[14/9 18.59] rudysugengp@gmail.com: SETIA HATI: PENCAK & JALAN BATIN
Ada suatu masa dalam sejarah manusia ketika pencarian kebenaran tidak mengenal batas sekat agama, bangsa, atau aliran. Orang-orang yang gelisah oleh jawaban-jawaban dangkal menempuh perjalanan panjang, melintasi batas-batas budaya, menziarahi banyak guru, demi menemukan inti pengetahuan yang hakiki. Ki Ngabehi Surodiwiryo, pendiri Setia Hati (SH), adalah salah satu dari para pengelana itu. Dalam dirinya, ilmu silat dan kebatinan bukanlah dua jalan terpisah, melainkan satu nafas: "olah raga untuk mengolah rasa, olah rasa untuk mengolah jiwa".
Ki Ngabehi Surodiwiryo memang seorang pencari ilmu silat dan ilmu batin yang begitu luar biasa. Sehingga ia sampai melanglang buana di berbagai penjuru Nusantara, mulai dari Jawa Timur, Jawa Barat, Batavia, Bengkulu, hingga sampai "putus kaji" (wisuda) dalam pelajaran ilmu lahir (Pencak Silat) di Sumatera Barat dan putus kaji ilmu batin (Tarekat) di Aceh. Dan yang menarik dalam sejarah pengembaraan ilmu di Sumatera Barat, ia juga berguru ilmu batin pada I Gusti Nyoman Gempol, seseorang yang berlatar belakang kebatinan Hindu dan berasal dari Pulau Dewata, Bali. Kisahnya pada waktu itu, Ki Ngabehi Surodiwiryo muda atau yang masih memiliki nama Muhammad Masdan jatuh cinta pada seorang gadis yang merupakan putri ahli ilmu kebatinan Tasawuf di Minangkabau. Dan sang gadis itu pun rupa-rupanya juga seseorang yang menekuni ilmu Tasawuf, bahkan mempunyai ilmu Tasawuf yang tinggi.
Oleh karenanya sang gadis baru akan mau menerima sepenuh hati Muhammad Masdan manakala bisa menjawab beberapa pertanyaan kebatinan Tasawuf Islam. Muhammad Masdan pada saat itu "kelabakan" ternyata ilmu-ilmu keagamaan yang telah didapatkannya dari para guru di pondok pesantren di pulau Jawa belum cukup memadai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kebatinan tingkat tinggi itu. Oleh sebab itu karena saking cintanya pada sang gadis itu, Muhammad Masdan pun bertekad kuat untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan kebatinan tingkat tinggi tersebut. Lalu ia kesana kemari mencari seorang guru yang ahli dalam ilmu batin, sampai akhirnya ia berjumpa dengan I Gusti Nyoman Gempol atau yang mempunyai gelar abhiseka "Raja Kenanga Mangga Tengah'', seorang punggawa besar kerajaan Buleleng Bali yang diasingkan penjajah Belanda ke Sumatera Barat karena memimpin pemberontakan-pemberontakan yang sangat merepotkan para penjajah.
Meski berbeda latar belakang keyakinan, I Gusti Nyoman Gempol menerima permintaan berguru dari Muhammad Masdan. Selama 7 hari 7 malam Muhammad Masdan "diwejang" ilmu kebatinan tingkat tinggi yang berkaitan dengan ilmu mengenal diri dan ketuhanan. Dan referensi pelajaran kebatinan Hindu dari I Gusti Nyoman Gempol ini ternyata secara prinsip bertemu dan tidak bertentangan dengan pelajaran Tauhid dalam kebatinan Tasawuf Islam. Hasil akhirnya sama, hanya beda soal cara atau metode. Meskipun begitu Muhammad Masdan tetap beragama Islam dan tidak berganti ageman (baju) Hindu. Sebab Muhammad Masdan tentu menyadari jika "Tuhannya dirinya" dan "Tuhannya I Gusti Nyoman Gempol" tentunya adalah satu dan sama.
Bahkan Muhammad Masdan yang beragama Islam ini bisa tahu dan kenal dengan Tuhannya justru dari ajaran kebatinan Hindu I Gusti Nyoman Gempol, meskipun selain daripada itu juga mendapatkan pelajaran ketuhanan yang sama yang berbasis Islam dari gurunya yang lain seperti Datuk Rajo Batuah dan Teungku Cik Bedaya, maupun dengan pelajaran kebatinan Jawa (Kejawen) yang kelak diperoleh dari pamannya, K.A.A.Serang Soeronegoro (Bupati Kediri yang meninggal tahun 1916). Berkat ilmu kebatinan dari I Gusti Nyoman Gempol itulah akhirnya Muhammad Masdan bisa menjawab semua pertanyaan-pertanyaan kebatinan dari gadis pujaan hatinya itu. Kebatinan Tasawuf Islam terjawab tuntas dalam kebatinan Hindu I Gusti Nyoman Gempol. Dari sini I Gusti Nyoman Gempol pula, ia mendapat falsafah TAT TWAM ASI (Ia adalah Aku). Maka kemudian
Muhammad Masdan pun akhirnya bisa bersama secara lahir dan batin dengan gadis Minang pujaan hatinya itu yang juga merupakan seorang salik (pejalan batin).
Perjalanan Ki Ngabehi Surodiwiryo yang membentang mulai dari pesantren Jombang hingga Sumatra Barat, Pasundan, dan Aceh, mempelajari pencak silat berbagai aliran, juga kung-fu, Tasawuf, hingga spiritualitas Hindu Bali dan Kebatinan Jawa. Di Miangkabau bersentuhan dengan Tarekat Syattariyah, berguru pada Datuk Rajo Batuah, lalu Teungku Cik Bedaya, pun menambah khazanah keilmuan spiritual pada I Gusti Nyoman Gempol dan kemudian pada K.A.A.Serang Soeronegoro. Dari lintasan pengetahuan yang panjang merentang itulah lahir sebuah sistem keilmuan kosmopolit dan eklektik bernama Persaudaraan Setia Hati.
Tak heran Setia Hati yang didirikan pada awal abad ke-20 (tahun 1903) yang sezaman dengan berdirinya cabang perkumpulan spiritual Teosofi di bumi Nusantara itu, juga sama seperti halnya perkumpulan Teosofi, yakni langsung menarik minat kaum bangsawan, intelektual, dan tokoh pergerakan nasional. Nama-nama besar seperti Wongsonegoro, yang merupakan tokoh nasional aliran kebatinan (Penghayat Kepercayaan), ketua IPSI yang pertama, Gubernur Jawa Tengah ke-2, dan Mendikbud ke-8 adalah murid Ki Ngabehi Surodiwiryo, begitupula pendiri BNI, Margono Djojohadikusumo (kakeknya Prabowo Subianto) juga muridnya Ki Ngabehi Surodiwiryo, begitu juga dengan nama-nama seperti Ario Soerjo (Gubernur Jawa Timur yang pertama) dan Muhammad Subuh (sebelum kemudian mendapat "pawisik" atau sebuah "wahyu spiritual" secara personal dan mendirikan perkumpulan spiritual SUBUD) adalah juga para anggota Setia Hati atau murid Ki Ngabehi Surodiwiryo. Jadi sudah jelas, bahwa SH bukanlah perguruan silat yang didirikan oleh seorang preman atau tukang pukul jalanan, melainkan oleh seorang yang sangat intelek dan sekaligus spiritual seperti Ki Ngabehi Surodiwiryo.
Dan juga jelas bahwa keilmuan SH yang diajarkan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo tidak semata hanya sebagai pegangan fisik (beladiri pencak silat), tetapi juga sebagai pembelajaran dan tuntunan ilmu spiritual (seperti halnya yang ada di dalam perkumpulan Teosofi). Mungkin itulah sebabnya sejak dari dulu hingga sampai saat ini begitu banyak insan pecinta silat yang sangat mengagumi Ki Ngabehi Surodiwiryo. Ia bukan hanya seorang pendekar pilih tanding di masanya, melainkan juga sekaligus seorang pejalan batin dan pembabar ilmu batin yang mumpuni. Walau sebenarnya ia berdarah Warok Ponorogo dari Trah Batoro Katong, tetapi postur tubuhnya sangat kecil dan ringkih (jauh dari kesan gagah). Meski demikian, tercatat pada masa mudanya, Ki Ngabehi Surodiwiryo terbukti pernah mengalahkan seorang marsose Belanda berpostur tinggi besar dalam suatu pertarungan di pinggiran Kalimas, Surabaya. Bahkan marsose Belanda itu sampai dibuat babak belur dan dilemparkan ke sungai Kalimas. Dan pada kisahnya yang lain, Ki Ngabehi Surodiwiryo juga pernah melempar dengan "ilmu batin" seorang RM Apuk Suryawinata, pendekar keturunan kesultanan Banten yang berperawakan tinggi besar, yang mana dia selalu penasaran ingin mengadu ilmu silat dengan Ki Ngabehi Surodiwiryo. Tetapi setelah kalah dalam dua kali pertarungan, pada akhirnya RM Apuk Suryawinata dengan kesatria mengakui ketinggian ilmu lahir dan ilmu batin dari Ki Ngabehi Surodiwiryo, dan bahkan memintanya untuk diterima sebagai murid.
Bagi saya, nama Ki Ngabehi Surodiwiryo itu memang legenda. Ia orang yang besar. Pengaruhnya diperebutkan. Daya rajutnya diperselisihkan. Masing-masing kelompok muridnya yang mendaku bersanad "Trah SH" seolah seperti memilikinya secara khusus dan bahkan berhak atas diri, hidup, dan ajaran-ajaran yang telah dibabarkannya. Oleh karenanya tidak heran, jika banyak simpang siur berbagai versi tentang kisah hidupnya, bahkan tidak sedikit yang diselimuti oleh mitos berlebihan yang cenderung hoaks atau di sisi lain fitnah-fitnah terselubung yang menuduhnya antek kolonial karena tidak setuju dengan gerakan perlawanan nasional yang radikal dan gegabah. Tetapi terlepas dari semua itu. Menurut saya Ki Ngabehi Surodiwiryo bahkan dapat disejajarkan dengan para mursyid Tarekat ataupun dengan para guru panuntun aliran Kebatinan. Sebab selain mengajarkan silat, ia juga memberi pelajaran “ngelmu kasampurnan” dan wirid-wirid batin. Muridnya, Muhammad Subuh, bahkan menjadi guru spiritual kelas dunia, di mana seorang guru spiritual ternama seperti Osho saja pernah belajar ke Muhammad Subuh. Oleh karena itu tentu saja Ki Ngabehi Surodiwiryo adalah perpaduan sempurna bagi role model seorang pendekar dan sekaligus pejalan spiritual.
Menariknya lagi dari ketokohan Ki Ngabehi Surodiwiryo itu, di antara sekian banyak perguruan yang dulu (para guru pendirinya) pernah menyesap keilmuan di tempat Ki Ngabehi Surodiwiryo (Ndalem Panti jln Gajah Mada, Winongo Madiun) setidaknya bisa dibagi menjadi 3 jalur "trah keilmuan" dalam pewarisan ilmu Surodiwiryo:
Jalur "trah pertama", mereka yang mewarisi spirit kependekaran Ki Ngabehi Surodiwiryo semata dan memahami Ki Ngabehi Surodiwiryo hanya sebatas seorang pendekar atau jawara silat belaka. Oleh karenanya mereka mewarisi keilmuan silat Ki Ngabehi Surodiwiryo, tetapi tidak bab pelajaran keilmuan batinnya. Guru mereka tidak mengajarkan keilmuan batin Ki Ngabehi Surodiwiryo karena lebih bertujuan melatih silat untuk kepentingan melawan penjajah, jadi silat SH hanya dijadikan sebagai media perjuangan revolusioner, tapi sisi pelajaran spiritualnya ditinggal. Jalur ini adalah jalur SH Digulis, yakni murid-murid Ki Ngabehi Surodiwiryo yang menjadi aktivis pergerakan kiri radikal dan beberapa di antaranya ikut diasingkan ke Digul oleh pemerintah Hindia Belanda.
Lalu ada jalur "trah kedua", mereka yang hanya mewarisi spirit laku batin atau aspek spiritualitas dari Ki Ngabehi Surodiwiryo semata dan mereka memahami Ki Ngabehi Surodiwiryo juga hanya dari sisi keilmuan batin belaka. Jalur ini adalah jalur Muhammad Subuh/SUBUD, mereka hanya mewarisi tuntunan ilmu batin Ki Ngabehi Surodiwiryo, tetapi Pak Subuh sama sekali tidak memberi pelajaran pencak silat SH ke murid-muridnya.
Dan terakhir, ada jalur "trah ketiga", mereka yang mewarisi spirit pendekar dan sekaligus spirit lelaku batin dari Ki Ngabehi Surodiwiryo. Mereka berusaha memahami Ki Ngabehi Surodiwiryo secara utuh, baik dari sisi keilmuan lahir dan dari sisi keilmuan batinnya. Salah satu yang termasuk dalam jalur ini, adalah jalur dari R. Djimat Hendro Soewarno/PSHW TM, yang dimana mewarisi baik ilmu gerak lahir pencak silat maupun tuntunan ilmu batin dari Ki Ngabehi Surodiwiryo.
Jadi meski tidak sama persis, antara PSHW TM (Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda) dengan SUBUD (Susila Budi Dharma) itu ada satu garis persaudaraan dan leluhur keilmuan yang sama, terutama dalam ranah spiritual. Oleh karena itu saya sangat bersyukur dipertemukan dengan ajaran Ki Ngabehi Surodiwiryo yang edi peni adi luhung itu melalui jalur PSHW TM. Di masyarakat, perguruan kami ini kerap disebut dengan nama STK (Sedulur Tunggal Kecer) dibandingkan dengan nama SH (Setia Hati) sendiri, tapi sebenarnya ya apalah arti sebuah nama/sebutan, yang lebih penting adalah bagaimana kami berusaha bisa mengugemi ajaran Setia Hati yang sangat pokok/mendasar seperti misalnya tidak mendahului salah, tidak jubrio (congkak), dan tidak dahwen (dengki hati). Karena SH (yang pada awalnya bernama STK) itu sudah sejak mula-mula didirikan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo memang lebih sebagai sistematika olah kebatinan (spiritual non klenik). Dan olah pencak silat yang ada di dalamnya itu hanya merupakan bagian pelajaran kecil yang menjadi kurikulum SH di tingkatan paling awal.
Jadi sebagai sistematika olah kebatinan, tentu saja ajaran SH yang ditularkan oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo itu berupaya untuk menuntun para saudara SH agar menempuh sebuah "laku" atau perjalanan batin, dan untuk memulainya, saudara SH itu harus melalui tahapan Input (kecer/penerimaan ke-SH-an), Proses (latihan serta laku batin), dan lalu Output (pengamalan di dalam kehidupan). Sebagai anggota SH Winongo Tunas Muda, trah SH turunan yang muncul di tahun 1965 dari garis silsilah Bapak R. Djimat Hendro Soewarno, sekali lagi saya bersyukur, SH yang saya ikuti ini masih dalam sistematika pendidikan yang hampir sama dengan ajaran SH awal (SH Surodiwiryan), yaitu sebelum diberikan materi ketangkasan pencak silat lahiriah, kami dikecer dulu dengan diberikan bekal-bekal ilmu kerohanian SH (yang universal dan bisa diterima lintas agama).
SH tidak menganut sistem pemberian materi pencak silat terlebih dahulu baru kemudian ajaran kerohanian diberikan belakangan seperti perguruan silat pada umumnya. Karena ajaran SH berpandangan bahwa yang lebih utama dalam mendidik manusia adalah menata batinnya (spiritual dan budi pekerti) lebih dahulu baru kemudian menata lahiriahnya (kekuatan fisik dan kepandaian bersilat). Inilah yang bisa mencegah SH menjadi sekadar gerombolan pesilat tanpa moral, karena sejak awal masuk menjadi anggota sudah dibekali dulu dengan pelajaran-pelajaran olah kerohanian dan tidak lupa diikat pula dengan sumpah-sumpah atau paugeran-paugeran mengenai budi pekerti dan moralitas, jauh sebelum kami diajari bagaimana ilmu bertarung yang cerdas dan efektif khas Joyogendilo atau pencak silat Setia Hati.
Mungkin memang banyak yang telah mendirikan perguruan silat sebelum atau sesudah masa hidup beliau Ki Ngabehi Surodiwiryo, akan tetapi sependek yang saya ketahui sangat langka dijumpai sebuah perguruan yang konsepnya seperti yang pernah ia cetuskan itu, di mana memadukan seni beladiri silat dengan sistem ngelmu kasepuhan atau spiritualitas. Sementara yang banyak dan populer itu adalah jenis perguruan yang hanya memadukan ilmu silat dengan ilmu supranatural (kesaktian) belaka, atau ada juga yang mengajarkan ilmu pencak silat semata, bahkan ada pula yang hanya mengajarkan ilmu supranatural.
Oleh karena itu sangat penting bagi saudara SH untuk memahami terlebih dahulu bahwa antara Spiritual (Ngelmu Kasepuhan) yang dianut SH itu dengan Supranatural (Kesaktian) adalah dua hal yang sangat berbeda, meski keduanya juga bisa saling terkait. Spiritual/Kasepuhan adalah ajaran batin yang memiliki tujuan untuk meraih kesejatian diri dan puncak kesempurnaan hidup sebagai manusia. Jalan yang ditempuh adalah dengan meniti ke dalam diri, masuk ke dalam diri, mengolah batin kita sendiri. Senentara itu Kesaktian/Supranatural adalah mempelajari ilmu Klenik, Gaib, Magic, Sihir, dan sebagainya. Pelet, Santet, Pelarisan, Pesugihan, Tenaga Dalam, Kekebalan, adalah contoh kategori ilmu Kesaktian/Supranatural. Mereka yang belajar ilmu Kasepuhan/Spiritual, memang bisa memiliki bonus berupa kemampuan kesaktian sebagai efek samping. Akan tetapi bagi mereka yang hanya belajar ilmu Kesaktian/Supranatural, pada umumnya tidak akan memahami pencarian jati diri, tidak akan memahami jalan kesempurnaan diri, sebagaimana yang dipahami oleh para penempuh jalan Kasepuhan/Spiritual.
