengan perbuatannya. sanksi hukuman pidana sangat ringan, masih ada remisi, ada bebas bersyarat. celakanya lagi begitu keluar lapas, masyarakat masih menghormati, msh jadi tokoh panutan, hartapun masih banyak, bisa duduk di legislatif, maupun eksekutif. enak kan.


Herannya lagi, banyak pakar hukum, pengamat hukum, bahkan hampir semua universitas punya fakultas hukum. namun begitu sanksi hukuman pidana ringan...mereka pada terkaget kaget. koq bisa????? lucu dan aneh.


klo mau jujur, coba selidiki semua harta APH mulai dari kapolsek, asisten Jaksa muda keatas...sebanding tidak dengan penghasilan plus tunjangan yang diterima? saya yakin 90 % tidak sebanding.


Pakta Integritas itu sebatas formalitas, hanya tanda tangan diatas kertas, hanya untuk menggembirakan masyarakat awam, bahwa Pemerintah sudah melakukan action untuk mengurangi Korupsi. tapi faktanya tidak efektif.


LHKPN juga formalitas, apalagi asset yg diperoleh dari hasil sendiri? bayangkan asset yang miliyaran diperoleh dari hasil sendiri yg notabenenya adalah dari gaji dan tunjangan yg tidak sebanding dengan nilai nilai asset yg dimiliki.


saat ini hasil korupsi, suap jual beli kasus, berupa uang, cenderung disimpan di rumah atau di save house dan tidak dilaporkan ke LHKPN. atau melalui pencucian uang ke beberapa pengusaha, dan ini dilakukan secara cash bukan melalui bank agar tidak terlacak, atau bisa dgn cara masuk ke perusahaan cangkang di luar negeri.


kesimpulannya adalah apapun aturan yg dibuat selama tidak membuat pelaku jera, maka korupsi, suap, jual beli kasus dan sejenisnya tetap akan tumbuh subur.


karena itu KUHPidana harus tegas. Contoh pelaku korupsi 1 M ( sekedar contoh), maka hukuman pidana minimal 10 tahun, hal yg meringankan di persidangan maksimal 2 tahun, tanpa ada remisi, tanpa ada bebas bersyarat, pengembalian uang negera minimal 80% dari nilai uang yang diembat, tidak boleh mencalonkan diri ke legislatif dan eksekutif selama 10 tahun.

dengan mekanisme ini maka APH sulit untuk bermain, dan hukum bisa ditegakkan.

[4/4 12.23] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

PASAR KOTA GEDE DIY


PASAR GEDE SUDAH ADA

SEBELUM KOTA MATARAM ISLAM BERDIRI

Kotagede sebagai Kota Dagang: Tata Kota, Jaringan Ekonomi, dan Komunitas Pengrajin yang Mendahului Mataram Islam


Oleh M. Basyir Zubair


Sebuah pasar tidak tumbuh dalam semalam. Ia tumbuh dari generasi ke generasi, dari kebutuhan yang nyata, dari tangan yang terampil, dari jalur yang sudah terbentuk jauh sebelum ada kekuasaan yang mengklaimnya.


Narasi besar tentang berdirinya Mataram Islam selalu dimulai dari adegan yang sama: hutan Mentaok yang sunyi, ki Ageng Pamanahan yang datang membuka lahan, lalu dalam hitungan dekade lahirlah kota dan kerajaan.


Narasi ini heroik, dramatis dan menyimpan satu kejanggalan besar yang selama ini tidak cukup digugat: tidak ada kota besar yang tumbuh dari nol dalam dua dekade. Tidak ada.

Kerajaan Mataram Islam menjadi kekuatan yang oleh catatan De Houtman (1596) digambarkan sebagai kerajaan terkuat di Jawa, bahkan mengancam Banten, hanya beberapa tahun setelah Pamanahan datang ke Mentaok.


Kekuatan sebesar itu tidak lahir dari hutan. Ia lahir dari fondasi yang sudah lebih dulu ada: pasar yang sudah ramai, komunitas pengrajin yang sudah terorganisir, jalur perdagangan yang sudah aktif, dan tata ruang kota yang sudah terbentuk.

Artikel ini mengajukan satu argumen yang sederhana tapi mendasar: Kotagede adalah kelanjutan, bukan permulaan. Dan Pasar Gede adalah saksi terkuatnya.


I. Kotagede Sebelum Pamanahan: Data yang Terabaikan


Jauh sebelum Ki Ageng Pamanahan datang ke kawasan Mentaok, kawasan ini sudah memiliki identitas. Pararaton  kitab sejarah Jawa yang disusun antara 1481–1600 M, mencatat jabatan Bhre Mataram sebagai jabatan gubernatorial resmi Majapahit. Ada penguasa Majapahit yang berkedudukan di Mataram. Ada struktur pemerintahan. Ada masyarakat yang diaturnya.


Banawa Sekar, kakawin era Majapahit akhir, menyebut 'Natharata ring Mataram' dalam konteks upacara kerajaan. Mataram bukan wilayah pinggiran, ia cukup penting untuk disebut dalam ritual tertinggi kerajaan terbesar Nusantara. Dan ekskavasi Situs Keputren Pleret oleh BRIN pada September 2023 menemukan gerabah berornamen Majapahit abad ke-13, benda bangsawan, bukan benda desa terpencil terkubur di bawah bekas keraton era Islam.


Tradisi lokal menyebut Ki Joyoprono sebagai penguasa kawasan Mentaok sebelum kedatangan Pamanahan. Ia tidak terusir dengan kekerasan. Ia pergi dengan syarat yang dipenuhi,  Ki Ageng Pamanahan harus menggendongnya. Tempat ia akhirnya tinggal kemudian dikenal sebagai Kampung Jayapranan  dan menurut catatan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Jayapranan adalah kampung TERTUA di Kotagede. Lebih tua dari semua kampung yang dibentuk era Mataram Islam.


DATA KUNCI: Bhre Mataram dalam Pararaton · Natharata ring Mataram dalam Banawa Sekar · Gerabah Majapahit abad ke-13 di Pleret (BRIN, 2023) · Kampung Jayapranan sebagai kampung tertua Kotagede (Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta).

Kampung tertua di Kotagede bukan kampung yang dibangun Pamanahan. Ia kampung dari orang yang ada sebelum Pamanahan.


II. Catur Gatra Tunggal: Warisan Majapahit, Bukan Inovasi Senopati

Konsep Catur Gatra Tunggal,  keraton, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai satu kesatuan tata kota  selama ini diatribusikan kepada Panembahan Senopati. Tapi penelusuran historis menunjukkan sebaliknya secara sangat jelas.


Kitab Nagarakretagama yang digubah Mpu Prapanca pada tahun 1365  lebih dari dua abad sebelum Kotagede berdiri, menggambarkan tata kota Majapahit yang sudah memiliki pusat kekuasaan, ruang publik, pusat ritual keagamaan, dan aktivitas ekonomi dalam satu poros. Pola tata kota keraton-alun-alun-pasar dalam poros selatan-utara bukan temuan Mataram Islam. Ia adalah warisan peradaban Jawa yang sudah berusia ratusan tahun sebelum Senopati lahir.


Senopati bukan arsitek konsep ini. Ia pewaris yang cerdas: ia mengambil pola yang sudah diakui dan dipahami oleh masyarakat Jawa, lalu menerapkannya di Kotagede. Hasilnya: kota yang terasa familiar bagi masyarakat yang sudah mengenal pola ini selama generasi, bukan kota asing yang dipaksakan dari luar.


NAGARAKRETAGAMA (1365 M): Pola tata kota pusat kekuasaan, ruang publik,  pusat ritual,  pasar sudah digunakan Majapahit lebih dari 200 tahun sebelum Kotagede berdiri. Catur Gatra Tunggal adalah warisan, bukan inovasi.

Dan ada detail arsitektur yang tidak bisa diabaikan: Masjid Gedhe Kotagede, yang dibangun 1575–1589, menggabungkan lebih dari 100 relief dekoratif bergaya Hindu-Buddha, atap tumpang khas Jawa pra-Islam, dan parit bersuci yang mengingatkan pada tradisi petirtaan Hindu. Masjid itu bukan dibangun di atas kekosongan budaya, ia dibangun oleh orang-orang yang mewarisi tradisi arsitektur dan estetika yang sudah berabad-abad.

Masjid Gedhe Kotagede punya lebih dari 100 relief Hindu-Buddha. Itu bukan kebetulan. Itu warisan dari tangan yang sudah terlatih jauh sebelum Islam datang.


III. Pasar Gede: Lebih Tua dari Kotanya

Nama yang Tak Bisa Dibohongi


Nama adalah fosil bahasa. Dalam tradisi penamaan Jawa, sebuah pasar tidak disebut 'gede' (besar) sejak hari pertama ia dibuka. Julukan 'gede' adalah akumulasi waktu, pengakuan kolektif yang datang dari generasi demi generasi yang mengenal, menggunakan, dan mengandalkan pasar itu. Pasar baru tidak pernah langsung besar.


Pasar Gede Kotagede juga dikenal dengan nama Pasar Legi atau Sarlegi, karena hari pasarannya adalah Legi dalam kalender Jawa. Sistem hari pasaran lima hari  Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, adalah tradisi pasar Jawa yang berakar jauh sebelum Islam masuk ke Jawa. Ia bukan sistem yang diperkenalkan Mataram Islam. Ia adalah warisan tradisi ekonomi Jawa kuno yang terus berlanjut tanpa pernah putus.


Posisi yang Berbicara Sendiri


Pasar Gede terletak di persimpangan empat jalan utama Kotagede. Ini bukan perencanaan kota baru. Persimpangan tidak dibuat untuk pasar, pasar tumbuh di persimpangan yang sudah ada, karena persimpangan adalah titik pertemuan alami bagi manusia dari berbagai arah. Dan jalur-jalur yang membentuk persimpangan itu sudah ada jauh sebelum Pamanahan datang.


Posisi pasar yang tidak pernah berubah  meski kota di sekitarnya sudah berkali-kali direnovasi dan dibangun ulang adalah bukti tersendiri. Sumber-sumber sejarah Kotagede dengan konsisten mencatat bahwa meski bangunan fisik pasar sudah berulang kali dipugar, posisinya tidak bergeser sejak zaman Mataram. Sesuatu yang posisinya tidak pernah berubah selama berabad-abad bukan sesuatu yang baru, ia adalah titik referensi yang sudah terlalu mapan untuk digeser.


POSISI PASAR: Posisi Pasar Gede di persimpangan empat jalan tidak berubah sejak zaman Mataram hingga hari ini. Posisi yang tidak bisa digeser adalah posisi yang sudah ada jauh sebelum ada yang membangunnya secara formal.


Sutawijaya dan Pasar: Satu Cerita Dua Versi


Ada satu episode historis yang perlu dibaca dengan hati-hati: gelar Ngabehi Loring Pasar, Raden dari Utara Pasar  yang disandang Sutawijaya. Berbagai sumber sejarah mencatat bahwa gelar ini diberikan oleh Sultan Hadiwijaya ketika Sutawijaya diangkat sebagai anak angkatnya dan diberi tempat tinggal di sebelah utara pasar. Pasar mana yang dimaksud? Sumber-sumber itu tidak secara eksplisit menyebutnya pasar Kotagede.


Yang menarik: tradisi tutur Kotagede menyebut bahwa ketika Sutawijaya akhirnya menetap di Kotagede bersama ayahnya Ki Ageng Pamanahan, ia pun bertempat tinggal di sebelah utara pasar  yang kelak menjadi Pasar Gede. Jika tradisi ini akurat, maka ada dua kemungkinan yang sama-sama menarik: pertama, gelar Loring Pasar yang ia bawa dari Pajang ternyata cocok juga dengan posisinya di Kotagede, karena di Kotagede pun ia tinggal di utara pasar. Atau kedua, gelar itu justru melekat padanya karena ia memang selalu memilih tinggal di utara pasar, di Pajang maupun di Kotagede.


Kedua kemungkinan itu sama-sama menunjukkan satu hal: pasar sudah ada di Kotagede sebelum Sutawijaya menjadi penguasanya. Tidak ada yang tinggal 'di utara pasar' jika pasarnya belum ada.

Seseorang tidak tinggal 'di utara pasar' jika pasarnya belum ada. Pasar Gede sudah ada sebelum Sutawijaya tiba di Kotagede.


IV. Komunitas Pengrajin: Bukti Ekonomi yang Tak Terbantahkan


Jika ingin membuktikan bahwa sebuah kawasan sudah memiliki kehidupan ekonomi yang mapan sebelum ada kerajaan yang mengklaimnya, lihatlah nama-nama kampungnya. Nama kampung adalah rekaman sosial yang paling jujur, ia terbentuk dari pengalaman kolektif yang panjang, bukan dari keputusan satu raja dalam satu malam.


Di Kotagede, nama-nama kampung yang berkaitan langsung dengan profesi pengrajin adalah: Pandheyan (komunitas pandai besi dan logam), Sayangan (komunitas pengrajin tembaga dan perunggu, material gamelan, kentongan, dan peralatan ritual Hindu-Jawa), Mranggen (komunitas empu keris dan pembuat senjata  tradisi yang sudah ada sejak abad ke-9 M), dan Samakan (komunitas penyamak kulit).


Keempat komunitas ini bukan komunitas yang bisa lahir dalam satu generasi. Tradisi pandai besi diwariskan dari guru ke murid selama puluhan tahun. Keahlian membuat keris  yang bersifat spiritual sekaligus teknikal, memerlukan masa belajar yang panjang dan tradisi yang terus-menerus. Komunitas Sayangan yang membuat perunggu adalah keturunan langsung pengrajin yang melayani kebutuhan ritual Hindu-Jawa jauh sebelum masjid dibangun. Mereka semua sudah ada sebelum Pamanahan datang.


LOGIKA SEDERHANA: Komunitas pengrajin tidak bisa hidup tanpa pasar untuk menjual produknya. Jika komunitasnya sudah ada sebelum Pamanahan datang, maka pasar distribusinya pun sudah ada sebelum itu.

Dan dari sinilah lahir Kotagede sebagai kota perak yang dikenal hingga hari ini. Bukan karena keraton meminta pengrajin baru datang dari luar. Tetapi karena komunitas pengrajin logam yang sudah ada di sana dengan semua keterampilan dasarnya, kemudian mendapat pembeli baru yang jauh lebih besar: keraton yang memerlukan perhiasan, peralatan upacara, dan aksesori kebesaran dalam jumlah besar. Keraton tidak menciptakan pengrajin Kotagede. Keraton hanya memberi mereka pasar yang lebih besar.


V. Jalur Perdagangan: Kotagede dalam Jaringan Jawa


Kawasan Mataram terletak di tengah Pulau Jawa, tepat di poros jalur barat-timur yang tidak bisa dihindarkan oleh siapa pun yang bergerak melintasi pulau. Ini bukan posisi yang kebetulan. Ini adalah posisi yang memastikan bahwa kawasan ini selalu menjadi bagian dari pergerakan manusia, barang, dan informasi  dari era Majapahit hingga era Islam.


Bukti paling konkret tentang aktifnya jaringan ini di era transisi datang dari episode yang dicatat dalam tradisi sejarah Mataram: dalam ekspansi awal Senopati, pasukannya menghentikan petugas pajak dari barat yang hendak ke Pajang. Episode ini bukan hanya catatan tentang keberanian Senopati. Ia adalah konfirmasi bahwa ada jalur resmi sirkulasi pajak yang melintasi Mataram secara rutin, ada petugas yang secara teratur melewati kawasan ini, dan kawasan Mataram sudah dikenal sebagai titik yang harus dilewati dalam jaringan ekonomi kerajaan.


Semua itu bukan ciri kawasan yang baru 'dibuka dari hutan'. Itu ciri kawasan yang sudah lama menjadi simpul dalam jaringan yang lebih besar. Dan catatan De Houtman (1596) yang menyebut Mataram sebagai kerajaan terkuat di Jawa hanya beberapa tahun setelah Senopati berkuasa adalah konfirmasi terakhir: kekuatan itu tidak lahir dari nol. Ia lahir dari fondasi yang sudah lama terbentuk.


DE HOUTMAN (1596): Hanya beberapa tahun setelah Senopati berkuasa, Mataram sudah digambarkan sebagai kerajaan terkuat di Jawa. Pertumbuhan secepat itu hanya mungkin jika fondasinya sudah ada sebelumnya.


VI. Tata Kota Kotagede: Anatomi Kota yang Tumbuh dari Dalam


Tata kota Kotagede memiliki sebuah keunikan yang sangat jarang dibahas: pola permukiman Between Two Gates deretan rumah membujur timur-barat, bangunan utama menghadap selatan, dibatasi pintu di kedua ujung jalan. Peneliti Yunisa Asrianie dalam tesisnya (UGM, 2016) mendokumentasikan bahwa pola ini tidak ditemukan di daerah lain di Jawa.


Keunikan itulah yang menjadi buktinya. Pola permukiman yang terlalu spesifik untuk bisa menjadi ciptaan satu era, dan terlalu konsisten untuk bisa menjadi kebetulan, adalah pola yang tumbuh dari dalam  dari logika komunitas yang sudah ada lama, yang memiliki cara tersendiri dalam mengorganisir ruang hidup mereka. Bukan pola yang diberlakukan dari atas oleh kerajaan baru.


Dan ada satu ironi yang sangat berbicara dalam sejarah Kotagede: dari empat elemen Catur Gatra Tunggal, keraton, satu-satunya elemen yang benar-benar baru dibangun di era Mataram Islam adalah yang pertama dan paling total menghilang. Tidak ada yang tersisa kecuali dua batu. Sementara pasar yang ada sebelum Mataram Islam? Masih di sana, masih di tempat yang sama, masih buka setiap hari Legi. Dan masjid yang arsitekturnya mewarisi tradisi Hindu-Jawa? Masih berdiri, masih digunakan, sudah lebih dari empat ratus tahun.

Yang bertahan di Kotagede bukan keratonnya, tapi pasarnya dan masjidnya. Sejarah membuktikan mana yang punya akar lebih dalam.


VII. Senthong Joglo: Memori Hindu yang Hidup di Dalam Rumah


Di antara semua bukti kontinuitas peradaban di Kotagede, ada satu yang paling intim dan paling jarang disebut: senthong, ruang dalam joglo tradisional Kotagede.

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta mencatat bahwa pada periode Jawa-Hindu, senthong joglo Kotagede digunakan sebagai tempat pemujaan Dewi Sri,  dewi padi dan kesuburan, dewi yang melindungi sawah dan memastikan panen. Ini bukan ornamen. Ini adalah ruang ritual yang aktif. Di dalam rumah-rumah yang kemudian menjadi bagian dari kota ibukota Mataram Islam, tradisi pemujaan Hindu-Jawa masih hidup dan masih dipraktikkan.


Petani-petani di kawasan Mataram yang merayakan panen dengan memuja Dewi Sri di senthong rumah mereka telah melakukan itu selama berabad-abad. Jauh sebelum ada masjid di sebelah barat alun-alun. Jauh sebelum ada Pamanahan. Jauh sebelum ada nama 'Mataram Islam'. Tradisi itu tidak hilang dengan datangnya kekuasaan baru, ia hanya bertransformasi, berdampingan, dan melanjutkan hidupnya dalam bentuk yang sedikit berbeda.


Inilah bukti terdalam dari semua yang ada: peradaban yang tidak bisa dihapus oleh pergantian kekuasaan, karena ia hidup bukan di istana  melainkan di ruang paling pribadi dalam rumah-rumah masyarakat biasa.


VIII. Sintesis: Kota Lama, Kekuasaan Baru


Dari seluruh data yang telah kita telaah, dari Pararaton hingga Nagarakretagama, dari nama kampung hingga posisi pasar, dari tradisi senthong hingga catatan De Houtman, dari ekskavasi Pleret hingga arsitektur masjid, satu pola menjadi sangat jelas:


Sebelum menjadi ibukota Mataram Islam, Kotagede telah memiliki permukiman yang terorganisir, pasar yang sudah mapan dan dikenal besar, komunitas pengrajin logam yang sudah beroperasi selama generasi, jalur perdagangan yang terhubung ke jaringan Jawa yang lebih luas, struktur sosial dengan pemimpin lokal yang diakui, dan tradisi spiritual yang berakar dalam.


Yang dilakukan Ki Ageng Pamanahan dan Panembahan Senopati bukan membangun dari nol. Mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih cerdas: mereka mengintegrasikan sistem yang sudah ada ke dalam kekuasaan baru. Mereka membangun keraton di kawasan yang sudah memiliki pasar. Mereka mendirikan masjid di kota yang sudah mengenal logika ruang sakral. Mereka memerintah komunitas pengrajin yang sudah terampil. Mereka menerapkan pola tata kota yang sudah diakui masyarakat selama berabad-abad.