Nah mengenai ilmu Setia Hati yang digagas oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo, memang secara ontologis lebih condong pada ajaran Ngelmu Kasepuhan daripada ilmu kanuragan supranatural/perdukunan. Dalam epistemologi Ngelmu Kejawen sendiri, beragam jenis Ngelmu Kasekten itu masih termasuk dalam klasifikasi Ngelmu Kanoman, ia hanya cocok untuk dipelajari kawula muda dalam jangka waktu usia tertentu. Bagi para sepuh atau anak muda yang jiwanya sudah matang dan meneb, tentu sungguh konyol dan kekanak-kanakan jika terus mempelajari ilmu kanuragan sampai tua bahkan sampai akhir hayat, dan tidak beranjak mencari ilmu yang lebih tinggi, ilmu spiritual yang lebih esensial dalam menapaki kehidupan sehari-hari. Karena toh sehebat apapun kanuragan yang orang-orang banggakan itu pada akhirnya si pemiliknya juga tidak akan kebal dari yang namanya kematian.
Ya saya secara pribadi mengakui, memang munafik juga jika saya sebagai anak muda tidak pernah tertarik pada ilmu mistik dan kanuragan semacam tenaga dalam, ilmu katosan badan, pengasihan, kewibawaan, mata batin, kekebalan, dan semacamnya itu. Saya pun juga mendalami ilmu tenaga dalam “gemblengan” dari para kyai NU dan ilmu tenaga dalam “kontak” dari perguruan IKSPI Kera Sakti yang bersilsilah ilmu Al Hikmah warisan Abah Syaki Cisoka Banten yang di mana merupahan gabungan silsilah dari Ilmu Abah Toha (perguruan Sinlamba) dan Abah Amilin (perguruan Abdul Jabbar) yang konon ia merupakan guru supranatural dari Bung Karno sewaktu kuliah di Bandung.
Dan dari situ saya mengerti, jika ilmu supranatural kanuragan adakalanya bisa menjadi bantuan alternatif dalam beberapa hal (ajian perlindungan, pengobatan, penembusan metafisika), juga bisa sebagai media pembuktian akan keberaadaan “daya suksma” (badan halus) manusia sebagaimana yang disangsikan oleh kalangan Ateis. Serta ilmu supranatural kanuragan juga secara kebudayaan menjadi khazanah kekayaan ilmu mistik di bumi Nusantara di satu sisi dan di sisi lain juga ciri khas keilmuan ulama Aswaja di bumi Nusantara yang dalam penelitian Profesor MC Ricklefs mengalami “sintesis mistik” antara keilmuan mistik Tasawuf Islam dengan keilmuan-keilmuan mistik sisa-sisa peradaban Hindu-Buddha dan keilmuan-keilmuan mistik yang asli dari peradaban Nusantara. Meski demikian dalam paradigma ajaran SH (sebagaimana juga dalam paradigma Kejawen) Ngelmu Kanuragan itu bukan segala-galanya. Mangkunegara IV dalam Serat Wedhatama (Pangkur 1 : 9) pernah secara tegas memperingatkan:
"Kekerane ngelmu karang / Kakarangan saking bangsaning gaib / Iku boreh paminipun / Tan rumasuk ing jasad / Amung aneng sajabaning daging kulup / Yen kapengkok pancabaya / Ubayane mbalenjani"
"Mengandalkan ilmu Karang (Ilmu Kesaktian), Segala ilmu yang berasal dari kegaiban, Sungguh itu hanya sebatas boreh (bahan untuk luluran tubuh) seumpama, Tiada meresap dalam jasad, Hanya melindungi di luar kulit tubuh, Jikalau suatu saat terhadang marabahaya, Kebanyakan tidak ada daya khasiatnya."
Jadi ilmu supranatural atau ajian kanuragan itu memang tidak semestinya selalu diandalkan. Kadang ia bisa ampuh bagi satu orang namun bisa jebol bagi orang lain. Bahkan kebanyakan ilmu supranatural aji-ajian itu hanya bisa aktif ketika lawan dikuasai oleh nafsu amarah. Seperti dulu ketika saya belajar ilmu kontak (inner power) di IKSPI Kera Sakti juga diberi pengertian; bahwasanya orang yang bertarung dalam kondisi batin penuh emosi akan mudah dihantam oleh ilmu kontak atau ilmu tenaga dalam sejenis, sementara itu mereka yang bertarung tanpa distraksi emosi amarah, maka akan cenderung lebih kebal dari segala macam serangan ilmu kontak dan aji-ajian. Oleh karena itu menurut Mangkunegara IV, ilmu yang berdasarkan hal-hal supranatural tersebut bukanlah intisari dari ilmu yang sejati. Ibarat pengetahuan hanya pada kulit terluar saja, belum masuk ke hakekat.
Dan tentang paradigma ilmu SH yang lebih condong ke ilmu kasepuhan daripada ilmu supranatural itu, maka tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa SH sesungguhnya adalah lembaga pendidikan “spiritual" yang dikemas dengan wadah seni bela diri pencak silat. Mungkin bisa dipersamakan sebagaimana Sunan Kalijaga yang mengajarkan kerohanian Tasawuf dengan kemasan seni wayang dan syair-syair tembang Jawa, atau dengan pujangga Jawa Ronggowarsito dan pujangga Persia Jalaluddin Rumi yang mengajarkan kerohanian Tasawuf dalam kemasan sastra dan puisi-puisi mistik, atau juga sama halnya dengan Bhikshu Bodhidharma yang mengajarkan kebatinan Zen Buddhisme dengan kemasan seni beladiri kung-funya di daratan China.
SH yang dikonsep oleh Ki Ngabehi Surodiwiryo itu sejatinya memang persis sama dengan yang dikonsep oleh maestro pendiri kung-fu Bodhidharma (Dharma Taishi) yang juga mengajarkan olah kerohanian/spiritualitas dengan kemasan seni beladiri. Ki Ngabehi Surodiwiryo sendiri, jauh sebelum mendirikan SH sudah terbukti sebagai pribadi yang gigih dalam mempelajari ilmu silat dan ilmu batin. Melihat riwayat historis pencarian keilmuan dari Ki Ngabehi Surodiwiryo yang kosmopolit lintas aliran silat dan spiritual itu, maka kiranya bisa dimengerti jika sesungguhnya SH itu adalah perguruan yang cakupan khazanah keilmuannya sangat luas, sumber keilmuannya dihimpun dari berbagai lintas suku bahkan juga lintas agama. Oleh karenanya sudah sangat jelas, jika orientasi/sasaran perguruan SH itu kental dengan ajaran kebatinan yang sangat mendalam.
Dari sini seharusnya dapat diambil kesimpulan, bahwa sehebat dan sekeramat apapun jurus pencak silat SH sesungguhnya hanyalah "media" mengajarkan ilmu kebatinan dengan bingkai seni beladiri dan simbol-simbol jurus pencak silat. Dan saya pikir, semua itu bisa jadi dengan maksud agar lebih menarik bagi jiwa-jiwa kanoman (muda), dan agar tidak terasa ajaran kasepuhan (tua) tersebut diajarkan. Tetapi meskipun demikian, olah lahiriah pencak silat dalam SH pun juga semestinya harus dipelajari dan dilatih dengan sungguh-sungguh. Karena bagaimanapun SH menganut prinsip “Gerak Lahir Luluh Oleh Gerak Batin, Gerak Batin Tercermin Oleh Gerak Lahir” dan juga mewarisi falsafah dari Minangkabau yang berbunyi “Lahir Silat Mencari Kawan, Batin Silat Mencari Tuhan”. Juga sama seperti dalam ilustrasi lambang SH, yang antara huruf “S” dan “H” yang “manunggal” saling berkaitan, begitupun ilmu lahir dan ilmu batin di dalam SH juga harus manunggal saling berkaitan.
Maka ketika melihat mirisnya nama SH yang kini semakin sering tercoreng oleh oknum-oknum yang mencatut identitasnya, mempopulerkan atribut tapi melupakan ajaran luhur yang diajarkan, saya jadi bisa memahami kenapa Ki Ngabehi Surodiwiryo dulu sangat selektif dalam menerima murid (bahkan sempat ada ujaran yang mengatakan bahwa ilmu SH itu hanya boleh dikuasai oleh raja atau para darah biru), tentu saja itu bukan karena faktor sok eksklusif, melainkan orang yang gemar tirakat seperti Ki Ngabehi Surodiwiryo tentu saja waskita dan bisa membaca tanda-tanda zaman ke depan (weruh sakdurunge winarah), bahwa kelak nama SH akan dicatut dan populer, tapi mereka lupa mencatut garis keilmuan dan sistematika ajarannya, lalu malah dengan itu nama SH dijadikan sarana penimbul kezaliman dan kejahiliyahan di tengah masyarakat. Seakan Ki Ngabehi Surodiwiryo ingin menegaskan bahwa dirinya dan komunitas SH-nya yang kecil secara kuantitas itu sama sekali tidak terkait dengan para pencatut yang membludak keanggotaannya secara kuantitas.
Padahal epistemologi SH sendiri adalah sebuah titik temu presisi antara pencak dan jalan batin. Dan tujuan akhirnya adalah mengenali diri dan Sang Sangkan Paraning Dumadi atau Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, seorang insan SH atau SH-Yer tak semestinya berhenti hanya menjadi seorang “pesilat semata”, yang hanya mengandalkan pelajaran silat sebagai bekal hidup dan kehidupan. Akan tetapi ajaran SH juga menuntut kita untuk menjadi "pejalan spiritual" sepanjang hayat. Karena jika SH tanpa dimensi batin, maka ia hanya akan menjadi sama seperti olahraga beladiri impor yang sekuler, murni mengolah fisik, entertain, komersil, atau bahkan alat untuk membunuh.
Selamanya saya pribadi berterima kasih pada Persaudaraan Setia Hati Winongo Tunas Muda, tempat saya memulai “perjalanan kasatrian” sekaligus “perjalanan spiritual”. Dari sinilah saya memahami bahwa Setia Hati bukan sekadar olah kridha pencak silat, tetapi sandi-sandi pengetahuan sejati untuk mengenali diri. Ilmu kebatinan SH bukanlah ilmu yang klenik mistis, namun ilmu SH adalah ilmu kasunyatan menyelami kesejatian diri.
Maka saya boleh “dolan” sejauh apa pun dalam menambah perbekalan dan perbendaharaan ilmu-ilmu yang lain, seperti misalnya mempelajari Al Hikmah, Kejawen, Tasawuf, mengkaji Hinduisme, membaca Rumi, berdialog dengan filsafat Barat, atau bahkan menelusuri ajaran Zen Buddhisme. Namun saya akan selalu tetap kembali ke "rumah persaudaraan" (PSHW TM) ini, yang merupakan pijakan awal saya dalam belajar "mengenali diri".
Salam Setia Hati
Eling Kuat Slamet
Alvian Fachrurrozi
Ngawi, 25.05.2022
[15/9 00.18] rudysugengp@gmail.com: Sejarah IKIP UAB
Sekedar pengingat riawayat Perkulian saya dkk saat awal kuliah Angkatan 1980/1981 Buka 1 Jurusan FIP - dng. 2 Prodi Pendidikan Umum dan PKN Jumlah Mahasiswa masuk diperkirakan 400 Mhs. Untuk PU sejumlah 200 sisanya PKN
Kuliah di SDN DR SOETOMO Jl Trunojoyo dan di SDN Dukuh Kupang belakang Drive In dan TVRI kala itu
Ujian Dilaksanakan di SMPN 06 SBY dan tersisa sejumlah 100 saja yg ikut Ujian selainya Droup Out
Dan Peletakan Batu I IKIP PGRI di Jl Ngagel Dadi 1981 oleh Rektor H Udan Dardiri dan diteruskan oleh Pak Masini Atmadji (Alm)
Yg selanjutnya disebut sebagai Kampus I (Pusat) saat itu.
Baru sekitar THN 1984 kita semua kuliah berpusat di Kampus Ngagel Dadi yang membuka 1984 mulai Ujian Lokal dan Ujian Negara (menerima 2 Ijazah Sarjana Muda / setara D3) diikuti semua angkatan sebelum kita kita , karena Administrasi Kemahasiswaan belum sebaik yg sekarang.
Lalu Transfer ke Doktoral (S 1) dan Ujian 2 X lagi Ujian Lokal dan Ujian Negara terima 2 Ijazah
Era Rektor Dr Iskandar
Dan dalam perkembangannya , selaras dengan tuntutan perkembangan dan kebutuhan maka dibukakalh berbagai Fakultas dan Banyak Prodi yg ditawarkan.
Semoga IKIP PGRI : UNIV PGRI ADI BUANA dan sekarang dikenal Sebagai UAB makin berkembang baik dan diburu Mahasiswa baru dan dapat menyiapkan Tenaga siap pakai dan tenaga siap buka lapangan kerja sendiri.
Aamiin
Barokhallahu fikum.
Jayalah UAB
Dan terus berbenah sesuai Perkembangan Zaman
[15/9 10.11] rudysugengp@gmail.com: *Perjalanan 46 km*
Minggu, 14 September 2025.
Malam Minggu, istriku request.
"Besok jalan-jalan naik SPM, ya !"
"Kemana ?", tanyaku !
"Pokoknya jalan terus #ngadem#"
Perjalanan di mulai pukul 8.26 dari Kalidami, melewati rute :
Jalan : Raya Menur, Kertajaya, Sulawesi (beli bensin 15 K), Pandegiling, Girilaya, Putat Jaya, Dukuh Kupang, Dukuh Kupang Barat, Mayjen Sungkono, HR Mohammad, Mayjen Jonosewojo, Babatan Unesa, Raya Menganti, berhenti di Bluebird Lakarsantri.
Terlihat krupuk kuning besar.
(19 km, 1 jam 9 menit).
Ingat : Rumah Idris.
Berhenti dan mencari Tempat Wisata.
Lanjut : Taman Hutan Raya Jeruk.
5 K tiket, 3 K parkir, ngopi
(500 m).
Saat Ngopi, Ibu penjual menyampaikan bahwa di sekitar area terdapat Wisata Taman Hutan Sumur Welut, Balas, dan Rumah Kaca.
Satu Jam di Jeruk, lanjut lewat arah SMPN 40, ke Jalan Raya Wisma Lidah Kulon.
Pojok kanan, ingat Reuni di rumah Asri.
Perjalanan berlanjut ke Jalan : Raya Bangkingan, Sumur Welut.
SDN Sumur Welut, didirikan tahun 1978, berupa Nama namun belum Jadi Bangunan.
Istriku diangkat pertama sebagai CPNS, namun dititipkan di SDN Tambaksari I, hingga menetap sampai 31 Oktober 1982, lanjut ke SDN Rangkah I.
Tahun 1992, berpindah ke SDN Gading VI.
Tgl. 28 Agustus 2009 menjadi KSDN di SDN Tembok Dukuh IV.
17 September 2017 dipindahkan ke SDN Dukuh Kupang V, hingga Purna 1 Desember 2019.
Ketika mencari Hutan Bendungan di Sumur Welut, info tidak ketemu.
Lanjut ke Hutan Balas Klumprik (9 km, 40 menit) dari Jeruk.
Wisata Hutan Balas Klumprik, 5 K tiket, 3 K parkir, diresmikan 11 Des 2020 oleh Bu Risma.
Akhir :
Balas Klumprik, Kebraon (ingat Sukamto), Mastrip Kemlaten, Kedurus (ingat Kastur), Joyoboyo, Diponegoro, Kedungdoro,
Tidar (Es Teler 18 K), Blauran, Genteng Kali, Ngemplak, Walikota Mustajab, Mustopo, Karang Menjangan, Kalidami.
(2 Jam 51 menit).
Melelahkan.
Yang penting, happy.
[16/9 11.04] rudysugengp@gmail.com: PSPB
Jurusan Sejarah IKIP PGRI Surabaya, di bawah naungan FPIPS (Sekarang STKIP Adhi Buana) merupakan awal berdirinya jurusan Sejarah. Fakultas yang paling lama adalah FIP dengan jurusan KTP, BP, PKn, dan Bahasa Indonesia sekitar tahun 1974 yang mengeluarkan ijazah Sarjana Muda (BA) setara dengan D3.
Kampus berasal di Trunojoyo (SDN Dokter Sutomo V), kemudian berpindah ke Bintang Diponggo.
Saat ada jurusan Sejarah yaitu tahun 1984 kampus bergeser secara pelan-pelan ke Ngagel Dadi (dekat dengan Sumur Minyak).
Kehadiran Jurusan Sejarah ini untuk menjawab tantangan bahwa Sejarah meski ada dianggap kurang penting.
Mendikbud Prof. Dr. Nugroho Notosusanto memutuskan untuk membuka pelajaran baru yaitu PSPB.
Waktu itu, aku tidak ingin kuliah mengingat sudah menjadi guru PNS sejak 1982. Khawatir tidak dapat ijin dari Sekolah. Ternyata kuliahnya sore hari pukul 16.00.
Hingga akhirnya aku kuliah karena hobby. (Jadi tidak bermaksud mencari gelar).
Mulai dari tes yang jumlah soalnya 10 harus di jawab secara uraian dalam waktu 2 jam di bangku SDN yang tengahnya masih ada lobang tempat tinta.
Mulailah Kuliah di bulan Agustus 1984 yang sebelumnya didahului OSPEK Mahasiswa di Kampus Ngagel Dadi.
[16/9 11.14] rudysugengp@gmail.com: Setelah 40 tahun sejak Kuliah di Jurusan Sejarah yaitu tahun 1984, kami bertemu dengan beberapa teman untuk mengadakan Reuni (Halal bi Halal) dalam lingkup kecil dan sederhana, Sabtu : 4 Mei 2024.
Tujuan: Agar sejarah dapat bangkit kembali sebagai suatu Mapel di berbagai Lembaga Pendidikan secara urut dengan sebab akibat yang saling terkait, meski beberapa yang hadir tidak semua menjadi guru Sejarah.
Semoga sejarah bangsaku masih ada dan terus berkembang hingga akhir zaman.
Saat bertemu dibagikan buku ber ISBN terbit 2019 dengan judul "Piranti Nasionalisme dan Sejarahnya" dari Skripsi yang dibuat tahun 1988.
[18/9 12.02] rudysugengp@gmail.com: Home
Berita
Jogo Jatim
Sepakbola
Hukum & Kriminal
Budaya
Wisata
Kuliner
Bisnis
Jatim Moncer
Foto
Video
Indeks
Yang sedang ramai dicari
Loading...
Promoted
Terakhir yang dicari
Loading...
Terpopuler
Koleksi Pilihan
detikJatim
Budaya
Jadwal Drama Kolosal Peristiwa Perobekan Bendera di Surabaya
Mira Rachmalia - detikJatim
Selasa, 16 Sep 2025 16:10 WIB
Teatrikal Perobekan Bendera di Hotel Majapahit Surabaya. Foto: Aprilia Devi
Daftar Isi
Jadwal Drama Kolosal Perobekan Bendera 2025
Makna Peristiwa Perobekan Bendera
Sejarah Singkat Peristiwa di Hotel Yamato
Warisan Semangat Perjuangan
Surabaya - Surabaya dikenal luas sebagai Kota Pahlawan, julukan yang melekat erat dengan sejarah panjang perjuangan rakyat mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Sebutan ini lahir dari keberanian dan pengorbanan warga Surabaya yang tanpa gentar melawan kembalinya penjajah setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Salah satu peristiwa paling bersejarah yang menjadi simbol perlawanan adalah perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato, kini Hotel Majapahit, pada 19 September 1945. Momen ini menegaskan sikap tegas rakyat, terutama para pemuda, yang menolak hadirnya kembali simbol penjajahan di tanah air yang telah merdeka.
Baca juga:
Jadwal Pertunjukan Seni di Destinasi Wisata dan Taman Kota Surabaya
Untuk merawat ingatan kolektif generasi bangsa, Pemerintah Kota Surabaya bersama komunitas sejarah dan insan seni rutin menggelar peringatan. Salah satunya drama kolosal perobekan bendera, sebuah pertunjukan yang merekonstruksi detik-detik heroik di Jalan Tunjungan.
ADVERTISEMENT
Tahun ini, acara tersebut kembali digelar sebagai bentuk penghormatan sekaligus sarana edukasi sejarah bagi masyarakat. Berikut jadwal lengkap drama kolosal perobekan bendera 2025.
Aksi Drama Kolosal Surabaya Merah Putih Foto: Instagram @tourism.surabaya
Jadwal Drama Kolosal Perobekan Bendera 2025
Drama kolosal bertajuk Surabaya Merah Putih akan kembali dipentaskan untuk memperingati peristiwa heroik perobekan bendera Belanda. Pertunjukan ini menjadi agenda tahunan yang ditunggu masyarakat Surabaya, karena menghadirkan suasana sejarah dengan kemasan teatrikal yang megah.
ADVERTISEMENT
Tanggal: Minggu 21 September 2025
Lokasi: Hotel Majapahit Surabaya, Jl Tunjungan Surabaya
Waktu: 07.00 WIB
Jadwal Drama Kolosal Perobekan Bendera 2025 dikemas dalam bentuk drama musikal dengan melibatkan ratusan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari seniman, pelajar, komunitas sejarah, hingga para veteran.
Kolaborasi lintas generasi ini menjadikan pertunjukan semakin hidup dan menyentuh, karena tidak sekadar hiburan, tetapi juga sarana edukasi untuk mengingat kembali perjuangan para pahlawan.
Makna Peristiwa Perobekan Bendera
Perobekan bendera Belanda menjadi salah satu simbol awal perlawanan rakyat Surabaya setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya. Aksi ini bukan hanya tentang merobek kain biru pada bendera Belanda, tetapi juga simbol bahwa rakyat Indonesia menolak tegas kembalinya kekuasaan asing.
Momen tersebut menjadi penegasan bahwa merah putih adalah satu-satunya bendera sah bangsa Indonesia. Perlawanan arek-arek Suroboyo dalam peristiwa ini pun menjadi bara semangat yang kelak memuncak dalam pertempuran besar 10 November 1945.
Sejarah Singkat Peristiwa di Hotel Yamato
Dalam bukunya, 10 November, Bung Tomo menuturkan insiden perobekan bendera terjadi pada 19 September 1945. Kala itu, Belanda yang baru kembali dari pengasingan berusaha menunjukkan eksistensinya dengan merayakan hari lahir Ratu Wilhelmina pada 31 Agustus.
Mereka mengibarkan bendera merah-putih-biru di atas Hotel Yamato, dulu bernama Hotel Oranje. Tindakan tersebut memicu kemarahan rakyat Surabaya. Pemuda-pemuda Belanda bahkan dengan congkak mengejek warga, bersepeda sambil bernyanyi, dan merusak plakat kemerdekaan yang dipasang di jalan-jalan kota.
Situasi kian memanas ketika dua tokoh Belanda, Ploegman dan Spit, kembali mengibarkan bendera Belanda di puncak hotel tanpa alasan jelas. Rakyat Surabaya pun segera berkumpul di sekitar hotel.
Dengan senjata seadanya, mulai bambu runcing hingga celurit, mereka berhadapan dengan pasukan Jepang yang saat itu masih bersenjata lengkap. Bentrokan pun pecah. Batu beterbangan, suara tembakan menggema.
Hingga akhirnya beberapa pemuda Indonesia berhasil masuk ke dalam hotel, menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, lalu mengibarkan kembali bendera merah putih dengan gagah. Peristiwa ini menegaskan Surabaya dan Indonesia tidak akan tunduk lagi pada penjajahan.
Namun, detailnya masih mengundang perdebatan. Sejarawan Indonesia maupun peneliti asing mencatat versi berbeda mengenai kejadian ini. Bung Tomo menulis bahwa Ploegman tewas dalam bentrokan tersebut.
Sedangkan, William H Frederick, sejarawan asal Amerika, menyebut Ploegman baru meninggal beberapa hari kemudian akibat luka yang dideritanya. Meski berbeda versi, keduanya sepakat bahwa perobekan bendera merupakan aksi spontan rakyat Surabaya yang dipicu oleh arogansi Belanda.
Warisan Semangat Perjuangan
Peristiwa perobekan bendera tidak hanya penting secara historis, tetapi juga sarat nilai perjuangan yang relevan hingga masa kini. Keberanian pemuda Surabaya menjadi teladan bagi generasi muda untuk selalu menjunjung tinggi persatuan dan menjaga kedaulatan bangsa.
Pemerintah Kota Surabaya sendiri menetapkan 19 September 1945 sebagai tanggal resmi peristiwa perobekan bendera. Sejak itu, setiap tahun selalu diperingati dengan acara rekonstruksi, pementasan drama, hingga kegiatan edukasi di sekolah-sekolah.
Pertunjukan drama kolosal di Hotel Majapahit menjadi salah satu agenda yang ditunggu, karena menghadirkan suasana heroik dengan teatrikal. Dengan melibatkan ribuan penonton, acara ini tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengingat akan harga mahal yang harus dibayar untuk meraih dan mempertahankan kemerdekaan.
(ihc/irb)
[19/9 13.43] rudysugengp@gmail.com: Borobudur bukan cuma candi megah di Jawa Tengah, tapi juga menyimpan salah satu karya seni terpanjang di dunia. Bayangin aja, di dindingnya ada 2.672 panel relief yang kalau disusun memanjang bisa jadi semacam “komik raksasa” sepanjang 6 kilometer.
Relief ini bukan sembarang ukiran, tapi menceritakan kisah-kisah kehidupan Buddha, hukum karma, hingga perjalanan menuju pencerahan. Jadi, setiap panel seperti “frame” cerita yang saling nyambung—mirip banget sama komik atau storyboard zaman sekarang.
Uniknya lagi, detail ukirannya luar biasa halus, menggambarkan kehidupan masyarakat Jawa abad ke-8: dari cara mereka berdagang, berpakaian, sampai kehidupan sehari-hari. Jadi relief Borobudur bukan cuma kisah spiritual, tapi juga arsip sejarah visual yang nggak ternilai harganya.
Dengan panjang cerita yang mencapai 6 km, Borobudur layak disebut sebagai komik terbesar di dunia. Bedanya, ini bukan di atas kertas, tapi diukir di batu yang sudah bertahan lebih dari 1.200 tahun. Karya seni yang bener-bener bikin kagum dunia!
Sumber:
UNESCO – Borobudur Temple Compounds
National Geographic Indonesia
Kemdikbud RI
[21/9 14.16] rudysugengp@gmail.com: Menu
Cari
Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya
HM Yousri Nur Raja Agam
HM Yousri Nur Raja Agam
Oleh HM Yousri Nur Raja Agam
Insiden Bendera di Hotel Yamato Surabaya
HOTEL Majapahit (dahulu Hotel Yamato, red) yang menjadi saksi sejarah perobekan bendera Belanda, Merah Putih Biru menjadi Merah Putih
HOTEL Majapahit (dahulu Hotel Yamato, red) yang menjadi saksi sejarah perobekan bendera Belanda, Merah Putih Biru menjadi Merah Putih
INILAH awal gerakan sporadis Arek-arek Suroboyo menantang dan melawan keinginan kolonial untuk kembali menancapkan kukunya menjajah bumi pertiwi, Indonesia.
Tanggal 19 September 1945 bagi warga Kota Surabaya, harus selalu dikenang. Sebab itulah gerakan heroik yang sulit dilupakan sebagai awal kebangkitan Arek Suroboyo yang kemudian berkobar dalam peristiwa 10 November 1945. Tanggal yang menjadi tonggak sejarah, sehingga Kota Surabaya memperoleh predikat “Kota Pahlawan”.
Betapa tidak, kejadian di tanggal 19 Sptember 1945 yang dikenal dengan “insiden bendera”, merupakan pemicu semangat juang Arek Suroboyo. Adanya peristiwa perobekan bendera Belanda tiga warna “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato (nama di zaman Jepang yang semula zaman Belanda bernama hotel Orange, kini bernama Hotel Majapahit) di Jalan Tunjungan 65 Surabaya itu, benar-benar memperkokoh persatuan pemuda pergerakan di Surabaya.
Hotel Majapahit, sekarang ini, di zaman Belanda bernama LMS Orange Hotel. LMS adalah singkatan nama Lucas Martin Sarkies. “Orange” adalah warna kebanggan bangsa Belanda. Bahkan, hingga sekarang kesebelasan sepakbola nasional Belanda menggunakan seragam kaus berwarna orange. Sewaktu Jepang berkuasa, nama hotel ini diganti menjadi Hotel Yamato.
Wiwiek Hidayat (alm) mantan kepala kantor berita “Antara” di Surabaya, saat masih hidup di tahun 1990-an dalam wawancara dengan penulis pernah mengungkap berbagai peristiwa di tahun 1945. Banyak hal tentang perjuangan Arek Suroboyo dan para wartawan di kala itu yang diceritakan kepada penulis. Ada yang dalam bentuk wawancara, maupun bincang-bincang di waktu senggang. Berbagai kisah masa lalu banyak yang sempat kami catat dari tokoh pers dan pelaku sejarah perjuangan Surabaya ini .
Dari Tunjungan 100
Kendati tidak ikut naik ke atas gedung hotel Yamato yang persis di depan kantor berita Antara di jalan Tunjungan 100 Surabaya itu, Wiwiek Hidayat adalah saksi mata. Ia mengabadikan dan mencatat dengan rapi kejadian di puncak hotel yang kemudian bernana Hotel Majapahit itu. Pak Wiwiek – begitu wartawan senior ini biasa disapa – secara tegas menyatakan tahu persis nama orang yang merobek kain warna biru dari bendera Belanda itu. Kain warna biru itu dirobek dengan digigit. Setelah robek, dua warna merah putih tersisa kembali diikatkan ke tiang bendera dan menjadi sangsaka merah-putih. “Nama orang itu adalah Kusno Wibowo yang dibantu Onny Manuhutu dan ada dua orang lagi yang saya tidak kenal,” kata Pak Wiwiek.
Memang, ada yang lain, tetapi mereka membantu membawa tangga dan hanya naik ke atap gedung bagian tengah, serta beramai-ramai berteriak penuh semangat. Jadi yang berada di puncak tempat tiang bendera itu, hanya ada empat orang. Foto dokumentasinya masih tersimpan di kantor berita “Antara”, ujar Pak Wiwiek waktu itu. Anehnya, kemudian banyak orang lain yang mengaku-ngaku sebagai pelaku perobekan. Sehingga, akhirnya diputuskan dan disepakati bahwa pelakunya adalah “Arek Suroboyo” (tanpa nama).
Pak Wiwiek di tahun-tahun terakhir sebelum beliau berpulang ke Rahmatullah, hampir tiap sore bertandang ke Balai Wartawan Jalan Taman Apsari 15-17 Surabaya. Di sana ia berkumpul dengan wartawan muda. Keakraban dengan wartawan muda itu, memberi gairah Pak Wiwiek bernostalgia. Sehingga pikiran jernihnya berhasil mengungkap tabir di balik peristiwa insiden bendera yang bersejarah itu.
Hari Selasa, 18 September 1945, siang hingga sore beberapa anak muda Belanda Indo mengibarkan bendera Belanda “merah-putih-biru” di atas gedung hotel Yamato. Mereka itu berada di bawah perlindungan opsir-opsir tentara Sekutu dan Belanda dari kesatuan Allied Command. Tentara ini datang ke Surabaya bersama rombongan Intercross atau Palang Merah Internasional.
Beberapa hari sebelumnya terdengar kabar, bahwa anak-anak muda Belanda Indo itu membentuk organisasi bernama “Kipas Hitam”. Tujuannya untuk melawan gerakan kemerdekaan Indonesia yang sudah diproklamasikan 17 Agustus 1945 (sebulan sebelumnya). Selain berlindung di belakang opsir Sekutu dari Alleid Command, ternyata para opsir itu adalah NICA (Netherland Indies Civil Administration) yang ingin mencengkeramkan kembali kukunya di Bumi Nusantara.
“Melihat tingkah bule-bule di hotel yang terlihat jelas dari kantor berita Antara, membuat darah para wartawan mendidih. Ulah tingkah anak-anak muda Belanda itu segera disebarkan kepada kelompok pergerakan. Situasi semakin menghangat dan hiruk pikuk, tatkala melihat bendera Belanda tiga warna berkibar di atas hotel Yamato”, cerita Pak Wiwiek.
Suasana bertambah panas, ketika besoknya pada Hari Rabu, 19 September 1945 pagi, anak-anak muda Belanda Indo itu berkumpul di depan hotel. Beberapa orang yang melihat bendera Belanda berwarna “merah-putih-biru” berkibar di puncak hotel Yamato, tidak hanya sekedar menggerutu, tetapi beberapa di antaranya berteriak-teriak histeris. Mereka minta agar bendera itu diturunkan. Namun anak-anak muda Belanda Indo itu menolak dan dengan congkaknya seolah-olah menantang.
Sadar bahwa ulah anak-anak Belanda itu sudah keterlaluan. Suasana di kalangan anak muda Surabaya semakin tidak menentu. Mau bertindak sendiri-sendiri, masih ada keragu-raguan. Belum ada satupun yang mengambil inisiatif, termasuk para wartawan dan pemuda pergerakan yang berada di kantor berita Antara. Namun, beberapa wartawan mendatangi kantor Komite Nasional dan Kantor Keresidenan Surabaya, menanyakan tentang sikap pemerintah dengan adanya bendera Belanda di atas hotel Yamato. Pejabat di dua kantor itu mengaku belum tahu.
Residen Sudirman dengan beberapa pejabat, di antaranya walikota Surabaya waktu itu, Radjamin Nasution dan Cak Ruslan (Roeslan Abdulgani, tokoh pemuda waktu itu), bersama beberapa wartawan, termasuk saya dan Sutomo (Bung Tomo), kata Wiwiek Hidayat, segera mendatangi hotel Yamato. Kepada perwakilan Sekutu yang ada di sana, Pak Dirman – panggilan akrab Residen Soedirman – minta agar bendera Belanda itu diturunkan. Saat rombongan Residen Sudirman masuk ke halaman hotel, di sepanjang Jalan Tunjungan, massa sudah ramai.
Kepada perwakilan Sekutu itu dikatakan bahwa Indonesia sudah memproklamasikan kemerdekaannya, 17 Agustus 1945. Namun, pihak sekutu menolak menurunkan bendera Belanda itu. Mereka menjawab, dalam Perang Dunia II itu yang menang adalah Sekutu, di dalamnya termasuk Belanda, sehingga tidak ada alasan untuk menurunkan bendera Belanda itu.
Ploegman Tewas
Rupanya perwakilan Sekutu itu adalah orang Belanda, bahkan dengan sombongnya ia mengacungkan pistol ke arah Pak Dirman. Saat itu, kata Wiwiek, seorang pemuda menendang pistol yang diacungkan pria kulit putih itu. Terjadi perkelahian dan saling keroyok antara bule-bule dengan pemuda yang datang menyerbu masuk ke halaman hotel. Tauran (perkelahian massal) tak dapat dihindarkan. Apa saja yang ada saat itu dipergunakan jadi senjata. Ada kayu, batu, botol minuman dan ada seorang polisi menggunakan pedang. Ada yang mengangkat sepeda dan dilemparkan ke tengah massa.
Suasana hirukpikuk ini tambah seru, tatkala massa berdatangan dari arah utara dan selatan. Ada yang naik truk dan juga ada yang dengan trem. Yang naik trem listrik itu adalah orang hukuman yang dilepaskan dari penjara oleh Pemuda DKA (Djawatan Kereta Api – sekarang PT.KAI atau Kereta Api Indonesia). Massa menyerbu masuk sampai ke dalam hotel. Sementara itu di luar beberapa orang membawa tangga dan naik ke atas gedung. Ada enam atau tujuh tangga bambu yang disebut ondo itu dibawa warga dari kampung Ketandan dan kampung Kebangsren. Dengan ondo itu, anak-anak muda berjuang memanjat ke atas, hingga akhirnya bendera Belanda itupun diturunkan, namun sertamerta warna biru dari bendera itu dirobek, lalu dwiwarna yang tersisa kembali menjulang di angkasa. Kain warna biru digulung dan dilemparkan ke bawah. Teriakan “Merdeka…!, merdeka! sembari mengepalkan tangan saling bersahutan.
Waktu itu, memang di depan hotel ada serdadu Kempetai (tentara Jepang) yang menjaga dengan senapan dan sangkur terhunus. Namun melihat suasana massa, serdadu Jepang itu hanya diam berbaris, tidak berani melepaskan tembakan.
Dari insiden ini empat pemuda menjadi korban luka berat. Mereka, adalah Sidik, Hariono, S.Mulyadi dan Mulyono. Mereka dilarikan ke rumah sakit Simpang (sekarang sudah tidak ada, di tempat itu kini berdiri gedung Medan Merdeka, Bursa Efek Surabaya (BES), Bank Mandiri dan Plaza Surabaya. Sedangkan korban di pihak Belanda, adalah Ploegman. Ia tewas akibat tusukan senjata tajam.
Pekik Merdeka
Pekik merdeka tiada hentinya berkumandang dalam setiap pertemuan. Ulah anak-anak Indo Belanda yang datang ke Surabaya mempersiapkan kedatangan pasukan Sekutu yang ditugasi melucuti senjata serdadu Jepang, memancing kemarahan warga Kota Surabaya.