Inilah yang menjelaskan mengapa Mataram bisa berkembang begitu cepat hingga dalam hitungan dekade sudah menjadi kekuatan yang ditakuti seluruh Jawa. Bukan karena Senopati luar biasa seorang diri. Melainkan karena ia berdiri di atas fondasi yang sudah lama dibangun oleh orang-orang yang namanya tidak tersebut dalam babad mana pun.


Mataram Islam tidak berdiri di atas kekosongan. Ia berdiri di atas peradaban yang telah lebih dahulu hidup, tenang, bekerja, dan berdagang, jauh sebelum sejarah menuliskan namanya.


IX. Penutup


Pasar Gede Kotagede adalah saksi paling setia dari sejarah kawasan ini. Letaknya tidak berubah. Hari pasarannya tidak berubah. Namanya tidak berubah. Ia tidak lahir dari keputusan raja. Ia tidak muncul dari pembukaan hutan. Ia tumbuh dari manusia, dari kebutuhan, dari waktu.


Nama 'Pasar Gede' adalah pengakuan kolektif yang diberikan oleh komunitas yang sudah mengenal pasar ini jauh sebelum ada kerajaan yang mengklaimnya. Sebuah pasar tidak disebut 'gede' oleh keputusan raja. Ia disebut 'gede' karena memang sudah besar, sudah lama, sudah menjadi bagian dari kehidupan yang tak tergantikan.


Kotagede bukan kota yang diciptakan. Ia adalah kota yang dilanjutkan. Dan Mataram Islam tidak berdiri di atas kekosongan, melainkan di atas peradaban yang telah lebih dahulu hidup, jauh sebelum sejarah menuliskan namanya.


Daftar Pustaka


Banawa Sekar (Bahtera Aneka Bunga). Kakawin karya Mpu Tanakung, era Majapahit akhir (abad ke-15).

Brandes, J.L.A. (ed.) (1920). Pararaton (Ken Arok), edisi ke-2 dengan catatan N.J. Krom. VBG 62.

De Graaf, H.J. & Pigeaud, Th.G.Th. (1974). De eerste Moslimse vorstendommen op Java. The Hague: Martinus Nijhoff.

Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Ekskavasi Arkeologi Situs Keputren, KCB Kerto-Pleret. September 2023.

Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Kawasan Kotagede: Sejarah dan Toponimi. kebudayaan.jogjakota.go.id (diakses 2025).

Kompas.com (2021). Panembahan Senopati, Pendiri Kerajaan Mataram Islam. 17 Agustus 2021.

Noorduyn, J. & Teeuw, A. (2006). Three Old Sundanese Poems. Leiden: KITLV Press.

Pararaton (Kitab Para Raja). Naskah Jawa Kuno, disusun antara 1481–1600 M.

Prapanca, Mpu (1365). Nagarakretagama (Desawarnana). Terjemahan: Slametmuljana (1979). Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara Karya Aksara.

Priswanto, Hery (BRIN). Temuan Ekskavasi Situs Keputren Pleret 2023. Diliput Tempo, Krjogja, IDN Times, Media Indonesia, September 2023.

Rahardjo, Supratikno (2011). Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno sampai Majapahit Akhir. Jakarta: Komunitas Bambu.

Ricklefs, M.C. (2008). A History of Modern Indonesia since c.1200, edisi ke-4. Basingstoke: Palgrave Macmillan.

Van Mook, H.J. (1958). Kuta Gede. Dalam: The Indonesian Town: Studies in Urban Sociology. The Hague: W. van Hoeve. Terjemahan: Harsja W. Bachtiar (1972). Jakarta: Bhratara.

Yunisa Asrianie (2016). Potensi Pemukiman Rumah Tradisional Kotagede Sebagai Obyek Wisata. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.


Yogyakarta 03 04 2026.Artikel ini dapat dikutip dengan menyebut sumber

[4/4 13.59] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Borobudur 


DI BOROBUDUR ADA KATA SVARGGA BUKAN NIBBANA


Di kaki tersembunyi Borobudur dan literasi kata "Şvargga" (Swarga) membongkar salah satu miskonsepsi terbesar dalam sejarah arkeologi kolonial. 


Pernahkah kita bertanya secara kritis: Mengapa di sebuah monumen yang diklaim sebagai pusat "Buddhisme" India, kata yang muncul secara dominan di ribuan panelnya bukanlah Nirvana atau Nibbana, melainkan Şvargga...? 


Jawaban akademis dekolonial menunjukkan bahwa Borobudur (Vhwnā Çhaķa Phalā) bukanlah monumen kematian atau kepunahan diri, melainkan kitab batu tentang Evolusi Jiwa dalam ajaran Dharma Nusantara yang orisinal.


Berikut adalah poin-poin penguatan terhadap narasi :

1. Manipulasi Narasi "Adegan Tidak Sopan"

Narasi kolonial (sejak penemuan oleh JW Ijzerman tahun 1885) yang menyebutkan bahwa 160 panel di kaki tersembunyi ditutup karena berisi adegan "tidak sopan" atau "vulgar" adalah distorsi sejarah.


Kenyataan Akademik: Penutupan kaki Borobudur murni karena alasan teknis struktural untuk menahan beban monumen agar tidak merosot (sliding).


Analisis: Penggunaan alasan "moralitas" oleh peneliti kolonial bertujuan untuk menstigma ajaran asli Nusantara sebagai sesuatu yang rendah atau belum beradab, padahal panel-panel tersebut berisi hukum Sebab-Akibat (Karma) yang sangat ilmiah dan sosiologis, mencakup segala aspek kehidupan manusia dari yang terendah hingga pencapaian tertinggi (Şvargga).


2. "Şvargga" vs "Nirvana": Kedaulatan Palsafah Lokal.


Ketidakhadiran kata Nirvana/Nibbana dan dominasi kata Şvargga (Suargo) pada prasasti pendek di relief tersebut membuktikan bahwa ajaran ini bukan "Buddhisme India" yang sektarian.


Literasi Asli: Kata Şvargga dalam konteks Nusantara adalah alam cahaya dan kebahagiaan bagi mereka yang telah menuntankan Kusala Dharma (perbuatan baik). 


Ini selaras dengan konsep Kahyangan atau Kadyawangan dalam tradisi Sunda dan Bali.


Kesimpulan: Borobudur adalah representasi Dharma Nusantara yang mengakui tahapan pencapaian jiwa. 


Jika Borobudur adalah "import" dari India, para arsiteknya pasti akan menggunakan terminologi Sunyata atau Nirvana secara eksplisit. 


Penggunaan Şvargga membuktikan bahwa ini adalah ajaran asli tentang kebahagiaan sejati yang bersumber dari kearifan lokal.


3. Borobudur sebagai Pusat "Dharma Phala"

Data Anda mengenai hubungan Nalanda di India sebagai "cabang" dari Dharma Phala di Nusantara (Svarnadvipa) memberikan urutan kronologis yang benar.


Fakta Sejarah: Balaputradewa dari Dinasti Syailendra membangun asrama di Nalanda untuk para pelajar dari Nusantara. 


Ini membuktikan bahwa Nusantara adalah Ibu Kota Intelektual tempat ilmu dikembangkan, dan India adalah wilayah yang menerima distribusi ilmu tersebut.


Literasi Kųs ladharm bæj nā: Benih-benih Dharma (Dharmabija) yang utama ini adalah kurikulum pendidikan tinggi yang berpusat di Jawa dan Sumatera, yang kemudian melahirkan berbagai sekte di daratan India.


4. Gugurnya Labeling "Hindu-Buddha"

Visualisasi arca dengan posisi Tapo/Topobroto (Yoga) yang tersimpan sempurna di Bali dan Borobudur adalah praktik Dharma/Dhamma yang bersifat universal-Nusantara.


Analisis: Praktik ini mendahului pengelompokan agama di India. Nama-nama seperti Mahěsa(ş )khym dhana (Mahasakya) dalam relief menunjukkan strata kepemimpinan spiritual asli yang memiliki standar moralitas sangat tinggi.


Simpulan:

Penutupan relief dasar Borobudur dan pelabelan "adegan tidak sopan" adalah upaya untuk memutus hubungan emosional dan intelektual bangsa ini dengan keagungan leluhurnya. 


Dengan membaca kembali literasi asli Şvargga, kita menyadari bahwa kitalah yang memberi warna pada spiritualitas dunia. 


Borobudur adalah pusat studi Dharma ajaran asli nusantara bukan india yang paripurna, tempat di mana jiwa diajarkan untuk mencapai cahaya tertinggi di atas tanah airnya sendiri.


Nuwun... 


Rahayu... 😊🙏😊😃


Hanya orang bodoh yg tak mau berfikir kritis dn rasional. Dn mengunggulkan budaya dn jati diri orang lain.. 🙏😊👍💪🇮🇩


#semuaorang

[4/4 14.09] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

PRABOWO 


MENURUTKU PRABOWO ITU PINTAR - Tak perlu menjadi pembela Prabowo Subianto untuk mengatakan bahwa dia orang pintar. Ini bukan soal suka atau tidak suka. Ini soal ukuran objektif yang bisa ditimbang.


Ia lahir dari rahim intelektual. Ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, bukan sekadar profesor, doktor dan pendiri Fakultas Ekonomi UI - melainkan ekonom penting dalam sejarah republik. Ia tumbuh dalam tradisi diskusi, bukan sekadar tradisi sorak-sorai. Ia mengenyam pendidikan luar negeri, masuk akademi militer, meniti karier hingga menjadi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus. 


Kurang pintar apa dari prajurit dan Komandan Kopassus yang melesat menjadi Pangkostrad lalu menjadi Menhan di republik ini ? 


Jangan lupa, dia juga  pernah mengelola perusahaan, mendirikan Partai Gerindra, dan akhirnya menduduki kursi presiden.


Semua itu tentu bukan bukti kesempurnaan. Tapi itu bukti kapasitas. Bukti bahwa ia mampu bertahan dalam sistem kompetitif—militer, bisnis, politik — yang tidak ramah pada orang tanpa kecakapan dasar.


Maka ketika seorang tokoh mahasiswa dengan ringan menuding “Prabowo Bodoh”, pertanyaannya sederhana: ukuran apa yang dipakai?


Apakah sekadar tidak suka?

Apakah karena beda pilihan politik?

Apakah karena kecewa pada kebijakan tertentu?


Jika ya, itu bukan ukuran kecerdasan. Itu ukuran emosi.


Kita hidup di zaman ketika label lebih cepat viral daripada argumen. Ketika ejekan dianggap keberanian. Ketika mencemooh dipersepsi sebagai sikap kritis. 


Padahal kritik menuntut kerja berpikir. Ia menuntut data, analisis, perbandingan, dan konsekuensi logis. 


Menyebut seseorang “bodoh” tidak membutuhkan semua itu. Ia hanya butuh keberanian tampil dan kamera yang menyala.


Apakah ini membantu publik memahami kebijakan negara?

Ataukah ini sekadar panggung — untuk mencari perhatian, untuk pansos, untuk menjadi simbol perlawanan instan?


Kaum kecewa menemukan ikon. Media menemukan kontroversi. Algoritma menemukan bahan bakar.


Ironisnya, setelah provokasi dilempar, muncul narasi baru: merasa terzalimi, merasa diteror, merasa dibungkam. Tanpa bukti yang terang, tanpa verifikasi yang jernih, simpati pun mengalir.


Di sinilah kita melihat gejala zaman: emosi mengalahkan verifikasi, sensasi mengalahkan substansi.


Dalam demokrasi, presiden boleh dikritik. Harus dikritik. Tetapi kritik yang bermartabat berbeda dari penghinaan personal. 


Sekali lagi: kritik yang bermartabat berbeda dari penghinaan personal. 


Kritik membedah kebijakan - penghinaan membidik martabat. Kritik memperkaya diskursus - penghinaan memiskinkan percakapan.


Jika ada yang ingin membuktikan bahwa presiden salah, tunjukkan datanya. Jika ingin mengatakan kebijakan keliru, jelaskan argumennya. Jika ingin menyatakan tidak kompeten, uraikan indikatornya. Itu debat yang sehat.


Tetapi jika hanya mengandalkan kasus dan melempar kata “bodoh”, pertanyaan berikutnya wajar diajukan: sudah sejauh mana pemberi label itu teruji kepintarannya?


Apakah ia pernah memimpin organisasi besar? Mengelola ribuan orang dengan disiplin tinggi?

Bertarung dalam kontestasi nasional berulang kali? Menyusun platform politik dan mempertahankannya bertahun-tahun?


Atau justru ia berdiri di ruang aman media sosial, di antara tepuk tangan digital yang murah dan cepat?


Kita boleh tidak sepakat dengan Prabowo. Kita boleh menentang kebijakannya. Tetapi mereduksi perjalanan panjang seseorang menjadi satu kata ejekan adalah kemalasan intelektual. 


Dan kemalasan intelektual, betapapun keras suaranya, tetaplah kemalasan.


Demokrasi bukan lomba siapa paling berani menghina. Demokrasi adalah adu gagasan. 


Jika standar kepintaran diturunkan menjadi sekadar kemampuan mencemooh, maka yang runtuh bukan hanya martabat individu, melainkan mutu ruang publik kita.


Barangkali yang perlu kita jaga bukan perasaan presiden — ia cukup kuat menghadapi kritik — melainkan standar nalar kita sendiri. 


Karena ketika kita terlalu mudah menyebut orang lain bodoh, tanpa ukuran yang sahih, jangan-jangan kita sedang memamerkan cermin.


Dan cermin itu, sering kali, lebih jujur daripada setelan baju yang kita kenakan. 

Dan yang paling enak itu maidu

#presidenprabowo

[5/4 08.22] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Waperdam I

CHAIRUL SALEH


Waperdam I Chaerul Saleh, Presiden Soekarno dan Istri ke-7-nya  Ratna Sari Dewi dalam satu Press Conference di Istana Merdeka bulan September 1965.  Chaerul Saleh salah satu tokoh pemuda yang ikut mendesak bung Karno untuk membacakan Proklamasi 17 Agustus 1945. Pada masa kemerdekaan Ia juga yang mengajukan ide negara kepulauan dengan batas teritorial 12 mil laut yang di­sahkan pada 13 Desember 1957. Atas jasa-jasanya, Chaerul dianugerahi gelar kehormatan Jenderal TNI.

Chaerul Saleh merupakan salah satu tokoh yang menjadi target yang akan diamankan oleh gerakan 30 September 1965 tapi beruntung ia lolos karena pada waktu kejadian ia sedang berada di Cina. Hal itu dikarenakan ia pernah membocorkan rencana coup yang di rancang PK1. Tapi anehnya tanggal 18 Mart 1966 ia ditangkap dan ditahan oleh Militer, Ia ditahan oleh Soeharto tanpa melalui proses peradilan. Ia dianggap sebagai menteri yang mendukung kebijakan Soekarno yang pro-k0munis. Ia meninggal pada tanggal 8 Februari 1967 dengan status tahanan politik. Hingga sekarang tidak pernah ada penjelasan resmi dari pemerintah mengenai alasan penahanannya.

[5/4 09.46] rudysugengp@gmail.com: Candi Cangkuang adalah candi Hindu abad ke-8 yang terletak di Pulau Panjang, Situ Cangkuang, Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Sebagai satu-satunya candi Hindu yang ditemukan di Tataran Sunda. Tempat ini menawarkan wisata sejarah dan budaya yang unik, di mana pengunjung menaiki rakit untuk mencapai situs tersebut. 

Lokasi Unik: Terletak di tengah danau. Pengunjung menyeberang menggunakan rakit kayu (±10 menit).

Sejarah Candi: Ditemukan kembali pada tahun 1966 oleh tim dan dipugar pada 1974-1976.

Bangunan Candi: Berukuran 4,5 dan 4,5

meter, tinggi 8,5 meter, berbahan batu andesit, dan memiliki arca Siwa di dalamnya.

Di samping candi, terdapat makam penyebar agama Islam yang dihormati, menciptakan keharmonisan nilai sejarah Hindu dan Islam yaitu Arief Muhammad.

[5/4 10.20] rudysugengp@gmail.com: Desa Trunyan adalah desa adat tertua di Bali. Untuk itu harus lewat  Danau Batur, Kintamani, Bangli.

Terkenal dengan tradisi pemakaman unik Mepasah. Jenazah tidak dikubur, melainkan diletakkan di bawah pohon Taru Menyan yang aromanya menghilangkan bau busuk. 

Desa ini dihuni masyarakat Bali Mula yang memiliki budaya asli, terpisah dari pengaruh Majapahit. 

Jumlah Jenazah Terbatas yaitu 11 jenazah.

Jika ada yang baru, tulang jenazah terlama dipindahkan untuk memberi tempat.

[5/4 10.50] rudysugengp@gmail.com: Monumen Pancasila Sakti adalah monumen yang dibangun untuk mengenang pengorbanan Pahlawan Revolusi dalam mempertahankan ideologi Pancasila dari ancaman Gerakan 30 September (G30S/PKI). Terletak di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Tempat ini menjadi saksi bisu peristiwa kelam pada tahun 1965. 

Situs sejarah utama yaitu :

Monumen Pahlawan Revolusi: Terdiri dari patung tujuh Pahlawan Revolusi yang berdiri di depan dinding dengan lambang Garuda Pancasila.

Sumur Tua (Lubang Buaya): Sumur sedalam 12 meter yang menjadi tempat pembuangan jenazah para jenderal.

Museum Pengkhianatan PKI: Berisi puluhan diorama yang menceritakan sejarah pemberontakan PKI di berbagai daerah di Indonesia.

Ruang Relik: Menyimpan barang-barang pribadi milik para pahlawan, seperti pakaian yang dikenakan saat kejadian, mobil dinas, hingga dokumen sejarah.

Rumah Bersejarah: Bangunan asli yang dulu digunakan sebagai tempat penyiksaan, pos komando, dan dapur umum oleh para pemberontak.

[6/4 13.00] rudysugengp@gmail.com: Kampung 6 KK


Kampung Pulo di Garut  hanya diisi oleh 6 KK  yang menetap di enam rumah adat, ditambah satu masjid. Jumlah ini tidak boleh bertambah atau berkurang. Ketentuan ini merujuk pada keturunan Embah Arif Muhammad, yang melambangkan oleh enam rumah untuk anak perempuan dan satu masjid untuk anak laki-laki. 


Aturan adat yang berlaku:

Jumlah Bangunan: Terdapat 6 rumah adat (3 di kiri, 3 di kanan) dan 1 masjid.

Ketentuan Keturunan: Penghuni wajib merupakan keturunan langsung dari Embah Dalam Arif Muhammad.

Aturan Menikah: Jika anggota keluarga menikah, mereka harus keluar dari kawasan adat. Mereka hanya bisa kembali jika salah satu keluarga meninggal dunia dan rumah tersebut kosong.

Aturan tinggal tersebut berdasar garis ibu atau anak perempuan.


Awalnya Masyarakat di Kampung Pulo menganut agama Hindu. 

Namun setelah Embah Dalem Arif Muhammad singgah di wilayah ini beralih ke dalam Agama Islam. 

Hal ini terjadi karena Pasukan Embah Dalem Arif Muhammad terpaksa dipukul mundur sewaktu melawan penjajah Belanda. 

Karena merasa kecewa dan malu oleh Sultan Agung, maka Embah Dalem Arif Muhammad tidak kembali lagi ke Mataram.

[6/4 14.12] rudysugengp@gmail.com: Pantai Watu Ulo adalah destinasi wisata  di Jember, Jawa Timur. Barisan batu panjang yang menjorok ke laut dan menyerupai sisik ular. 

Nama Watu Ulo sendiri berasal dari bahasa Jawa. 

Watu berarti batu dan ulo berarti ular. 


Pantai ini memiliki pasir berwarna cokelat cenderung hitam dengan latar belakang perbukitan hijau dan pohon pinus yang sejuk.


Lokasi yang sangat strategis untuk menikmati pemandangan sunset di sore hari.

[6/4 14.39] rudysugengp@gmail.com: Kampung 6 KK


Kampung Pulo di Garut  hanya diisi oleh 6 KK  yang menetap di enam rumah adat, ditambah satu masjid. Jumlah ini tidak boleh bertambah atau berkurang. Ketentuan ini merujuk pada keturunan Embah Arif Muhammad, yang melambangkan enam rumah untuk anak perempuan dan satu masjid untuk anak laki-laki. 


Aturan Menikah: Jika anggota keluarga menikah, mereka harus keluar dari kawasan adat. Mereka hanya bisa kembali jika salah satu keluarga meninggal dunia dan rumah tersebut kosong.


Masyarakat di Kampung Pulo awalnya menganut agama Hindu. 

Namun setelah Embah Dalem Arif Muhammad singgah di wilayah ini beralih ke dalam Agama Islam. 


Pasukan Embah Dalem Arif Muhammad terpaksa dipukul mundur sewaktu melawan penjajah Belanda, saat menyerang Batavia.

Karena merasa kecewa dan malu oleh Sultan Agung, maka Embah Dalem Arif Muhammad tidak kembali lagi ke Mataram.