Rakyat, terutama para pemuda menyadari, sejak saat itu kemerdekaan yang diproklamasikan 17 Agustus 1945, belum aman. Gejala pihak Belanda ingin menjajah kembali mulai terlihat. Untuk mempertahankan tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia di Surabaya, diperlukan senjata dan alat angkutan untuk bergerak cepat. Itulah sebabnya pemuda dan anak-anak kampung di Surabaya melakukan perampasan terhadap mobil-mobil Jepang yang lewat. Bahkan, mereka tidak segan-segan menempelkan kertas merah-putih di kaca-kaca mobil pembesar Jepang.
Tidak jarang, setelah mobil-mobil ditempeli kertas merah-putih, mobil itu diambilalih. Sebelum tentara Sekutu melucuti senjata serdadu Jepang itu, para pemuda Surabaya sudah mendahuluinya. Perampasan senjata juga dilakukan di markas dan gudang-gudang Kempetai.
Memanasnya kemelut setelah insiden bendera di Hotel Yamato, mendorong para pimpinan pemuda untuk melakukan koordinasi. Dua hari kemudian, tanggal 21 September, setelah berlangsung rapat KNID (Komita Nasional Indonesia Daerah) di GNI (Gedung Nasional Indonesia) Jalan Bubutan, terbentuklah badan perjuangan yang diberi nama PRI (Pemuda Republik Indonesia).
Dalam rapat PRI disepakati, bahwa PRI adalah organisasi yang tidak memandang perbedaan paham dan golongan. Rapat juga membicarakan berbagai taktik dan cara menghadapi tentara Sekutu yang datang melucuti serdadu Jepang. Roeslan Abdul Gani alias Cak Roes dalam rapat itu mengobarkan semangat juang para pemuda. Cak Roes juga menanamkan rasa permusuhan terhadap tentara Sekutu.
Sebagai langkah awal koordinasi, disusun pengurus PRI dengan ketua: Sumarsono dengan dua wakil ketua: Krissubanu dan Koesnadi. Penulis I dan II, masing-masing: Bambang Kaslan dan Roeslan Effendi, serta bendaharanya: Nn.Supijah. Markas PRI berada di Wilhelmina Princesslaan (sekarang bernama Jalan Tidar) Surabaya. Namun, pada tanggal 4 Oktober 1945, markas PRI ini dipindah ke gedung Simpang Societeit (sekarang bernama Balai Pemuda) di Jalan Gubernur Suryo 15 Surabaya.
Terjadinya pengambilalihan kekuasaan dari tangan penguasaan Jepang di berbagai instansi, di bulan September 1945 itu menambah semangat persatuan di kalangan pemuda. Sampai-sampai begitu semangatnya, di Surabaya muncul poster-poster dengan tulisan: 1 Oktober 1945 akan menjadi “hari pembantaian anjing-anjing Jepang”. Poster itu disebarkan ke mana-mana, kebanyak oleh anggota PRI. Di samping itu, berita dari mulutu ke mulut menjalar ke seantero kota.
Melihat adanya gejala “akan main hakim sendiri”, maka pimpinan PRI dan tokoh pemerintahan, serta anggota KNID, melakukan rapat. Disusunlah strategi jitu untuk melakukan penyerangan ke markas Kempetai dan markas-markas Angkatan Laut Jepang di Jalan Embong Wungu, markas Angkatan Darat Jepang di Jalan Darmo, Gungungsari, Sawahan dan lain-lain.
Penyerangan dikordinasikan oleh PRI bersama BKR (Badan Keamanan Rakyat), serta Polisi Istimewa. Saat terjadi penyerangan 1 Oktober 1945, korban berjatuhan dari ke dua belah pihak. Puluhan orang serdadu Jepang terbunuh dan ratusan orang lainnya digiring masuk penjara dan kamp tahanan.
Pihak Jepang di Surabaya akhirnya menyatakan menyerah kepada pimpinan pemerintahan daerah di Surabaya tanggal 2 Oktober 1945. Panglima Divisi tentara Jepang Jawa Timur, Jenderal Iwabe, memerintahkan seluruh serdadu Jepang untuk menyerah kepada BKR, sekaligus menyerahkan seluruh senjata dan gudang-gudangnya. Sebaliknya, pihak Indonesia, menyanggupi untuk menjaga keamanan semua orang Jepang. Penyerahan kekuasaan oleh Jenderal Iwabe ini kemudian diikuti pula oleh Laksamana Laut Shibata, 7 Oktober 1945.
Dekrit
Setelah berhasil mencapai kemenangan, Pemerintah Keresidenan Surabaya mengeluarkan “Dekrit” atas nama Pemerintah Republik Indonesia yang berisi enam pasal. Maksud dekrit itu untuk menggalang kekuasaan lebih lanjut di bawah pengawasan BKR. KNID juga mengeluarkan seruan agar rakyat mematuhi semua komando dari BKR.
Residen Sudirman kemudian membentuk komite pelaksana untuk membantu pemerintah keresidenan. Anggota komite pelaksana, selain dari KNID, juga masuk pimpinan buruh, Syamsu Harya Udaya dan ketua PRI, Sumarsono.
Markas Besar PRI di Balai Pemuda, benar-benar menjadi pusat kegiatan dan koordinasi antar pemuda Surabaya. PRI dengan cepat berkembang dengan dibentuknya PRI lokal di kampung-kampung. Kemudian diresmikan pula enam cabang, masing-masing: Cabang Kampement (Jalan Sunan Giri), Sidodadi, Ketabang, Bubutan, Kaliasin dan Darmo. Dari enam cabang itu, kemudian diubah menjadi tiga pusat, yakni: PRI Utara, PRI Tengah dan PRI Selatan.
PRI Surabaya di waktu itu merupakan laskar yang kuat dan popular. Kekuatannya, hampir sama dengan kekuatan TKR di Surabaya. Kegiatan menonjol yang menjadi cacatan sejarah yang dilakukan PRI, antara lain: terlibat langsung dalam peristiwas pembunuhan yang terjadi di kamp tawanan Jepang di Jalan Bubutan (Koblen). Selain itu juga ikut terlibat dalam peristiwa penggeledahan kantor RAPWI (Recovery of Allied Prisoners and War Internees) di Hotel Yamato, kantor NICA (Nedherlands Indies Civil Administration), serta beberapa rumah milik orang-orang Eropa di Surabaya.
Dari penggeledahan yang dilaksanakan 11 Oktober 1945 itu, ditemukan banyak bukti yang berhubungan dengan rencana penyerangan pihak Sekutu ke Indonesia. Saat penggeledahan itu juga dilakukan penyitaan terhadap alat komunikasi, perta dan dokumen yang merupakan kerja intelejen dan mata-mata. Dari temuan itu, tekad bulat pemuda untuk mempermalukan kedatangan armada Sekutu yang bekal mendarat di Tanjung Perak Surabaya, sudah semakin bulat. Bahkan di dalam kota, kegiatan pemboikotan pasokan makanan untuk orang Eropa, khususnya Belanda Indo.
Tanggal 12 Oktober 1945, merupakan hari bersejarah bagi Bung Tomo (Sutomo) dan kawan-kawannya. Pada hari itu, bertempat di rumah Jalan Biliton No.7 disepakati lahirnya sebuah organisasi bersenjata bernama “Pimpinan Pemberontakan Rakyat Surabaya” (PPRS). Para pelopor pemberontakan harus berani bertanggungjawab sepenuhnya seandainya digempur dan dikalahkan oleh Inggris dan sekutunya. Para pelaku pertemuan itu, dalam buku Laporan Survey Sejarah Kepahlawanan Kota Surabaya, adalah: Sutomo (Bung Tomo), Soemarno, Asmanu, Abdullah, Atmadji, Sudjarwo, Suluh Hangsono dan beberapa pemuda lainnya.
Bung Tomo mengatakan, PPRS yang kemudian diubah menjadi BPRI (Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia), adalah organisasi pemuda yang sedikit teratur dan mengambil bagian terpenting dalam peran Surabaya. Organisasi ini tidak mempunyai afiliasi politik yang resmi, tetapi memiliki beberapa stasiun radio dan mengemudikan beberapa stasiun radio.
Setelah BPRI terbentuk, kegiatan pemuda bersenjata semakin teratur dan terkendali. Kerjasama dengan organisasi pemuda lainnya mulai terbangun. Masing-masing kelompok membagi dan menentukan wailayah operasinya.
Tidak hanya di darat, kekuatan pemuda mulai bersatu. Setelah Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, para pemuda Indonesia yang berada di kapal, juga melakukan kegiatan. Operasi laut pertama kali dilakukan ke Pulau Nyamukan (Djamuan Riff) yang terletak beberapa mil dari dermaga Ujung, Surabaya. Dari operasi tanggal 14 Oktober 1945 di laut itu berhasil diperoleh surat perintah menyerah dari Kaigun Saiko Sjikikan (Komandan Tertinggi Angkatan Laut Jepang di Surabaya), Laksamana Sjibata.
Unsur laut yang terlibat dalam operasi itu antara lain: TKR Laut, MKR dan PHL. Dengan menggunakan kapal perang tipe pemburu kapal selam (Submerine Chaser) S-115 yang diambilalih dari tangan Kaigun Jepang, 7 Oktober 1945. Sebagai komandan kapal diangkat Dento dengan kepala kamar mesin, Kunto serta kepala persenjataan, Gimo. Sebagi pimpinan operasi bertindak Atmadji yang juga pimpinan MKR Surabaya. Dalam operasi itu ikut ula Moch.Afandi, ketua umum PAL (Penataran Angkatan Laut) Gunadi dan beberapa pimpinan TKR Laut.
Dalam operasi laut itu, kapal S-115 yeng menggunakan bendera Merah Putih itu, berhasil menggiring 34 buah barkas pendarat (Daihatsu) dari Pulau Nyamukan yang mengangkut 419 orang tentara laut Jepang. Operasi tanpa pertumpahan darah itu tiba di dermaga Ujung malam hari. Selain menawan ke 419 orang tentara laut Jepang itu, TKR Laut juga menyita 34 barkas pendarat, 217 senapan karabyn, 22 senapan mesin dan beberapa peti granat, serta amunisi.
Peristiwa yang merupakan prestasi besar ini tersebar dengan cepat, berkat siaran radio BPRI dan siaran radio Surabaya yang disampaikan dalam amanat Drg.Moestopo.
Menjelang kedatangan pasukan Inggris dengan bendera Sekutu itu, terjadi berbagai ekses. Setiap warga Belanda dan Indo laki-laki dan remaja usia di atas 16 tahun ditangkapi oleh anggota PRI. Mereka dijemput di asrama dan rumah-rumah dengan menggunakan truk. Dari pagi hingga petang pada tanggal 15 Oktober 1945, sebanyak 3.500 orang dimasukkan ke penjara Kalisosok Surabaya.
Gerakan pemuda di Surabaya semakin panas, apalagi dengan terjadinya pertempuran antara pihak Indonesia dengan pihak militer Jepang di Semarang. Peristiwa lima hari 15 sampai 20 Oktober di Jawa Tengah itu membuat se bagian pemuda Surabaya yang “dendam” terhadap perlakuan Jepang sebelumnya berupaya melakukan tindakan balasan. Spanduk dan selebaran yang berasal dari Semarang membuat darah Arek Suroboyo mendidih. Isinya: “Singkirkan Jepang, sebelum mereka membantai kita di Surabaya!”.
Hampir tiap hari di depan penjara Koblen tempat serdadu Jepang ditahan, selalu ramai oleh kerumunan anak muda. Mereka berteriak-teriak agar orang-orang Jepang yang ada di dalam penjara dikeluarkan. Beberapa di antara orang Jepang yang berhasil dikeluarga langsung dieksekusi mati. Para pemimpin pemuda pergerakan bersama TKR dan KNIP berusaha mencegah tindakan main hakim sendiri.
Suasana kemudian beralih kepada makin dekatnya jadwal pendaratan tentara Sekutu di Surabaya. Akhirnya, tanggal 25 Oktober 1945, tentara Sekutu yang didominasi tentara Inggris mendarat di Tanjung Perak dengan kekuatan satu brigade. Pasukan yang berjumlah 6.000 orang ini terdiri dari Brigade Infantri 49 dari divisi India ke-23 , di bawah komando Brigadir Jenderal Mallaby.
Armada kapal yang merapat di dermaga itu itu terdiri dari kapal transport bernama: “Wavenley”, “Mlaika”, “Assidios”, “Floristan” dan beberapa kapal lagi yang dilindungi oleh kapal perang Inggris.
Bagikan ini:
Facebook X
Terkait
Monumen Pers Perjuangan di Surabaya
Selasa, 3 Februari 2009
dalam "Budaya"
Melancong ke Australia
Kamis, 20 Juni 2013
dalam "Budaya"
SURABAYA KOTA MULTIJULUK
Rabu, 8 Juli 2009
dalam "AGAMA"
Senin, 22 September 200817 Balasan
« Sebelumnya
Berikutnya »
Tinggalkan komentar
Amin Istighfarin pada Selasa, 23 September 2008 pukul 5:16 am
Selamat untuk Pak Yousri dengan Blog barunya. Semoga terus diisi dan update, sehingga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
salzaa(wajib) pada Minggu, 14 Juni 2009 pukul 1:48 pm
makasih atas informasinya
Oke! Semoga bermanfaat (yousri)
agus pada Jumat, 31 Juli 2009 pukul 5:18 pm
segera join….
gratis koq….
——
Maksudnya bagaimana mas?
Andy pada Minggu, 22 November 2009 pukul 7:36 pm
merdeka rek,,,,,,,,,,
dimas pada Rabu, 24 Februari 2010 pukul 9:06 pm
makasih pak atas informasi’a
———–
Oke, semoga bermanfaat (yousri)
riiia pada Rabu, 4 Agustus 2010 pukul 7:55 am
tugasQ jadi selesai dech
^.^
blog’y lengkap…
pa3sia pada Kamis, 26 Agustus 2010 pukul 4:45 pm
makacieh pakkk. . . . . . .
—————
Ya, sama-sama makacieh juga Andi. (yousri)
ermandho pada Minggu, 5 September 2010 pukul 9:56 pm
mau nanya profil sidik, hariyono, dan kosno wibowo secara lengkap donk, mau bikin cerpen or novelnya
————–
Dari beberapa buku saya pernah membaca nama Sidik, Hariyono dan Kusno Wibowo. Tetapi, maaf saya belum memilah-milah per-nama, sehingga profilnya belum saya amati secara mendalam. Terimakasih atas perhatiannya. Kalau ada kesempatan, kita bisa ketemu. Saya ada di kantor PWI Jatim Jalan Taman Apsari 17 Surabaya, Telp.0818328303 (yousri)
fanny pada Selasa, 21 September 2010 pukul 6:48 pm
mksh ataz infrmasix……
tgaz q jdi slsai dechhh….
cz lngkap…….
—————
Ya dik Fanny, selamat anda telah berkunjung ke Blog saya. Maasih banyak naskah lain tentang Surabaya yang bisa anda baca di Blog http://www.rajaagam.wordpress.com. Sukses untuk anda. (Yousri)
qurrotalfi pada Selasa, 31 Mei 2011 pukul 5:40 pm
berguna banget 🙂
Alhamdulillah, semoga bermanfaat. (Yousri)
Silvana pada Sabtu, 16 Juli 2011 pukul 12:04 pm
Mohon ijin untuk saya jadikan sumber referensi kembali tulisan Bapak dalam blog kami http://www.outstanding-whizzes.blogspot.com
Saya bersama para siswa ingin membuat tulisan tentang tempat-tempat menarik dan bersejarah di Surabaya, sambil mengasah kemampuan menulis siswa dalam bahasa Inggris.
Sukses selalu untu Bapak.
Salam,
Silvana.
—————————-
Adik Silvana,
Terimakasih anda mengunjungi blog rajaagam.wordpress.com ini. Saya sangat setuju, anda dan para siswa mengutip tulisan dalam blog saya sebagai referensi penulisan. Silakan, saya bangga adik dan anak-anak suka membaca tulisan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam blog saya ini banyak tulisan yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber karya tulis, terutama berkaitan dengan Kota Surabaya, serta pengetahauan tentang jurnalistik. Selamat untuk Dik Silvana dan siswa. (yousri)
Silvana pada Sabtu, 23 Juli 2011 pukul 11:58 am
Pak Yousri, senang sekali membaca tulisan Bapak. Detail dan memompa semangat nasionalisme saya. Jauh lebih menyenangkan dibanding membaca buku sejarah ketika saya di bangku sekolah dulu. Selamat berkarya Pak. Saya tunggu tulisan fantastis Bapak lainnya.
Salam,
Silvana
——————–
Selamat dan sukses utk dik Silvana, semoga anda menjadi seorang nasionalis sejati. Masih banyak tulisan yang lain, selakan baca! Terimakasih (Yousri)
Novia wulan sari pada Senin, 23 Januari 2012 pukul 6:16 am
Saya mau bertanya di dalam insiden bendera rakyat indonesia menggunakan prinsip “esa hilang, dua terbilang” apakah maksud prinsip tersebut???
——————–
Adik Novia Wulan Sari,
Maksudnya sama dengan peribahasa: “Mati satu tumbuh seribu atau Patah tumbuh hilang berganti”. Nah, di dalam perjuangan itu, semangat terus dikobarkan. Sehingga para pejuang tetap bertekad, kendati ada atau banyak teman yang gugur dalam perjuangan, niscaya akan tumbuh dan bangkit penggantinya yang lebih banyak dan berlipat ganda. Demikian kira-kira Dik Novia. (Yousri)
bund4th4 pada Jumat, 9 Maret 2012 pukul 9:18 pm
1 mggu yg lalu tetangga dpn rmh saya meninggal dunia…dan dimakamkan di TMP blitar . Menurut cerita, beliau jg merupakan pelaku sejarah waktu perobekan tersebut (mgkn merupakan salah 1 orang yg tdk dkenal itu). Saya penasaran dan ingin melihat dari dekat foto perobekan bendera tsb.
Terimakasih atas blognya….
———————-
Nah. karena ada beberapa orang yang mengaku-aku sebagai salah satu di antara perobek bendera itu. akhirnya atas kesepakatan, maka ditetapkan bahwa perobek bendera itu adalah “Arek Suroboyo”, tanpa nama. Walaupun di antaranya ada yang mengaku kenal dan pasti (Yousri)
bund4th4 pada Jumat, 9 Maret 2012 pukul 9:24 pm
1 mggu yg lalu tetangga dpn rmh saya meninggal dunia…dan dimakamkan di TMP blitar . Menurut cerita, beliau jg merupakan pelaku sejarah waktu perobekan tersebut (mgkn merupakan salah 1 orang yg tdk dkenal itu). Wallahu’alam Bishawab. Saya penasaran dan ingin melihat dari dekat foto perobekan bendera tsb.
Terimakasih atas blognya….
Eksur pada Rabu, 28 Maret 2012 pukul 6:48 pm
pak. . .kematian Mr.Ploegman itu gara2 di cekik Sidik atau gara2 benda tajam sich?
di situs laen mengatakan gara2 dicekik Sidik.
Voucher Hotel pada Jumat, 5 Oktober 2012 pukul 5:22 pm
Mantabs sejarah indonesia yg terukir di kota pahlawan.
pasukanhore.com
Cari
Blog Stats
1.155.987 hits
Kategori
17 Agustus 1945 Arek Surabaya Arek Suroboyo Babad Tanah Jawi Bali Bambang DH Beijing Belanda BJ Habibie Bung Karno Bung Tomo Cagar Budaya Cak Narto China Cina Cokroaminoto Dahlan Iskan Doel Arnowo Gemeente Guangzhou Gubernur Jawa timur Gubernur Soerjo Hadiaman Santoso Hari Jadi Hari Pahlawan Hatta HPN Hujunggaluh Indonesia Raya Inggris Internatio Junggaluh Kalimas Kota Pahlawan Lagu Kebangsaan Majapahit Mallaby Mansergh Masa lalu Melbourne Minangkabau Oerip Soedarman Orde Baru Pahlawan Polisi Istimewa Polri Proklamasi Polisi Raden Wijaya Roeslan Abdulgani Sawunggaling SEJARAH Sekutu Sinoman Sister city Surabaya Soeharto Soekarno Soekarwo Sukarno sukarno-hatta Sumpah Pemuda Sunan Ampel Sunarto Sumoprawiro Surabaya Surabaya Post Televisi Thailand Tri Rismaharini Tsunami Ultimatum Walikota Surabaya Wali Songo WR Soepratman Xiamen Yousri Nur Raja Agam Yousri Nur Raja Agam MH
Komentar Terbaru
Yousri Raja Agam pada Foto-Foto Surabaya Tempo Dulu
Yousri Raja Agam pada SUPERSEMAR — SURAT RESMI…
Djatmiko Prijambodo pada Foto-Foto Surabaya Tempo Dulu
Ardiansyah pada Industri di Surabaya Dulu
Lily W. pada Bioskop Dulu Primadona di Sura…
Arsip
Arsip
Pilih Bulan
Flickr Photos
Arctic Circle
Colmar
A mother’s gift
Lebih Banyak Foto
Informasi, Opini, Komentar, Galeri
GALERI
Sang Merah Putih bersama Bhinneka Tunggal Ika
Kategori
1
AGAMA
Budaya
GALERY
INDUSTRI
KOTA
Lingkungan Hidup
Mancanegara
MINANG
OLAHRAGA
PARIWISATA
PEMERINTAHAN
PENDIDIKAN
PERS & MENIAMASSA
POLITIK
SEJARAH
UMUM
WANITA
000 Merah Putih
17 Agustus 1945 – Merah Putih
1356
LIBURAN DAN WISATA
24 Jam Berputar tanpa henti
Anda Perlu Pulsa Handphone Secara Cepat?
ASIABERSAMA Investasi
RASAKI DARI LANGIK
ANDA INGIN DAPAT TAMBAHAN BELANJA? KLIK DI SINI!
ASIABERSAMA Investasi
OLEH-OLEH DARI MAS JOKO
JEJARING "PERTEMANAN"
ASIABERSAMA Investasi
JEJARING "PERTEMANAN" via FACEBOOK
JEJARING "PERTEMANAN" via FACEBOOK
KABA DARI RANTAU
CIMBUAK – KOMUNIKASI MASYARAKAT MINANG
KABAR DARI RANTAU
KAMPUANG NAN JAUAH DI MATO
"Kadai Kopi" Angku Bandarost
DARI PAK GUBERNUR SUMBAR
KABA DARI KABUPATEN AGAM
Kabupaten Damasraya
Kabupaten Limapuluh Kota
Kabupaten Padang Pariaman
Kabupaten Pasaman
Kabupaten Pasaman Barat
Kabupaten Pesisir Selatan
Kabupaten Sijunjung
Kabupaten Solok
Kabupaten Solok Selatan
Kabupaten Tanah Datar
Kota Bukittinggi
Kota Padang
Kota Padang Panjang
Kota Pariaman
Kota Payakumbuh
Kota Sawah Lunto
Kota Solok
KONTAK POLITIK
Kabar dari SLIPI
KPU Jawa Timur
RADAR PEMILU
LIBURAN DAN WISATA
Gadis Indonesia Cantik
MENGATASI MASALAH KEHABISAN PULSA H.P.
Anda Perlu Pulsa Handphone Secara Cepat?
Cara Mengatasi Masalah Pulsa HP
MENJENGUK DUNIA LAIN
Geovisite
Indonesia di Mata Dunia
NEWS CENTRE
Berita "Energi Indonesia"
Berita dari WIKIMU
Berita Jatim
Detik
Duta Masyarakat
JAKARTA PRESS
Jawa Pos
Kantor Berita ANTARA
Kompas
Koran Tempo
Padang Ekspres
Seputar Indonesia
Singgalang
Suara Surabaya
Surabaya Pagi
Surya
Tempo Interaktif
SANGGAR TARI DAN PERLENGKAPAN PENGANTIN
SANGGAR "PENGANTIN" SITI NURBAYA
SIRAMAN ROHANI
Gadis Indonesia Cantik
Mengaji Al Quran sistem IT
Mengaji dengan Ustaz Arifin Ilham
Pengajian Malam Liburan
SEHAT dengan SURAT YAASIIN
TAUTAN DI BLOG LAIN
"Kadai Kopi" Angku Bandarost
BERKIBARLAH BENDERAKU
CIMBUAK – KOMUNIKASI MASYARAKAT MINANG
Gadis Indonesia Cantik
KONCO AREK (Teman Akrab)
Lagu Indonesia Raya – 3 KupletLagu
Mbah Purnomo
TERAS KOTA
WIKIMU.COM
Televisi
ANTV Streaming
TENTANG DIRIKU
KAWAN-KAWAN DI DUNIA MAYA
TENTANG DIRIKU Telusuri di Google.co.id
Yousri Nur atau Yousri Nur Raja Agam
TERNYATA ADA DUIT DI INTERNET. ANDA MAU?
REZEKI HALAL DARI ALLAH YANG MAHA KAYA
UANG "HALAL" DARI LANGIT
September 2008
M S S R K J S
1 2 3 4 5 6
7 8 9 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30
Okt »
Lihat Situs Lengkap
Blog di WordPress.com.
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai
[21/9 14.19] rudysugengp@gmail.com: *Ini Ibu Budi*
Mengenang Siti Rahmani Rauf, Pencipta “Ini Budi” yang berasal daei Ranah Minang!
Siapa yang tak ingat kalimat legendaris di masa SD:
“I-ni Bu-di. I-ni I-bu Bu-di.”
“I-ni A-ni. I-ni I-bu A-ni.”
Tokoh Ani dan Budi yang mewarnai pelajaran membaca anak Indonesia ternyata lahir dari karya Siti Rahmani Rauf, perempuan Minangkabau yang lahir di Sumatera Barat pada 5 Juni 1919.
👩🏫 Ia mulai mengajar di kampung halamannya sejak 1938, lalu pindah ke Jakarta tahun 1954. Melalui sajak “Ani dan Budi”, ia mengenalkan metode membaca SAS (Struktur Analitik Sintetik), yang kemudian dipakai hampir di semua sekolah dasar era 1960–1990-an.
📚 Atas permintaan Depdikbud, ia juga menulis buku “Ini Ibu Budi”. Namun, dengan ketulusan hati, Siti Rahmani menolak menerima honor maupun royalti—karena baginya, pendidikan jauh lebih penting daripada materi. Satu-satunya keinginannya adalah bisa berangkat haji.
Meski di usia senja ia sakit karena diabetes, semangat literasinya tidak pernah padam. Ia masih gemar membaca dan terbuka menerima tamu hingga akhir hayatnya.
Pada 10 Mei 2016, Siti Rahmani wafat di usia 97 tahun.
🌺 Namanya mungkin sederhana, tapi karyanya telah melekat di ingatan jutaan anak bangsa.
#TokohMinang #SrikandiPendidikan #IniBudi #LiterasiIndonesia
[23/9 13.02] rudysugengp@gmail.com: *Draft Jilid 3*
Sejarah Indonesia Jilid 3 membicarakan tentang Pengaruh Asia Barat, utamanya tentang masuknya Agama Islam di Nusantara yang diawali abad VII Masehi di Sumatera, Jawa, dan pulau-pulau Indonesia lainnya.
Sedikit demi sedikit pengaruh India, Tiongkok/Cina, dan Asia lainnya mulai pudar meski di wilayah lain tetap ada.
Situs Bongal, perdagangan rempah, Kapur Barus sebagai Aroma terapi menjadikan Nusantara makin mendunia.
Kerajaan Samudera Pasai, Malaka, dan beberapa kerajaan Islam di wilayah Timur seperti Ternate, Tidore, Goa Tallo, Banjar, dll.
Kehadiran wali songo di Jawa dan era kerajaan Demak telah menggantikan Majapahit.
Masuknya Islam, tidak menimbulkan pertentangan dan peperangan dengan agama dan kerajaan Hindu Budha.
Akhir abad XV, bangsa Eropa mulai mencium keberadaan Surga Nusantara yang menghasilkan lada, pala, cengkeh yang sangat dibutuhkan untuk obat-obatan dan ramuan untuk daerah dingin mendorong Portugis dan Spanyol untuk menyusul bangsa Asia Barat.
GPT pada gambar ini, semoga bermanfaat.
Kita tunggu Sejarah Indonesia besutan Menteri Kebudayaan 2025.
[23/9 13.04] rudysugengp@gmail.com: *Sejarah Nusantara 2*
Sebelum dikenalnya Sejarah Kerajaan Kutai yang merupakan awal dikenalnya tulisan, bukan berarti banggsa Indonesia belum ada.
Keberadaan bangsa Indonesia sudah ada sejak Awal Peradaban Nusantara yang lebih dikenal dengan jaman Prasejarah/Nirleka.
Sejarah Indonesia tahun 2025 yang sudah diseminarkan di 4 Perguruan Tinggi di bulan Juli dan Agustus, hingga 22 September 2025 masih dalam proses Terbit menjadi buku.
Sejarah Indonesia 2025, yang digagas Menteri Kebudayaan Fadhli Zon bersama Komunitas Sejarawan dengan melibatkan 113 penulis yang sesuai bidangny, rencanya terbit di hari Kemerdekaan ke-80.
Setelah di seminarkan terdapat masukan sehingga perlu ditambahkan/direvisi. Semoga segera terbit buku pegangan sejarah yang telah disesuaikan dengan penemuan-penemua baru sesuai perkembangan jaman.
Gambar dan tulisan ini dibuatkan chatGPT.
Hal-hal yang tertulis, kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang sedang berkembang.
[28/9 14.18] rudysugengp@gmail.com: PE KELUAR
*Menbud Terima Pengembalian Koleksi Dubois dari Pemerintah Belanda*
Hafiz Khoerus Syifa - detikNews
Jumat, 26 Sep 2025 20:36 WIB
Foto: Kementerian Kebudayaan
Jakarta - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menerima pengembalian Koleksi Dubois dari Pemerintah Belanda. Koleksi ini berisi sekitar 28.000 artefak, termasuk fosil manusia purba Pithecanthropus erectus yang ditemukan Eugène Dubois di Trinil pada 1891-1892.
"Hari ini kita menutup jurang sejarah dan memulihkan martabat pengetahuan yang lahir dari Trinil. Kepulangan Koleksi Dubois adalah bukti bahwa diplomasi budaya Indonesia bekerja, kepemilikan sah NKRI diakui, dan akses riset dunia tetap terjaga," ujar Fadli dalam keterangan tertulis, Jumat (26/9/2025).
Pemulangan koleksi yang dilakukan dalam upacara serah terima di Museum Naturalis, Leiden ini bertepatan dengan kunjungan kerja Presiden RI Prabowo Subianto ke Belanda dan menjadi tonggak baru diplomasi budaya kedua negara.
Fadli menyebut pengembalian ini sebagai pemulihan kedaulatan dan kemenangan strategis Indonesia setelah lebih dari satu abad jejak pengetahuan tentang asal-usul manusia terpisah dari tanah kelahirannya.
"Hari ini kita memulihkan martabat pengetahuan yang lahir dari Trinil dan mengembalikan alurnya ke tanah ibu. Ini bukti diplomasi budaya Indonesia bekerja dengan adil, tegas, dan berorientasi masa depan," tegas Fadli.
"Koleksi Dubois kini kembali pulang ke rumahnya, namun pintu ilmu pengetahuan dunia tetap terbuka. Indonesia kini berdiri sebagai subjek pengetahuan, bukan sekadar lokasi temuan," tambahnya.
Menurut Fadli, keberhasilan ini merupakan hasil kerja panjang Tim Repatriasi Kementerian Kebudayaan sejak awal 2025 yang melakukan riset asal-usul koleksi dan perundingan intensif dengan Colonial Collections Committee (CCC) Belanda.
Bersama Pemerintah Belanda melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, dan Sains, kedua kementerian menyepakati pembentukan tim gabungan untuk mengawal tahapan pemulangan, riset bersama, inventarisasi, konservasi, publikasi ilmiah, pameran, hingga digitalisasi koleksi.
Fadli menambahkan, keberhasilan ini menjadi preseden penting bagi upaya repatriasi berikutnya.
"Setelah Dubois, kita akan terus melanjutkan kerja pemulangan koleksi penting lainnya, sambil memperdalam riset lintas disiplin agar artefak-artefak budaya kita dapat kembali ke akarnya, ilmu pengetahuan tumbuh dari sumbernya, dan memberi manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Indonesia," tutupnya.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, dan Ilmu Pengetahuan Belanda, Gouke Moes, menegaskan pengembalian ini sebagai bagian dari komitmen Belanda dalam melaksanakan repatriasi koleksi kolonial secara bertanggung jawab, yang diharapkan dapat memperkaya riset arkeologi nasional sekaligus memperkuat kerja sama budaya lintas negara.
Pengembalian Koleksi Dubois menegaskan peran diplomasi budaya sebagai instrumen penting pemulihan sejarah dan kedaulatan, sekaligus mengukuhkan posisi Indonesia sebagai salah satu peradaban tertua di dunia.
[28/9 14.25] rudysugengp@gmail.com: *Kedatangan Bangsa Belanda ke Indonesia: Sejarah & Latar Belakang dari VOC-Penjajahan*
Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Minggu, 28 Sep 2025 07:00 WIB
Daftar Isi
* Latar Belakang Kedatangan Belanda
* Ekspedisi Pertama Cornelis de Houtman (1595-1596)
* Ekspedisi Lanjutan dan Sukses di Maluku
* Pembentukan VOC: Dari Dagang Menuju Penjajahan
* Dampak Kedatangan Belanda bagi Nusantara
Jakarta - Kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia diawali oleh orang-orang yang melakukan urusan perdagangan. Namun seiring waktu, hal itu dianggap sebagai sebuah kolonialisme atau penjajahan.
Pada 1596, Cornelis de Houtman menjadi orang Belanda pertama yang menginjakkan kaki di Nusantara. Ia mendarat di Banten untuk tujuan berdagang.
Titik awal kedatangan Belanda ini kemudian dihitung sebagai permulaan penjajahan terhadap bangsa Indonesia. Maka itu, muncul di buku sejarah Indonesia dijajah Belanda selama 350 tahun.
Hal ini kemudian dikritik oleh pakar hukum internasional, GJ Resink. Menurutnya, kedatangan de Houtman untuk berdagang tidak sama dengan misi penjajahan.
Di sisi lain, nama Indonesia juga belum ada pada saat de Houtman datang. Nama Indonesia baru dipakai pada 1850 atau lebih 200 tahun setelah de Houtman datang ke Banten.
Lalu apa latar belakang sebenarnya bangsa Belanda datang ke Indonesia? Berikut penjelasannya, yang dikutip dari buku Sejarah Indonesia Kelas XI karya Sardiman AM, dkk.
Latar Belakang Kedatangan Belanda
Kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia pada abad ke-16 terjadi karena kebutuhan akan rempah-rempah. Statusnya sebagai vasal Spanyol yang membatasi ruang gerak Belanda dalam perdagangan internasional.
Selama periode Revolusi 80 Tahun (1566-1648), Belanda berjuang melepaskan diri dari cengkeraman Spanyol. Awalnya, para pedagang Belanda masih dapat membeli rempah-rempah dengan mudah di Lisbon (Portugal).
Namun, ketika Portugis jatuh ke bawah kekuasaan Spanyol pada 1580, akses Belanda ke pasar rempah-rempah di Lisabon ditutup. Harga rempah-rempah di Eropa melambung tinggi, dan Belanda pun terdorong untuk mencari sendiri sumber rempah-rempah ke dunia Timur, sampai akhirnya tiba di Nusantara.
Penjajahan-Reformasi
Ekspedisi Pertama Cornelis de Houtman (1595-1596)
Pada 1595, Belanda memberangkatkan ekspedisi pertamanya di bawah pimpinan Cornelis de Houtman dan Pieter de Keyser. Ekspedisi ini terdiri dari 4 kapal dengan 249 awak kapal serta dilengkapi 64 pucuk meriam.
Mereka mengambil rute yang sudah biasa dilayari Portugis, mengitari Afrika dan menyeberangi Samudra Hindia. Usai tiba di Pelabuhan Banten, kedatangan mereka awalnya disambut baik oleh penguasa setempat.
Namun, sikap arogan dan perilaku kasar de Houtman yang berusaha memaksakan monopoli dagang membuat Sultan Banten dan rakyatnya berbalik memusuhi Belanda. Akhirnya, mereka diusir dari Banten.
Ekspedisi Lanjutan dan Sukses di Maluku
Rombongan bangsa Belanda lain datang pada 1598. Melalui ekspedisi Jacob van Heemskerck, pendekatan orang Belanda menjadi lebih diplomatis. Belanda pun diterima kembali di Banten.
Tahun berikutnya, Jacob van Neck berlayar ke Maluku. Saat itu, rakyat Maluku tengah berseteru dengan Portugis, sehingga Belanda disambut baik dan berhasil berdagang dengan keuntungan besar.
Pembentukan VOC: Dari Dagang Menuju Penjajahan
Meskipun tujuan awal Belanda hanyalah berdagang, mereka mulai menunjukkan ambisi untuk menguasai wilayah. Mereka membangun loji (pos dagang sekaligus benteng), memaksakan kontrak monopoli, dan bahkan ikut campur dalam konflik internal kerajaan-kerajaan lokal.