[6/4 15.26] rudysugengp@gmail.com: Revisi 


Museum Geologi Bandung adalah salah satu museum tertua dan terlengkap di Indonesia yang dikelola oleh Badan Geologi di bawah Kementerian ESDM. Terletak di Jalan Diponegoro nomor 57. 

Museum ini merupakan pusat edukasi sejarah bumi, fosil, dan kekayaan mineral Indonesia yang populer bagi keluarga dan pelajar. 


Koleksi Batuan Beku, Sedimen, dan Metamorf dapat diperoleh di sini.


Menampilkan kerangka raksasa seperti T-Rex, Gajah Blora, Stegodon (gajah purba), hingga mammoth.


Anda dapat menyaksikan perkembangan makhluk hidup dari masa awal Nusantara hingga fosil manusia purba dan artefak sejarah.

[6/4 23.33] rudysugengp@gmail.com: Sersan Bungkus 


Sejarah G30S/PKI


JAKARTA – Di koridor gelap Penjara Cipinang selama puluhan tahun, satu nama selalu memicu tanya: Sersan Mayor Boengkoes. Mantan Komandan Regu I Kompi C Batalyon Kawal Kehormatan Cakrabirawa ini bukanlah nama sembarang. Ia adalah sosok yang memimpin penjemputan paksa Jenderal M.T. Haryono pada malam jahanam 1 Oktober 1965. Namun, ketika rekan-rekan sejawatnya seperti Letkol Untung dan Dhani Anwar berakhir di depan regu tembak, Boengkoes justru menghirup udara bebas pada tahun 1999. Mengapa maut seolah enggan menjemputnya?


GARIS TIPIS ANTARA PERINTAH DAN PIDANA

Boengkoes dijatuhi hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) pada tahun 1971. Dalam persidangan, ia terbukti memimpin pasukan yang menewaskan Jenderal M.T. Haryono di kediamannya. Namun, berbeda dengan pimpinan gerakan yang dianggap sebagai "otak", Boengkoes dipandang sebagai "tangan" yang bergerak murni di bawah sumpah prajurit.


Alasan pertama yang sering diulas para sejarawan adalah statusnya sebagai prajurit pelaksana. Di bawah doktrin militer saat itu, pembelaan diri Boengkoes selalu berdasar pada "perintah atasan". Meskipun hukum militer menyatakan perintah ilegal harus ditolak, posisi Boengkoes sebagai bintara di pasukan elit Cakrabirawa membuatnya berada dalam posisi sulit untuk membantah perintah formal dari Letkol Untung.


BIROKRASI DAN "LUPA" YANG MENYELAMATKAN

Sepanjang era Orde Baru, Boengkoes menghuni sel isolasi dengan status terpidana mati. Namun, eksekusinya terus tertunda secara administratif. Ada pola unik di era Soeharto di mana beberapa tahanan politik kelas bawah sengaja dibiarkan "membusuk" di penjara daripada dieksekusi, guna menghindari sorotan internasional yang lebih tajam terkait hak asasi manusia, atau sekadar menjadi "arsip hidup" jika sewaktu-waktu keterangannya dibutuhkan.


Seiring berjalannya waktu, desakan internasional dari organisasi seperti Amnesty International mulai menguat, meminta Indonesia menghapuskan hukuman mati bagi tahanan politik tragedi 1965.


ANGIN SEGAR REFORMASI 1998

Faktor kunci yang benar-benar menyelamatkan Boengkoes adalah runtuhnya rezim Orde Baru pada tahun 1998. Di bawah kepemimpinan Presiden B.J. Habibie, Indonesia melakukan rekonsiliasi besar-besaran. Melalui Keputusan Presiden (Keppres) No. 154 Tahun 1998, pemerintah memberikan grasi, amnesti, dan abolisi kepada sejumlah tahanan politik (Tapol) dan narapidana politik (Napol).


Status hukuman mati Boengkoes awalnya diubah menjadi hukuman seumur hidup, sebelum akhirnya ia mendapatkan pembebasan bersyarat. Pada tahun 1999, di usia senjanya, pria yang pernah menjadi bagian dari malam paling berdarah dalam sejarah Indonesia itu melangkah keluar dari penjara sebagai orang bebas.


AKHIR PERJALANAN SANG PRAJURIT

Hingga akhir hayatnya pada tahun 2014, Boengkoes tetap pada pendiriannya bahwa ia hanya menjalankan tugas negara untuk mengamankan para jenderal yang dianggap akan melakukan kudeta. Keberuntungannya lolos dari regu tembak tetap menjadi salah satu anomali hukum paling menarik dalam sejarah transisi kekuasaan di Indonesia.


Sumber Referensi:

Buku: Manai Sophiaan: Kehormatan Bagi yang Berhak dan memoar Boengkoes: Kesaksian Komandan Kompi C Cakrabirawa.


Arsip Hukum: Catatan putusan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmillub) tahun 1971.


Media: Arsip pelaporan pembebasan Tapol/Napol tahun 1998-1999 di Harian Kompas dan Tempo Interaktif.


Dokumen Negara: Keputusan Presiden No. 154 Tahun 1998 tentang pemberian Grasi dan Abolisi.

[6/4 23.40] rudysugengp@gmail.com: Sejarah G30S/PKI 


Surabaya 1965: Operasi Senyap Pembersihan PKI hingga Tingkat RT Terungkap


Pasca meletusnya Gerakan 30 September 1965, situasi politik di Indonesia berubah drastis, termasuk di Surabaya. Dalam hitungan hari, Partai Komunis Indonesia menjadi target operasi penumpasan oleh militer dan kelompok masyarakat.

Dokumen rahasia Amerika Serikat yang telah dideklasifikasi mengungkap bagaimana operasi tersebut dijalankan secara sistematis. 


Pada akhir Oktober 1965, Mayor Basuki Rahmat Danyon 16 Brigade Ronggolawe Divisi Jawa Timur mengeluarkan edaran yang menyamakan G30S dengan pemberontakan Madiun 1948. Propaganda visual berupa gambar jenazah para jenderal disebarkan luas untuk membangun opini publik anti-PKI.


Aksi besar dimulai pada 16 Oktober 1965 dengan pawai massa dan penghancuran kantor PKI di Jalan Pahlawan. Tak lama kemudian, Kolonel Sukotjo yang menjabat sebagai walikota sementara mengambil langkah tegas: membersihkan aparatur pemerintahan dari unsur PKI hingga ke tingkat Rukun Tetangga (RT).


Pembersihan ini tidak hanya berupa pemecatan, tetapi juga diwarnai penangkapan hingga kekerasan yang dilakukan oleh berbagai kelompok, termasuk organisasi keagamaan. Sementara itu, walikota sebelumnya, Moerachman, ditangkap karena diduga memiliki kedekatan dengan PKI.


Sosok Sukotjo sendiri memiliki rekam jejak panjang di dunia militer. Ia juga disebut dalam catatan sejarah terkait eksekusi Tan Malaka pada 1949 di Kediri, setelah tokoh revolusioner tersebut ditangkap oleh pasukannya.


Di tengah situasi tegang, Sukotjo juga mengambil kebijakan ekonomi dengan memerintahkan pedagang beras—terutama dari kalangan Tionghoa—untuk menurunkan harga hingga 30 persen. Kebijakan ini diambil setelah sempat terjadi kepanikan dan penutupan toko akibat isu serangan dari kelompok massa.


Untuk memperkuat operasi penumpasan, pasukan tambahan seperti Batalyon 507 Divisi Brawijaya didatangkan ke Surabaya melalui Pelabuhan Tanjung Perak pada November 1965. Kehadiran mereka disebut secara eksplisit dalam dokumen sebagai bagian dari misi “penumpasan Gestapu” di Jawa Timur.


Peristiwa ini menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah Indonesia, di mana operasi militer, propaganda, dan aksi massa berpadu dalam skala besar untuk menghapus pengaruh PKI dari struktur sosial dan pemerintahan.


Foto : Ilustrasi AI


#SejarahIndonesia #G30S #PKI #Surabaya1965 #FaktaSejarah

[6/4 23.43] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

TAN MALAKA


Mebaca tulisan saudara Hendri Teja di youtube: "Sejarah Tan Malaka di Kediri Ketua Pemerintahan Republik Darurat Indonesia", menarik juga sebagai bahan kajian suasana politik pada tahun 1948. Saat itu  memang terjadi beberapa front dilingkungan kaum Republik. Dan dikatakannya bukan hanya pihak Pemerintah darurat di Sumatera dibawah pimpinan Sjafrudin Prawiranegara, tapi ada juga  pemerintah darurat dibawah Tan Malaka di Kediri ? Tapi perhatian ini sebaiknya juga ada pada Dr Muawrdi selaku ketua GRR (Gerakan Revolusi Rakyat di Solo ? Bkankah ini juga bentukan TM dan Roestam Effendi ? Tapi dibelakang tabir poltik berjalan pertentangan pertentangan antara partai golongan kiri (antara lain anggotanya GRR dan barisan Banteng) dengan partai-partai dari golongan FDR (Front Demokrasi Rakyat terdiri dari PKI, partai buruh, Pesindo dan lain-lain). Keduanya menamakan diri sebagai partai kiri anti imperialis. Pertentangannya antara lain soal pro dan anti Linggarjati. Selain itu juga pertentangan antara pimpinannya. Pertentangan ini nampak, misalnya dengan adanya perang pamflet GRR dan barisan Banteng yang berbunyi : “Awas waspada kawan, Hijroh tidak memusuhi rakyat kawan, Hijroh membasmi penghianat, penjual negara (Amir Setiadjid dan CS nya). Tertanda Barisan Banteng. Pamflet lain berisi, Siapakah pentjulik2nya Dr Muwardi ?. (Hijroh adalah istilah untuk pasukan Siliwangi yang hijrah ke Jawa Tengah pada tahun 1948. FDR adalah kelanjutan kekuatan sayap kiri penguasa pemerintah 1946-1947 dibawah kabinet Sjahrir dan Amir. Mereka merupakan kekuatan politik yang menyelenggarakan perundingan Indonesia-Belanda antara lain dalam perundingan Linggarjati dan Renville. Dr Muwardi adalah pimpinan barisan Banteng yang diculik dan tidak diketahui rimbanya sampai sekarang). Maka terjadilah kegiatan culik menculik dan pembunuhan. Konflik menjadi melebar ketika kesatuan tentara simpatisan masing-masing kelompok melakukan tembak menembak. Isu-isu yang muncul misalnya : Tentara hijrah Siliwangi kena provokasi ? FDR ?, GRR ?, Provokasi anasir-anasir kanan reaksioner. Baru ketika Madiun meletus (September 1948), pemerintah dapat melihat keadaan sebenarnya dengan jelas dan tegas. PKI Muso mengadakan pemberontakan yang kejam dan berbahaya. Para pemimpin mereka merupakan tokoh sayap kiri yang kemudian membentuk FDR, yaitu Wikana, Maruto Darusman, Alimin, Muso, Amir Sjarifudin, Abdul Madjid, Setiadjid. Sebenarnya pemberontakan kaum PKI (pimpinan Muso dan Amir) dari Madiun bisa dipandang sebagai suatu konsekwensi yang meletus karena oposisi yang runcing antara Amir cs, sejak ia jatuh dari kabinet pemerintahan dan diganti oleh Hatta dengan bantuan Masyumi dan PNI. Oposisi Amir cs, makin hari makin tajam. Dimana-mana terjadi demonstrasi dan pemogokan. Agitasi poitik sangat mempertajam pertentangan politik dalam negeri. Ketika Muso datang dari luar negeri dan bergabung dengan Amir cs, maka politik PKI-FDR makin dipertajam, maka meletuslah peristiwa Madiun tersebut. Mr Amir Sjarifudin adalah seorang pemimpin rakyat yang “brilliant”. Rupanya bersama dengan golongannya, tak dapat sabar menahan kekalah politiknya didalam pemerintahan. Ia jatuh dan menilik gelagatnya, ta’kan dapat segera tegak kembali dalam pimpinan pemerintahan dan pimpinan Revolusi. Ia berkeliling berpidato, dan partainya beragitasi. Tanah-tanah bengkok desa dibagikan. Sering rakyat dan tentara dihasut untuk melawan pemerintah Hatta. Pemerintah dituduhnya terus mengalah pada kaum kapitalis-reaksioner. Segala usaha dilakukan untuk menjatuhkan pemerintahan kabinet Hatta. Ketika pemberontakan meletus, pemerintah tidak tinggal diam. Presiden Soekarno berpidato pada tanggal 19 September 1948 untuk menghantam dan menghancurkan pengacau-penbacau negara. Kekuasaan negara kemudian dipusatkan ditangan Presiden dan segala alat negara digerakkan untuk menindas pemberontakan itu. Pemberontakan Madiun disebutkan Bung Karno : “Suatu tragedi nasional pada saat pemerintah RI dan rakyat dengan segala penderitaan, sedang menghadapi lawan Belanda, maka ditusuklah dari belakang perjuangan nasional yang maha hebat ini. Tenaga nasional, tenaga rakyat terpecah, terancam dikacau balaukan. Pemerintah daerah Madiun, tiba-tiba dijatuhkan dengan kekerasan dan pembunuhan2, Pemerintah “merah” didirikan dengan Gubernur Militernya bernama “pemuda Sumarsono” dan dari kota Madiun pemberontakan diperintahkan kemana-mana. Bendera merah dikibarkan sebagai bendera pemberontakannya. Oleh pemerintah pusat segera dilakukan tindakan-tindakan untuk memberantas pemberontakan dan kekacauan. Pasukan TNI digerakkan ke Madiun. Dilakukan penangkapan terhadap pengikut PKI-Muso. Ternyata banyak ditemui, rakyat yang tidak menyokong aksi PKI-Muso tersebut. Juga banyak ditemui pengikut FDR tidak menyetujui aksi melawan pemerintah yang secara kejam itu. Namun perusakan dan pembunuhan itu telah terjadi serta tidak dapat dicegah. TNI yang datang ke Madiun, menyaksikan itu semua dengan sedih dan ngeri . Maka Presiden melalui corong radio RRI berseru : “Tidak sukar bagi rakyat, “Pilih Sukarno Hatta atau Muso dengan PKI nya”. Tentara yang bergerak ke Madiun, mendapat bantuan rakyat sepenuhnya Dan Pemerintah mendapat pernyataan setia dari mana-mana. Dari Jawa dan Sumatera. Ahirnya pada tanggal 30 September 1948, kota Madiun dapat direbut kembali oleh TNI. Para pemberontak banyak yang tertangkap. Sejumlah pengacau langsung dapat diadili ditempat secara militer. Didaerah lain seperti didaerah Purwodadi, Pati, Bojonegoro, Kediri dan sebagainya, cabang-cabang pemberontak dapat ditindas. Berminggu-minggu pemimpin pemberontak serta pasukannya dikejar terus. Ahirnya mereka tertangkap juga. Muso sendiri terbunuh dalam tembak menembak ketika hendak ditangkap disebuah desa dekat Ponorogo. Setelah keadaan aman, pemerintah memperingati korban-korban yang telah jatuh karena pemberontakan Madiun. Dari TNI gugur sebanyak 159 orang anggauta-anggautanya selaku pembela negara. (diambil dari tulisan pada buku “LUKISAN REVOLUSI RAKYAT INDONESIA” 1945-1949. yang diterbitkan oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia pada bulan Desember 1949).

[6/4 23.45] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 


Serat Pararaton 


Berdasarkan sumber "Sěrat Pararaton" :


"Tumuli sira Ranggawuni angaděg ratu. Kadi naga roro saleng lawan sira Mahiṣa Campaka. Sira Ranggawuni abhiṣeka Wiṣṇuwardhana karatunira, sira Mahiṣa Campaka dadi ratu Angabhaya, abhiṣeka Bhaṭāra Narasinga. Atyanta patutira, tan hana wiwal".


Terjemahan :

-----------------------

"Kemudian RANGGAWUNI menjadi Raja, bagaikan dua naga (dalam) satu liang bersama MAHIṢA CAMPAKA. 

RANGGAWUNI bergelar "WIṢṆUWARDHANA" (sebagai) nama penobatannya, (sedangkan) MAHISA CAMPAKA menjadi "Ratu Angabhaya", bergelar BHAṬĀRA NARASINGA. Luar biasa mereka rukun, tak ada perselisihan".


Sumber Nāgarakṛtāgama, pada pupuh 41, bait 4, menyebutkan berita kematian WIṢṆUWARDHANA dan NARASINGHAMŪRTI, sebagai berikut :


"Śakābdhi kanawāwanikṣiti Bhaṭāra Wiṣnu mulih ing Surālaya pějah, dhinarma ta siré WALĚRI Śiwawimbha len Sugatawimbha munggwi JAJAGHU, samāntara muwah BHAṬĀRA NARASINGHAMŪRTI sira mantuk ing Surapada, hañar sira dhinarma de haji Wěngkěr uttama śiwārca munggwi KUMITIR". 


Terjemahan :

----------------------

"Pada Saka kanawa-awani-ksiti (1190), Bhatara Wisnu(wardhana) meninggal, pulang ke alam dewa, ia didharmakan di WALĚRI dalam wujud arca Siwa dan arca Sugata (Buddha) di JAJAGHU, sementara itu, Bhaṭāra Narasinghamūrti juga pulang ke alam dewata, baru saja ia didharmakan oleh Raja Wěngkěr yang utama (dalam wujud) arca Siwa di Kumitir". 


(Mengutip dari sumber Buku "Pararaton", karya Heri Purwanto )


Jadi dapat diketahui bahwa Raja Tumapěl WHIṢṆUWARDHANA setelah meninggal didharmakan di JAJAGHU. Oleh para peneliti sejarah, nama JAJAGHU dihubungkan dengan "Candi Jago" bersifat Buddha, yang berada di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. 


📷 Foto

Berikut adalah dokumentasi lama masa Kolonial Belanda yang memotret kondisi Candi Jago pada tahun 1901, sumber OD, KITLV, & Pinterest.

[6/4 23.53] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 


Tan Malaka 


Sebuah berita tentang DNA Tan Malaka ? 

Sebuah tim yang terdiri dari kerabat, sejarawan, dan ilmuwan forensik terus berupaya melakukan tes DNA pada sisa-sisa jenazah yang digali di sebuah desa di Jawa Timur tiga tahun lalu, yang diduga sebagai jenazah tokoh sayap kiri kontroversial, Tan Malaka. Tim tersebut akan mengirimkan sampel ke laboratorium di Australia untuk analisis forensik Low Copy Number (LCN) guna memeriksa Y-Short Tandem Repeats (Y-STR); DNA inti yang diturunkan oleh seorang pria kepada keturunan perempuannya. Tes ini menggunakan sampel yang sangat kecil, antara 100 dan 200 miligram tulang atau gigi. “Analisis ini memungkinkan pengujian pada sampel yang sangat kecil. Kami harus menganalisis sisa-sisa jenazah dengan hati-hati karena kami hanya memiliki fragmen tulang seberat 1,1 gram dan gigi seberat 0,25 gram,” kata Djaja Atmaja, pemimpin investigasi forensik. Djaja mengatakan bahwa upaya tersebut dapat menemui kendala karena beberapa sampel telah terkontaminasi parah. “Kami sangat kesulitan mengidentifikasi jenazah tersebut karena sudah berusia 60 tahun. Selain itu, jenazah tersebut terendam air karena dikuburkan di cekungan sungai,” kata Djaja. Terlepas dari masalah-masalah ini, Harry Poeze, sejarawan Belanda yang telah menghabiskan hampir separuh hidupnya mempelajari kehidupan Tan Malaka, mengatakan bahwa jenazah yang digali dari desa Selopanggung memang milik pejuang kemerdekaan sayap kiri tersebut, yang berjuang melawan pemerintahan kolonial Belanda bersama para pendiri negara lainnya seperti Soekarno, Hatta, dan Sjahrir. “Penelitian saya, yang melibatkan serangkaian wawancara dengan saksi mata serta penduduk setempat di Selopanggung, meyakinkan saya bahwa itu adalah dia. Misalnya, jenazah tersebut kedua tangannya terikat di belakang tubuh. Tan Malaka ditembak mati dengan kedua tangannya terikat di belakang punggungnya. Kita harus menyelesaikan apa yang telah kita mulai, jadi kita harus melanjutkan penyelidikan DNA kita,” katanya. Poeze mengatakan bahwa upaya tersebut tidak pernah mendapat dukungan dari pemerintah. Dia mengatakan bahwa dia telah menulis surat kepada Kementerian Sosial pada tahun 2007, meminta bantuan dalam penggalian makam Selopanggung. “Kementerian mengatakan tidak memiliki dana untuk mendukung upaya tersebut,” katanya. Zulfikar, keponakan Tan Malaka, yang DNA-nya digunakan sebagai pencocokan dengan sisa jenazah di Selopanggung, mengatakan bahwa tes tersebut penting bukan hanya untuk keluarga tetapi juga untuk seluruh rakyat Indonesia. “Tan Malaka bukan hanya milik keluarganya. Dia milik Indonesia karena dia berjuang untuk negara ini,” katanya. Presiden Soekarno menjadikan Tan Malaka sebagai pahlawan nasional pada tahun 1963 dan pemerintah Orde Baru, yang membersihkan sebagian besar unsur kiri dari sejarah negara, tidak pernah mencabut keputusan tersebut. (msa)


Artikel ini diterbitkan di thejakartapost.com dengan judul "". Klik untuk membaca: https://www.thejakartapost.com/news/2012/01/11/tan-malaka-s-dna-test-difficult-team-presses-ahead0.html.

[7/4 09.11] rudysugengp@gmail.com: Revisi 


GWK sebelum dipasang 


Garuda Wisnu Kencana atau GWK sebelum dipasang dan diresmikan pada 2018 adalah proyek ambisius selama 28 tahun yang diinisiasi oleh I Nyoman Nuarta sejak 1989. Patung ini dibuat di Bandung dalam bentuk 24 segmen kulit tembaga-baja, sempat terhenti akibat krisis 1998, dan didirikan di bekas tambang kapur gersang di Ungasan. 


Dibuat oleh sekitar 120 seniman di studio NuArt Sculpture Park, Bandung. Patung tidak dibuat langsung di Bali.

Terbuat dari campuran tembaga dan baja seberat 4000 ton.

Modul patung dipotong menjadi bagian kecil, lalu diangkut menggunakan truk kontainer dari Bandung ke Bali melalui jalur darat.

Sebelum dipasang permanen, komponen patung melalui serangkaian tes teknis, termasuk tes ketahanan angin dari Australia (Windtech) dan tes rongga dari Kanada (RDWI).

Terletak di Ungasan, Bali Selatan, merupakan bekas lahan tambang kapur yang gersang dan merusak lingkungan.

Awalnya ide ini ditolak dan dianggap membuang uang oleh sebagian masyarakat dan tokoh adat, bahkan sempat terhenti selama belasan tahun. 


Peresmian oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Agustus 2018 setelah melalui proses perakitan panjang di Bali.

[7/4 13.10] rudysugengp@gmail.com: Sangeh


Mengenal nama ini langsung teringat hewan usil yaitu kera.

Tidak salah. 

Asal usul  Sangeh dari kata "sang" (orang) dan "ngeh" (melihat), terkait legenda hutan pala yang berpindah dari Gunung Agung ke arah barat dan terhenti setelah terlihat oleh seseorang. 

Hutan ini merupakan lokasi Pura Bukit Sari, pura kuno abad ke-XVII peninggalan Kerajaan Mengwi yang disakralkan. 


Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Bali. 

Ratusan kera ekor panjang yang jinak di hutan seluas 13,9 hektar.

Pengunjung dapat  berinteraksi dengan kera, berfoto, dan menikmati suasana hutan yang tenang. 


Hindari membawa barang bawaan mencolok (kacamata, topi) karena kera suka benda tersebut.

[8/4 09.09] rudysugengp@gmail.com: Kawah Kamojang 


Wisata alam dan sumber panas bumi aktif yang berlokasi di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut, Jawa Barat. 

Terkenal dengan "Kawah Kereta Api" yang mengeluarkan uap berbunyi nyaring. Tempat ini menawarkan wisata alam, pemandian air panas, dan edukasi PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) tertua di Indonesia. 


Pengunjung sering melempar botol plastik dan sesaat terbang di udara, meski dilarang.


Merebus telor hingga matang di area sekitar kawah hujan, pembuktian tenaga panas bumi.


Lokasi PLTP Kamojang  dikelola Pertamina, sejak tahun 1983.


Dapat dijangkau dari arah Bandung (via Majalaya) atau Garut. 

Akses jalan menanjak namun bisa dilalui kendaraan, disarankan menggunakan kendaraan dengan kondisi prima (tinggi/tidak ceper).


Harga Tiket: Tergolong terjangkau, cocok untuk wisata keluarga atau touring.

[8/4 11.33] rudysugengp@gmail.com: Kawah Putih 


Kawah Putih Ciwidey di Bandung Selatan adalah danau vulkanik memukau hasil letusan Gunung Patuha.


Terletak di ketinggian >2.400 mdpl.

Tempat ini menawarkan pemandangan dramatis dengan hutan mati cantigi, yaitu ranting-ranting pohon kering.

Sering diselimuti kabut, serta udara sejuk. 


Warna air danau yang dapat berubah-ubah (hijau toska, biru, putih, hingga coklat) kontras dengan tanah putih di sekitarnya, dan aroma belerang yang khas. 


Tempat populer untuk fotografi, swafoto (Instagramable), pre-wedding, dan menikmati pemandangan dari Sunan Ibu Sunrise Point.


Tersedia angkutan khusus "Ontang-Anting" dari area parkir bawah menuju kawah.

Terdapat skywalk bambu, toilet, musala,  dan warung makan.


Usahakan berkunjung pagi hari untuk menghindari kabut tebal dan cuaca lebih cerah.


Berjarak sekitar 49 kilometer atau 1,5 hingga 2 jam, jika berkendara dari pusat Kota Bandung.

[8/4 13.17] rudysugengp@gmail.com: Kawah Tangkuban Parahu 


Menurut cerita rakyat Sunda, gunung aktif dengan kawah eksotis ini terbentuk dari perahu raksasa yang ditendang Sangkuriang karena gagal memenuhi syarat pernikahan dari ibunya, Dayang Sumbi. 


Terletak di utara Kota Bandung, tepatnya di antara Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat, Lembang.


Tangkuban Parahu berasal dari bahasa Sunda yang berarti "perahu terbalik," menggambarkan bentuk gunung yang menyerupai perahu terbalik.


Gunung berapi aktif tipe Stratovolcano dengan ketinggian sekitar 2.086 meter di atas permukaan laut.


Terkenal dengan pemandangan kawahnya, seperti Kawah Ratu, serta suhu dingin (sekitar 

 siang hari, bisa turun hingga 

 malam hari).


Kutukan :

Sangkuriang,  Mengamuk dan menghilang (ngahiyang) di daerah Ujung Berung.

Perahu,  ditendang dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu.

Bendungan, dinding yang dijebol menjadi Sanghyang Tikoro.

Dayang Sumbi, berubah menjadi bunga Jaksi. 

Ayah kandung Sangkuriang, dikutuk menjadi hewan yaitu Tumang (anjing).

[8/4 16.43] rudysugengp@gmail.com: Pantai Pangandaran 


Destinasi wisata pesisir paling ikonik di Jawa Barat yang terletak di Kabupaten Pangandaran. 

Pantai ini terkenal dengan keunikannya di mana pengunjung dapat menikmati matahari terbit (sunrise) dan matahari terbenam (sunset) di satu kawasan yang sama karena bentuk pantainya yang melengkung. 

Pantai ini berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.


Pantai Barat Pangandaran.

Pusat keramaian utama yang ideal untuk berenang, bermain pasir, berselancar (surfing), atau menyewa perahu pesiar menuju Pasir Putih. 

Lokasi ini juga merupakan spot terbaik untuk menikmati sunset.


Pantai Timur Pangandaran.

Area yang lebih tenang dan banyak digunakan untuk aktivitas olahraga air (water sports) seperti banana boat dan snorkeling. 

Kawasan ini juga menjadi tempat pelelangan ikan dan spot terbaik untuk melihat sunrise. 


Area parkir luas, berbagai pilihan hotel dan penginapan, restoran seafood, pusat informasi pariwisata, penyewaan sepeda, hingga bumi perkemahan.

[9/4 13.50] rudysugengp@gmail.com: Situ Bagendit 


Situ  = Danau/Rawa.

Situ Bagendit berada di Banyuresmi, Kabupaten Garut. 


Fasilitas di Situ Bagendit menonjolkan wisata perahu dan wahana keretawisata.


Kisahnya :

Nyai Endit adalah wanita yang sangat kaya namun sangat pelit. 

Ia sering menindas warga desa yang miskin dengan bunga pinjaman yang tinggi.


Jika gagal membayar, mereka dipaksa menyerahkan hartanya.


Suatu hari, seorang pengemis tua meminta sedekah air, namun diusir kasar oleh Nyai Bagendit. 

Pengemis itu kemudian menancapkan tongkat kayu di halaman rumah Nyai Bagendit dan menantang siapa pun untuk mencabutnya.


Setelah Nyai Bagendit gagal mencabut tongkat tersebut, pengemis tua itu mencabutnya sendiri.


Air memancar deras dari dalam tanah. 

Desa tersebut kebanjiran, dan Nyai Bagendit tenggelam bersama peti harta bendanya karena enggan meninggalkan kekayaannya.


Legenda ini mengajarkan pentingnya kedermawanan, empati kepada sesama, dan dampak buruk dari sifat tamak dan sombong.


Harta sebaiknya digunakan untuk membantu, bukan sekadar ditimbun.


Adakah kisah serupa di daerahmu ?

[9/4 14.33] rudysugengp@gmail.com: Pejeng 


Museum Pejeng, yang secara resmi dikenal sebagai Museum Arkeologi Gedong Arca, adalah pusat pelestarian benda purbakala yang terletak di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Bali. Museum ini menjadi destinasi penting untuk mempelajari jejak peradaban manusia di Bali dari masa prasejarah hingga sejarah. 


Koleksi Unggulan

Museum ini menyimpan ribuan artefak yang tersebar di beberapa bangunan paviliun dalam kompleks bergaya arsitektur tradisional Bali: 


Sarkofagus: Koleksi peti mati batu kuno dari zaman Megalitikum (sekitar 2.500 tahun lalu) dengan berbagai bentuk unik, termasuk yang menyerupai kura-kura.

Alat Batu & Perunggu: Kapak lonjong, beliung persegi, serta benda-benda logam dari zaman perunggu.

Artefak Sejarah: Keramik dari dinasti Tiongkok, koin kuno, dan berbagai arca Hindu-Buddha.

[10/4 13.17] rudysugengp@gmail.com: Bali Lombok


Perjalanan dari Bali (Pelabuhan Padang Bai) ke Lombok (Pelabuhan Lembar) menggunakan kapal feri memakan waktu sekitar 4 hingga 5:jam.


Waktu Terbaik, Pagi hari untuk peluang lebih besar melihat lumba-lumba atau Dolphin.


Cidomo, Cikar Dokar Motor (kereta kuda tradisional), sangat umum di area wisata seperti Gili Trawangan.


Pantai yang terkenal dengan "karang bolong" (tebing karang berlubang) adalah Pantai Karang Bolong yang terletak di area Sekotong, Lombok Barat.

Terdapat pura di sekitarnya.


Perjalanan dapat dilanjutkan ke Utara yaitu daerah Senggigi.

[11/4 16.45] rudysugengp@gmail.com: Pejeng 


Museum Pejeng dikenal sebagai Museum Arkeologi Gedong Arca.

Pusat pelestarian benda purbakala yang terletak di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Bali. Museum ini menjadi destinasi wisata dan edukasi untuk mempelajari jejak peradaban manusia di Bali dari masa prasejarah hingga sejarah. 


Koleksi Unggulan


Sarkofagus yaitu 

Koleksi peti mati batu kuno dari zaman Megalitikum (sekitar 2.500 tahun lalu) dengan berbagai bentuk unik, termasuk yang menyerupai kura-kura.


Alat Batu dan Perunggu terdiri :

Kapak lonjong, beliung persegi, serta benda-benda logam dari zaman perunggu.


Keramik dari dinasti Tiongkok, koin kuno, dan berbagai arca Hindu-Buddha.


Nekara perunggu terbesar di dunia yang berada di Pejeng, Bali, dikenal dengan nama Bulan Pejeng. 

Tinggi : sekitar 186,5 cm dengan garis tengah bidang pukul 160 cm.


Pada masa purba, nekara digunakan sebagai alat musik dalam upacara pemanggil hujan, upacara pernikahan, pemakaman, serta simbol kekuatan pemimpin atau kepala suku.

[13/4 22.06] rudysugengp@gmail.com: Pahlawan Bung Tomo 


Keras mengkritik Soeharto, salah satunya soal pembangunan Taman Mini yang diinisiasi Bu Tien, Bung Tomo dipenjara Orde Baru tanpa proses pengadilan


Pada awal-awal Orde Baru, Bung Tomo sempat mendukung pemerintahan Soeharto yang menggantikan Bung Karno. Dia turut berpartisipasi dalam unjuk rasa mahasiswa yang menolak komunisme di Indonesia.


Seiring berjalannya waktu, Bung Tomo mulai kecewa dengan kebijakan-kebijakan Soeharto yang dinilainya tidak berpihak pada rakyat, melainkan menguntungkan konglomerat dan investor asing. Bung Tomo tidak segan-segan menyuarakan kritiknya terhadap Soeharto dan istri, Tien Soeharto melalui pidato-pidato yang disiarkan di radio.


Salah satu hal yang menjadi sasaran kritiknya adalah pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang diinisiasi oleh Ibu Tien.


Bung Tomo mendapat informasi bahwa Siti Hartinah meminta para pengusaha memberikan 10 persen keuntungan usahanya untuk pembangunan TMII. Bung Tomo menilai hal ini sebagai bentuk korupsi dan penyalahgunaan wewenang.


Bung Tomo juga mengkritik peran asisten pribadi Soeharto, yaitu Ali Moertopo dan Sudjono Humardani, yang dianggapnya sebagai orang-orang yang berkuasa di balik layar. Dia juga mengecam praktik cukongisme yang melibatkan keluarga Soeharto dan pengusaha nonpribumi.


Pada 1972, majalah Panji Masyarakat memuat wawancara dengan Bung Tomo dengan judul "Bung Tomo Menggugat: Pengorbanan Pahlawan Kemerdekaan dan Semangat 10 November 1945 telah dikhianati".


Dalam wawancara tersebut, Bung Tomo menyatakan ketidakpuasannya terhadap pemerintahan Orde Baru. Kritik-kritik Bung Tomo tentu saja tidak disukai oleh Soeharto dan kroni-kroninya.


Pada 11 April 1978, Bung Tomo ditangkap dengan tuduhan melakukan tindakan subversif. Ia dikerangkeng tanpa proses pengadilan di Penjara Nirbaya, Pondok Gede. Selama di penjara, ia ditemani oleh Ismail Sunny, seorang pakar hukum tata negara yang juga dikenal kritis terhadap Orde Baru.


Istri Bung Tomo, Sulistina, tidak tinggal diam melihat suaminya diperlakukan secara tidak adil. Ia mengirim surat protes kepada Soeharto pada 6 Juli 1978.


Dalam surat tersebut, Sulistina menulis bahwa orang yang sudah mempertaruhkan jiwa raganya untuk mempertahankan kemerdekaan negara tidak mungkin mengkhianati bangsanya sendiri.


Sulistina juga meminta agar suaminya dibebaskan atau diberi kesempatan untuk membela diri di pengadilan.


Setelah mendekam selama satu tahun di penjara, Bung Tomo akhirnya dibebaskan oleh Soeharto pada tahun 1979. Namun, ia tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal terhadap pemerintahan Orde Baru. Ia lebih memilih untuk fokus pada bisnis percetakannya dan kegiatan sosialnya.


Bung Tomo meninggal dunia pada 7 Oktober 1981. Ia dimakamkan di Pemakaman Umum Ngagel Surabaya. Bung Tomo baru dianugerahi gelar pahlawan pada tahun 2008.


#bungtomo #soeharto #ordebaru

[14/4 10.51] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Kisah BK dan Inggit


Inilah 4 poin dari Surat Perjanjian Cerai Inggit Garnasih dan Bung Karno, yang jadi saksi orang-orang penting


Ibu Inggit Garnasih memiliki peran besar dalam segala pergerakan Bung Karno. Meski begitu, perempuan kelahiran Bandung itu tak bisa menemani Sang Putra Fajar hingga kemerdekaan Indonesia. 


Keduanya resmi bercerai pada 1943. Catatan perceraian keduanya termuat dalam sebuah artikel berjudul "Berapakah Usia Ibu Inggit" yang diterbitkan di majalah Intisari edisi Maret 1984.


Catatan tersebut berupa sebuah salinan lengkap surat perjanjian cerai antara Bung Karno dan Ibu Inggit. Berikut ini surat perjanjian tersebut:


Soerat Perdjandjian


Jang bertandatangan dibawah ini,


Ir. SOEKARNO, diam di Pegangsaan Timoer 56, Djakarta, dan seteroesnja diseboet fihak pertama;


INGGIT GARNASIH, dtim di Lengkong Besar, Bandoeng dan seteroesnja diseboet fihak kedoea;


telah mufakat dan menerima satoe sama lain, pada waktoe fihak pertama mendjatoehkan talak kepada fihak kedoea, bahwa;


1. Fihak pertama akan membelikan seboeah roemah dengan pekarangannja serta isinja dikota Bandoeng oentoek fihak kedoea, menoeroet petoendjoek dan pertimbangan toean-toean drs. Mochammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan Kijahi Hadji Mas Mansoer.


Sebeloem dapat izin membeli roemah oleh Pemenntah Balatentara Dai Nippon, berhoeboeng dengan Oendang-oendang no 2 fasal 10, fihak pertama menjewakan roemah tjoekoep dengan isnja bagi fihak kedoea, djoega menoeroet petoendjoek dan pertimbangan toean-toean drs. Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan Kijahi Hadji Mas Mansoer.


2 Fihak pertama mengakoe berhoetang kepada fihak kedoea djoemlahnja 6280, (enam riboe doea ratoes delapan poeloeh roepiah), dan akan membajarnja


a. kontan f 2000,- (doea riboe roepiah),


b. sisanja / 4280, - (empat riboe doea ratoes delapan poeloeh roepiah) diangsoer membajarnja f 50. - (lima poeloeh roepiah) seboelan selama sepoeloeh tahoen.


3. Fihak pertama memberi nafkah kepada fihak kedoea, seoemoer hidoep, f 74 (toedjoeh poeloeh lima roepiah seboelan).


4 Barang-barang milik fihak pertama dan fihak kedoea, jang ditinggalkan di Benkoeloe, dibagi seperti ini. Segala boekoe-boekoe diibagikan kepada fihak pertama, jang selebihnja kepada fihak kedoea.


Demikian soerat perdjanjian ini diboeat di Djakarta, pada hari Djoem'at, tanggal 29 Boelan I tahoen 2603 (1943).


Fihak Pertama:


(Soekarno)


Fihak Kedoea


(Inggit Garnasih)


Jang mendjadi saksi Soerat-Perdjanjian ini


1. Drs Mohammad Hatta


2. Ki Hadjar Dewantara


3. Kijahi Hadji Mas Mansoer


Jika disimak dengan saksama, ada beragam fakta menarik dari surat perjanjian cerai Bung Karno dan Ibu Inggit, yaitu:


1. Ada nama-nama besar, yang kelak dianggap sebagai pahlawan Indonesia, yang menjadi saksi surat perjanjian tersebut, yaitu Mohammad Hatta, Ki Hadjar Dewantara, Kijahi Hadji Mas Mansoer.


2. Tak hanya jadi saksi, ketiga tokoh tersebut juga ditugaskan untuk menentukan rumah yang dibuatkan Bung Karno untuk Ibu Inggit.


3. Saat bercerai, Bung Karno masih memiliki utang cukup besar kepada ibu Inggit, yang harus dilunasi dengan cara dicicil setiap bulan.


4. Saat pembagian harta gono-gini yang berada di Bengkulu, Bung Karno hanya mengambil hak untuk buku-bukunya, sementara harta-harta lainya beliau serahkan untuk menjadi milik Ibu Inggit.


Baca artikel selengkapnya di kolom komentar


#InggitGarnasih #bungkarno

[14/4 15.23] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Bung Tomo 


Orang-orang ternama pun pernah dijebloskan ke penjara oleh rezim Orde Baru. Sejak SD kita sudah mengenal nama Bung Tomo; pembaca koran/majalah pasti tahu kolumnis Mahbub Djunaidi, dan Ismail Suny adalah ahli hukum yang mengkritisi praktek kekuasaan di negara ini. 


MEREKA PULANG DARI NIRBAYA


(TEMPO, NO. 7 Thn. IX, 14 APRIL 1979)


Setelah ditahan setahun kurang dua hari, Bung Tomo, Mahbub Djunaidi dan Ismail Suny dibebaskan juga. Semula mereka dituduh subversi, tapi belakangan kabarnya dikenakan tuduhan menghasut mahasiswa. Tapi yang pasti mereka tampak gembira, juga Mahbub masih sakit.