Contoh nyata adalah ketika Jan Pieterszoon Coen mendirikan Batavia di atas puing-puing Jayakarta yang dibumihanguskan pada 1619. Batavia kemudian menjadi pusat administrasi dan militer Belanda di Asia.
Menyadari persaingan antar kongsi dagang Belanda sendiri justru melemahkan posisi mereka, pemerintah Belanda memutuskan untuk menyatukan kekuatan tersebut. Pada 20 Maret 1602, dibentuklah Vereenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) atau Perserikatan Perusahaan Hindia Timur.
VOC bukan sekadar perusahaan dagang biasa. Mereka diberi hak-hak khusus (octrooi) oleh pemerintah Belanda, seperti:
- Hak memonopoli perdagangan
- Hak memiliki angkatan perang sendiri
- Hak menyatakan perang dan membuat perjanjian
- Hak mencetak uang sendiri
- Hak mengangkat pegawai sendiri
Dengan hak-hak istimewa ini, VOC berubah menjadi "negara dalam negara" yang bertindak layaknya kekuatan kolonial.
Dampak Kedatangan Belanda bagi Nusantara
Kedatangan Belanda terutama melalui VOC telah mengubah wajah Nusantara secara permanen, antara lain:
- Monopoli perdagangan rempah-rempah merugikan pedagang lokal dan kerajaan-kerajaan Nusantara.
- Politik adu domba (divide et impera) digunakan untuk melemahkan persatuan antar kerajaan.
- Eksploitasi ekonomi dan penerapan sistem tanam paksa menyengsarakan rakyat.
- Perlawanan sengit muncul di berbagai daerah seperti Aceh, Banten, Mataram, Gowa, dan Maluku.
Kedatangan bangsa Belanda ke Indonesia bukan hanya soal mencari rempah (gold), tetapi juga ambisi kekuasaan (glory) dan agama (gospel). Dari pedagang asing, mereka berubah menjadi penguasa kolonial yang mendominasi berbagai wilayah di Nusantara dalam waktu yang lama.
Jejak kolonial Belanda masih terlihat dalam politik, ekonomi, hingga sosial-budaya Indonesia hingga kini.
*Penulis adalah peserta magang Program PRIMA Magang PTKI Kementerian Agama
(faz/faz)
[28/9 20.28] rudysugengp@gmail.com: Anak Semata Wayang Kartini: Kisah Soesalit Djojoadhiningrat, Jenderal Kiri PKI yang Masih Satu Keluarga dengan D.N. Aidit
Nama RA Kartini selalu dikenang sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia. Namun, tidak banyak yang tahu bahwa ia meninggalkan seorang anak laki-laki bernama Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat, putra tunggal hasil pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat.
Dari Putra Kartini Menjadi Prajurit
Sejak kecil, Soesalit tumbuh dengan membawa nama besar ibunya. Alih-alih meniti jalan pemikiran dan pendidikan seperti Kartini, ia memilih jalur militer. Dalam masa perjuangan mempertahankan kemerdekaan, Soesalit aktif sebagai prajurit dan berhasil mencapai pangkat brigadir jenderal.
Jejak Kiri dan Keterlibatan PKI
Karier militernya membawa Soesalit bersinggungan dengan dunia politik. Ia dikenal memiliki kecenderungan kiri dan simpati terhadap gerakan rakyat. Akhirnya, ia terseret ke dalam lingkaran Partai Komunis Indonesia (PKI).
Keterlibatannya membuatnya sempat mendekam di penjara, menjadikannya sosok yang penuh kontroversi di mata sejarah.
Hubungan Keluarga dengan D.N. Aidit
Fakta yang mengejutkan, Soesalit ternyata masih memiliki hubungan darah dengan Dipa Nusantara Aidit, Ketua CC PKI yang sangat berpengaruh. Hubungan kekerabatan ini menempatkan Soesalit tidak hanya sebagai seorang perwira militer, tetapi juga bagian dari jejaring keluarga yang terkait dengan tokoh penting dalam sejarah politik Indonesia.
Akhir Hidup dan Warisan Sejarah
Berbeda dengan sang ibu yang dikenang abadi sebagai pahlawan nasional, nama Soesalit perlahan tenggelam dalam pusaran sejarah. Ia meninggalkan warisan yang rumit: kebanggaan sebagai putra Kartini, namun juga kontroversi karena keterkaitannya dengan PKI.
Kisah hidup Soesalit menunjukkan bahwa sejarah tidak pernah hitam dan putih. Ia adalah gambaran bagaimana arus politik, ikatan keluarga, dan pilihan pribadi bisa bertemu dalam satu perjalanan hidup yang penuh warna.
Sumber : Merdeka.com
#Kartini #SoesalitDjojoadhiningrat #SejarahIndonesia #PKI #DipaNusantaraAidit #TokohKontroversial #BiografiSejarah
[28/9 20.36] rudysugengp@gmail.com: ✨ Jejak Awal Kerajaan Nusantara ✨
Para semeton sami dan sadulur sadayana yang berbahagia 🙏,
sebelum kita melangkah lebih jauh menelusuri sejarah Nusantara, mari kita awali dengan kilas balik perjalanan panjang kerajaan-kerajaan kawitan yang menjadi fondasi peradaban bangsa kita.
Sejarah bukan hanya catatan tentang raja dan kerajaan, tetapi juga kisah tentang masuknya ilmu pemerintahan, kepercayaan, dan agama yang kelak membentuk budaya bangsa dari masa ke masa. Catatan ini tersusun berdasarkan pencarian, penelitian, dan analisa, sejak masyarakat Jawa mengenal aksara hingga mampu menuliskan peristiwa penting dalam prasasti dan naskah.
Mari kita simak bersama jejak awal kerajaan-kerajaan kawitan di bumi Nusantara:
🌄 Kerajaan-Kerajaan Awal (Kawitan) Nusantara
1. Medang Kamulan I (± 20–90 M)
Berdiri di wilayah Gunung Kendeng, dipimpin oleh Prabu Dewata Cengkar.
2. Medang Kamulan II (± 78–90 M)
Beralih ke Gunung Mahendra (Gunung Lawu), didirikan oleh Sri Ajisaka yang bergelar Maharesi Agastya, Sang Batara Guru. Pada masa inilah muncul aksara Jawa serta ajaran-ajaran dari terjemahan Agastya Parwa dari bahasa Sanskerta.
3. Salakanagara (± 120 M)
Didirikan oleh Aki Tirem Luhur Mulya di Anyer, lalu diteruskan oleh menantunya, Dewawarman. Ibu kota kemudian dipindahkan ke Rajatapura di kaki Gunung Salak (130–362 M).
Dari perkawinan Dewawarman dengan Dewi Pohaci Larasati lahirlah garis keturunan penting:
• Dewi Iswari → menikah dengan Resi Jaya Singawarman, pendiri Tarumanagara (358 M).
• Pangeran Aswawarman → menjadi menantu Maharaja Kudungga, pendiri Kutai Tanjungpura (335 M).
• Dewi Indarti → menikah dengan Resi Santanu, pendiri Kerajaan Indraprastha di Gunung Ciremai (363 M).
4. Tarumanagara
Pada masa Maharaja Purnawarman (abad IV), pembangunan sistem pertanian berkembang pesat. Saluran air Kali Gomati hingga normalisasi sungai-sungai Parahyangan menjadi bukti kejayaan ini.
5. Sunda Pura (699 M)
Maharaja Tarusbawa memindahkan ibu kota dari Tarumanagara ke Pakuan, menamai kerajaannya Sunda Pura. Kelak, pada masa Rakean Jamri (Prabu Sanjaya), terjadi peristiwa besar: Perang Mahagotra I & II, perebutan kekuasaan di Galuh. Prabu Sanjaya kemudian menguasai tiga kerajaan sekaligus: Sunda Pura, Galuh, dan Kalingga Utara (723–756 M).
6. Kalingga (abad VII)
Didirikan oleh Maharaja Kertikeya Singa di pesisir utara Jawa. Setelah wafatnya, tampuk kekuasaan dipegang Ratu Shima yang terkenal bijak. Dari sini lahir kerajaan-kerajaan pecahan seperti Kalingga Utara dan Lokaphala di kawasan Dieng–Sindoro–Sumbing.
7. Kanyuruhan (657 M)
Pangeran Narayana, putra Kertikeya Singa, mendirikan Kerajaan Kanyuruhan di Jawa Timur. Dari garis keturunannya inilah kelak lahir raja-raja di Bali Nusa.
8. Lokaphala (695–731 M)
Didirikan oleh Ratu Badrawati (istri Resi Sentanu), dengan peninggalan berupa situs-situs bersejarah di Dieng dan Liyangan.
9. Sanjaya & Dinasti Mataram (732 M)
Prabu Sanjaya membangun kembali kerajaan ayahnya (Prabu Sanna) di Gunung Wukir, tercatat dalam Prasasti Canggal. Dari sinilah berdiri Kerajaan Medang (Mataram Kuno).
10. Syailendra (abad VIII)
Putra-putra Ratu Badrawati melalui perkawinan politik dengan Sriwijaya melahirkan Dinasti Syailendra. Dari dinasti inilah lahir Candi Kalasan (772 M), Candi Mendut, Plaosan, hingga Borobudur.
11. Dinasti Sanjaya (abad VIII–IX)
Sejalan dengan Syailendra, Dinasti Sanjaya melahirkan raja-raja yang membangun Candi Prambanan, Candi Ijo, dan Sambi Sari.
🔔 Dualisme Dinasti Mataram
Sejak abad VIII hingga X, Jawa mengenal dualisme dinasti:
• Dinasti Syailendra dengan warisan candi-candi Buddha.
• Dinasti Sanjaya dengan warisan candi-candi Hindu.
Dua arus besar ini menorehkan jejak peradaban yang luar biasa, hingga kemudian membentuk fondasi kebudayaan Nusantara selanjutnya.
🌿 Penutup
Inilah sekelumit rangkaian sejarah kerajaan kawitan Nusantara dari Medang Kamulan hingga Mataram. Semua ini bukan sekadar catatan raja dan peperangan, melainkan warisan leluhur yang membentuk identitas bangsa. Semoga kita senantiasa mendapat berkah dan tuntunan dari para leluhur serta guru bangsa.
🙏 Puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Mugiya rahayu sagung dumadi. 🌸
#SejarahNusantara
#KerajaanKawitan
#JejakLeluhur
#PeradabanJawa
#WarisanBudaya
[28/9 20.39] rudysugengp@gmail.com: Jan Pieterszoon Coen, yang namanya diabadikan sebagai pendiri kota Batavia, bukanlah sosok tanpa cela. Di balik keberhasilannya membangun fondasi kekuasaan VOC di Nusantara, tersimpan kisah-kisah kelam yang jarang diungkap. Ia dikenal sebagai pemimpin yang ambisius dan kejam, tak segan menggunakan kekerasan demi mencapai tujuannya.
Deretan artikel ini akan mengajak Anda menyelisik lebih dalam sisi lain dari J.P. Coen. Mulai dari siasatnya mencari "rahim Belanda" untuk prajurit VOC, pembantaian massal di Banda yang menewaskan ribuan penduduk asli, hingga kolusi yang dilakukan di Batavia.
Sejarah tak selalu indah, dan melalui kumpulan kisah ini, kita akan melihat bagaimana kekuasaan dan ambisi dapat mengarah pada tindakan yang brutal.
1. https://nationalgeographic.grid.id/read/134224575/jan-pieterszoon-coen-di-balik-sejarah-kelam-pulau-banda-1621
2. https://nationalgeographic.grid.id/read/132887479/jp-coen-bersiasat-mencari-rahim-belanda-untuk-prajurit-voc
3. https://nationalgeographic.grid.id/read/133293048/kala-jp-coen-berkolusi-dengan-bengkong-di-batavia-hingga-voc-bangkrut
4. https://nationalgeographic.grid.id/read/132887780/coen-geram-ada-pelanggaran-seksual-di-kantor-voc-batavia
5. https://nationalgeographic.grid.id/read/133277228/sindiran-buat-si-jangkung-jp-coen-dan-wak-wak-gung-untuk-jepang
6. https://nationalgeographic.grid.id/read/132887111/jp-coen-memuji-warga-tionghoa-namun-mengapa-voc-membantai-mereka
7. https://nationalgeographic.grid.id/read/133277104/agar-pasukannya-betah-di-batavia-jan-pieterszoon-coen-impor-gadis
8. https://nationalgeographic.grid.id/read/133277104/agar-pasukannya-betah-di-batavia-jan-pieterszoon-coen-impor-gadis
[28/9 20.39] rudysugengp@gmail.com: Kalau ingin lihat Jawa Demak, Lihatlah Palembang. Pada saat Arya Penangsang menuntut hukum qisas pada p3mbvnvh ayahnya maka perseteruan ini berimbas pada Bergeliatnya kadipaten2 bawahan Demak, misalnya Banten yang memilih jadi kesultanan Mandiri, Jepara jadi Kadipaten kaya, begitu juga Tuban, sementara Kadipaten lain sedang mempersiapkan Kampanye Penaklukkan Sluruh Kadipaten bawahan Demak menjadi bawahanya yaitu Kadipaten Mataram.
Palembang, sejak beberapa dekade sebelumnya menjadi parameter kekuasaam Raja Raja Jawa atas Nusantara, berkuasa atas Palembang, Tanjungpura berarti menjaga lintasan pedagang dari Cina dan India, lebih dari itu juga sebagai Simbol solidnya Militer Armada laut Jawa jika berhasil mengontrol Palembang dan Tanjungpura.
Maka pada saat Kaisar Ming menyampaikan pesan Raja Brunei ingin pindah dari Vasal Majapait menjadi Vasal Ming diperbolehkan, namun ketika Ming mau mendukung penobatan Raja di Sanfotsi utusan utusan langsung dibvnvh oleh Armada Majapahit tanpa basa basi (Ming Shilu). Artinya Palembang adalah kota penting bagi Raja Raja Jawa sejak lama.
Ketika Islam datang dan Demak jadi penguasa, maka dari 40.000 pasukan Demak sejumlah 10.000 pasukan itui ditempatkan di Palembang (Suma oriental). Dan lagi lagi Tanjungpura dan Palembang tetap menjadi wilayah kunci diluar Pulau Jawa bagi Raja Demak. Bahkan hingga Jaman Mataram juga bersusah payah menaklukkan Sukadana.
Jadi ketika Mataram mau jadi Penguasa menggantikan Demak, dalam konflik yang rumit antara Bangsawan itu maka orang2 Demak sebagian menyingkir ke Palembang, kelak ketika Mataram akhirnya terjerat oleh Kompeni maka Palembang mengganti identitasnya dengan Melayu. Dam sejarah kekuasaan Jawa selama beberapa Dekade sebelumnya di Palembang dan Tanjungpura menjadi buram karna sejak tahun Amangkurat berkuasa Jawa dengan Pimpinan Mataram telah membuat Dinasti2 yang sebelumnya adalah Vasal2 Demak seperti Palembang, Tanjungpura, juga Banjar merasa Malu karna mereka itu Islam gaya Demak yang pernah bercita cita menjadi Usmani nya Nusantara sementara Komoeni dianggap sebagai kaum yang sama dengan Portugis. Akibatnya wong jero Palembang merubah gaya mereka menjadi Melayu.
[28/9 21.57] rudysugengp@gmail.com: Peristiwa G30S 1965 selalu menyisakan pertanyaan, mengapa pak Harto tidak menjadi target penc4likan padahal beliau juga sudah berpangkat mayjen dan jadi salah seorang pejabat teras AD. Beliau tidak masuk daftar target G30S karena dianggap sebagai loyalis Soekarno dan bukan anggota "Dewan Jenderal" yang menjadi sasaran utama operasi tersebut.
Selain itu menurut eks kolonel Latief salah satu pentolan gerakan itu menyatakan bahwa mereka tidak memasukkan Soeharto dalam target karena ia dianggap tidak berbahaya. Dan bahkan melaporkan rencana pengambilan jendral-jendral AD untuk dihadapkan pada bung Karno pada malam 30 September 1965 kepada Pak Harto, pada saat beliau di RSPAD untuk mengantar berobat putranya Tommy yang tersiram air panas. Beliau tidak bereaksi apa-apa.
Tapi pak Harto sendiri menyatakan dalam buku autobiografinya, bahwa betul Latief ada di situ tapi menurut beliau Litief mungkin sedang memata-matainya.
Kemudian ada kedekatan secara personal antara Pak Harto dengan kedua tokoh kuncinya yaitu Latief dan Untung, Latief adalah anak buahnya langsung yang ikut serta dalam Serangan umum1 Maret 1949. Sedangkan Untung anak buahnya langsung saat menjadi panglima Diponogoro Jawa tengah Bahkan pak Harto dan ibu Tien berkenan menghadiri pernikahan Untung di Kebumen, Jawa Tengah.
[29/9 12.37] rudysugengp@gmail.com: Revisi
*Draft Penutup Jilid 10*
Jilid 10 SNI menutup catatan sejarah bangsa pada era Reformasi,
mencakup periode transisi dari pemerintahan otoriter Orde Baru menuju sistem demokrasi yang lebih partisipatif,
meskipun penuh tantangan dan paradoks.
Dalam rentang 1998–2024, Indonesia mengalami pergantian kepemimpinan nasional secara damai,
tumbuhnya sistem multipartai, pelaksanaan pemilu langsung,
serta meningkatnya partisipasi publik dalam ruang demokrasi.
Proses demokratisasi ini tidak lepas dari persoalan mendasar
seperti menguatnya oligarki, polarisasi politik,
serta ketimpangan sosial yang belum terselesaikan.
Secara substansial, Jilid ini tidak hanya menyajikan kronologi politik elite,
tetapi juga merekam transformasi sosial-budaya masyarakat, perubahan ekonomi pascakrisis,
dan dinamika hubungan internasional Indonesia dalam konteks globalisasi.
Dengan menempatkan rakyat sebagai pelaku sejarah dan tidak semata objek kebijakan,
Jilid ini memperlihatkan bagaimana Reformasi adalah proyek yang terbuka belum selesai dan senantiasa dinegosiasikan ulang dalam berbagai ruang,
baik formal maupun kultural.
Inilah yang menjadikan Jilid 10 memiliki signifikansi khusus dalam keseluruhan narasi sejarah nasional:
ia adalah cermin transisi panjang dari otoritarianisme ke demokrasi,
dari sentralisme ke desentralisasi,
dari negara pengatur ke masyarakat sipil yang menuntut partisipasi aktif.