Bung Tomo, 58 tahun, lagi sembahyang maghrib di kamar tahanan ketika sedan Primier biru metalic B 1583 EG masuk halaman perkampungan tahanan Nirbaya di pinggir selatan Jakarta, Senin sore kemarin. Isteri dan ketiga anak Bung Tomo turun. Mereka menjemput Bung Tomo yang hari itu bebas setelah ditahan setahun. Tepat jam 19.00, menjelang Isya, Bung Tomo keluar. Wajahnya gembira, ia tampak lebih sehat tapi tambah gendut. "Habis, di sini makan melulu. Lagi pula ada larangan dokter untuk senam," katanya setengah berteriak.


la mengenakan baju hangat dari wool abu-abu. Ada 7 tas dan 3 ember plastik, 1 koper dan 1 ranjang lipat dibawanya pulang. Juga sebuah kompor. Selama ditahan ia memang suka memanaskan sayur-kiriman isterinya atau menggoreng telur sendiri. Tampaknya ia tidak kesepian. Sebab ada hikmah paling besar yang dirasakannya, ialah jiwanya yang semakin dekat kepada Tuhan. "Sembahyang di Nirbaya rasanya lebih tenang dan mantap," katanya.


Banyak penghuni Nirbaya yang menganggap Bung Tomo aneh. "Saya juga dikira cengeng, karena suka nangis," katanya lagi. Terutama, katanya, ketika bendera Merah Putih dikibarkan di halaman Nirbaya pada peringatan 17 Agustus. "Bendera itu bikinan isteri saya sendiri," tuturnya. Pagi hari, setiap kali sang bendera dikerek, Bung Tomo mengambil "sikap hormat" dari kamar tahanannya yang berjarak 100 meter dari halaman upacara.


Bersama Bung Tomo, ada 2 tokoh lagi yang juga bebas: Wakil Sekjen PPP Mahbub Djunaidi, 46 tahun, dan Rektor Universitas Muhammadiyah Ismail Suny, 49 tahun. Ketiganya dituduh subversi dan ditahan setahun. Belakangan menurut seorang pejabat tinggi Hankam, mereka dituduh "menghasut mahasiswa." Cuma Mahbub yang harus berbaring 11 bulan di RS Gatot Subroto ka- rena menderita darah tinggi. Pembebasan itu diungkapkan oleh Jaksa Agung Ali Said sesaat setelah menghadiri pelantikan Badan Pembina Pelaksanaan Pendidikan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7) di Istana Negara Senin paginya.


Menurut Ali Said, berdasarkan pemeriksaan sementara tak ada alasan lagi menahan mereka bertiga. "Mereka bebas tanpa syarat," katanya.


Penjual Tulisan


Senin siang itu, ketiga tahanan dib wa ke Kejaksaan Agung, diterima oleh Asisten Khusus Jaksa Agung, Singgih. Mereka menerima surat pembebasan. "Sebagai ahli hukum, saya sudah tahu sebelumnya tentang pembebasan ini. Penahanan perkara subversi paling lama kan setahun," ujar Suny.


Mahbub, meski tampak agak kurusan tapi gembira. Tekanan darahnya yang dulu mencapai 200, sudah mereda sekitar 140 dan 150. Yang paling tampak tampak cerah adalah Bung Tomo. Begitu isterinya datang ke Kejaksaan Agung, kontan Bung Tomo membopongnya. "Ini sudah nazar saya. Kalau saya bebas, saya akan membopong isteri saya. Dialah yang begitu tabah setiap hari menengok dan mengirim makanan ke Nirbaya," katanya.


Dari Kejaksaan Agung, mereka kembali ke Nirbaya. Siang itu juga, Mahbub dan Suny pulang, sementara Bung Tomo menunggu jemputan keluarga sampai sore hari. Mahbub tak menduga bakal bebas ketika Senin siang itu dibawa petugas ke Kejaksaan Agung. "Dua hari sebelumnya saya masih diperiksa perkara subversi itu," katanya kepada Karni Ilyas dari TEMPO.


Tuduhan itu, menurut cerita kolumnis Mahbub, bukan lantaran tulisan-tulisannya. Tapi karena pembicaraannya di beberapa seminar dan diskusi, juga waktu kampanye untuk PPP. Apa rencananya kini? "Menulis," jawabnya. "Saya ini tukang jual tulisan. Selama masih ada yang mau membeli saya akan tetap menjual," tambahnya.


Dan selama dalam tahanan, "si penjual tulisan" ini ternyata berhasil menterjemahkan buku The Road to Ramadhan karangan wartawan Mesir Hassanain Heikal, yang sudah ia kirim ke sebuah penerbit di Bandung. Ia juga sempat menulis novel, "tapi tak sempat menulis artikel," katanya. Betapa pun, yang paling gembira tampaknya Ny. Tuti, isteri Mahbub yang di Pasar Minggu, Jakarta. Pembebasan suaminya, bagi Tuti "melebihi masa penganten, karena dari duka menjadi bahagia," katanya. "Dua bulan lalu mas Mahbub pingsan di kamar mandi rumah sakit, tak ada yang tahu. Tapi kemudian siuman sendiri."


Ismail Suny, dengan Mercedes putih 220 S, pulang ke rumahnya di Jalan Jenggala Kebayoran Baru. Ia juga tampak lebih sehat. "Dengan badminton tiap hari, berat badan saya turun. Dulu 72 kg, sekarang 66 kg," katanya kepada A Margana dari TEMPO. Selama ditahan ia tak sulit mendapat bacaan, terutama buku-buku ilmiah.


Sumber: TEMPO, NO. 7 Thn. IX, 14 APRIL 1979

[14/4 15.25] rudysugengp@gmail.com: Al Qur'an ditolak 


Saifuddin Ibrahim ini dulu katanya seorang ustadz, namun murtad setelah melihat ada kesalahan sejarah dalam Al Qur'an. Menurutnya Al Qur'an telah keliru mencatat sejarah, karena Maryam disebut sebagai saudara perempuan Harun, padahal nabi Harun as hidup sekitar 1300 tahun sebelum Maryam.


Tuduhan kesalahan sejarah dalam Al-Qur'an terkait sebutan "Saudara Perempuan Harun" kepada Maryam adalah bentuk kegagalan dalam memahami gaya bahasa (majas) dan budaya lokal. Dalam tradisi Bani Israil, sebutan tersebut bukanlah penunjuk hubungan darah secara langsung, melainkan sebuah gelar penghormatan.


Maryam ibu Nabi Isa dipanggil demikian karena ia memiliki tingkat kesalehan, pengabdian, dan kesucian yang mengingatkan bangsa tersebut kepada Miryam, saudara perempuan Nabi Musa dan Nabi Harun AS, yang merupakan sosok wanita pemimpin dan ahli ibadah di zaman mereka.


Hanya gelaran atau panggilan, bukan saudara kandung seperti yang dituduhkan. Hal ini bahkan dijawab langsung oleh Rasulullah SAW  ketika ditanya oleh seorang sahabat dengan pertanyaan serupa.


Diriwayatkan dari Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Ketika aku datang ke Najran, penduduk di sana (yang beragama Nasrani) bertanya kepadaku: 'Kalian membaca ayat 'Wahai saudara perempuan Harun' (QS. Maryam: 28), padahal antara Musa dan Isa itu terpaut jarak waktu yang sangat jauh?'


Ketika aku kembali kepada Rasulullah SAW, aku menanyakan hal itu kepada beliau, maka beliau bersabda:


 إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ


'Sesungguhnya mereka dahulu biasa memberi nama (menggelari) dengan nama-nama para Nabi mereka dan orang-orang saleh dari kalangan mereka.'" (HR. Muslim, No. 2135)


"Ukhta Harun" adalah nama gelar bagi Maryam Ibu Nabi Isa as karena merupakan perempuaan shaleh dan taat seperti Miryam saudara Perempuan Nabi Harun dan Nabi Musa alaihimassalam.


Tidak ada satupun kesalahan dalam Al Qur'an karena Al Qur'an adalah Kalam Ilahi


Semoga bermanfaat

[15/4 00.44] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Yaimim


Kabar meninggalnya Muhammad Imam Muslimin atau Yai Mim tahanan kasus dugaan pelecehan seksual dan pornografi di rumah tahanan Polresta Malang Kota menyisakan duka bagi Nurul Sahara, tetangga yang sempat berseteru dengan almarhum. Dari Batam, Sahara tetap menyampaikan belasungkawa meski hubungan keduanya pernah diwarnai konflik.


“Saya mendapatkan kabar duka ini dari suami saya di Kota Malang. Kami turut berduka cita atas meninggalnya Pak Mim,” kata Sahara, Selasa (14/4/2026).


Ia turut menyampaikan doa dan harapan terbaik bagi almarhum. Menurutnya, keluarga yang ditinggalkan diharapkan diberi ketabahan menghadapi cobaan ini.


“Semoga beliau husnul khotimah dan segala amal ibadah beliau diterima di sisi Allah. Keluarga yang ditinggalkan senantiasa diberi ketabahan,” ucapnya.


Di sisi lain, Kasat Reskrim Polresta Malang Kota, Rakhmad Aji Prabowo, mengungkapkan bahwa hasil analisis awal tim medis menunjukkan adanya indikasi asfiksia sebagai penyebab kematian. Yakni kondisi kekurangan oksigen secara drastis.


“Dari hasil analisis dokter, tanda-tanda yang menonjol mengarah pada asfiksia,” tegas Aji,


Berita selengkapnya swipe up story atau kunjungi website www.jatimtimes.com


#kotamalang #infomalang #berita #jawatimur #beritajawatimur #jawatimur #kabupatenmalang #beritamalang #beritajatim #jatimtimes

[15/4 10.09] rudysugengp@gmail.com: *Menyambut Kepulangan Arca Shiva Candi Kidal & Prasasti Damalung*


Pemulangan ini menambah daftar panjang repatriasi artefak Nusantara, menyusul pengembalian ratusan koleksi pada 2024 dan fosil Manusia Jawa pada 2025.


Ali Zaenal

Terbit 11 Apr 2026 13:10 WIB,


tirto.id - Di masa Jawa Kuno, raja adalah titisan ilahi yang menjaga keseimbangan semesta. Sosok penguasa dipandang sebagai manifestasi dewa, hadir di bumi untuk melindungi rakyat. Dikisahkan Raja Anusapati naik takhta setelah perebutan kekuasaan berdarah dari Ken Angrok, ayah tirinya. Meski awalnya penuh intrik, pemerintahannya membawa stabilitas bagi Singhasari. Rakyat hidup tenteram hingga ia wafat pada 1248 M.


Kitab Nagarakretagama menggambarkan kepergiannya sebagai transisi spiritual antara dunia manusia dan dunia dewa. Untuk menghormati itu, dibangun Candi Kidal dan sebuah arca, sebagaimana dikutip Kitab Pararaton yang menyebutkan “lina sang anusapati ćaka1171 dhinarma sira ring kidal” yang berarti tempat itu dipilih sebagai pendharmaan Raja Anusapati.


Arsitekturnya ramping dan tinggi, tanpa selasar mengelilingi tubuh candi. Arca Shiva sebagai perwujudan Raja Anusapati yang telah menyatu dengan Siwaloka lalu ditempatkan di ruang utama garbhagriha, pusat pemujaan roh. Figur dewa dihiasi ornamen teratai yang menandakan kelahiran kembali.



Arca tersebut lalu menghilang pada masa kolonial dan rencananya akan dipulangkan dalam waktu dekat bersama Prasasti Damalung yang juga disimpan di Wereldmuseum, Belanda. Keduanya akan diserahkan ke Museum Nasional Indonesia setibanya di tanah air.


*Pendokumentasian dan Pindah Tangan*


Arca Shiva Mahadeva dari Singhasari memiliki pahatan anatomi dewa bertangan empat yang proporsional, dibuat dari andesit berkualitas tinggi dengan tinggi 1,23 meter. Identitasnya menjadi koleksi Wereldmuseum dengan nomor TM-A-5950.


Pada 1891, ahli geografi, Rogier Verbeek melalui Oudheden van Java menyusun inventaris besar tinggalan arkeologi di Jawa. Seturut Véronique Degroot dalam Candi, Space and Landscape: A Study on the Distribution, Orientation and Spatial Organization of Central Javanese Temple Remains (2007:27), karya ini memberi konteks situs dan objek, namun tidak menjelaskan riwayat individual sebuah arca hingga ke Eropa.


Warsa 1914, pendokumentasian dilanjutkan oleh Oudheidkundige Dienst lewat laporan berkala tentang kondisi cagar budaya di Hindia Belanda. Arsip ini memperkuat basis administratif dan pendataan di wilayah koloni.


Pada fase yang sama, Nicolaas Johannes Krom mengembangkan kajian ikonografi Hindu-Jawa bertajuk Inleiding tot de Hindoe-Javaansche Kunst. Analisisnya pada jilid 2 membantu memahami makna religius Arca Shiva dan kaitannya dengan kultus raja di Candi Kidal, Malang.


"Secara kebetulan, kami baru mengetahui bahwa monumen tersebut didedikasikan untuk Shiva; oleh karena itu, hal ini menjadi peringatan mengenai tingkat kehati-hatian yang diperlukan dalam menarik kesimpulan semacam ini," tulis Krom.


Merujuk Profil Budaya dan Bahasa Kabupaten Malang Provinsi Jawa Timur (2020), ciri khas Candi Kidal terletak pada relief cerita Garudheya. Dalam kesusastraan Jawa kuno, terdapat mitos Garudheya, seekor garuda yang berhasil membebaskan ibunya dari perbudakan dengan tebusan air suci amerta (air kehidupan). Konon relief mitos Garudheya dibuat untuk memenuhi amanat Anusapati yang ingin meruwat Ken Dedes, ibunda yang sangat dicintainya.


Namun Thomas Stamford Raffles yang menemukan Candi Kidal pada tahun 1817 tidak menyebutkan arca saat ekspedisinya. Meski begitu, detail dekoratif arca tetap lebih mendekati seni era Singhasari.


"Patung itu memakai banyak sekali perhiasan, termasuk upavita dan kiritamukuta atau mahkota yang rumit. Rambutnya tergerai panjang hingga sebahu. Perak menghiasi leher, lengan, pinggang, dan pergelangan kaki. Dililitkan di pinggang adalah ikat pinggang kain panjang. Upavita menyerupai untaian lima mutiara yang dipilin dan disampirkan di lutut gesper permata yang rumit dan cukup besar, yang merupakan fitur yang lebih khas gaya Singosari," tulis Lesley S. Pullen dalam Patterned Splendour: Textiles Presented on Javanese Metal and Stone Sculptures Eighth to the Fifteenth Century (2021:134-136).


Patung tersebut memakai dua buah kain yang ditandai dengan sebuah garis yang hanya terlihat di bawah lutut.


"Polanya terlihat sangat halus lipatan dan berdasarkan kerumitan desainnya, mungkin dibuat seperti itu mewakili kain brokat. Motif kawung dalam hal ini lebih mendekati terjemahan Majapahit," sambung Pullen.


Menurut Ashar Murdihastomo dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam "Analisis Ikonografi Ornamen Bunga dan Binatang Pada Prabhamandala Arca Siwa Koleksi Museum Nasional Indonesia" (2021), pengarcaan Dewa Siwa di Indonesia biasa dilengkapi dengan beberapa atribut khusus yang menjadi salah satu petunjuk dari penokohan.


Arca Shiva umumnya menegaskan konsep kosmik tentang penciptaan, keseimbangan, dan keselamatan jiwa. Pada artefak arca Candi Kidal, sosok Shiva digambarkan dengan empat lengan, dua di depan menyatu dalam makna meditatif yang melambangkan pemusatan pikiran menuju kekosongan mutlak, dua di belakang memegang aksamala (untaian mutiara atau tasbih) sebagai simbol siklus waktu dan camara (pengusir serangga) sebagai lambang penyucian serta otoritas kosmik.


Arca Shiva Candi Kidal tercatat berpindah tangan pada 1851 melalui Isaac Gerard Veening, mantan kapten kapal dagang Hindia Belanda.


Ia kemudian menghibahkan arca sakral itu kepada perkumpulan Natura Artis Magistra di Amsterdam, sebelum akhirnya menetap lama di Wereldmuseum. Aura spiritualnya direduksi, dipamerkan dingin sebagai objek antropologis semata.


*Pusat Literasi Kaum Resi Damalung*


Satu artefak lagi yang akan kembali ke tanah air adalah Prasasti Damalung atau Prasasti Ngadoman. Prasasti yang terdiri dari 13 baris tulisan ini ditemukan di Dusun Ngaduman, Getasan, Semarang, namun nama Damalung merujuk pada sebutan kuno Gunung Merbabu.


Nama Damalung salah satunya muncul dalam naskah Bujangga Manik yang menyebutnya sebagai salah satu tempat suci yang dikunjungi. Dikutip J. Noorduyn dalam Bujangga Maniks Journeys Through Java; Topographical Data From an Old Sundanese Source (1982:416), ia menulis:


"Cunduk ti gunung Damalung, datangna ti Pamerihan, datang ti lurah pajaran. (Tiba di gunung Damalung, datangnya dari Pamrihan, datang dari wilayah pengajaran suci)."


Prasasti bertarikh 1371 Saka itu lahir di masa Raja Kertawijaya, saat Majapahit memasuki senja kala. Keistimewaannya terletak pada aksara Buda atau aksara Gunung, bukan Kawi standar. Naskahnya merekam kehidupan spiritual masyarakat pergunungan di tengah keruntuhan politik dataran rendah.


Merujuk catatan Pertemuan Arkeolog IV, Cipanas 3-9 Maret 1986 (1986:255), kehidupan religius masyarakat masa itu terlihat pada baris pembuka yang memuja Saraswati dan gambar lingga di baris akhir.


Saraswati dipandang sebagai energi penggerak ilmu pengetahuan, kunci bagi masyarakat Damalung untuk mengolah hasil bumi dan menjaga kelangsungan hidup. Bagian tengah prasasti menekankan filosofi kosmik tentang matahari dan bulan sebagai pengawas semesta, sekaligus peringatan bagi para pertapa untuk menjaga laku spiritual dan menghindari perbuatan nista.


Pada 1824, Residen Semarang, Hendrik Jacobus Domis membawa turun batu suci dari lereng Merbabu dan menempatkannya di halaman rumah dinasnya di Salatiga. Ia memberikan alasannya sebagai upaya pelestarian lewat Salatiga, Merbaboe en de Zeven Tempels pada 1825.


Domis lalu meminta Panembahan Sumenep untuk mengalihbahasakan ke dalam bahasa Melayu agar bisa diakses banyak kalangan. Pada periode 1825–1873, prasasti ini ikut diangkut ke Belanda dan disimpan di Museum Volkenkunde, Leiden.


Dinukil dari Katalog Repatriasi Artefak Sejarah Indonesia 2024, terjemahan itu kemudian disanggah ilmuwan Belanda, Abraham Benjamin Cohen Stuart, setelah ia membacanya. Pada 1873 ia menulis karyanya dalam artikel berjudul "Inscriptie op een Steen in ‘s Rijks Museum van Oudheden te Leiden", yang terbit di jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indië Vol. 91.


Cohen menyertakan pembacaan atas isi prasasti itu.


"Om Sri Saraswati, gunung Damalung yang agung dan suci. Engkau adalah kehidupan di bumi, melingkari, menjelma menjadi manusia, tempat air... sebab Hyang Widhi... oleh Dewa Matahari, Dewa Bulan yang menyinari baik buruknya dewa dan manusia."


Terjemahan Cohen sejak itu lebih bisa diterima. Prasasti Damalung memuat kebijaksanaan leluhur, mengajarkan kesadaran penuh, kelestarian alam, dan penundukan ego di hadapan kebesaran semesta.


Aksara ini menjadi jembatan transisi dari tradisi Jawa Tengah menuju sistem pasca-Majapahit. Kehadirannya menegaskan peran Merapi-Merbabu sebagai pusat intelektual kaum resi yang menulis naskah di daun gebang dan nipah. Tradisi literasi mereka telah melampaui lisan, menjadi bukti peradaban ilmu tentang manuskrip yang matang. Ia menjadi jendela untuk memahami struktur sosial, spiritualitas, dan bahasa komunitas pertapa di masa akhir Hindu-Buddha Jawa.


Setelah lebih dari satu setengah abad, jalan panjang diplomasi akhirnya membuahkan hasil. Pada September 2023, Indonesia resmi menuntut pengembalian sejumlah artefak strategis. Penelitian asal-usul atau dilakukan sejak Februari 2024 hingga Februari 2025, menelusuri arsip kolonial secara teliti.


Puncaknya, pada 17 Oktober 2025, Komisi Koleksi Kolonial Belanda merekomendasikan pemulangan tanpa syarat. Pada 31 Maret 2026 di Den Haag, perjanjian final ditandatangani oleh perwakilan kedua negara. Repatriasi ini mencakup Arca Shiva, Prasasti Damalung, dan manuskrip Al-Quran kuno milik Teuku Umar.


Pemulangan ini menambah daftar panjang repatriasi artefak Nusantara, menyusul pengembalian ratusan koleksi pada 2024 dan fosil Manusia Jawa pada 2025.


tirto.id - Mozaik

Kontributor: Ali Zaenal

Penulis: Ali Zaenal

Editor: Irfan Teguh Pribadi

[15/4 12.39] rudysugengp@gmail.com: Pejeng 


Museum Pejeng dikenal sebagai Museum Arkeologi Gedong Arca.

Pusat pelestarian benda purbakala yang terletak di Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Bali. Museum ini menjadi destinasi wisata dan edukasi untuk mempelajari jejak peradaban manusia di Bali dari masa prasejarah hingga sejarah. 


Koleksi Unggulan, seperti Sarkofagus yaitu 

Koleksi peti mati batu kuno dari zaman Megalitikum (sekitar 2.500 tahun lalu) dengan berbagai bentuk unik, termasuk yang menyerupai kura-kura.


Alat Batu dan Perunggu terdiri :

Kapak lonjong, beliung persegi, serta benda-benda logam dari zaman perunggu.


Keramik dari dinasti Tiongkok, koin kuno, dan berbagai arca Hindu-Buddha.


Nekara perunggu terbesar dikenal dengan nama Bulan Pejeng. 

Tinggi : sekitar 186,5 cm dengan garis tengah bidang pukul 160 cm.


Pada masa purba, nekara digunakan sebagai alat musik dalam upacara pemanggil hujan, upacara pernikahan, pemakaman, serta simbol kekuatan pemimpin atau kepala suku.

[15/4 17.19] rudysugengp@gmail.com: Pahlawan Dr. MUWARDI 


Pukul 13.20, ruang operasi RS Jebres belum sempat bersih—darah masih hangat saat pintu didobrak dari luar.  

Bukan perawat yang masuk, tapi orang-orang bersenjata yang menyebut namanya seperti sudah lama menunggu.


Dr. Moewardi.  

Dokter yang lebih sering pulang tanpa uang daripada membawa bayaran.  

Namanya dikenal di kampung-kampung, bukan di ruang praktik elite.


Di masa penjajahan, pilihannya jelas.  

Gaji tinggi. Hidup nyaman.  

Tapi dia justru memilih lorong sempit, pasien miskin, dan antrean panjang tanpa biaya.


Sering kali pasien bertanya berapa harus membayar.  

Jawabannya hampir selalu sama: tidak usah.


Tahun 1945, saat situasi genting menjelang Proklamasi,  

dia bukan tokoh pidato.  

Dia berdiri dekat Soekarno-Hatta, berjaga kalau keadaan berubah.


Lalu 1948 datang lebih gelap.  

Solo berubah cepat.  

Orang-orang penting mulai pergi diam-diam.


Rumah sakit masih penuh.  

Beberapa pasien tidak bisa dipindahkan.  

Sebagian bahkan tidak sadar.


Dia diminta pergi.  

Dia menolak.


Hari itu, 13 September 1948, operasi sedang berjalan.  

Belum selesai.


Pintu dibuka paksa.  

Tangannya dihentikan.  

Bukan karena gagal—tapi karena dianggap lawan.


Ia dibawa keluar.  

Masih memakai pakaian operasi.  

Tanpa sempat kembali.


Tidak ada perlawanan.  

Tidak ada penjelasan panjang.  

Hanya langkah yang semakin jauh dari ruang yang belum selesai.


Sejak hari itu, namanya tetap hidup.  

Rumah sakit itu memakai namanya.  

Pasien terus datang setiap hari.


Tapi tubuhnya tidak pernah ditemukan.  


_


AJR

[16/4 12.27] rudysugengp@gmail.com: @chefyaidi1


We must preserve the culture of the archipelago from the small things


Artinya :

"Kita harus melestarikan kebudayaan nusantara (kepulauan Indonesia) mulai dari hal-hal kecil." 


Berikut adalah penjabaran maknanya:

We must preserve: Kita harus melestarikan/menjaga.

The culture of the archipelago: Kebudayaan nusantara/kepulauan (merujuk pada Indonesia yang terdiri dari banyak pulau).

From the small things: Mulai dari hal-hal kecil (tindakan sederhana sehari-hari). 

Makna Implisit:

Kalimat ini mengajak kita untuk tidak meremehkan tindakan kecil dalam menjaga budaya. Pelestarian budaya tidak selalu harus lewat acara besar, tetapi bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari, seperti: 

Menggunakan bahasa daerah atau bahasa Indonesia yang baik.

Memakai batik atau kain tradisional dalam kegiatan santai.

Mempelajari tari atau alat musik tradisional.

Mengenalkan kuliner tradisional kepada teman.

Menghormati tata krama (sopan santun) setempat.

[17/4 00.15] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Dukun Santet 


Tahun 1998 adalah tahun di mana Indonesia bernapas di ujung tanduk. Krisis moneter mencekik urat nadi ekonomi, suhu politik mendidih, dan ketidakpastian merayap hingga ke pelosok desa. Di Banyuwangi sebuah daerah di ujung timur Pulau Jawa yang secara kultural kental dengan tradisi mistis tekanan hidup yang luar biasa berat ini menemukan saluran pelepasannya yang paling purba: ketakutan terhadap praktik ilmu hitam.


Apa yang awalnya tampak seperti letupan amuk massa komunal biasa, tanpa disadari oleh siapa pun, perlahan bermutasi menjadi sebuah operasi teror yang sangat sistematis, berdarah, dan mengubah masyarakat yang guyub menjadi algojo bagi tetangganya sendiri.


I. Amuk Massa dan Petaka Sebuah Dokumen (Februari – Agustus 1998)


Kisah kelam ini bermula pada Februari 1998. Rentetan pembunuhan terhadap orang-orang yang dituduh sebagai dukun santet meledak. Pada 4 Februari, di siang bolong, seorang warga bernama Soemarno tewas dikeroyok kerumunan massa. Kekerasan serupa menjalar ke Dusun Pakis Jalio, Sumberrejo, merenggut nyawa Asmaki (40) dan Sahroni (35) pada 9 Februari.


Pada fase awal ini, teror masih bersifat horizontal. Pelakunya adalah warga desa setempat yang saling kenal. Motifnya murni urusan lokal dendam, sakit yang tak kunjung sembuh, kecemburuan sosial, atau sengketa tanah yang dibumbui tuduhan klenik. Tidak ada taktik, hanya amarah buta komunal.


Merespons warganya yang mulai saling bunuh, jajaran Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) mengambil langkah. Bupati Banyuwangi saat itu, Kolonel Pol. (Purn) H.T. Purnomo Sidik, mengeluarkan sebuah Radiogram resmi. Instruksinya tampak masuk akal: aparat desa (Camat hingga Kepala Desa) diminta mendata nama dan alamat warga yang diisukan sebagai dukun santet. Dalihnya, agar aparat keamanan bisa mengevakuasi dan melindungi mereka dari pengeroyokan.


Namun, eksekusi di akar rumput adalah sebuah cacat birokrasi yang mematikan. Pendataan dilakukan tanpa bukti konkret, hanya bermodalkan desas-desus atau ketidaksukaan personal. Daftar itu membengkak secara sumbir. Tokoh agama, kiai kampung, guru ngaji, hingga saingan politik desa tiba-tiba masuk ke dalam daftar terduga dukun santet. Di Kecamatan Glagah, data awal yang hanya 4 orang mendadak membengkak menjadi 26 orang.


Situasi sempat mereda pada bulan Maret hingga Juni seiring lengsernya Soeharto di Jakarta. Namun di bulan Juli, bara itu kembali ditiup. Buku data rahasia milik aparat desa itu bocor ke publik. Daftar yang niatnya dibuat oleh negara untuk perlindungan, seketika bertransformasi menjadi "daftar target operasi" pencabutan nyawa.


II. Teror Sang "Ninja" dan Pergeseran Target (September – Oktober 1998)


Berbekal "daftar hitam" yang bocor, ladang pembantaian sesungguhnya dibuka pada bulan September. Jika sebelumnya pembunuhan dilakukan secara acak oleh warga, kini amuk massa digantikan oleh eksekutor profesional.


Masyarakat mulai dicekam oleh kesaksian tentang sekelompok orang misterius: berpakaian serba hitam, mengenakan topeng (sebo), bergerak lincah melompati tembok tinggi, dan bersenjata tajam taktis (parang super tajam atau celurit). Warga menjuluki algojo malam ini sebagai "Ninja".


Cara kerja mereka sangat rapi dan menumbangkan logika bahwa ini ulah preman desa biasa. Mereka kedapatan menggunakan Handy Talky (HT) untuk berkoordinasi sebuah alat komunikasi mahal yang saat itu identik dengan instansi militer atau polisi. Eksekusi kerap didahului dengan "tanda kematian" berupa silang (X) merah atau hitam di pintu rumah korban. Menjelang eksekusi, aliran listrik di desa atau blok tersebut akan padam secara tiba-tiba dan terencana. Dalam hitungan menit, sang Ninja mendobrak masuk, mengeksekusi target, memutilasi atau menghancurkan tubuh korban untuk menyebar teror psikologis (shock therapy), lalu lenyap ditelan kegelapan.


Namun, kejanggalan terbesar yang dicatat oleh sejarah terjadi di sini: pergeseran target. Yang dibantai bukan lagi para praktisi ilmu hitam. Menurut investigasi, korban mayoritas justru adalah para Kiai (terutama dari kalangan Nahdlatul Ulama), guru ngaji, pengurus masjid, dan tokoh masyarakat. Teror ini bukan lagi soal santet, melainkan operasi terstruktur yang menyayat urat nadi sosiologis desa.


III. Paranoia Massal dan Tumbal Ketakutan (Oktober – November 1998)


Memasuki Oktober, teror tak lagi bisa dikurung di Banyuwangi. Efek psikologisnya tumpah dan menyebar ke seluruh wilayah "Tapal Kuda" seperti Jember, Situbondo, Bondowoso, Pasuruan, hingga Malang.


Malam hari berubah menjadi zona perang. Jam malam berlaku secara de facto. NU menginstruksikan Banser, Pagar Nusa, dan ribuan santri untuk membarikade desa dengan batang pohon dan menjaga rumah para Kiai selama 24 jam penuh menggunakan senjata tajam.


Di titik inilah, kelumpuhan sosial mencapai tujuan tergelapnya: nalar kritis masyarakat runtuh. Paranoia ekstrem melahirkan amuk massa yang salah sasaran. Warga mulai merazia siapa saja yang mencurigakan di malam hari. Musafir yang tersesat, pengamen, atau siapa pun yang kebetulan mengenakan baju hitam tewas dikeroyok karena disangka sebagai "Ninja gadungan".


Situasi semakin absurd dengan munculnya sebuah fenomena ganjil. Beberapa minggu sebelum puncak teror, warga bersaksi melihat truk-truk misterius menurunkan puluhan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) tak dikenal di wilayah mereka pada malam hari. Analisis intelijen mencurigai ODGJ ini sengaja "didrop" untuk dua tujuan: sebagai informan yang memetakan rumah target, atau sebagai kambing hitam untuk ditumbalkan. Terbukti, saat warga kalap mencari Ninja, para ODGJ inilah yang kerap dibantai di jalanan.


IV. Lenyapnya Sang Algojo dan Kebuntuan Keadilan (Akhir 1998 – Kini)


Melihat api yang nyaris memicu konflik horizontal bersenjata, tokoh nasional turun tangan. K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengeluarkan instruksi tegas. Ia melarang warga NU membalas dendam dan secara terbuka menyatakan bahwa ini bukanlah ulah dukun santet, melainkan "operasi politik tingkat tinggi" untuk mendestabilisasi negara.


Narasi Gus Dur perlahan meredam kepanikan, berbarengan dengan diturunkannya pasukan keamanan berskala besar oleh ABRI (TNI/Polri). Anehnya, begitu aparat menebal dan warga berhenti histeris, operasi "Ninja" berhenti total secara mendadak. Eksekutor terlatih itu raib tanpa jejak, memperkuat dugaan bahwa pergerakan mereka sangat dikomando.


Tim Pencari Fakta (TPF) NU dan Komnas HAM segera melakukan investigasi. Di tengah simpang siur data, Komnas HAM memverifikasi 122 korban tewas, sementara catatan TPF NU dan pemerintah lokal menyebut angka jauh di atas 250 hingga 307 jiwa.


Negara memang menyidangkan sekitar 300 orang tersangka. Namun, pengadilan tersebut cacat logika. Yang ditangkap hanyalah petani, buruh, dan warga desa yang kebetulan ikut amuk massa. Tak ada satu pun dari mereka yang memiliki kemampuan fisik dan taktis ala "Ninja". Sang aktor intelektual gagal disentuh.


Tiga teori besar mengemuka:


1. Operasi Cipta Kondisi Nasional: Sengaja meneror basis Islam terbesar (NU) di Jawa Timur untuk mengacaukan stabilitas jelang Sidang Istimewa MPR 1998.

2. Konflik Lokal (Gerakan 101): Operasi membungkam tokoh-tokoh lokal yang menuntut Bupati Banyuwangi mundur.

3. Balas Dendam "Gali": Serangan balik sisa-sisa preman korban Petrus era 80-an (teori yang dianggap paling lemah).


Komnas HAM secara resmi menetapkan tragedi ini sebagai Pelanggaran HAM Berat. Alasannya, kejahatan ini dilakukan secara meluas dan sistematis terhadap penduduk sipil. Sayangnya, kasus ini masuk ke dalam peti es, dipingpong selama belasan tahun antara Kejaksaan Agung dan Komnas HAM tanpa ujung yudisial.


Baru pada 11 Januari 2023, Presiden Joko Widodo secara kenegaraan mengakui dan menyesalkan tragedi ini. Negara memilih jalan penyelesaian non-yudisial berupa pemulihan hak keluarga korban (rehabilitasi dan penghapusan stigma), meninggalkan dalang utamanya tetap bersembunyi di balik kabut sejarah.


V. Cermin Retak Kemanusiaan


Tragedi Banyuwangi 1998 bukanlah sekadar catatan kelam tentang klenik atau mistis, melainkan sebuah cermin retak yang memantulkan betapa rapuhnya kemanusiaan dan nalar sehat kita ketika dihadapkan pada ketakutan yang direkayasa.


Peristiwa ini menelanjangi satu fakta psikologis yang mengerikan: ketakutan komunal adalah senjata yang paling mudah dimanipulasi. Ketika paranoia ditanamkan secara sistematis ke akar rumput, insting bertahan hidup mengambil alih logika, mengubah masyarakat yang guyub menjadi algojo bagi tetangganya sendiri.


Lebih dari itu, tragedi ini adalah potret kegagalan sistemik dari sebuah negara di titik nadir transisinya. Cacat birokrasi yang melahirkan "daftar hitam" menjadi bukti betapa mematikannya kecerobohan administratif ketika bercampur dengan kekosongan jaminan keamanan. Para dalang intelektual yang tak tersentuh hingga hari ini menjadi monumen ketidakadilan, memperlihatkan bahwa terkadang nyawa rakyat kecil hanyalah pion yang dikorbankan di atas papan catur politik.


Duka terdalam dari tragedi ini bukan sekadar pada hilangnya ratusan nyawa atau bayang-bayang pasukan rahasia yang menguap, tetapi pada matinya rasionalitas dan hancurnya rasa saling percaya antarsesama. Luka ini memaksa kita menyadari sebuah kebenaran yang pahit: monster yang paling mematikan dalam sejarah bukanlah ilmu gaib, melainkan manusia yang kehilangan nuraninya di tengah kekacauan.

[17/4 14.40] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Babad Tanah Jawa 


Buku Sesat Yang Di Yakini Para Ulama Islam  Nusantara..😁


Ketika saya di tanya ..! 

Apa anda percaya Babad Tanah Jawi Bu Tanti Mustika Dewi & haryanto.. 


Saya jawab :

SAYA TIDAK PERCAYA SAMA SEKALI!!! 


Alasan saya tidak percaya Babad Tanah Jawi karena tidak termasuk menyertakan bukti-bukti data sejarah primer ataupun sekunder yang di tulis se zaman pada sejarah peristiwanya.


Babad Tanah Jawi di tulis abad ke 18 sedangkan keruntuhan Majapahit abad ke 15. Babad Tanah Jawi dicetak ulang W. L. Olthof tahun 1941 secara besar-besaran di masa Penjajahan Belanda.

Tidak ada bukti-bukti prasasti baik dari mulai Singosari, Majapahit maupun catatan kuno yang sezaman yang dijadikan dasar rujukan. Semua murni hayalan karangan Para Pujangga Mataram Islam yang licik, cerdik, dan culas. 


Kedatangan seseorang penaklukan jin apalagi memberi Tumbal Tanah Jawi adalah dongeng.

Babad Tanah Jawi menceritakan sejarah hagiografi sudah tampak dari cerita ada banyak tokoh yang di kultuskan. Tokoh-tokoh banyak yang fiktif dan ceritanya separuh dongeng.

Ceritanya menyelaraskan pada "Kampanye Penyebaran Islam" di Jawa dengan menyebut Leluhur Orang Jawa adalah Nabi Syith. Dari sini saja sudah nampak awur-awuran dan penggiringan opini ngawur.


Babad Tanah Jawi ditulis 300 tahun setelah Majapahit runtuh, masa dimana sedang terjadi pemusnahan besar-besaran terhadap jejak dan catatan Sejarah Nusantara Lama secara sistematis. 

Babad Tanah Jawi ditulis atas perintah Sultan Mataram Islam yang berusaha untuk mendapat legitimasi bahwa mereka adalah Trah Majapahit. Padahal bukan, Ki Ageng Pengging lah yang Trah Asli Majapahit, bukan Danang Sutowijoyo.

Bahkan buku ini dengan ngawurnya menyebut pendiri Majapahit adalah Raden Sesuruh berasal dari Sunda.

Hal ini bertentangan dengan semua dokumen fakta sejarah yang ada.


Babad Tanah Jawi bukan ditulis oleh Sejarawan, tapi oleh pujangga. Jadi isinya sesuai dengan daya khayalan  para pujangga itu berdasarkan cerita tutur yang ngawur. 


Babad Tanah Jawi ditulis untuk menyamarkan bahwa Raja Pertama mereka Danang Sutawijaya adalah anak seorang petani yaitu Ki Pamanahan dan keponakan seorang penyadap Nira yaitu Juru Mertani dan tak ada darah dari Turunan Raja-Raja  manapun di Jawa karena itulah Trunojoyo mengejek mereka sebagai Tebu Towo, dan membuat Sultan Mataram Islam dendam setengah mati pada Trunojoyo.

Babad Tanah Jawi ditulis untuk melegitimasi Mataram Islam bahwa mereka adalah Trah Raja-Raja Jawa. Mulailah kisah-kisah fiktif dibuat seolah nyata.


Dan Parahnya, buku abal-abal ini begitu diyakini kebenarannya oleh ulama-ulama tradisional dan diajarkan di pesantren-pesantren😀😀😀😀Akibatnya...Halusinasi dan awur-awuran jadi seolah olah kebenaran.

Ulama-Ulama NU baik yang muda dan seolah-olah intelek, dengan bangga sering mengambil dongeng dongeng dari buku ini dalam ceramah-ceramah/khotbah mereka, terutama tentang Kisah Subakir menundukan  Sabdo Palon.

Klop sudah, Kebodohan dan Halusinasi disebar dengan masiv, menjadikan pembodohan seolah olah sejarah. 


Jika ingin membaca Sejarah Majapahit dan Nusantara lama bacalah Negara Kertagama dan kitab Tamtu Panggelaran yang berupa lontar yang tersimpan di museum Leiden Belanda yang saat ini mulai banyak di publikasikan di Internet maupun Journal.


KITA MEMANG HARUS DITUNTUT BANYAK BELAJAR DARI SEGALA ARUS SUMBER, AGAR KITA TIDAK TERBELENGGU SEJARAH ABAL-ABAL YANG SIFAT AJARANNYA CENDERUNG MEMBODOHI UMAT MANUSIA DEMI KEUNTUNGAN GOLONGAN PARA PENIPU SEJARAH‼️


Mari bljr cerdas dn waras. Jangan mau dibodohi bodohi oleh sejarah yg tidak jelas kebenaranya.. 90% di negara kita terbodohi oleh sejarah sejak 500 tahun yg lalu sampek sekarang sudah ratusan tahun bahkan ribuan tahun.dibodoh bodohi oleh kaum yg beriman kaum yg mengaku keskasih Tuhan. Kaum yg mengaku utusan Tuhan.. 😄😄padahal itu akal akalan saja untuk membodohi kita sebagai  peri bumi asli nusantara.. 


Nuwun... 


Rahayu. . 🙏😊🙏


Tanti Mustika Dewi & haryanto 


#semuaorang

[17/4 14.42] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Otista 


Pukul 16.30, sebuah truk berhenti tanpa suara di depan rumah itu—bukan untuk menjemput tamu, tapi seseorang yang terlalu banyak bicara di sidang negara.