Dalam konteks historiografi nasional,
Jilid 10 menjadi penanda bahwa sejarah tidak lagi hanya mencatat masa lalu yang “jauh,”
tetapi juga masa kini yang masih “hidup” sejarah sebagai history-in-the-making.
Ia memerlukan kehati-hatian dalam penilaian, kedalaman dalam interpretasi,
dan keberanian untuk mengakui bahwa sejarah kontemporer adalah ruang kontestasi makna.
Jilid 10 juga menekankan pentingnya pendekatan multidisipliner dan lintas perspektif dalam memahami dinamika Reformasi yang kompleks dan berlapis.
Sebagai penghubung ke Jilid berikutnya, narasi Jilid 10 memberikan konteks atas dinamika yang tengah dan akan terus berlangsung,
terutama menyangkut arah konsolidasi demokrasi,
tantangan pembangunan berkelanjutan,
serta kebangkitan kekuatan-kekuatan baru dalam politik nasional dan global.
Penutupan Jilid 10 bersamaan dengan terpilihnya Presiden RI ke-8, Prabowo Subianto,
yang membawa babak baru dalam kepemimpinan nasional.
Transisi ini menjadi titik awal penting bagi Jilid 11,
yang akan menyoroti arah baru Indonesia pasca-2024:
apakah bangsa ini akan melanjutkan cita-cita reformasi,
menyempurnakannya, atau bahkan menempuh jalur baru dalam sejarahnya.
Jilid 10 bukan hanya epilog dari sebuah era,
tetapi juga prolog untuk fase sejarah yang akan datang.
Ia menjadi simpul penting dalam perjalanan Indonesia yang senantiasa dinamis,
mencerminkan kekuatan dan kelemahan bangsa dalam menyikapi perubahan,
serta mempersiapkan masyarakat Indonesia untuk menyongsong abad ke-21 dengan refleksi,
kesadaran historis, dan visi kebangsaan yang lebih matang.
[29/9 21.59] rudysugengp@gmail.com: NYAI ASIH DARI JONG0S TIDUR JADI PENGUASA SISTEM DAGANG HINDIA BELANDA
Pada masa kolonial, perempuan yang dijadikan Nyai sering kali dipandang rendah. Mereka disebut sebagai jong0s tidur, dianggap sekadar gundik orang Belanda. Namun di balik stigma itu, ada kenyataan lain yang jarang diangkat, sebagian Nyai justru memegang kendali besar, bahkan bisa mengatur perkebunan, perdagangan, hingga politik lokal.
Ambil contoh Nyai Asih. Ia awalnya hanya pemetik teh di Pasir Angin. Hidupnya sederhana, terikat pada upah kecil dan suami yang pemalas. Namun nasib membawanya ke rumah besar milik Meneer Hendrik, seorang pemilik perkebunan Belanda. Dalam satu malam, statusnya berubah. Ia dijual suaminya dengan imbalan gulden. Dari situlah ia resmi menjadi Nyai.
Bagi orang kampung, itu aib. Bagi Meneer, itu sekadar transaksi. Akan tetapi bagi Asih, itu adalah awal dari sebuah perubahan.
Menjadi Nyai berarti hidup di dua dunia. Di satu sisi, ia tetap pribumi yang selalu dipandang rendah. Di sisi lain, ia tinggal di rumah besar, makan di meja panjang dengan lilin menyala, tidur di ranjang sutra, dan memegang kunci dapur serta buku catatan keuangan. Lambat laun, ia belajar, siapa yang masuk rumah, siapa yang mengatur uang, siapa yang tahu celah-celah kelemahan sang Meneer.
Ketika Meneer meninggal, baik karena sakit, kecelakaan, atau sesuatu yang diatur seorang Nyai tidak selalu langsung terusir. Jika Meneer tidak punya keluarga di Hindia Belanda, tidak punya istri sah atau anak di sini, maka perkebunan itu bisa kosong dari pewaris. Dalam keadaan seperti itu, Nyai bisa mengambil alih. Ia yang sudah bertahun-tahun mengurus pembukuan, memimpin para babu, dan memantau sawah atau kebun, tahu persis bagaimana perkebunan berjalan.
Nyai Asih adalah contoh nyata. Setelah kematian Meneer Hendrik, ia tidak lari. Ia berdiri tegak di beranda rumah besar, menatap para pemetik yang menunggu siapa majikan baru mereka. Dan dengan suara lantang ia berkata,
“Mulai hari ini, kebun ini milik kita. Siapa yang mau kerja, tetap kerja. Upah akan tetap dibayar. Tapi aturan main ada padaku.”
Tak seorang pun berani membantah. Mereka tahu Asih bukan lagi gadis lugu pemetik pucuk teh. Ia sudah menjelma jadi sosok berwibawa, dengan sorot mata yang tajam dan langkah yang mantap.
Di tangan Nyai seperti Asih, perkebunan tidak hanya bertahan, tapi justru berkembang. Ia mengatur jual beli hasil panen ke pasar Batavia, ia berhubungan dengan pedagang Arab dan Tionghoa, bahkan ikut bermain dalam urusan pajak dan cukai. Harta yang terkumpul membuatnya disegani. Orang-orang mulai menyapanya bukan sebagai jong0s tidur, melainkan Nyai Besar.
Dan dari sinilah mitos tentang Nyai yang berpengaruh lahir.
Banyak catatan menunjukkan, beberapa Nyai menjadi perempuan terkaya di wilayahnya. Ada yang membiayai sekolah untuk anak-anak pribumi, ada yang mendanai perlawanan diam-diam terhadap pajak kolonial, bahkan ada yang berani menyuap pejabat demi melindungi kampungnya. Posisi mereka abu-abu, bukan sepenuhnya penguasa, bukan pula sepenuhnya korban.
Apakah Nyai boleh secara hukum memiliki perkebunan? Secara resmi, tidak. Kolonial Belanda membatasi hak milik bagi pribumi, apalagi perempuan. Tapi praktik di lapangan berbeda. Jika seorang Nyai punya jaringan kuat, para mandor, kepala desa, hingga pedagang, perkebunan bisa tetap berjalan atas namanya. Kadang, ia menggunakan orang kepercayaan untuk mencatatkan lahan atas nama pihak lain, sementara kendali sejati ada di tangannya.
Begitulah cara kekuasaan bekerja, bukan pada kertas hukum, tapi pada siapa yang berani memegang kendali.
Nyai Asih menjadi lambang itu. Ia, perempuan yang dulu dijual oleh suaminya, justru menjelma jadi penguasa perkebunan. Ia belajar dari setiap penghinaan, dari setiap jamuan makan malam Meneer yang penuh paksaan. Dari situ ia tahu bagaimana kekuasaan dijalankan, dengan uang, dengan kecerdikan, dengan keberanian mengambil risiko.
Kisahnya membuat banyak orang terkejut hingga hari ini. Karena di balik cerita-cerita kelam tentang Nyai yang dipandang hina, ternyata ada wajah lain, Nyai sebagai simbol kekuatan perempuan, yang bisa mengubah nasibnya sendiri dan bahkan menata ulang peta kekuasaan lokal.
Nyai bukan hanya korban kolonialisme. Dalam beberapa kasus, ia adalah penentu arah sejarah kecil yang jarang dicatat dalam buku besar.
Dan seperti kabut di Pasir Angin yang menyelimuti kebun teh, kisah mereka masih samar, tersembunyi, tapi tetap ada.
Novel berjudul Nyai Ke-tujuh bisa kamu dapatkan novel digitalnya 25 ribu sampai tamat
••Mau koleksi Novel Fatiha lainnya yang hampir semua novelnya saling terhubung? 100ribu dapat 30 judul novel digital (sesuai urutan tidak bisa pilih judul). Khusus buat kamu pembaca baru yang belum pernah ambil harga promo.
Tidak termasuk Novel Nyai Ke-tujuh ya🙏🏻
[29/9 22.02] rudysugengp@gmail.com: Detik-detik Nafas Putri Jenderal A.H. Nasution: "Kenapa Ayah mau dibunuh, Mama?"
1 Oktober 1965, pukul 04.00 dini hari.
Rumah Jenderal Besar A.H. Nasution diguncang ketegangan ketika empat truk dan dua mobil militer pasukan Tjakrabirawa menyerbu untuk menculik dan menghabisinya. Sang jenderal berhasil meloloskan diri, tetapi peluru-peluru panas justru menghujani putri bungsunya, Ade Irma Suryani Nasution, yang baru berusia lima tahun.
Tubuh mungil Ade Irma terkena tiga peluru. Ia menjadi tameng hidup bagi ayahnya. Sang putri kecil segera dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto, menjalani operasi demi operasi untuk mengeluarkan sisa peluru senjata AK-47 dari tubuhnya.
Hari demi hari, kondisi Ade Irma terus kritis. Dokter yang menanganinya, Brigjen dr. Arie Sadhewo, tak henti kagum dengan daya tahan bocah kecil itu. "Seorang dewasa saja sulit bertahan terkena peluru sebesar ini," gumam sang dokter. Namun Ade Irma, dengan tubuh mungilnya, sudah lima hari bertahan melawan maut.
Di ruang paviliun anak RSPAD, suasana begitu hening meski tentara berjaga ketat. Jenderal Nasution dan istrinya bergantian mendampingi putri kecilnya, penuh doa dan harapan. Hendrianti Sahara Nasution, sang kakak berusia 13 tahun, menahan tangis di sisi ranjang.
Sore itu, 6 Oktober 1965, setelah operasi keempat selesai, Ade Irma tampak lemah dan memejamkan mata. Ketika dokter memperbolehkan keluarga masuk, Hendrianti mendekat sambil berlinang air mata. Tiba-tiba, suara lirih memecah keheningan:
> “Kakak jangan menangis, Adik sehat.”
Ade Irma membuka mata, menatap lembut ke arah kakaknya, lalu beralih kepada sang ibu. Dengan kepolosan seorang anak, ia bertanya:
> “Kenapa Ayah mau dibunuh, Mama?”
Pertanyaan itu menusuk hati. Ibu Johanna Sunarti, tertegun, menahan air mata. Belum sempat menjawab, Ade Irma kembali memejamkan mata.
Dengan lirih dan penuh kepasrahan, sang ibu membisikkan kata-kata terakhir:
> “Mama ikhlas Ade pergi.”
Malam itu, pukul 20.00 WIB, setelah lima hari berjuang menahan sakit, Ade Irma Suryani Nasution menghembuskan napas terakhirnya. Indonesia kehilangan seorang malaikat kecil yang gugur dalam sejarah kelam bangsa.
Namun, kisah keberanian dan pengorbanannya tidak pernah padam. Ade Irma menjadi simbol kepolosan yang dikorbankan oleh kebrutalan, sekaligus cahaya abadi yang mengingatkan generasi penerus tentang harga mahal yang harus dibayar untuk menjaga bangsa.
Sumber : mkaskus.co.id
#AdeIrmaSuryani
#PahlawanKecil
#SejarahIndonesia
#G30SPKI
#JohannaSunarti
#PengorbananTakTerlupakan
#IndonesiaMengenang
[30/9 06.34] rudysugengp@gmail.com: “Ratu Boko: Keraton di Atas Awan, Warisan Sejarah yang Memikat”
Bayangkan sebuah keraton megah yang berdiri gagah di atas bukit, menatap lurus ke arah Gunung Merapi yang anggun. Itulah Ratu Boko, sebuah kompleks bersejarah yang menyimpan kisah kejayaan Jawa Kuno sekaligus panorama alam yang memesona. Terletak hanya sepelemparan batu dari Candi Prambanan sekitar 3 km ke selatan, situs ini membentang seluas 25 hektare di ketinggian 196 meter dari permukaan laut. Dari puncaknya, hamparan Yogyakarta hingga Surakarta tampak seperti lukisan hidup.
Jejak Legenda dan Nama
Nama Ratu Boko bukan sekadar penanda tempat. Dalam bahasa Jawa, berarti “Raja Bangau”, yang erat dengan legenda rakyat tentang Raja Boko, ayah dari Loro Jonggrang. Kisah itu lantas melekat pada situs ini, meski kenyataannya berbeda, Ratu Boko bukanlah candi untuk pemujaan, melainkan keraton atau pusat kekuasaan yaitu sebuah benteng megah dengan parit pertahanan yang menegaskan fungsi militernya.
Sejarah Tersingkap
Keberadaan situs ini pertama kali dicatat pada tahun 1790 oleh Van Boeckholzt, lalu diteliti lebih dalam oleh arkeolog Belanda, FDK Bosch. Dari prasasti Abhayagiri Wihara yang ditemukan, terungkap bahwa kompleks ini sudah berdiri sejak abad ke-8, dibangun pada masa Rakai Panangkaran dari Kerajaan Medang. Menariknya, Panangkaran mendirikan sebuah wihara di bukit ini, menunjukkan bahwa tempat ini pernah memadukan fungsi keraton dengan ruang spiritual.
Arsitektur Unik
Berbeda dari kebanyakan peninggalan Jawa Kuno yang didominasi candi, Ratu Boko tampil lebih profan. Di dalamnya terdapat gerbang monumental, pendopo luas, paseban tempat menghadap raja, kolam pemandian yang elegan, hingga pagar yang melingkupi seluruh kompleks. Ada pula Pringgitan, Keputren, bahkan gua-gua sunyi yang diperkirakan digunakan untuk meditasi. Semua ini menghadirkan gambaran istana yang bukan hanya megah, tetapi juga sarat makna.
Panorama dan Pertahanan
Keunggulan lain Ratu Boko terletak pada posisinya. Dari sini, pemandangan Gunung Merapi tampak begitu dramatis, terutama saat matahari tenggelam. Namun keindahan itu punya sisi strategis yaitu berada di atas bukit berbatu menjadikan keraton ini lebih sulit diserang, sekaligus menunjukkan kecakapan luar biasa para leluhur dalam mengolah alam menjadi benteng sekaligus mahakarya.
Ritual dan Misteri
Tak jauh dari gapura utama, terdapat sebuah area yang diyakini sebagai tempat kremasi atau lokasi upacara khusus. Hingga kini, fungsinya masih menjadi teka-teki, menambah lapisan misteri pada situs ini. Apakah Ratu Boko sekadar keraton megah, atau juga ruang sakral bagi ritual kerajaan?
Ratu Boko Kini
Hari ini, Ratu Boko tak lagi menjadi pusat kekuasaan, melainkan taman wisata sejarah yang dikelola bersama dengan Candi Prambanan dan Borobudur. Restoran, plaza, hingga paket wisata edukatif menambah daya tariknya. Namun pesona sejatinya tetap sama yaitu perpaduan sejarah dan panorama yang membuat siapa pun betah berlama-lama, apalagi saat senja menutup hari dengan cahaya keemasan di balik siluet Gunung Merapi.
✨ Ratu Boko bukan sekadar reruntuhan. Ia adalah saksi bisu kejayaan masa lalu, legenda yang hidup di tengah masyarakat, dan tempat di mana sejarah bertemu dengan keindahan alam.
#RatuBoko
#KeratonDiAtasBukit
#WisataSejarahJogja
#LegendaLoroJonggrang
#SunsetRatuBoko
[30/9 12.43] rudysugengp@gmail.com: Tragedi Lubang Buaya: P*mb4nt4ian 7 Jenderal G30S/PKI 1965
Versi Resmi Pemerintah Orde Baru - Kronologi Lengkap
---
Awal Mula: Bara di Tengah Bangsa
Tahun 1965, Indonesia berada di ambang perpecahan.
Partai Komunis Indonesia (PKI) tumbuh menjadi kekuatan politik besar dengan jutaan anggota. Ideologi ateis yang mereka usung bertentangan dengan Pancasila.
Di sisi lain, TNI Angkatan Darat menjadi benteng pertahanan ideologi negara. Presiden Soekarno berusaha merangkul semua pihak lewat konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunis). Namun kecurigaan kian tajam.
Isu “Dewan Jenderal” yang dituduh hendak menggulingkan Presiden semakin menyulut ketegangan. Situasi kian panas hingga akhirnya meledak pada malam 30 September 1965.
---
Malam Kudeta: Rencana yang Dijalankan
Dalam gelap malam, pasukan Cakrabirawa bersama unsur PKI bergerak melancarkan operasi rahasia.
Tujuan mereka: menyingkirkan jenderal-jenderal TNI AD.
Pimpinan operasi ini adalah Letkol Untung Syamsuri, didampingi Kolonel Latief, Mayor Suyono, dan Mayor Pranoto.
Pasukan bersenjata lengkap disiapkan. Jakarta masih tidur lelap, sementara bayangan kudeta mulai merayap.
---
Dini Hari Maut: Penculikan Para Jenderal
Sekitar pukul 03.00, rumah-rumah para jenderal diserbu.
Jenderal A.H. Nasution berhasil lolos, namun ajudannya, Lettu Pierre Tendean, tertangkap.
Jenderal Ahmad Yani ditembak mati di rumahnya.
Mayjen R. Suprapto diseret hanya berbalut sarung.
Mayjen M.T. Haryono sempat melawan sebelum ditangkap.
Mayjen S. Parman diculik dalam keadaan setengah sadar.
Brigjen Sutoyo Siswomiharjo diambil paksa di hadapan keluarga.
Brigjen D.I. Panjaitan ditembak, jasadnya ikut dibawa.
Malam itu dipenuhi jerit keluarga, suara tembakan, dan kepanikan yang menyayat hati.
---
Lubang Buaya: Markas Gelap Kudeta
Para jenderal yang ditangkap dibawa ke Lubang Buaya, markas latihan milisi PKI di Pondok Gede, Jakarta Timur.
Di sana terdapat barak-barak sederhana, gudang senjata, dan sebuah sumur tua sedalam 12 meter yang sebentar lagi menjadi liang kubur.
---
Malam Neraka: Penyiksaan dan Pembunuhan
Pemerintah mencatat:
Para jenderal diperlakukan kasar.
Dipukul dengan popor senjata, sebagian ditusuk bayonet.
Dalam kondisi luka parah, ada yang dilempar hidup-hidup ke dalam sumur.
Di tengah gelap malam, terdengar pekikan terakhir:
“Allahu Akbar… Astaghfirullah…”
Lubang tua itu lalu ditimbun tanah merah, menutup nyawa para perwira bangsa.
---
Pengangkatan Jenazah: Tangisan Indonesia
3 Oktober 1965, pasukan RPKAD pimpinan Kolonel Sarwo Edhie Wibowo menyerbu Lubang Buaya. Sumur maut digali.
Satu per satu jasad perwira diangkat, tubuh mereka penuh luka tembak, tusuk, dan memar. Proses evakuasi disiarkan radio nasional.