Wajahnya masih kita pegang sampai hari ini. 

Tapi sore itu, namanya justru dihapus paksa.


Namanya Raden Otto Iskandardinata.  

Lahir 31 Maret 1897 di Bojongsoang, Bandung.  


Guru. 

Orator. 

Bangsawan Sunda.  


Julukannya Si Jalak Harupat.  

Bukan hiasan. 

Itu cara dia bicara—

tajam, 

berani, 

dan sering bikin penguasa gelisah.


Dia masuk Volksraad tahun 1930.  

Bicara keras di depan Belanda. Tanpa rem.


Saat Jepang datang, dia tidak diam.  

Masuk BPUPKI.  

Dan satu momen yang jarang disebut—


Dia orang pertama yang mengusulkan Soekarno jadi presiden.  

Disetujui tanpa debat.


Setelah Indonesia merdeka, dia diangkat jadi Menteri Negara.  

Tugasnya satu: merapikan kekacauan bersenjata.


Dia ingin semua laskar disatukan.  

Di bawah negara.


Beberapa orang setuju di depan.  

Tapi malamnya mulai saling menghilang satu per satu.


Situasi waktu itu liar.  

Senjata ada di mana-mana.  

Loyalitas tidak jelas.


Lalu datang sore itu.  

19 Desember 1945.


Sekelompok pria berpakaian hitam turun dari truk.  

Mereka tidak banyak bicara.


Otto dibawa paksa.  

Tanpa perlawanan berarti.


Alasannya muncul belakangan—  

dituduh mata-mata Belanda.


Tidak pernah terbukti.


Dia dibawa ke Pantai Ketapang, Mauk, Tangerang.  

Sekitar dua kilometer dari desa.


Tangan terikat.  

Bersama satu orang lain: Hasbi.


Malam itu berakhir cepat.  

Keduanya dibunuh.  


Tubuh mereka dibuang ke laut.


Tidak pernah ditemukan.


Tahun 1959, 

Psatu orang dihukum.  

Seorang polisi.


Tapi saat jaksa minta kasus dibuka lagi—  

untuk cari dalang sebenarnya—


permintaan itu berhenti di meja.


Tidak pernah lanjut.


Tahun 1952, 

pemakaman dilakukan.  

Tanpa jasad.  

Hanya segenggam tanah dari laut.


Sekarang namanya ada di mana-mana.  

Jalan Otista.  

Stadion besar di Bandung.  

Dan uang Rp20.000 yang sering berpindah tangan.


Kita melihat wajahnya.  

Hampir setiap hari.


Tapi tidak pernah tahu satu hal—


orang yang mengusulkan presiden pertama Indonesia itu  

hilang sebelum sempat melihat siapa yang sebenarnya berkuasa.


_


AJR

[17/4 18.29] rudysugengp@gmail.com: Pahlawan Bura


Di antara nama-nama besar pejuang Jember seperti Moch Sroedji dan dr. Soebandi, ada satu sosok yang namanya tak tercatat dalam sejarah resmi, tapi melegenda di mulut rakyat. Namanya Bura. Pendekar sakti dari Desa Jatian, Kecamatan Pakusari, Jember ini lahir sekitar tahun 1900-an. Bukan tentara, bukan laskar berseragam, ia hanyalah petani biasa yang tumbuh dengan d4rah Madura pemberani. Tapi sepak terjangnya membuat Belanda kewalahan hingga memasang sayembara: tangkap Bura, hidup atau mati.


Ilmu kanuragan Bura bukan isapan jempol. Warga sepakat: ia kebal senj4ta t4jam dan senj4ta 4pi. Berkali-kali ia menghadapi gerombolan serdadu seorang diri, c3lurit di tangan, tanpa pernah terluka. Konon, kesaktian ini diperoleh dari gurunya, KH Abdul Hamid, ulama karismatik dari Desa Subo, Pakusari. Sang kiai memberinya amalan khusus yang membuat tubuh Bura seperti perisai. Bukan untuk sombong, ilmu itu ia gunakan untuk membela warga yang terus dis!ks4 penjajah.


Karena keberanian dan wibawanya, Bura dipercaya memimpin Laskar Rakyat di Jember utara, meliputi Kecamatan Mayang, Kalisat, dan Ledokombo. Ketika pasukan Brigade III/Divisi I Damarwulan pimpinan Moch Sroedji harus hijrah, Bura justru diperintahkan tetap tinggal di Jatian. Tugasnya: menjaga pedalaman desa dari infiltrasi Belanda. Dari sanalah ia melancarkan serangan sporadis, membuat kompeni tak bisa tidur nyenyak.


Tapi Belanda tak tinggal diam. Juli 1947, saat Agresi Militer II, mereka masuk ke Jember utara. Nama pertama yang dicari: Bura. Sadar tak bisa menaklukkan fisiknya, mereka menggunakan siasat paling licik: menyusupkan mata-mata pribumi ke dalam laskar rakyat. Bura dikhianati orang sendiri. Namun meski telah terpojok, ia tetap tak bisa dilumpuhkan. Sampai akhirnya Belanda menyadari: satu-satunya celah adalah ibu kandung Bura.


Ibunya disandera. Dipaksa menceritakan kelemahan sang putra yang kebal senjata. J4ntvng Bura h4ncvr. Sehebat apa pun ilmu seorang pendekar, cinta kepada ibu tak pernah bisa ia lawan. Bura menyerahkan diri dan membuka rahasia kelemahannya. Pada 26 Maret 1948, di usia 50 tahun, ia ditangkap pasukan Detasemen Mayang pimpinan Sergeant Majoor P. Sapteno. Bura diarak keliling Kecamatan Kalisat dengan tangan terborgol, d4d4 t3rbvk4, t4np4 b4jv. Perjalanan terakhir seorang macan yang dipamerkan seperti tontonan.


Akhirnya ia digiring ke pinggir Sungai Jatian, desa kelahirannya sendiri. Di situlah Bura di3ks3kvsi dengan cara paling bi4d4b: dib4k4r h!dvp-h!dvp hingga menjadi 4bu, lalu 4bunya dibuang ke sungai. Ia tak punya makam. Tak ada nisan untuk diziarahi. Tapi sebelum ajal menjemput, Bura sempat berwasiat: "Jangan sekali-kali keturunanku mengusulkan penghargaan pemerintah. Biarlah perjuanganku, Allah yang menilai. Soal rezeki, sudah ada yang mengatur." Sebuah wasiat yang membuat namanya sengaja dilupakan, meski jasa-jasanya tak mungkin terhapus.


Kini, di tepi sungai tempat ia dib4k4r, berdiri Monumen Bura. Didirikan oleh sahabat seperjuangannya, almarhum Pak Basri. Bangunan itu berbentuk kubus dengan tulisan "Merdeka atau Mati" dan tugu kecil mirip Monas dengan lidah api emas. Di sanalah warga datang, bukan untuk menuntut pengakuan, tapi sekadar berbisik doa untuk pendekar yang memilih abadi dalam diam. Pemerintah Jember pun telah berkali-kali mementaskan drama kolosal perjuangannya. Tapi gelar pahlawan nasional tak kunjung datang—atas kehendaknya sendiri. Sebab Bura paham, surga tak butuh rekomendasi negara.

[17/4 22.38] rudysugengp@gmail.com: Sejarah 

Ajudan Presiden ke-2 


Ini cerita tentang para ajudan Pak Harto ya Guys. Beberapa di antara ajudan tersebut ada yang berhasil menduduki jabatan  Kepala Staf atau Kapolri bahkan Wakil Presiden. 


Mantan Wapres Try Sutrisno yang pernah menjadi ajudan presiden menilai Pak Harto sebagi sosok demokratis.


Meski tidak termasuk tupoksi ajudan, Pak Harto tak merasa keberatan ketika Pak Try bertanya atau sekadar berkomentar tentang peristiwa-peristiwa kenegaraan.


Pak Harto pun dengan senang hati memberikan jawaban atas pertanyaan Pak Try tersebut.


Letnan Jenderal TNI Soeyono menilai perhatian Pak Harto tak hanya terbatas pada dirinya sebagai ajudan, tapi juga keluarganya. Begitu pun dengan Ibu Tien yang tak segan memberi nasihat.


"Sebagai ajudan, kamu itu nanti istilahnya menjadi paidon," kata Ibu Tien menasihati. Dalam istilah Jawa, paidon merupakan tempat meludah sesudah makan sirih.


Maksud Ibu Tien, ajudan harus siap menerima resiko apapun termasuk umpatan atau keluh kesah.


Selama menjadi ajudan, Letjend Soeyono menilai Pak Harto sebagai sosok yang disiplin, tepat waktu dan tidak neko-neko.


Perhatian Pak Harto terhadap ajudan tetap diberikan meski sudah ditarik kembali ke kesatuannya semula.


Saat pamitan sebagai ajudan, Kol. Subagyo HS mendapat pertanyaan tugas yang akan dilakukannya setelah tidak menjadi ajudan.


"Yo wes, dilakoni wae, tak ikuti (Ya udah dijalani saja, aku ikuti)," kata Pak Harto. Beberapa tahun kemudian Subagyo HS menjadi KSAD dengan pangkat jenderal.


Kol. Pol. Dibyo Widodo minta Pak Harto menyekolahkannya sebelum kembali ke kesatuan Polri setelah tidak lagi menjadi ajudan.


"Mau sekolah di mana?" Tanya Pak Harto.


"Lemhannas, Pak?" Jawab Dibyo Widodo.


"Ya wes, ngomong Syaukat (Sekmil Presiden,"


Beberapa tahun kemudian, Dibyo Widodo pun menjadi Kapolri. #soeharto #pakharto #presidensoeharto #bapakpembangunan #pahlawannasional

[18/4 10.26] rudysugengp@gmail.com: Leunca


Lenca


*Leunca, Ini Kandungan Nutrisi dan Manfaatnya untuk Kesehatan*


Leunca adalah sayuran yang berbentuk bulat kecil dengan tekstur lembut. Sayuran yang sering dijadikan lalapan atau bahan untuk membuat sambal ini menyimpan nutrisi yang melimpah, sehingga dapat memberikan manfaat bagi kesehatan.


Leunca (Solanum nigrum) masih kerabat dengan terong. Sayuran ini berwarna hijau saat masih muda dan akan berubah menjadi ungu kehitaman setelah matang. Namun, masyarakat Indonesia banyak mengonsumsi leunca yang berwarna hijau. 


Leunca, Ini Kandungan Nutrisi dan Manfaatnya untuk Kesehatan - Alodokter


Selain menambah rasa dan aroma di makanan, konsumsi leunca bisa memberikan manfaat untuk kesehatan tubuh, baik pada pria maupun wanita. Hal ini berkat banyaknya nutrisi, termasuk antioksidan, yang terkandung di dalam leunca.



Kandungan Nutrisi Leunca

Di dalam 100 gram leunca, terkandung sekitar 38 kalori dan berbagai nutrisi berikut ini:


7,6 gram karbohidrat

1,1 gram protein

0,3 gram lemak

7 miligram kalsium

55 miligram fosfor

2 gram serat

1 miligram zat besi

Selain itu, leunca juga mengandung vitamin B1, vitamin B2, vitamin C, beta karoten, zinc, serta senyawa alami berupa flavonoid, saponin, tanin, dan antosianin.


Manfaat Leunca untuk Kesehatan

Leunca sering dijadikan sebagai bahan obat tradisional karena dapat memberikan manfaat berikut ini:


1. Meningkatkan daya tahan tubuh

Kandungan vitamin C, zinc, dan beta karoten di dalam leunca dapat membantu meningkatkan sistem imun sehingga tubuh tidak mudah sakit. Selain itu, protein di dalam sayuran ini juga dapat mempercepat proses penyembuhan berkat perannya dalam memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak.


2. Menurunkan kolesterol

Leunca mengandung senyawa antioksidan, yaitu flavonoid, antosianin, dan polifenol, yang baik dikonsumsi oleh penderita kolesterol tinggi. Senyawa tersebut dapat menurunkan kadar trigliserida dan kolesterol jahat di dalam darah. Dengan begitu, risiko terjadinya aterosklerosis, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung dapat menurun. 


3. Mencegah tanda-tanda penuaan dini

Leunca bisa menjadi pilihan makanan yang menyehatkan kulit. Protein, lemak, dan antioksidan pada leunca dapat membantu memperbaiki dan memperbarui jaringan kulit yang rusak. Dengan begitu, kulit menjadi lebih sehat dan tanda-tanda penuaan dini, seperti garis-garis halus, bintik hitam, dan kulit kusam, dapat tersamarkan.


4.  Menjaga kesehatan mata

Sayuran leunca memiliki manfaat bagi kesehatan mata berkat kandungan beta karoten, vitamin C, serta zinc di dalamnya. Nutrisi tersebut dapat mengurangi peradangan pada mata serta menjaga fungsi kornea dan retina dengan baik, sehingga risiko terkena katarak dan degenerasi makula dapat menurun. 


5. Mencegah osteoporosis

Konsumsi leunca termasuk salah satu cara untuk menguatkan tulang. Manfaat ini berkat kandungan kalsium, fosfor, dan protein yang berperan dalam menjaga kepadatan tulang sekaligus meningkatkan kekuatan tulang. Dengan begitu, risiko terjadinya osteroporosis dan patah tulang dapat menurun.  


6. Mencegah perburukan kanker

Beberapa penelitian menunjukkan adanya manfaat leunca mencegah perburukan beberapa jenis kanker, seperti kanker hati, kanker payudara, dan kanker lambung. Leunca mengandung senyawa polisakarida, solamargine, antosianin yang dapat menekan perkembangan sel-sel kanker. 


Nutrisi dalam leunca juga akan meningkatkan fungsi sistem kekebalan tubuh dalam melawan pertumbuhan sel-sel kanker. Meski begitu, efektivitas leunca dalam mengobati kanker masih perlu diteliti lebih lanjut.


Leunca bisa dinikmati secara mentah sebagai lalapan atau pelengkap salad sayur, maupun dimasak bersama sayur dan protein lainnya. Jika ingin dikonsumsi mentah, pilih leunca yang segar dan cuci sayur dengan air mengalir hingga bersih untuk mencegah kuman masuk ke tubuh. 


Meski memberikan banyak manfaat untuk tubuh, leunca dapat menimbulkan efek samping. Sayuran ini juga mengandung solanin yang dapat memicu iritasi lambung atau keracunan bila dikonsumsi terlalu banyak, terutama jika buahnya belum matang. 


Apabila muncul tanda-tanda keracunan, seperti pusing, sakit kepala, nyeri perut, diare, serta mual dan muntah, setelah konsumsi leunca, sebaiknya periksakan diri ke dokter agar dapat diberikan penanganan serta pengobatan. Anda juga dianjurkan bertanya ke dokter terlebih dahulu jika ingin memanfaatkan leunca untuk mengobati suatu kondisi.


Terakhir diperbarui: 12 Mei 2024

Ditinjau oleh : dr. Robby Firmansyah Murzen

[18/4 17.11] rudysugengp@gmail.com: Pabrik Infus Muh


PUNYA 130 RUMAH SAKIT TAPI MASIH NUMPANG PABRIK ORANG LAIN, MUHAMMADIYAH AKHIRNYA AMBIL LANGKAH BESAR INI


Bayangkan organisasi dengan 130 rumah sakit dan lebih dari 300 klinik yang tersebar di seluruh Indonesia, tapi setiap botol infus yang menetes ke pembuluh darah pasiennya masih harus dipasok dari pabrik orang lain. Itulah ironi yang selama ini dihadapi Muhammadiyah, dan kini mereka memutuskan untuk mengakhirinya.


Pada Senin, 13 April 2026, Pimpinan Pusat Muhammadiyah resmi meluncurkan entitas bisnis baru, PT Suryavena Farma Indonesia, di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Jakarta. Peluncuran ini bukan sekadar formalitas. Ini adalah deklarasi bahwa Muhammadiyah siap masuk ke jantung industri farmasi nasional.


Proyek ini ditargetkan menelan investasi antara Rp700 hingga Rp800 miliar. Dana sebesar itu akan digunakan untuk membangun pabrik cairan infus mandiri di atas lahan yang sudah lama menunggu.


Direktur Utama PT Suryavena Farma Indonesia sekaligus Wakil Ketua Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah, Tatat Rahmita Utami, berbicara lugas soal masalah yang mendorong langkah besar ini. "Selama ini Muhammadiyah kuat di sektor kesehatan dan pendidikan. Namun, untuk suplai alat kesehatan dan obat-obatan, masih bergantung pada pihak luar. Karena masih menumpang di pabrik lain, ada keterbatasan suplai. Padahal kebutuhan di internal Muhammadiyah cukup besar," katanya.


Sejak Maret 2024, merek Suryavena sebenarnya sudah beredar, namun diproduksi melalui skema maklon dengan PT Satoria Aneka Industri di Pasuruan. Skema titip produksi seperti ini memang sering jadi solusi sementara, tapi tidak bisa diandalkan untuk jangka panjang. Kapasitas terbatas, pasokan tidak konsisten.


Pabrik mandiri itu rencananya akan berdiri di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi ini dipilih karena merupakan sentra industri cairan infus nasional dan telah lolos uji kelayakan, termasuk kualitas air yang memenuhi standar produksi farmasi steril. Lahan yang tersedia sekitar 14 hektare dan sudah dinyatakan memenuhi syarat.


Soal kapasitas, angkanya tidak main-main. Produksi ditargetkan mencapai 15 juta botol per tahun, dengan sekitar 13 juta botol untuk memenuhi kebutuhan internal jaringan Muhammadiyah-Aisyiyah, sementara sisanya akan dipasarkan ke publik. Bahkan sebelum pabrik berdiri pun, permintaan dari luar jaringan Muhammadiyah sendiri sudah cukup besar, karena harga Suryavena kompetitif dengan kualitas yang baik.


Studi kelayakan proyek ini melibatkan akademisi dari Institut Teknologi Bandung dan konsultan keuangan independen, sementara pendanaan akan bersumber dari perbankan dan investor.


Target operasional pabrik ditetapkan pada akhir 2027 atau awal 2028. Jika terealisasi sesuai rencana, ini bukan hanya soal pasokan infus yang lebih stabil. Ini adalah momen Muhammadiyah benar-benar berdiri di sektor hulu kesehatan, tidak lagi sekadar menjadi pengguna, tapi menjadi produsen.


#Muhammadiyah #FarmasiIndonesia #CairanInfus #IndustriKesehatan #KemandiranKesehatan

[18/4 17.21] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Suharto 


Ketika Soeharto ditempeleng Ahmad Yani, untung saja ada Gatot Soebroto yang menyelematkan kariernya


Karier Soeharto di Angkatan Darat pernah diselamatkan oleh Gatot Subroto. Hal itu tercatat dalam buku Suharto: Sebuah Biografi Politik karya Robert Elson.


Saat itu 1959 dan Soeharto adalah Panglima Tentara dan Teritorim IV atau Divisi Diponegoro. Dia dituduh telah melakukan penyelundupan beras yang melibatkan Sudono Salim, bos Salim Group.


“Diisukan bahwa saya adalah koruptor besar, memperkaya diri dari hasil barter gula,” begitu pengakuan Soeharto dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindaka Saya.


Kabarnya Kolonel Ahmad Yani begitu marah dengan kelakuan Soeharto. Beberapa sumber bahkan menyebut Yani sampai menempeleng perwira kelahiran Kemukus, Bantul, Yogyakarta, itu.


Soal tempelengan itu diceritakan oleh Soebandrio dalam Kesaksianku tentang G30S. tanpa tedeng aling-aling, Soebandrio menyebut Soeharto punya rekam buruk dalam TNI.


Saat memimpin Divisi Diponegoro, sebut Soebandrio, Soeharto pernah menjalin relasi dengan pengusaha Liem Sioe Liong dan Bob Hasan. Mereka menjalankan bisnis penyelundupan berbagai barang, katanya.


Kabar itu berhembus ke mana-mana hingga ke telinga Jenderal Ahmad Yani. Ahmad Yani pun disebut sangat marah mendengar kabar tersebut. Dia pun menempeleng Soeharti karena diangga telah mempermalukan korps Angkatan Darat.


Kasus dugaan korupsi beras itu juga sampai membuat Jenderal AH Nasution hampir memecat Soeharto sebagai Pangdam Diponegoro. Dia dianggap telah menggunakan institusi militernya untuk mengumpulkan uang dari perusahaan-perusahaan di Jawa Tengah.


"Sebagai Penguasa Perang, saya merasa ada wewenang mengambil keputusan darurat untuk kepentingan rakyat, ialah dengan barter gula dengan beras," begitu pengakuan Soeharto. "Saya tugasi Bob Hasan melaksanakan barter ke Singapura, dengan catatan beras harus datang lebih dahulu ke Semarang."


Tapi untung saja ada Gatot Subroto. Perwira senior yang juga “made in” Diponegoro itu mengatakan bahwa Soeharto masih bisa dibina. Dia pun dikirim sekolah ke Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SSKAD) alias Seskoad


Lalu selamatlah karier Soeharto.


Soal tempeleng-menempeleng, bukan sekali itu saja Soeharto merasakannya. Perwira lain yang pernah menempeleng Soeharto adalah Alex Kawilarang.


Ketika itu Alex Kawilarang adalah Panglima TT VII/Indonesia Timur. Di tengah-tengah situasi perang kemerdekaan dan menumpas pemberontakan Kahar Muzakkar, Kawilarang melapor kepada Soekarno bahwa keadaan di Makassar sudah aman.


Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/034314145/ditempeleng-ahmad-yani-karier-soeharto-di-angkatan-darat-diselamatkan-oleh-gatot-soebroto


#gatotsubroto #soeharto #ahmadyani

[18/4 17.25] rudysugengp@gmail.com: Sejarah Kartini 


MEMBACA ULANG KARTINI: SEJARAH, TAFSIR, DAN PENYUNTINGAN


Oleh M. Basyir Zubair (Embas)


Setiap 21 April, jutaan anak sekolah mengenakan kebaya, menyanyikan lagu, dan mendengar pidato tentang perempuan yang berjuang untuk emansipasi. Yang tidak mereka dengar adalah kenyataan ini: Kartini yang mereka rayakan adalah ciptaan. Rekonstruksi. Karya edit yang sudah dipoles sedemikian rupa sehingga yang tersisa hanyalah seorang perempuan penurut yang cantik, bukan pemikir radikal yang marah.


Kartini aslinya mengecam kebijakan candu kolonial Belanda. Kartini aslinya menyerang feodalisme Jawa dari dalam. Kartini aslinya menulis tentang Tuhan dengan cara yang akan membuat banyak ulama abad ke-21 tidak nyaman. Dan Kartini aslinya  perempuan yang menulis semua itu, sudah dipendam jauh sebelum perayaan 21 April pertama kali digelar.


Ada empat cara Kartini dikubur hidup-hidup. Empat cara berbeda. Oleh empat tangan yang berbeda. Dan semuanya terjadi atas nama penghormatan.


I. Perang Tafsir: Siapa yang Membajak Kartini?


Pada 1964, Presiden Soekarno menetapkan 21 April sebagai Hari Kartini. Keputusan itu bukan tanpa perdebatan, Soekarno sendiri sempat mempertimbangkan apakah lebih baik menetapkan Hari Ibu yang lebih inklusif. Tapi 21 April menang, dan sejak saat itu dimulailah proses paling sistematis dalam sejarah Indonesia: mengubah seorang pemikir menjadi simbol.


Orde Baru melanjutkan proses itu dengan tangan yang lebih berat. Dalam kurikulum sekolah era Soeharto, Kartini hadir sebagai pahlawan emansipasi yang tahu batas. Ia diperjuangkan haknya bersekolah, ya. Tapi bersekolah untuk menjadi ibu yang lebih baik, istri yang lebih terdidik, perempuan yang tetap tahu tempatnya dalam keluarga. Buku-buku pelajaran menampilkan Kartini dalam kebaya, bukan dalam suratnya yang paling berbahaya.


TITIK BALIK


Kartini Fonds yang didirikan Van Deventer dan Abendanon membiayai sekolah-sekolah perempuan, tetapi sekolah itu mengajarkan keterampilan rumah tangga sebagai kurikulum utama. Warisan Kartini dipakai untuk mendirikan institusi yang justru membatasi perempuan pada ranah domestik. Ironi yang tidak pernah diajarkan di kelas.


Padahal surat-surat Kartini yang sesungguhnya berisi kecaman terhadap sistem yang jauh lebih luas dari sekadar hak bersekolah. Ia menulis tentang kemiskinan struktural akibat kolonialisme. Ia menulis tentang pengisapan candu yang merusak keluarga-keluarga Jawa. Ia menulis tentang feodalisme bupati yang menjadikan rakyat sebagai alat kekuasaan, termasuk ayahnya sendiri.


Seorang perempuan yang berani mengkritik ayahnya dalam surat yang beredar di kalangan intelektual Eropa bukan perempuan yang sedang berjuang untuk hak pakai kebaya. Ia sedang berjuang untuk sesuatu yang jauh lebih besar: pembongkaran total tatanan yang mengunci seluruh bangsanya.


"Kartini yang diajarkan di sekolah adalah Kartini yang sudah jinak. Kartini yang asli terlalu berbahaya untuk dirayakan."

M. Basyir Zubair


Siapa yang membajak Kartini? Jawabnya bukan satu nama. Ia dibajak secara berlapis: pertama oleh Abendanon yang menyunting suratnya, kemudian oleh pemerintah kolonial yang menjadikannya simbol Politik Etis yang jinak, lalu oleh Soekarno yang menjadikannya ikon nasional, dan akhirnya oleh Orde Baru yang mengubahnya menjadi ibu ideal. Setiap generasi memoles Kartini sesuai kebutuhan zamannya. Dan setiap poles itu mengikis satu lapisan lagi dari perempuan yang sesungguhnya.


II. Jurnalis Tanpa Kartu Pers

Perempuan yang Membentuk Opini Eropa dari Jepara


Ada sebuah fakta tentang Kartini yang hampir tidak pernah disebutkan dalam perayaan 21 April: ia adalah jurnalis. Bukan secara formal, tidak ada kartu pers, tidak ada meja redaksi, tidak ada honorarium. Tapi dalam pengertian yang paling hakiki, seseorang yang menulis untuk publik, membentuk opini, dan mengubah cara orang melihat sebuah kenyataan. Kartini dapat dipandang sebagai salah satu penulis pribumi paling berpengaruh dalam membentuk opini tentang Hindia Belanda di mata pembaca Eropa.


Artikel-artikelnya dimuat di De Hollandsche Lelie, majalah perempuan Belanda yang terkemuka. Ia menulis tentang adat Jawa, tentang kehidupan perempuan pribumi, tentang praktik pingitan yang membelenggu. Pembaca Eropa yang tidak pernah menginjakkan kaki di Jawa membaca tulisannya dan membentuk gambaran tentang Hindia Belanda, bukan dari laporan pejabat kolonial, tapi dari tangan seorang perempuan Jawa yang dikurung di belakang tembok.


FAKTA


Artikel-artikel Raden Ajeng Kartini tentang kehidupan perempuan Jawa dimuat di De Hollandsche Lelie pada periode 1899–1903. Ia menulis dalam bahasa Belanda yang fasih, tanpa pernah belajar di sekolah Eropa, tanpa editor yang membimbingnya, dan dalam kondisi mobilitas yang sangat terbatas oleh adat pingitan, meskipun dalam beberapa kesempatan ia sempat bepergian ke kota-kota lain. Seluruh reportasenya lahir dari ruang hidup yang sempit, namun menjangkau dunia yang luas.


Lebih dari itu: tulisan-tulisannya dibaca oleh Conrad van Deventer, yang kemudian menjadi arsitek Politik Etis. Gagasan Kartini tentang hak pendidikan bagi pribumi, tentang tanggung jawab moral pemerintah kolonial, tentang potensi yang terpendam di balik tembok-tembok pingitan, semua itu menjadi amunisi intelektual dalam perdebatan di parlemen Den Haag.


Namanya disebut. Buah pikirannya dikutip. Seorang perempuan yang hidup dalam batasan adat dan ruang gerak yang sempit turut mempengaruhi wacana kebijakan kolonial di negeri yang menjajah tanah kelahirannya.Tapi tidak ada yang menyebutnya jurnalis. Tidak ada yang mengakui kontribusinya sebagai kerja jurnalistik.


Dalam sejarah pers Indonesia, nama Kartini tidak muncul di baris pertama, atau bahkan baris mana pun. Ia ditempatkan di rak emansipasi, bukan di rak jurnalisme. Seolah menulis untuk publik, membentuk opini, dan mempengaruhi kebijakan tidak cukup untuk disebut kerja pers jika dilakukan oleh perempuan, dari balik tembok, tanpa izin keluar.


"Dari Jepara, tanpa akreditasi pers, tanpa redaktur, Kartini membentuk opini publik Eropa tentang Hindia Belanda. Dan sejarah pers Indonesia tidak mencantumkan namanya."

M. Basyir Zubair


Ada ironi yang dalam di sini. Hari Pers Nasional diperingati setiap 9 Februari, merujuk pada hari berdirinya Persatuan Wartawan Indonesia. Tapi perempuan yang jauh lebih awal dari itu, yang menulis tanpa organisasi, tanpa gedung, tanpa mesin cetak, yang menggunakan satu-satunya alat yang tersedia untuknya, selembar kertas dan sebatang pena  tidak pernah masuk ke dalam narasi pers nasional itu. Kartini hadir sangat awal dalam tradisi penulisan publik pribumi, bahkan sebelum profesi kewartawanan terlembaga di Hindia Belanda, namun namanya tidak masuk dalam silsilah tersebut.


III. Surat-surat yang Disembunyikan

Bukan Hanya Belanda yang Menyensor Kartini


Narasi yang umum beredar adalah ini: Abendanon menyunting surat-surat Kartini, membuang bagian-bagian yang terlalu berbahaya, dan menerbitkan versi yang lebih aman dalam Door Duisternis tot Licht (1911). Narasi itu benar. Tapi ia tidak lengkap, karena ia menyiratkan bahwa Belanda-lah satu-satunya penyensor. Padahal ada tangan lain yang jauh lebih dekat.


Keluarga Jawa Kartini sendiri adalah bagian dari sistem yang membungkamnya. Ayahnya, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, adalah seorang bupati yang beroperasi dalam dua loyalitas yang saling bertentangan: kepada tradisi feodal Jawa dan kepada pemerintah kolonial Belanda. Ia memberikan akses pendidikan awal yang luar biasa kepada Kartini, tapi ia juga orang yang menutup pintu pingitan ketika Kartini berusia dua belas tahun. Dan ketika surat-surat Kartini mulai beredar dan memancing perhatian, keluarga bukan hanya diam, mereka aktif mengelola narasi.


CERMIN DUNIA


Joost Coté, penerjemah surat Kartini ke bahasa Inggris, menemukan dalam arsipnya bahwa sejumlah surat Kartini yang paling sensitif tidak hanya disunting oleh Abendanon, tetapi ada indikasi bahwa sebagian tidak seluruhnya sampai atau terpublikasikan, kemungkinan karena proses seleksi dalam lingkaran terdekatnya. Mereka berhenti di tangan keluarga. Kita tidak tahu isi surat-surat yang tidak pernah dikirim itu. Kita tidak tahu berapa banyak pikiran Kartini yang mati dalam perjalanan dari kamar tidurnya ke kotak surat.


Kemudian ada sistem adat itu sendiri. Pingitan bukan hanya membatasi Kartini secara fisik, ia membatasi siapa yang bisa berbicara dengannya, tentang apa, dan kapan. Surat-surat yang masuk dan keluar melewati pengawasan yang berlapis. Dalam konteks itu, bahwa Kartini masih bisa menulis sesumbar dan seradikal yang ia tulis adalah keajaiban tersendiri. Tapi kita perlu bertanya: berapa banyak yang tidak lolos?


Dan ada satu lapisan lagi yang jarang dibicarakan: sistem penerjemahan. Ketika Armijn Pane menerjemahkan Door Duisternis tot Licht ke dalam bahasa Indonesia pada 1938 dan menerbitkannya sebagai Habis Gelap Terbitlah Terang, ia menerjemahkan dari teks yang sudah disunting Abendanon, bukan dari surat asli. Artinya pembaca Indonesia selama puluhan tahun membaca Kartini yang sudah melewati dua lapisan penyaringan: Abendanon dan Armijn Pane. Kartini yang sampai ke tangan kita adalah Kartini generasi ketiga, sudah sangat jauh dari sumbernya.


"Kita tidak sepenuhnya membaca Kartini yang asli, melainkan teks-teks yang telah melewati beberapa lapisan penyuntingan dan penerjemahan."

M. Basyir Zubair


Yang paling pedih: bahkan surat-surat yang lolos pun masih belum sepenuhnya kita baca. Edisi lengkap terjemahan bahasa Inggris oleh Joost Coté, Letters from Kartini: An Indonesian Feminist 1900–1904 (1992), memuat 46 surat tambahan dari adik-adik Kartini dan sejumlah surat Kartini yang tidak ada dalam versi Abendanon. Buku itu tidak pernah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Puluhan tahun setelah Kartini wafat, versi paling lengkap dari pemikirannya tersedia hanya dalam bahasa Inggris, hanya untuk mereka yang cukup terdidik dan terhubung untuk menemukannya.


IV. Kartini dan Tasawuf

Wali yang Tidak Pernah Dipanggil Wali


Ada aspek dari Kartini yang paling sering disalahpahami, paling sering dipotong dari narasi resmi, dan paling sering membuat orang tidak nyaman: pemikiran spiritualnya tentang agama.

Dalam surat kepada E.C. Abendanon, 31 Januari 1903, Kartini menulis:


"Agama yang sesungguhnya adalah kebatinan, dan agama itu bisa dipeluk baik sebagai Nasrani, maupun Islam, dan lain-lain. Kalau orang mau juga mengajarkan agama kepada orang Jawa, ajarkanlah kepada mereka Tuhan yang satu-satunya, yaitu Bapak Maha Pengasih, Bapak semua umat, baik Kristen maupun Islam, Buddha maupun Yahudi, dan lain-lain."

Surat Kartini kepada E.C. Abendanon, 31 Januari 1903


Kalimat itu bukan toleransi beragama dalam pengertian dangkal abad ke-21 yang hanya berarti 'rukun antar umat beragama.' Itu adalah pernyataan teologis yang jauh lebih mendalam: bahwa inti dari setiap agama adalah pengalaman batin tentang Yang Maha Kasih, dan bahwa semua nama yang berbeda-beda, Allah, Tuhan, Brahma, Buddha, hanyalah nama-nama berbeda untuk satu realitas yang sama.


Itu adalah tasawuf. Bukan tasawuf yang dipelajari dari buku, bukan tasawuf yang diterima dari guru tarikat, tapi tasawuf yang tumbuh dari dalam, dari pengalaman berpikir seorang perempuan yang hidup dalam keterbatasan ruang dan dipaksa menghadap dirinya sendiri.


DEBAT ILMIAH


Apakah Kartini seorang Sufi? Secara formal tidak,   ia tidak bergabung dengan tarikat apapun, tidak memiliki guru mursyid, tidak menjalani suluk dalam pengertian teknis. Tapi jika tasawuf dipahami sebagai orientasi spiritual yang melihat Tuhan sebagai Yang Maha Kasih yang melampaui batas agama formal, yang bisa dijangkau melalui kejernihan batin bukan sekadar ritual, maka pemikiran Kartini dapat dibaca dalam kerangka sufistik, meskipun ia tidak berada dalam tradisi tarekat formal.


Dalam tradisi Jawa, ada kategori yang lebih lama dari semua kategorisasi itu: wong alus orang yang halus batinnya, yang kata-katanya mengandung kedalaman, yang cara berpikirnya melampaui yang kasar dan permukaan. Kartini adalah wong alus dalam pengertian paling penuh. Tapi karena ia perempuan, dan karena pemikirannya tentang agama dianggap terlalu longgar untuk zaman yang semakin mengeras, ia tidak pernah mendapat tempat di silsilah itu.


Para wali diakui karena karamahnya, mukjizat kecil, kesaktian, tanda-tanda dari langit. Kartini tidak punya itu, atau setidaknya tidak ada yang mencatatnya. Yang ia punya adalah sesuatu yang lebih langka: kemampuan untuk melihat menembus dinding agama formal dan menemukan di baliknya sesuatu yang jauh lebih besar. Itu bukan karamah yang membuat orang terkagum-kagum. Tapi dalam jangka panjang, itu jauh lebih berbahaya, karena ia membongkar salah satu tembok yang paling kuat yang memisahkan manusia dari manusia lainnya.


"Kartini menulis tentang Tuhan dengan cara yang hanya bisa ditulis oleh seseorang yang sudah sangat dekat dengannya  bukan melalui ritual, tapi melalui penderitaan dan kejernihan batin."

M. Basyir Zubair


Dan inilah yang paling tidak nyaman dari Kartini: ia tidak minta izin. Tidak kepada ulama, tidak kepada bupati, tidak kepada pemerintah kolonial. Ia mengambil hak untuk berpikir tentang Tuhan dengan caranya sendiri, dan ia menulisnya dalam surat yang beredar ke seluruh Eropa. Untuk ukuran perempuan Jawa tahun 1903, itu bukan hanya radikal. Itu berbahaya.


Epilog: Membaca Kembali Kartini


Setiap 21 April kita merayakan Kartini. Tapi Kartini yang mana?

Bukan Kartini yang mengecam monopoli candu Belanda. Bukan Kartini yang menyerang feodalisme dari dalam rumah bupatinya sendiri. Bukan Kartini yang menulis tentang Tuhan dengan cara yang melampaui batas agama formal. Bukan Kartini yang jurnalismenya membentuk kebijakan kolonial tanpa pernah meninggalkan Jepara. Bukan Kartini yang surat-suratnya disensor oleh tiga tangan berbeda sebelum sampai ke kita.Yang kita rayakan setiap 21 April adalah hasil dari proses seleksi, penyuntingan, dan penafsiran sejarah. Sebuah monumen yang berdiri di atas sosok Kartini yang nyata, namun telah dibentuk ulang hingga jauh dari keutuhan dirinya.


Mungkin inilah yang paling perlu kita renungkan: bahwa cara terbaik untuk menghormati Kartini bukan dengan memakai kebaya setahun sekali. Tapi dengan membaca surat-suratnya yang sesungguhnya termasuk yang dipotong, yang disembunyikan, yang sampai hari ini hanya tersedia dalam bahasa Inggris untuk sebagian kecil orang yang cukup beruntung untuk menemukannya.


Kartini berjuang seumur hidupnya untuk didengar. Ia menulis ribuan kata agar pikirannya menembus dinding yang mengurungnya. Dan dua belas dekade setelah ia wafat, kita masih merayakannya dengan cara yang paling ia benci: dengan memotong kata-katanya, memoles wajahnya, dan menaruhnya di balik kaca sebagai simbol yang tidak boleh terlalu disentuh, tidak boleh terlalu dibaca, tidak boleh terlalu dimengerti.


"Habis gelap, terbitlah terang  tapi cahaya yang terbit itu sudah terlanjur kita redup-redupkan agar tidak menyilaukan."

M. Basyir Zubair


Kartini lahir 21 April 1879. Wafat 17 September 1904. Dua puluh lima tahun, empat hari setelah melahirkan anak pertamanya. Dan dalam dua puluh lima tahun itu, ia menulis lebih banyak kebenaran tentang Hindia Belanda daripada semua laporan resmi pemerintah kolonial dalam periode yang sama. Yang lebih dibutuhkan hari ini bukan sekadar simbol perayaan, melainkan keberanian untuk membaca dan memahami pemikirannya secara utuh.


Sumber dan Rujukan


Kartini, R.A. Door Duisternis tot Licht: Gedachten over en voor het Javaansche Volk. Disusun oleh J.H. Abendanon. Amsterdam, 1911. [Terjemahan Indonesia: Habis Gelap Terbitlah Terang, Armijn Pane, Balai Pustaka, 1938]

Coté, Joost (penerjemah). Letters from Kartini: An Indonesian Feminist 1900–1904. Clayton: Monash Asia Institute, 1992.

Kartini, R.A. Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan suaminya. Terjemahan: Sulastin Sutrisno. Jakarta: Djambatan, 1979.

Nugraha, Iskandar P. The Theosophical Educational Movement in Colonial Indonesia 1900–1947. Tesis, University of New South Wales.

Nugraha, Iskandar P. 2011. Teosofi, Nasionalisme, dan Elit Modern Indonesia. Jakarta: Komunitas Bambu.

Pramoedya Ananta Toer (penyunting). Panggil Aku Kartini Saja. Jakarta: Lentera Dipantara.

Soeroto, Sitisoemandari. 1977. Kartini, Sebuah Biografi. Jakarta: Gunung Agung.

Vreede-de Stuers, Cora. 1960. The Indonesian Woman: Struggles and Achievements. The Hague: Mouton.


Catatan Metodologi: Kutipan surat Kartini dalam artikel ini bersumber dari teks asli surat yang tersedia dalam berbagai edisi terjemahan yang terdokumentasi. Klaim mengenai penyensoran oleh keluarga mengacu pada catatan metodologis Joost Coté dan memerlukan konfirmasi arsip primer lebih lanjut.


Yogyakarta, April 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

1-18 Ap Kumpulan Sejarah FB

  [31/3 23.32] rudysugengp@gmail.com: Sejarah  Istri ke-2  HAMKA Ketika Takdir Mengetuk di Usia Senja: Cinta Kedua Buya Hamka Setelah keperg...