Tangisan pecah di seluruh negeri. Indonesia berduka.
---
Pahlawan Revolusi
Untuk menghormati pengorbanan mereka, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Revolusi kepada:
1. Jenderal Ahmad Yani
2. Mayjen M.T. Haryono
3. Mayjen S. Parman
4. Mayjen R. Suprapto
5. Brigjen D.I. Panjaitan
6. Brigjen Sutoyo Siswomiharjo
7. Lettu Pierre Tendean
Nama mereka kini abadi dalam sejarah bangsa.
---
Jejak Sejarah: Film Pengkhianatan G30S/PKI
Tahun 1984, pemerintah Orde Baru memproduksi film Pengkhianatan G30S/PKI.
Film ini menampilkan kembali detik-detik penculikan, penyiksaan, hingga pembunuhan.
Selama bertahun-tahun, film ini wajib ditayangkan setiap 30 September. Tujuannya jelas: mengingatkan generasi muda akan bahaya laten komunisme.
---
Setelah Tragedi: PKI dilarang
Pasca peristiwa Lubang Buaya:
PKI dibubarkan dan dinyatakan partai terlarang.
Ribuan anggotanya ditangkap dan diadili.
Mayor Jenderal Soeharto mengambil alih kendali keamanan. Sejak itu pemerintah menegaskan:
“Pengkhianatan semacam ini tidak boleh terulang lagi.”
---
Monumen Pancasila Sakti
Lokasi tragedi kemudian dijadikan Monumen Pancasila Sakti, lengkap dengan Museum Lubang Buaya dan Cungkup Sumur Maut.
Setiap 1 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila, mengenang peristiwa kelam ini.
---
Penegasan Pemerintah Orde Baru
1. Lubang Buaya adalah bukti kebiadaban PKI.
2. Pancasila wajib dijaga dengan segenap jiwa raga.
3. Bahaya laten komunisme harus terus diwaspadai.
4. Persatuan rakyat adalah kunci tegaknya NKRI.
---
Sumber:
Buku Putih Pemerintah RI tentang Gerakan 30 September
Arsip Pusat Sejarah TNI
Film Pengkhianatan G30S/PKI (1984)
Laporan Autopsi Tim Forensik
Dokumentasi Mahkamah Militer Luar Biasa
#LubangBuaya #G30SPKI #PahlawanRevolusi #KesaktianPancasila
#PengkhianatanPKI #BahayaLatenKomunis #SejarahIndonesia #OrdeBaru
[30/9 17.46] rudysugengp@gmail.com: Aidit Pastikan Nasution tidak akan Kudeta.
Di Depan Mao Zedong tanggal 5 Agustus 1965, Aidit pastikan Nasution tidak akan melakukan kudeta, lalu Aidit menerangkan akan membuat biro khusus militer rahasia yg terdiri dari kader-kader PKI yg dirahasiakan, dan setelah terbentuk kita harus mempersenjatai buruh dan petani, lalu Mao menyarankan agar Aidit harus siap dengan dialog damai dan perjuangan bersenjata.
terlihat dari sini Biro Khusus inilah yg memainkan peranan penting dalam aksi G30spki, dan melalui dokumen China yg sempat dibuka tahun 2010an ini, sudah terbukti dengan jelas PKI lah dibalik tragedi berdarah 30 September 1965 itu.
Rumor-rumor tentang adanya dewan jenderal yg mau kudeta dibantah sendiri oleh Aidit. G30SPKI adalah hasil paranoidnya Aidit yg takut jika Soekarno wafat maka kelompok anti-Nasakom bakal berkuasa, aidit menjadi ketakutan dan Paranoid setelah mengetahui hasil pemeriksaan Soekarno yang saat itu sedang sakit keras dan diobati oleh Dokter-dokter dari China. Perhitungan aidit adalah dengan mebinasakan Jendral2 tersebut maka TNI dapat dikuasai oleh kader-kader PKI.
Dalam Dokumen China tersebut juga diketahui percakapan Marshal Chen Yi yg mengatakan " Bagi saya Pribadi, jika Soekarno dijatuhkan itu adalah hal yg baik, Soekarno memang bisa menjadi mediator kelompok sayap kanan (Anti Nasakom) dengan kelompok sayap kiri (Nasakom) tapi masa depan Indonesia tergantung dari Perlawanan bersenjata PKI, dan hal itu adalah yg paling penting.
Sumber :
Dokumen Pusat Partai Komunis China 5-Agustus-1965
Dokumen Kementrian Luar Negeri China nomer : 106-01476-06
Foto : Ali Sastroamidjojo, berbincang dengan Jenderal AH Nasution, D.N. Aidit dan Sitor Situmorang.
[30/9 17.55] rudysugengp@gmail.com: Di mana posisi Sukarno saat Pasukan Cakrabirawa menculik para jenderal pada 30 September hingga 1 Oktober dini hari pada tahun 1965?
Saat Gerakan 30 September 1965 terjadi, Bung Karno, menurut keterangan salah satu ajudannya bernama Bambang Widjanarko, tidak berada di Istana Merdeka, Jakarta.
Pada 30 September 1965 sekitar pukul 23.00, Kolonel Bambang memohon petunjuk Sukarno apakah akan ada perubahan acara pada keesokan hari, yaitu tanggal 1 Oktober 1965. Bambang menyebutkan, salah satu jadwal Bung Karno pada 1 Oktober 1965 adalah bertemu dengan Wakil Perdana Menteri Leimena dan Pangad Jenderal Ahmad Yani.
Namun keesokan paginya, setelah acara gladi resik peringatan HUT ABRI di Parkir Timur Senayan, Bambang tidak menemukan Presiden Soekarno di Istana Merdeka.
Bambang lalu mendapat kabar dari Kolonel Sumirat dan AKBP Mangil Martowidjojo soal keberadaan Soekarno. Rupanya, pada 30 September 1965 malam, Bung Karno menginap di rumah Ibu Dewi (Ratna Sari Dewi) di Wisma Yaso, Jalan Gatot Subroto.
Sekitar pukul 06.00 paginya, Bung Karno yang diantar oleh Pak Mangil dan dikawal oleh pengawal pribadinya, pergi meninggalkan kediaman Ibu Dewi menuju Istana Merdeka.
Tapi di tengah perjalanan menuju istana, Bung Karno pindah haluan ke rumah istri keduanya, Haryati, yang terletak di Slipi. Alasannya pindah haluan karena dia mendapat kabar bahwa Istana Merdeka telah dikepung pasukan yang tak dikenal.
Menurut Bambang, pada pagi hari 1 Oktober 1965, Istana Merdeka memang benar telah dikelilingi pasukan bersenjata lengkap dengan kain berwarna kuning melingkar di leher.
Dari Slipi, Sukarno mendapat saran untuk segera mengungsi ke Halim Perdanakusuma. Mengenai hal ini, Bambang tidak menyebutkan saran itu berasal dari siapa.
Setiba di Halim Perdanakusuma, Bung Besar disambut oleh Panglima Angkatan Udara Omar Dhani dan segera ditempatkan di rumah seorang perwira tinggi. Dia sampai di Halim Perdanakusuma sekitar pukul 09.00 pagi yang rencananya untuk menemui beberapa perwakilan Angkatan Darat yang hendak menemuinya di Istana Merdeka beberapa jam sebelumnya.
Tapi setibanya Presiden Soekarno di Halim Perdanakusuma, para jenderal yang akan dipertemukan dengannya telah gugur dan mayat mereka disebutkan dibuang ke dalam sebuah sumur yang dikenal Lubang Buaya. Tak jauh dari Halim Perdanakusuma.
Baca artikel selengkapnya di sini https://intisari.grid.id/read/03100365/di-malam-penculikan-para-jenderal-tni-ad-bung-karno-ternyata-sedang-bergadang-bersama-dewi
#G30S #bungkarno #sukarno #RatnaSariDewi
[30/9 17.55] rudysugengp@gmail.com: TELIK SANDI KANJENG RATU KALINYAMAT
Pada Zaman dahulu ada istilah yg disebut Telik Sandi, era sekarang dikenal Intelegen. Yakni seseorang yang diberi tugas khusus, biasanya dikemas dalam penyamaran untuk menutupi identitas, demi mengumpulkan data atau bukti-bukti, tidak lepas dari memantau gerak-gerik target operasi. Memiliki berbagai tujuan, intinya bermisikan rahasia. Susah ditebak, kecuali sesama Telik Sandi.
Teringat sejarahnya Ratu Kalinyamat, Pendekar tanpa tanding, perempuan Jawa yang tangguh. Setidaknya memiliki 400-an Telik Sandi terlatih. Disebar di Jawa dan menyusup keberbagai kerajaan yang ada di luar Jawa. Bahkan ada yang pura-pura jadi antek-antek Portugis. Untuk apa demikian?! Silahkan baca keterangan saya diparagraf pertama. Biar tidak gagal fokus!
Suatu hari seorang Pangeran, salah satu putra Kasultanan Samodra Pasai hendak diculik oleh pasukan Portugis. Targetnya dibunuh!
Skenario pembunuhan direkayasa seolah-olah dilakukan oleh prajurit utusan Ratu Kalinyamat. Kemudian Portugis lepas tangan! Artinya jika terlaksana secara mulus, Ratu Kalinyamat akan bentrok dengan Sultan Samodra Pasai. Adu domba tingkat sadis!
Portugis berpikir Wong Jawa tidak memiliki skill sebagai Intelegen yang berkapasitas brilian. Siasat pun dijalankan! Beberapa Wong Jawa dibeli dengan kepingan emas, wanita cantik-cantik dipersiapkan, arak kelas kakap dihidangkan.
Berbulan-bulan pesta digelar, tentu demi menyenangkan beberapa Wong Jawa yang dianggap bisa dijadikan bonekanya. Dan Portugis beranggapan berhasil! Padahal gagal total!
Beberapa Wong Jawa itu sesungguhnya pasukan Telik Sandi Ratu Kalinyamat. Sebelum beraksi perintah pembunuhan terhadap Sang Pangeran Kasultanan Samodra Pasai berlangsung, jauh-jauh hari Sang Ratu Kalinyamat sudah menyiapkan siasat lebih cerdik.
Skenario pembunuhan ala Portugis dijalankan, namun yang dibunuh bukan Sang Pangeran, akan tetapi salah satu pesuruh Portugis. Penghianat wajib dibabat! Lebih awal lebih baik. Ini maklumat, mulut manis bermuka dua harus dilenyapkan dari Nusantara.
Kemudian! Mayat yang disangka Pangeran, diserahkan! Dengan catatan, dijemput sendiri dengan kapal besar Portugis, tepatnya dipertengahan selat Malaka dan wajib diterima langsung oleh pemimpin pasukan. Ini sudah menjadi perjanjian sekaligus skema di awal.
Singkat cerita! Kapal besar Portugis sudah berada di tengah Selat Malaka, mayat itu dikirim dan diserahkan dengan sampan kecil, ditarik sendiri oleh pemimpin prajurit Portugis. Mereka senang, misinya tercapai. Samodra Pasai akan bertempur dengan Wong Jawa. Pikirnya!
Beberapa saat kemudian tiba-tiba kapal Portugis oleng, ternyata kapal yang menunggu mayat selama berjam-jam sudah dilobangi, dibobol para Pasukan Ratu Kalinyamat dari bawah gardan. Dengan metode sangat rapi dan profesional.
Tragis! Kapal itu tenggelam dan semua tewas. Adapun yang awal mulanya mencoba berenang langsung dihajar dengan panah. Musnah sudah, hingga ke akar-akarnya!
Petarung sejati tidak perlu berisik tatkala menumbangkan lawan! Musuh lenyap dalam senyap. Wong Jawa Merobohkan musuh tanpa butuh teriakan!!!
Sejak tragedi itu Ratu Kalinyamat diberi julukan kerajaan Portugis sebagai Ratu Jawa nan cantik, lemah lembut terhadap sesama Wong Jawa, namun teramat keji terhadap Portugis dan antek-anteknya.
#RatuKaliyamat
#Sejarahbangsa
#Srikandi
[1/10 14.40] rudysugengp@gmail.com: detikJabar
*Film Pengkhianatan G30S/PKI Bisa Ditonton di Mana?*
Ini Link dan Fakta Menariknya
Tya Eka Yulianti - detikJabar
Selasa, 30 Sep 2025 08:26 WIB
Bandung - Film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI atau yang lebih dikenal dengan judul G30S/PKI biasanya ramai diperbincangkan di penghujung September seperti saat ini. Hal ini karena film tersebut diangkat dari peristiwa kelam sejarah Indonesia, yakni Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).
Film yang disutradarai oleh Arifin C. Noer ini pertama kali dirilis pada tahun 1984 dan diproduksi oleh Perum Produksi Film Negara (PPFN). Sejumlah aktor dan aktris populer kala itu ikut membintangi film ini, di antaranya Bram Adrianto, Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa.
Dengan durasi sekitar 3 jam 40 menit, film ini menggabungkan genre drama dan dokumenter untuk menampilkan detail tragedi politik yang terjadi.
Pada masa Orde Baru, film G30S/PKI menjadi tontonan wajib setiap 30 September. Penayangan dilakukan serentak di berbagai stasiun TV maupun layar tancap. Setelah era reformasi, film ini tidak lagi diwajibkan, namun hingga kini tetap rutin ditayangkan menjelang akhir September.
Bagi kamu yang ingin menonton film ini, mungkin kamu bertanya,dimana kita bisa menonton film G30S/PKI?
Film ini ternyata telah tersedia secara online melalui layanan streaming Vidio dan YouTube. Bagi yang ingin menonton ulang, berikut link resminya:
Link nonton Film G30S PKI di Vidio: >>>KLIK LINK INI<<<
Link nonton Film G30S PKI di YouTube:
1. Link Film G30S PKI Youtube #1
2. Link Film G30S PKI Youtube #2
*Sejarah Film G30S/PKI*
Setiap tanggal 30 September, film Pengkhianatan G30S/PKI selalu ramai diperbincangkan. Menjadi salah satu karya paling kontroversial di perfilman Indonesia, film ini disutradarai oleh Arifin C Noer dan diproduksi pada masa pemerintahan Orde Baru. Dengan durasi panjang sekitar 3 jam 40 menit, film bergenre dokumenter-drama ini menampilkan secara detail tragedi penculikan serta pembunuhan sejumlah petinggi militer Indonesia.
Film ini pertama kali tayang di layar tancap DKI Jakarta pada 1984. Setahun kemudian, tepat pada 30 September 1985, film ini mulai ditayangkan secara nasional melalui TVRI. Produksi film ini digarap oleh Perum Produksi Film Nasional (PPFN), dengan produser Brigjen Gufran Dwipayana (Dipo) yang kala itu juga merupakan anggota staf Presiden Soeharto.
Film Pengkhianatan G30S/PKI dibuat berdasarkan buku karya Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh berjudul "Tragedi Nasional Percobaan Kup G 30 S/PKI di Indonesia". Buku tersebut kala itu menjadi versi resmi pemerintah tentang G30S, yang menyebut bahwa peristiwa kudeta tersebut diatur oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).
*Daftar Pemain Film G30S/PKI*
Beberapa aktor dan aktris yang membintangi film ini di antaranya:
* Bram Adrianto
* Amoroso Katamsi
* Umar Kayam
* Syubah Asa
Kehadiran mereka menjadikan film ini semakin otentik dalam membangun suasana politik Indonesia pada tahun 1965.
*Fakta Menarik Film G30S/PKI*
Film ini membutuhkan waktu produksi hingga 2 tahun dengan dana sekitar Rp800 juta, angka yang sangat besar pada masa itu. Brigjen Gufran Dwipayana menyatakan tujuan pembuatan film ini adalah untuk mendidik generasi muda agar menjauhi komunisme.
Tidak hanya itu, film ini juga mencetak rekor penonton di DKI Jakarta pada 1984 dengan jumlah 699.282 penonton hingga Desember 1984. Angka ini melampaui popularitas film horor legendaris Nyi Blorong yang meraih 354.790 penonton pada 1982.
Namun, sejak era Reformasi pada 1998, film ini tidak lagi diwajibkan tayang setiap tahun. Departemen Penerangan saat itu menilai film ini sudah terlalu sering ditayangkan, dan Menteri Penerangan Muhammad Yunus menyebut film ini tidak lagi sesuai dengan semangat reformasi.
Film Pengkhianatan G30S/PKI juga menuai pro dan kontra. Sejarawan Bonnie Triyana menilai film ini lebih sebagai propaganda Orde Baru ketimbang representasi sejarah. Ia bahkan menyebut beberapa adegan tidak sesuai fakta, misalnya penyiksaan terhadap tujuh jenderal, yang menurut hasil visum sebenarnya tidak terjadi seperti dalam film.
*Sinopsis Film Pengkhianatan G30S/PKI*
Film Pengkhianatan G30S/PKI dibuka dengan menggambarkan kondisi politik Indonesia pada 1965 yang penuh intrik. Situasi memanas ketika PKI digambarkan merencanakan kudeta terhadap pemerintah yang sah.
Ketegangan meningkat saat kelompok yang menamakan diri Gerakan 30 September (G30S) melakukan aksi penculikan terhadap para petinggi Angkatan Darat. Adegan demi adegan menampilkan atmosfer mencekam yang berujung pada tragedi.
Selanjutnya, film menyoroti reaksi militer terhadap situasi tersebut. Diceritakan bagaimana upaya merebut kembali kendali dilakukan secara strategis, dengan menampilkan sosok pimpinan yang digambarkan tegas dan penuh perhitungan.
Ketika peristiwa mencapai puncaknya, film memperlihatkan suasana kacau dan penuh ketidakpastian di tengah malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober. Dalam momen ini, ketegangan ditampilkan semakin intens.
Film kemudian menyoroti operasi penumpasan yang berlangsung cepat dan terkoordinasi. Adegan-adegan ini memperlihatkan langkah militer dalam menghadapi situasi darurat dengan narasi kemenangan di pihak mereka.
Klimaksnya ditampilkan melalui penemuan jenazah para jenderal yang dikubur di sebuah sumur tua di Lubang Buaya. Adegan ini menjadi salah satu bagian paling membekas dalam ingatan penonton.
Meski menggambarkan tragedi, film ini juga menyelipkan pesan tentang pentingnya menjaga keutuhan negara dan menjauhi ideologi yang dianggap berbahaya.
Namun, untuk mengetahui keseluruhan cerita serta bagaimana akhir dari peristiwa tersebut digambarkan, kamu bisa menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI pada link yang sudah disematkan. Semoga membantu!
(tey/tey
Tidak ada komentar:
Posting Komentar